KEBUDAYAAN LOKAL PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
BAB I
PENDAHULUAN
Budaya Dayak yang kaya akan nilai-nilai tradisional dan
warisan adat merupakan sumber inspirasi yang melimpah untuk mengembangkan
cerita anak Kalimantan Tengah. Dalam penulisan cerita anak, unsur budaya Dayak
menjadi fondasi yang kuat untuk memperkaya narasi dan memperkenalkan generasi muda
pada kekayaan budaya lokal. Melalui penggunaan unsur-unsur seperti adat
istiadat, kepercayaan, serta nilai-nilai kehidupan tradisional, cerita anak
dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan dan mempertahankan keberadaan
budaya Dayak dalam pikiran dan hati anak-anak Kalimantan Tengah.
Terkait dengan unsur seni, budaya, dan teknologi Dayak
dalam penulisan cerita anak, perpaduan yang harmonis antara ketiganya tidak
hanya memperkaya narasi cerita, tetapi juga memberikan ruang bagi kreativitas
penulis untuk menjembatani keterkaitan antara tradisi dengan perkembangan
zaman. Seni tradisional seperti motif ukiran, hiasan tekstil, dan pola tarian
Dayak dapat diintegrasikan dalam ilustrasi cerita anak, menciptakan visual yang
memukau dan memperdalam pemahaman akan keindahan seni Dayak.
Selain itu, unsur budaya Dayak yang kaya akan mitos,
legenda, dan cerita rakyat dapat menjadi bahan bakar bagi imajinasi penulis
dalam merancang plot cerita yang menarik dan bernuansa lokal. Hal ini tidak
hanya memperkenalkan anakanak pada warisan budaya nenek moyang mereka, tetapi
juga mengajarkan mereka untuk menghargai dan memahami kearifan lokal yang
terkandung di dalamnya.
Dengan memanfaatkan teknologi modern seperti animasi,
aplikasi interaktif, atau audiobook, cerita anak yang mengangkat unsur budaya
Dayak dapat dihadirkan dalam format yang lebih menarik dan dapat diakses oleh
anak-anak di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, penulisan cerita anak
tidak hanya menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya Dayak, tetapi juga
untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya
lokal bagi generasi muda secara global.
|
|
BAB II |
|
||||
|
|
||||||
|
|
UNSUR BUDAYA DAYAK |
|
||||
|
|
DALAM PENULISAN CERITA ANAK |
|
||||
|
|
||||||
|
Budaya Dayak merupakan salah satu
kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan tradisi, kepercayaan, dan kearifan
lokal. Mengintegrasikan unsur-unsur budaya Dayak dalam penulisan cerita anak
dapat memberikan kebermanfaatan ganda: menjaga dan memperkenalkan warisan
budaya kepada generasi muda, serta |
||||||
|
meningkatkan
apresiasi terhadap keanekaragaman budaya di Indonesia (umumnya) |
||||||
|
dan Kaliamantan Tengah (khususnya). |
||||||
Penulisan
Cerita anak merupakan salah satu karya sastra anak. Sastra anak sendiri
adalah karya sastra yang ditulis sebagai bacaan untuk anak, yang mana isinya
sesuai tingkat perkembangan intelektual serta emosi anak. Cerita anak bisa
digunakan sebagai hiburan maupun untuk memberikan anak tentang pendidikan moral
(pesanpesan moral).
|
|
|
||
|
Unsur Budaya Dayak dalam Penulisan Cerita Anak Unsur Budaya Dayak dalam
Penulisan Cerita Anak, yang akan dibahas, adalah: |
|
||
|
1.
Mitologi dan Legenda, |
|
||
|
2. Cerita
Rakyat, 3. Sastra
(Lisan), 4. Alam
dan Lingkungan, 5. Tradisi
dan Upacara Ritual, dan |
|
||
|
6. Upacara-upacara Tradisi
lainnya. |
|
||
|
|
|
||
|
1. Mitologi dan Legenda: |
Mitologi dan legenda
Dayak kaya akan cerita-cerita yang |
|
|
|
||
|
dipercayai sebagai bagian
dari sejarah dan kepercayaan masyarakat Suku Dayak. Memasukkan
tokoh-tokoh mitos seperti “Sangiang” "Batu Suli", " Puruk |
||
|
Harimaung
", atau lainnya dapat menambah
atau memperkaya elemen magis dan |
||
|
petualangan dalam cerita
anak. Di bawah ini beberapa Contoh
Mitos dan Legenda. Mitos atau Mite (Cerita suatu bangsa ttg dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung
penafsiran ttg asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tsb |
||
|
mengandung
arti mendalam yg diungkapkan dengan cara gaib (lih. KBBI V). |
||
Mitos merupakan cerita prosa rakyat yang tokohnya
mahkluk setengah dewa atau para dewa dan terjadi di dunia yang lain di masa
lampau. Mite juga dianggap dan dipercaya oleh yang membuat cerita pernah
benar-benar terjadi. Ada beragam isi dari cerita mite mulai dari kemunculan
manusia, kemunculan para dunia, kemunculan para hantu, hingga mitos
terbentuknya danau, sungai dan lain sebagainya.
Mitos memiliki beberapa ciri seperti dipercaya atau
dianggap benar-benar terjadi oleh para penganutnya, cerita yang sederhana dan
terdiri dari motif-motif dan plotplot mudah, latar belakang umumnya di masa
lampau dan beberapa lainnya.
Jenis-jenis
mitos atau mite cukup beragam seperti: 1). mitos penciptaan yang
menceritakan tentang terciptanya alam semesta (misalnya tentang keperayaan dari
kebudayaan suatu bangsa yang tidak luput
dari pencampuran unsur-unsur mitis
(mythis) pula; misal Mitologi tentang “Sangiang” (lihat “Wörterbuch
DajackDeutsches” (Kamus Dayak
Ngaju-Jerman, Aug. Hardeland, 1859) kemudian; 2). mitos kosmogenik yang
menceritakan penciptaan alam semesta melalui perantara; 3). mitos
asal-usul yang menceritakan tentang asal mula dari binatang atau jenis
tumbuhan; 4). mitos transformasi yang menceritakan perubahan-perubahan yang
terjadi pada manusia dan dunia di hari kemudian; 5). mitos
Theogonis adalah cerita mitos atau mite yang bercerita tentang para
dewa serta makhluk gaib. Merupakan mite mengenai para dewa dan makhluk
adikodrati; 6). mitos Anthropogenic adalah mitos yang
bercerita tentang suatu proses terjadinya manusia di dunia ini.
Ciri-Ciri Mitos
1. Cerita
yang ada pada mitos itu diyakini benar-benar terjadi oleh para pengikutnya.
2. Ceritanya
terdengar aneh dan sulit dipahami dengan logika, tetapi sangat penting bagi masyarakat.
3. Ceritanya
sederhana dan terdiri dari beberapa motif dan tindakan sederhana.
4. Jalan
cerita melibatkan ritual tertentu. Kisah-kisah yang terkandung di dalamnya dianggap
sebagai sesuatu yang sakral, sehingga tak boleh dilakukan dengan sembarangan.
5. Latar
belakang dari suatu cerita mitos biasanya masa lalu.
6. Salah
satu jenis kepribadian yang harus dimasukkan dalam mitologi adalah berkaitan
dengan budaya dan masyarakat setempat.
Fungsi mitos
Mite itu sendiri memiliki beberapa
fungsi yang perlu diketahui, yaitu:
1. Mite
berfungsi sebagai sarana pendidikan yang paling efektif untuk memperkuat dan
mengkomunikasikan nilai-nilai budaya, norma sosial dan keyakinan tertentu.
2. Mite
berfungsi sebagai pengembangan simbol yang bermakna dan fungsional untuk
menjelaskan fenomena lingkungan.
3. Mite
berfungsi sebagai pedoman bagi orang-orang yang percaya dalam memajukan
solidaritas sosial di antara anggota, sehingga mereka dapat membedakan satu
komunitas dengan komunitas lainnya.
4. Secara
umum, mite akan dikembangkan untuk menyampaikan dan meningkatkan nilai-nilai
budaya tertentu, ide-ide dan pengetahuan, dan membantu merangsang pengembangan
pemikiran kreatif.
https://www.gramedia.com/literasi/mite-adalah/(Diunduh,Senin,Tgl 12/02/2024.
Pk. 20:05).
Legenda (Cerita rakyat, tokoh terkenal pada zaman dahulu yg ada hubungannya dg
peristiwa sejarah (lih. KBBI V).
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap
atau dipercaya sebagai cerita suatu kejadian yang benar pernah terjadi oleh
yang mempunyai cerita. Cerita legenda mempunyai sifat yang keduniawian atau
sekuler dan terjadi di masa yang tidak terlalu lampau.
Tokoh dari cerita legenda adalah manusia meski ada
kalanya yang mempunyai berbagai sifat luar biasa serta cukup sering dibantu
oleh makhluk-makhluk yang ajaib. Ciri-ciri dari cerita legenda adalah dipercaya
kejadiannya pernah benar-benar terjadi, tokoh umumnya manusia, sifat
keduniawian, bersifat berpindah-pindah dan bersifat semihistoris.
Ada beberapa jenis dari cerita legenda,
berikut adalah penjelasannya: a. Legenda
Alam Gaib
Legenda ini umumnya berbentuk cerita yang dianggap
atau dipercaya pernah benar terjadi atau dialami oleh seseorang. Fungsinya
adalah untuk meneguhkan kepercayaan rakyat atau takhayul.
b. Legenda Keagamaan
Legenda ini biasa dikenal dan dipahami sebagai
legenda atau cerita dari orang-orang suci. Umumnya legenda ini terjadi di masa
lampau dan kental dengan nilai religius atau keagamaan.
Terdapat suri tauladan baik di keagamaan dalam cerita
ini yang bisa mempengaruhi pola dari kehidupan masyarakat di zaman dahulu yang
belum tahu tentang nilai-nilai agama.
c. Legenda Setempat
Legenda ini biasanya mempunyai hubungan dengan suatu
tempat, bentuk topografi suatu daerah, hingga nama tempat. Lebih mudahnya,
legenda ini dapat dikatakan sebagai asal-usul dari suatu tempat. Beberapa
contoh cerita legenda setempat Bahasa Inggris adalah seperti The Legend of
Singapore, The Legend of Philippines, dan The Legend of Hong Kong.
d. Legenda Perseorangan
Legenda ini biasanya akan berkaitan
dengan cerita dari tokoh-tokoh tertentu. Dimana tokoh tersebut dianggap atau
dipercaya oleh yang memiliki cerita benarbenar terjadi.
|
|
|
Di bawah ini ada
beberapa contoh Mitologi / Mitos dan Legenda 1). Contoh Mitologi tentang: “Sangiang”
(Oleh: Aug. Hardeland) |
Sangiang adalah makhluk yang suka
menolong. Mereka hidup di danau yang berkabut di Lewu Sangiang, pada dataran Sangiang yang diliputi oleh 160 sungai.
Keadaan di sana dan cara penghidupan mereka mirip dengan keadaan di dunia
manusia, Cuma di sana semua lebih bagus, lebih riang-ria penuh kebahagiaan.
Umpamanya: Di sana hanya ada pohon yang berbuah, pohon
untuk memperpanjang nafas mereka. Pohon untuk menerangi hatinya, yang memberi
cahaya untuk hati.
Di sana tumbuh Batang Garing yang berdaun bahan
halus, bunganya dari emas dan cincin, serta buahnya adalah batu permata yang
sangat berharga adalah Lamiang.
Zait cair yang keluar dari pohon itu adalah air yang
dapat menghidupkan manusia (Danum
Kaharingan).
Dahulu kala Sangiang hidup bersama manusia di dunia ini, bahkan mereka berkeluarga
dengan manusia akan tetapi pergaulan mereka dengan manusia kurang lancer. Walau
pun mereka lebih kuat dan berkuasa dengan manusia, mereka berkekurangan (kalah)
dengan manusia, karena mereka mempunyai besi yang terapung (Sanaman Lampang):
Artinya besi yang hanya membunuh untuk waktu jangka pendek dan setelah itu
orang yang dibunuh dapat hidup kembali.
Sedangkan manusia mempunyai besi yang tenggelam (Sanaman Leteng) yang dapat membunuh
sekaligus. Hal ini mendorong ayah leluhur Sangiang : Sabuaya,
untuk pindah ke Lewu Sangiang. Di sana Sabuaya memperoleh keturunan anaknya
Tantulang.
Tantulang beranak dua orang anak
laki-laki: 1). Panyarawan Katingan,
dan 2). Pampulu Hawon. Mereka
masing-masing memperoleh 14 orang anak: 7 laki-laki, dan 7 perempuan.
Turunan Panyarawan berkedudukan di Sungei Barirai dan turunan Pambulu Hawon di Sungei Jalayan.
Walau pun ada lagi turunan yang berasal dari mereka,
hanya turunan Panyarawan dan Pampulu Hawon yang dapat pujian dari
manusia. Orang-orang memohon pertolongan / syafaat pada Sangiang jikalau mereka erlu sesuatu dari dewa. Kalau
umpamanya orang jatuh sakit oleh Raja
Sial karena dia menculik jiwanya (hal ini penyebab dari kebanyakan
penyakit), maka orang memohon kepada Sangiang
untuk pergi ke sana dan membawa kembali jiwanya.
Kalau ada orang yang meminta peruntungan atau rejeki
dari Raja Untung, maka Sangiang harus menyerahkan permohonan
ini supaya mendatangkan Raja Untung. Keberuntungan
bukanlah diberi oleh Sangiang sendiri
melainkan oleh Raja Untung, Jata,
Pampahilep, dan lainnya., akan tetapi Sangiang
dapat menjauhkan sial dan bahaya dari manusia.
Itu sebabnya orang yang berpergian memujikan diri
pada Sangiang dengan pemberian
perjanjian (bamiat untuk Sangiang),
bahwa kurban akan diberikan kepada Sangiang
kalau yang berpergian telah pulang dengan selamat. Sangiang hanya dapat memberi sial sebagai hukuman kepada orang
kalau dia tidak mentaati pada perjanjiannya yang diberikan kepada Sangiang. Hukuman dari Sangiang, adalah: memberi penyakit atau
pun memberi ingatan yang tidak sadar.
Kurban yang biasanya diberi kepada Sangiang, terutama ayam (3, 5 atau 7
ekor) bersama dengan kue-kue dan buah-buahan. Orang keturunan leluhur Sangiang masih hidup tetapi mereka purnakaryawan dan
mereka tidak lagi dihadapi oleh manusia. Biasanya orang berserah diri kepada 4 Sangiang, ialah anak laki-laki yang
tertua dan yang bungsu dari Panyarawan
(Raja Ngalang dan Tempon Kanarean)
dan dari Pampulu Hawon (Raja Dohong dan
Tempon Telon).
Terserah kepada orang, atau kepada siapa mereka
menyerahkan dirinya. Akan tetapi biasanya yang dipilih adalah Sangiang yang telah lama (secara
turun-menurun) dihadapi oleh satu kerabat (kecuali kalau Sangiang yang biasa dihadapi tidak menolong lagi dan ternyata
pertolongan dari lain Sangiang lebih
bermanfaat).
Kalau ada kepentingan yang mendesak dapat juga semua Sangang dipanggil. Paling banyak dan
sering orang meminta pertolongan dari Tempon
Telon, karena dia yang paling kuat dan gagah. Dan hanya Tempon Telon dapat mengantarkan jiwa
manusia atau orang yang telah meninggal untuk menuju ke Lewu Liau di Alam Roh.
Perlu dijelaskan di sini tentang Riwayat Tempon Telon: Dia lahir pradini (sebelum waktunya), berupa
segumpal darah saja, yang oleh ibunya dibuang ke sungai. Gumpal darah itu
mendarat dekat Pegunungan Lengkong di
Tanah Sangiang, dan di sini Sangiang Puso Baluso, yang sedang mandi, ketemu gumpal itu. Dia lalu
memegangnya dan menciptakannya menjadi makhluk yang hidup, dan kepadanya diberi
nama “Kumpang Mandau Amas Je Lampang intu
penda Langt” (Kumpang Mandau Emas
Yang Terapung di Bawah Langit). Kalau anak yang terlantar ini menjadi makin
tua, dia ketem dengan saudara sepupunya Tempon
Tiawon.
Tempon Tiawon melarikan
diri dari seorang Sangiang yang
sangat berkuasa. Manyamei, karena dia
hendak menikahinya akan tetapi maksud ini ditolak oleh Tempon Telon.
Manyamei
mengejar dia dan hendak menyentuhnya. Pada waktu itu “Kumpang
Mandau Amas Je
Lampang intu Penda Langt” membela Tempon
Tiawon dan dia berkelahi dengan Manyamei
sampai dia kalah dan terbunuh. Kemudian Tempon
Telon kawin
dengan Tempon Tiawon atas syarat
istrinya bahwa mereka akan berkedudukan di Kampung asalnya. Baru pada waktu ini
ibu pengasuh Tempon Telon menjelaskan
kepada dia asal-usulnya.
Waktu mereka berdua kembali di Tanah Tempon Tiawon, mereka mendapat sambutan
yang hangat, karena Tempon Telon
mengalahkan Manyamei yang sebelumnya
tak seorang pun berani melawan. Diantara mereka adalah Telon yang terkenal karena kekuatannya dan dia menyerahkan dirinya
sebagai budaknya kepada suami Tempon
Tiawon karena rasa hormat kepadanya. Itu sebabnya nama “Tempon Telon” terjadi. Perkawinan Tempon Telon berlangsung bersama-sama
dengan perkawinan saudara laki-lakinya yang menikah dengan saudari dari Tempon Tiawon. Sedangkan saudara
laki-laki Tempon Tiawon menikah
dengan saudari Tempon Telon. Sejak
itu Sangiang Tempon Telon yang paling
berwibawa diantara Sangiang yang
lain.
Selain dari Tempon
Telon ada lagi Sangiang yang
bernama: Sangomang dengan kawannya Papaloi dan Sakanak. Banyak perbuatan kepahlawanan diceritakan tentang mereka.
Orang suka berada dalam perlindungan Sangomang
dan untuk ini memang diberikan kurban kepadanya. Kerap kali orang menyerahkan
anaknya pada
Sangomang
atas perjanjian nanti akan memberi kurban ‘parapah
sandehan bereng’ untuk menguatkan ketahanan badan anaknya. Kurban itu,
berupa: seekor kerbau, yang nantinya akan diberikan kalau anaknya telah berusia
20 tahun. (Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh: A.H. Klokke, Epse, 24-03-2003)
dan Disempurnakan kembali oleh: Offeny Ibrahim). ---off---
2).
Contoh Mitos tentang: “Pangkalima Burung Pemersatu Suku Dayak
Kalimantan”
Pangkalima
Burung adalah sosok gaib yang legendaris, yang dipercayai sebagai tokoh
pelindung dan pemersatu Suku Dayak. Bisa turun kapan saja dalam wujud nyata
untuk memberi pertolongan kepada masyarakat.
Ia dipercaya telah
mendiami pedalaman hutan Kalimantan sejak beratus-ratus tahun lalu dan
mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak. Pangkalima Burung, Sosok Sejati
Suku Dayak yang Cinta Damai Namun Kejam Jika Terancam. Panglima Burung atau
Pangkalima merupakan sosok yang melekat bagi orang Dayak meski secara wujudnya tak
terlihat.
Panglima Burung merupakan tokoh
mitos yang melegenda. Sebagian besar Suku
Dayak
mempercayai “Panglima Burung”, bahwa dia tinggal di daerah gaib pedalaman
Kalimantan dan mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak di Kalimantan, dulu dan
sekarang. Panglima Burung akan turun sewaktu-waktu dalam bentuk seutuhnya atau
merasuki seseorang untuk menolong apabila suku Dayak sedang dalam posisi
terancam, teraniaya, atau hendak melakukan peperangan.
Biasanya
masyarakat Dayak melakukan ritual khusus untuk memanggil Panglima Burung.
Panglima
Burung mencuat nama dan sebutannya ketika terjadi kerusuhan Sampit dan
kerusuhan Sambas di waktu silam.
Sangatlah
jelas bahwa Panglima Burung digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat serta
karakter sebagai orang Dayak sejati yaitu cinta damai, mengalah, suka menolong,
pemalu, sederhana, tapi akan berubah kejam dan gagah berani ketika posisi
mereka terancam. ---
3).
Contoh Legenda tentang: 1). Legenda Batu Suli, 2). Legenda Puruk
Harimaung
1). Legenda Batu Suli
Pada
jaman dahulu, di hulu sungai Kahayan berdiri sebuah Puruk (bukit batu) yang
menjulang kelangit. Puruk ini bernama Puruk Sendukui. Puruk Sendukui ini sering
digunakan oleh Gerahasi dan Gerahasai, sepasang raksasa pemakan
manusia untuk turun ke bumi. Ada seorang manusia sakti, Darung Bawan namanya, merasa kasihan terhadap nasib manusia yang
menderita karena ulah kedua raksasa tersebut.Dia menebang puruk sendukui dengan
menggunakan baliung (beliung), agar
Gerahasi dan Gerahasai tidak dapat lagi turun ke bumi.
Bagian puruk yang telah ditebang, kemudian ditendang oleh Darung Bawan hingga terpelanting dari
hulu Sungai Kahayan sampai dengan desa Upon Batu sekarang. Potongan puruk
tersebut jatuh rebah sehingga menutup aliran Sungai Kahayan. Untuk menanggulangi,
kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan.
Keputusan musyawarah adalah untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh
itu.
Ikan Tampahas (Tapah) ditunjuk sebagai mandor.Pekerjaannya
mengharuskannya terus-menerus berteriak-teriak agar semangat para pekerja
selalu tinggi. Ikan Balida (Pipih)
diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya.
Berkat usaha mereka akhirnya Batu Suli dapat
ditegakkan seperti sedia kala. Namun setiap ikan yang turut mengambil bagian
dalam pekerjaan itu harus menanggung akibat pekerjaan besar itu.
Keturunan ikan Tampahas
(Tampahas) Tapah misalnya karena kakeknya terlalu banyak membuka mulut untuk
berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, kini semuanya memiliki mulut
yang berukuran besar.
Keturunan ikan Balida (Pipih),
karena kakeknya harus memanggul tebing batu yang sangat berat itu, punggungnya
bungkuk dan tulangnya hancur. Kini semuanya mempunyai punggung bungkuk dan
tulang yang halus-halus (legenda ini merupakan legenda terkenal di kalangan
orang Suku Dayak Ngaju dan Suku Dayak Ot-Danum), percaya bahwa kisah ini
benar-benar pernah terjadi. (Legenda
ini sangat menarik karena mengajarkan kepada kita perlunya persatuan jika hidup
dalam suatu masyarakat. Apalagi di dalam masyarakat yang terdiri dari beraneka
ragam suku bangsa karena melalui persatuan kita dapat menjadi teguh dan dengan
menyelesaikan apa saja menjadi mudah. Di dalam legenda ini mengandung salah
satu sila dari Pancasila yaitu sila Persatuan).
2). Legenda Puruk Harimaung
Pada jaman dahulu, di dekat desa Upon Batu sekarang terdapat sebuah
kampung yang bernama Sila Batu Mapan. Di kampung tersebut terdapat seorang
penguasa kaya raya yang bernama Tunggal
Hanja Liwang. Tunggal Hanja Liwang ini mempunyai sifat yang ganas seperti
harimau, yaitu suka membunuh orang.
Suatu ketika, di kampung tersebut datang seorang saudagar yang berasal
dari kampung Luwuk Dalam Bekasi di
dekat Pulang Pisau. Saudagar itu berniat untuk menjual guci kepada Tunggal
Hanja Liwang. Namun karena sifat Tunggal Hanja Liwang yang jahat, maka saudagar
tersebut ditawannya. Lalu Tunggal Hanja Liwang meminta uang tebusan kepada keluarga
si saudagar.
Adapun saudagar, itu mempunyai seorang menantu yang sakti bernama Bandar. Mendengar mertuanya di tawan
oleh Tunggal Hanja Liwang, Bandar lalu berangkat ke Sila Batu Mapan sambil
membawa uang tebusan untuk menebus mertuanya.
Sesampainya di Sila Batu Mapan, Bandar ditantang oleh Tunggal Hanja Liwang untuk mengadu
kesaktian. Kemudian terjadilah peristiwa perkelahian yang seru antara keduanya.
Dalam perkelahian itu ternyata Tunggal Hanja Liwang terbunuh dan rohnya berubah
menjadi roh harimau yang bergentayangan di kampung tersebut.
Sewaktu peristiwa basaluh
(menjelma), kampung tersebut berubah menjadi bukit batu (puruk) dan selanjutnya pada bukit batu tersebut banyak
dijumpai lubang yang berderet memanjang. Lubang-lubang itu dipercayai oleh
penduduk setempat sebagai tempat bersemayamnya roh harimau tersebut, sehingga sampai saat ini bukit batu tersebut
dikenal sebagai Puruk Harimau.
(Dalam cerita ini digambarkan bahwa kejelekan baik yang berupa
kekejaman, kelicikan, ketamakan dan kesombongan akan mati dengan munculnya
orang sakti yang membela kebenaran. Dan akibatnya dari buah kejahatan dulu
selama masih hidup di dunia ia berada di alam yang lain berubah menjadi roh halus yang menakutkan dan mengganggu
manusia itu kembali. Sedangkan mengenai berbagai ceritera Rakyat Kalimantan
Tengah, saat ini sudah banyak beredar dalam bentuk buku cetak).
2.
Cerita Rakyat: Cerita dari zaman
dahulu yang hidup di kalanganrakyat dan diwariskan secara lisan (lih. KBBI
V). Cerita rakyat dapat dipahami sebagai sebuah kisah atau cerita yang berasal
dari masyarakat zaman dahulu dan berkembang secara luas dari mulut ke mulut
hingga pada akhirnya dikenal secara luas. Cerita rakyat sendiri merupakan
warisan budaya yang perlu dilestarikan hingga generasi selanjutnya. Di bawah
ini beberapa contoh cerita rakyat Kalimantan Tengah.
|
1).
Contoh: |
Judul Cerita: "Utir Bawi Bahanyi" |
|
|
|
|
Sinopsis: (Basa
Dayak Ngaju) Aton
ije biti anak bawin Dayak tabela, aran anak te Utir, ie bajar tahiu kahanyi bara tambie je
bakesah tahiu tamueie metuh katabelae. Katika Nyai manaharep halangan intu
lewue, ie mingat kare kesah tambie dan manyupa kahanyi intu huang biti
berenge kabuat. Maka dia sala amon oloh lewu te manggare ie “Utir Bawi |
|
|
Bahanyi”.
|
|
|
|
|
|
Sinopsis:
(Bahasa Indonesia) |
|
|
Ada seorang anak perempuan Dayak masih
belia, nama anak itu Utir, ia belajar tentang keberanian dari neneknya yang
bercerita tentang petualangan masa mudanya. Ketika Utir menghadapi rintangan
di desanya, dia mengingat ceritacerita neneknya dan menemukan keberanian di
dalam dirinya sendiri. Maka tak salah apabila orang kampong tersebut
menamakan dia “Utir Wanita Pemberani”. |
|
|
2).
Contoh: |
Judul Cerita: “Sangkanak Inggare Sabangak” |
|
|
Sinopsis (Basa Dayak Ngaju):
Tege ije biti anak hatue tabela bakena balinga. Arae
te “Sangkanak”, baya sana ie nampara bujang ie buah “bangak” kilau buhit gatel
je balasut bakarah mahin amon buah danom. Hapus baue-matae uras kana bangak te,
sampai dia lalau tau oloh ngasene ie, kapapan ampie. Awi te oloh manggare
Sangkanak te “Sabangak”.
Hung ije katika, ie manampara manamuei uka tau
manyupa narai je irentah Raja akae te tuntang katahin tanjung teteie are
manyupa papire tingkes je mauji kahanyie.
Sinopsis (Bahasa Indonesia):
Ada seorang anak laki-laki muda tampan
rupawan. Namanya “Sangkanak”, hanya saja dia beranjak remaja dia mengidap
“bangak” seperti penyakit gatal-gatal yang panas dan pedih apalagi terkena air.
Seluruh wajahnya semua kena bangak itu, sehingga orang tak dapat mengenali dia,
betapa buruk dan jelek rupanya. Sebab itu orang menyebutnya Sangkanak itu
“Sabangak”.
Pada
suatu saat, dia memulai petualangan
agar supaya dapat menemukan apa yang
diperintah Raja kepadanya tersebut dan
sepanjang perjalannya banyak menemukan berbagai rintangan yang menguji
beraniannya….. Simak Cerita lengkapnya (dari Kalangan Suku Dayak Ngaju),
berikut:
"Sangkanak Inggare Sabangak"
(Oleh: Sergius P. Tigoi)
Tege ije biti anak hatue tabela bakena baling toto.
Arae te “Sangkanak”, baya sana ie nampara bujang ie buah “bangak” (paribasae te
mon inyalin akan basa Indonesia, jete inyewut cacar api atawa inyewut kea:
cacar ular) kilau buhit gatel je
balasut bakarah mahin amon buah danom. Hapus bau-matae uras kana bangak te,
sampai dia lalau tau oloh ngasene ie, kapapan ampie. Awi te oloh manggare
Sangkanak te
“Sabangak”. Sangkanak akan kabelen oloh, awi kapapan
buhite. Ie belum asi-asi dengan indange melai ije puduk korik. Genep andau
Sangkanak baya olih satiar mamisi laok bewei akan balut ewen ndue indange.
Sinde katika Sangkanak tulak mamisi akan ngaju lewu,
mahapan ije jukung korik. Metoh Sangkanak mambesei akan ngaju lewu te, salenga
baun andau kaput pijem palus muhun ujan papak panggar mambisa Sangkanak hunjun
jukung arute. Narai taluh ati bangak je mawi Sangkanak bakarah manungut sinde,
dia laluen angate ie manyarenan te. Tepae kea ie jele-jeleng mambesei dimpah
akan lewun Raja palus tende intu batang talian Raja. Sangkanak tame akan huang
jamban Raja manyahokan arepe bara andau ujan te.
Metoh Sangkanak munduk ngarekot melai huang jamban
manyarenan tungut buhite, tara gitae ije kakiwak buring melai tukep ie. Palus
mahasil gawi Sangkanak manyurat manggambar intu dinding jamban Raja. Surat dia
surat, gambar dia gambar, awi puna Sangkanak dia puji sakola. Tapi taluh je
iawie hung dinding te puna bahalap ampie.
Ujan jari tende, andau kea handak kaput, Sangkanak
palus buli akan lewu human ewen. Dia pire katahie Raja muhun bara Istana handak
mandoi akan batang taliane, metoh ie tame jamban, tara gitae gambar je aton
intu dinding jamban te. Raja palus tarewen hayak dengan kasangite. “Eweh oloh
je bahanyi mamapa jambanku toh..??!!” Kuan Raja sangit mangkariak. Marak atei
sangit raja marima ampin gambar te, “narai rimae gambar toh bahalap ampie, tapi
dia aku haratie? Kuae hung ateie.
Tahi kea Raja marima gambar te dia ie sundaue. Sana
jari mandoi Raja lompat akan Istana, palus manenga ije parentah akan Mantir
Istana uka ie mansanan akan hapus rakyat, jipen hatue bawi bakas tabela uras
dumah akan Istana manyunto gambar je intu jamban te. Lepah genep bitie hung
karajaan te jaton ije biti je tau manyunto gambar te. Baya Sangkanak ewen ndue
indange ih je dia omba, awi Sangkanak cara tolak mamisi.
Hung sinde andau Sangkanak jalanae tulak mamisi ie
tende intu batang talian raja. hemben te kea ie nekap awi sardadu raja.
“Sabangak” toh je hindai umba manyunto gambar intu dinding jamban te” Kuan ewen
sardadu. “Manyunto kilen?” kuan pisek Sangkanak. “Boh manyunto-manumon ampin
gambar toh, jetoh parentah raja.” kuan ewen. “Ceh!!! amon manyunto gambar kau
diati kahalie.” kuan Sangkanak ure-ureh.
“Ayu…gambar kilau te amon puna
tau!!” kuan ewen.
Ye Sangkanak manduan buring bara sardadu, palus ie
manggambar manyunto kilau je aton intu dinding te. Hanjulu toto Sangkanak manumon
gambar te. “Toh, jari ndai kuan
Sangkanak!” Ewen sardadu paham hanjak awi Sangkanak tau manyunto tumon gambar
te. Ewen mansanan akan Raja, basa Sangkanak tau manyunto gambar te. Raja palus
muhun manampayah gambar je awi Sangkanak puna sama, jaton tangkiris isut. Raja
hamauh Sangkanak : “rimae ikau toh je manggambar intu dinding jambanku ?” kuan
Raja.
Ampun….. ampun…. Raja…..!! Puna aku je manggambar
intu hete, dia kukatawan narai buku sabab aku palus manduan buring manggambar
kilau te.” Kuan Sangkanak tombah masi arepe. Hamauh tinai raja : “Amon puna
ikau je manggambar te, narai rimae surat gambar te?”
Ye Sangkanak benyem hanjulu marima huang atei, palus
ie hamauh : “Kutuh rimae raja : “Manuk
Bungko Tutuk Salaka, Piak Liau Dandang Wayang, Dohong Nyahu Karis Kilat”. “Kaya-kayah
!! hung kueh itah tau sundau ramo kilau te?” Bara kueh ikau dinu auh toh, en
puna tege katawam manuk bungko totok salaka, piak liau dandang wayang, tuntang
dohong nyaho karis kilat, te?” Kuan Raja hamauh dengan Sangkanak marak basingi.
“Dia ku katawan Raja…. ampun aku….!! Aku baya tau
manyewut ih, dia kukatawan kilen kea aku tau manyewut je kilau te.” kuan
Sangkanak tombah. “Amon ikau dia olih mamparahan akangku taluh je kuam te,
ihukum ku ikau!! Aku manenga katika lime walas andau ikau manggau ramo te.”
Kuan Raja.
Limbah te Sangkanak buli sambil marima auh Raja. Ie
paham pehe ateie awi hung kueh batang danum tau sundau ramo kilau te. Nampayahe
mahin dia puji. Amon dia ie ihukum patei Raja. Sana sampai huma ie manyarita akan
indange taluh je mawi ie, tuntang auh raja te. Indang Sangkanak paham pehe
ateie ie manangis masi akan anake Sangkanak.
Marak kapusang atei indang Sangkanak hamauh dengan
anake. “Nauh ih anakku, kanampin itah dengae, Keleh ikau namuei mangumbang petak
danum, mikeh Ranying Hatalla tau masi ikau tuntang ikau tau sundau ramo te.
Sahelou bara ikau tolak namuei aku manampa akam katupat akan bahatam andau
jewu.” Kuan indang Sangkanak marak tangise.
Hung hanjewu andau marak andau buta-butat tampalawei
te, Sangkanak paramisi dengan indange, palus ie haguet tolak namuei. Tamuei dia
katawan tintu jalanae.
Kaput andau Sangkanak tende mambaring arep batiruh
melai sengkong baner, hanjewu andau manuntung jalanan tinai. Nukat bukit, sewu
janah, dimpah sungei saka, tame balua parak kayu, tanjung tetei dia katawan
lewu ije inintu.
Hung andau je kaujue, Sangkanak tende tanjunge awi
tege handipe hai herep matep jalan je inyurue. Ampie handipe hai te ngalingkar
arepe hung bentuk jalan. jaton olih mahila, handak mules jari kejau tanjung
tetei. Sangkanak palus mampalua damek baipu, mambidik sipet, palus manyipet
handipe hai te. Sampai handak lepah isin sipet te handipe dia batindar tuntang
hindai matei. “Hakarang indang…!”, kuan Sangkanak, damek toh baya tisa ije ih
tinai. Sana Sangkanak manyipet hapan
damek je pangkalepahe, handipe te palus tindar manggayar rangka-rangkah.
Sangkanak rangka-rangkah kea manuntut handipe je
manggayar te. Tapi tagal andau jari kaput Sangkanak dia manampayah akan kueh
handipe te manggayar. Palus ie tende manuntut handipe, sambil marima taluh
panyangkume te. Salenga dumah ije kongan Sangkalap Gimai, je paham kahaie.
Palapase mahin kahain amak hilai. Palus sangkalap te hamauh dengan Sangkanak,
“narai gawim hetoh nah esu?” kuan sangkalap te .
Sangkanak tarewen basa sangkalap te tau bapander.
“Aku toh namuei, dia katawan tintu jalanangku, aku manyak handipe je nyipetku
endau.” kuan Sangkanak tombah. “Yoh … tawangku ih. Handipe je nyipetm te
“apangm” Apangm te je ngalikar bentok jalan te metoh ie balampah.” Apangm te
horan hatulang dengan indangm, ie kawin tinai dengan bawin taloh”, kuan
sangkalap dengan Sangkanak. Narai katarewen angat Sangkanak, basa ie jari
manyipet apange.
Amon ikau handak manyak apangm, tau aku magah ikau,
tawangku ekae. “Yoh bue, amon tau magah aku eka apangku” kuan Sangkanak. “Tau,
lompat ikau hunjun likutku”. Ye Sangkanak palus lompat akan hunjun likut
Sangkalap Gimai te. Dia pire katahie, palus ewen sampai intu baun human oloh.
Sangkanak muhun bara likut sangkalap. Sangkalap mameteh dengan Sangkanak. “Amon
ikau esu handak buli, katok ih jihi bentok huma te telo kali, aku dumah manduan
ikau.” Yoh bue kuan Sangkanak.
Sangkanak palus lompat akan human oloh te, sana ie
nyalungka baun tonggang huma, oloh huma te hamauh, “Palus Sangkanak..!” kuan
ewen bara derep. “Boh?? bara kueh ewen katawan arangku? kuan atei Sangkanak.
Sangkanak tame akan huang huma, intu bentok huma te tege ije hantun oloh ingujuh bentok huma. Ie dia kea
misek ewen je jari malihi te.
Sana limbah kare kuman mihop, oloh huma te bapander
sarita dengan Sangkanak, basa ewen te hampahari dengan Sangkanak. Ewen baepat
biti anak apang ewen je harian. tuntang kuan ewen hantu je bentok huma te
hantun apang ewen je buah sipet Sangkanak.
Helo bara apang ewen mahutus, ie mameteh, basa kareh
tege oloh dumah arae te Sangkanak, ie te anakku je helo, ie te je manyipet aku
metoh aku balampah”. Tapi ela keton sangit dengae awi ie dia katawan. “Kareh
amon aku mahutus, limbah keton maniwah aku, keton tau mambagi kare ramo panatau
je lihiku akan keton hampahari, tuntang keton manenga kea bagin ayun anakku
Sangkanak,” kuan peteh apang ewen. Puna paham kanyasal Sangkanak awi ie jari
manyipet apange sampai malihi. Tapi kawan paharie mampung ie, jete herahe puna
kahandak Ranying Hatalla.
Andau kauju jari sampai hantun apang ewen imapui
manumon adat helo. Limbah te ewen hampahari maniwah karewun tulang apang ewen.
Hung tiwah te ewen mampatei ije kongan hadangan hai. Tisan hadangan te imundut
akan tambang indang Sangkanak melai lewu amon Sangkanak buli kareh.
Upacara Tiwah jari hapus, te kawan paharin anak apang
Sangkanak mamumpung arep ewen, palus ewen mambagi panatau je impelai apang
ewen, tuntang peteh apang ewen, Sangkanak dinun kea bagie yete : “ije Kongan Manok Bungko Totok Salaka, ije Dohong tuntang ije Karis, je puna pusaka helo.
Sangkanak hanjak awi ie dinun ramo waris je puna eka
itung huange. Hung andau ije tinai Sangkanak balaku paramisi dengan kawan
paharie, handak buli akan lewu human indange. Palus Sangkanak mangatok jihi
hung bentok huma hantelo kali, salenga dumah Sangkalap Gimai hai te, palus Sangkanak lompat sangkalap hai te, ie
buli akan human indange. Dia pire katahie ewen sampai baun human indang
Sangkanak. Sangkanak manyewut are tarima kasih tagal pandohop Sangkalap Gimai,
balalu Sangkalap Gimai te lilap.
Sangkanak palus mantehau indange, sana manampayah
anake buli barigas indang Sangkanak hanjak toto. Katahin lihi Sangkanak namuei
indange jaton bara belai kuman awi pehe ateie. Sangkanak mukei pundut sarangan
balut je imbite, isin hadangan, indange kuman lawan toto, palus ie barigas
tinai. Indang Sangkanak tarewen hanjak manampayah anake salenga keleh kare
buhit bangak anake te. Sangkanak manjadi oloh hatue ije bakena balinga toto.
Limbah uras ranai te Sangkanak manyarita ampin tamueie, tuntang ie sundau
dengan taliau apange je manenga akae waris panatau je imbagi akan genep anak
jariae.
Indange puna maiyoh auh taliau basa horan ie hinje
apang Sangkanak. Indang Sangkanak manarima kasih tagal asih Hatalla, mahaga
anake, tuntang apange dia nalingau anake kabuat. Lius Sangkanak ewen ndue
indang batiruh, Sangkanak mameteh dengan indange , basa jewu andau je kalime
walas manumon janjin Raja.
“Amon hung bentuk andau jewu tege auh nyaho kilat je
paham toto ela habut.” kuan Sangkanak dengan indange.
Manumon auh Sangkanak hung bentok andau ie mampalua manok bungko, dohong tuntang karis, ije waris bagin ai te uras
impaluae, hanyak dengan manutung garu manyan ie japa jimat mendeng intu baun
tonggang hayak hamauh, “yoh, amon puna aku utus Raja badudus, tuntang dohong,
karis toh puna turus panatau apangku, narai bewei je ilakuku uras manjadi
manumon auhku.” Kuan Sangkanak. Sangkanak palus manyilak dohong bara kumpange,
nyalenga nyaho maletar mahiau dia kalaluen kilau auh petak danum uras
bisak-bisaka. Limbah te ie manyilak karis, palus kilat hasambur manyila langit.
Mahining auh kilau handak saluh, are oloh hung lewun
Raja tarewen sabanen, tengahe tujah kilau oloh matei. Tengahe misek kilen taloh
mawi lewu toh je kilau handak saluh hung bentok andau toh. Metoh te kea
Sangkanak hamauh : “Aku balaku Istana mendeng baun human indangku, lipet
sapuluh kahalape bara Istana
Raja, sepsimpan dengan kakare panatau hung Istana
te.” Salenga manjugut Istana tumon auh Sangkanak. Limbah te Sangkanak hamauh :
“Aku balaku jipen rakyat lipet lime bara
ayun Raja.
Uras taluh je manumon auh Sangkanak manjadi. Kute kea
dengan manok bungko, gagenep manok te manandu balua bara totoke butup amas
salaka kahain bua tangkuhis. Tagal te Sangkanak dengan indange manjari oloh
tatau labien bara Raja. Tara hining Raja auh kabar basa intu lewu ngawa tege ije
Karajaan Taheta, je lipet sapuluh bara panatau ain Raja te. Balalu Raja mimbit
oloh maja akan lewu Raja Taheta te. Sana sampai hete Raja hengan manampayah
karajaan je paham hai te.
Sangkanak manampayah tege Raja dumah maja marusik
palus ie mamalus Raja dengan kare sardadu ayue. Ie manyarungan Raja sambil
manyarita ampin tamuei ije biti oloh hatue je inggare Sabangak. Palus Raja
manetek saritae kea mansanan basa Sabangak sampai andau toh hindai ati buli
bara tamueie, maka lime walas andau je inukas jari sampai.
Sangkanak palus mansanan arepe basa ie te je inggare
Sabangak nah, je rentah Raja manggau manok
bungko, totok salaka, piak liau dandang wayang, dohong nyaho karis
kilat, narai katarewen Raja mahining kesah Sangkanak je kilau te, ie handak
dia percaya balalu ie balaku ampun dengan Sangkanak, palus mangawin anake
dengan Sangkanak je bakena balinga te hayak tatau sanang. --
Peteh
Penyang (Pesan Moral) :
1. Jalan
Pambelom itah dia itah mangatawan, uras jari iatur awi Tuhan Hatalla.
2. Belom
asi-asi, kabelen oloh dia mahambang itah bagawi basatiar usaha.
3. Ela
itah mangutuk, mahina, mamapa, mambarangai oloh je belom asi-asi. Eweh katawan
ie kareh belom batuah marajaki labien bara itah.
4. Kasalan
itah je jari mahalau jete dia itah tau mubahe, jete tingak ajar akan itah,
tuntang jalan itah mangambuah haluli akan kahalap.
5. Rajaki
tuah amon jari sampai akan dumah manambang itah, je cangkal basatiar bausaha,
dia akan oloh je munduk manure jaton taloh gawi usaha. Balukudoa tuntang bagawi
(Ora Et Labora) akan imberkat Tuhan Hatalla. ---
3.
Seni Sastra (Lisan)
Sebenarnya Seni
Sastra (lisan) masih berhubungan dengan Mitos
maupun Legenda.
Masyarakat Kalimantan Tengah tidak mengenal sistem
tulisannya sendiri, sebab itu seni sastra yang ada adalah seni sastra lisan. Sastra tersebut secara umum dapat dibagi menurut
isinya ke dalam : cerita-cerita yang berkenaan dengan pahlawan, dan
cerita-cerita mengenai tokoh-tokoh manusia, kejadian-kejadian alam,
binatang-binatang, cerita-cerita jenaka. Dapat kita lihat sebagaimana pada
contoh berikut: 1). Kesusteraan Suci
Kesusteraan
suci sebagaimana yang terdapat di dalam sastra
sangen atau sangiang (nama bahasa
upacara yang sudah tidak memiliki vitalitas lagi) atau sastra di dalam agama
kepercayaan Leluhur Suku Dayak berisi cerita-cerita tentang kejadian dunia,
manusia, dunia atau lewu tatau
(negeri kaya), dunia bawah, sangiang-sangiang
(dewa-dewa) kekuatan baik dan jahat, perjalanan rohroh manusia, mantra-mantra, japaian-japaian atau tawur. Singkatnya sastra tersebut
merupakan bagian dari mitos.
Pewarisan mitos ini dari mulut ke mulut dilakukan
melalui suatu cara yang cukup menjamin kelangsungannya.
Beberapa syair yang ada di bawah sini merupakan
contoh bait yang sangat puitis berkenan dengan penciptaan dunia menurut
kepercayaan leluhur Suku Dayak, sbb. :
Nyaho
mamparunguh tungkupe Kilat panjang mamparinjet ruang Artinya :
Guntur
Agung membuka kuasanya
Kilat
panjang menggetarkan ruang
Bentuk-bentuk yang demikian dapat pula terjadi dalam
tuturan-tuturan yang prosais. Ini merupakan ciri khas dari sastra sangen.
Ciri lainnya ialah penurunan tidak langsung mengenai
sesuatu benda, makhluk atau keadaan, misalnya :
Tingang
mangkungan lunuk. Maksudnya: Burung Tingang
(Rangkok/Rangkong) hinggap pada beringin (yang dimakud ialah kawin).
Adapun bentuk-bentuk penuturan
berikut adalah menuturkan tentang negeri roh
yang kekal abadi, yang disebut Lewu Tatau,
sbb.:
|
Lewu tatau |
Negeri kaya |
|
|
habaras bulau |
berpasir emas |
|
|
Rundung Raja |
Tempat (negeri) Raja |
|
|
Habusung hintan |
bertumpukkan Intan Permata |
|
|
Lewu tatau je dia |
Negeri kaya yang tak melelahkan |
|
|
rumpang tulang |
tulang (tak perlu kerja
berat) |
|
|
Rundung raja isen |
Tempat raja (yang paling
baik) |
|
|
kamala
uhat |
yang
tak melemahkan urat (tak perlu bersusah |
|
payah)
2).
Dongeng
Cerita-cerita rakyat yang dipercaya kebenarannya dan
sering diceritakan oleh orang tua-tua kepada anak-anaknya. Ada banyak macamnya
(Dongeng tentang binatang, Dongeng tentang legenda, Dongeng tentang penjelmaan
dewa, dsb.
Dongeng
tentang penjelmaan dewa di Kalangan Suku Dayak, contoh: Bapa Sangomang, Indu Sangomang, dan Sangomang
(satu-satunya) putera tunggal. Mereka dianggap sebagai dewa yang sangat sakti
dan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Menurut keyakinan sebagian orang
Dayak di Kalimantan Tengah, keluarga Bapa Sangomang ini adalah golongan tokoh
misterius yang terkenal memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Maka
ajaran hidup keluarga ini dipedomani oleh mereka yang percaya dan diamalkan di
dunia ini. Hal ini dapat disaksikan dalam salah satu bagian dari tata
cara adat perkawinan menurut kepercayaan leluhur, yaitu
pada upacara haluang/hapelek. Arti
upacara ini adalah untuk melaksanakan adat, sebagaimana yang telah digariskan
oleh Indu Sangomang, mengenai kewajiban apa yang harus dipenuhi oleh pihak
laki-laki mau pun pihak perempuan.
|
4. Alam dan Lingkungan: |
Budaya Dayak sangat
terkait dengan alam dan |
|
|
|
|
lingkungan
sekitarnya. Hutan, sungai, dan gunung menjadi latar yang penting dalam |
|
|
kehidupan
sehari-hari dan mitologi mereka. Cerita anak bisa menggambarkan |
|
|
keindahan alam serta pentingnya menjaga kearifan lokal, dan
ekosistem. |
|
|
1).
Contoh: |
Judul Cerita: "Rahasia Hutan Dayak Kalimantan Tengah" |
||||
|
|
|||||
|
Sinopsis: Seorang anak perempuan
Dayak, Bawi Nyai, menjelajahi hutan yang indah di sekitar desanya. Di sana,
dia bertemu dengan makhluk-makhluk (burung, |
|||||
|
satwa,
juga ular) hutan seperti burung Tingang
(Rangkong), burung Baliang |
|||||
|
(Enggang),
burung Haruei (Kuau raja), Kahiu (Orangutan), Kalasi (Monyet merah), Kalawet, (Uwa-uwa), Buhis (Siamang), dan Panganen, Tangkalalok (Jenis ular besar). Bawi
Nyai belajar tentang pentingnya menjaga hutan dan kehidupan liar di
dalamnya. |
|||||
|
|
|||||
|
Kemudian
dapat kita simak pada Sebuah Buku, yang mana di dalamnya banyak
bercerita tentang alam dan lingkungan di Kalimantan Tengah. |
|||||
|
|
|||||
|
2). |
|
Contoh
: |
“Pukung Pahewan”,
(lih. Riban Satia, etal., 2018). Di dalamnya ada diselipkan pesan-pesan moral (sebagai
interprestasi pesan-pesan ), yaitu: 1). Pesan Teologis:
Kesadaran bahwa alam semesta ini |
||
|
|
kearifan lokal |
||||
|
memiliki
Sang pencipta; Hidup bukan untuk diri sendiri tetapi bersama makhluk |
|||||
|
lainnya;
Sesama manusia saling mengasihi bukan saling menghabisi; Mengelola bumi
dengan baik dengan memelihara, menjaga, dan melestarikan alam ciptaanNya.
2). Pesan Moral: Bentuk
ketaatan dan kepatuhan sebagai symbol dari |
|||||
|
penghormatan
dan penghargaan kepada kebaikan-kebaikan sesame dan alam |
|||||
|
semesta.
3). Pesan Budaya: Warisan tradisi budaya leluhur laksana sebuah
pusaka wajib dipelihara, dikelola, dilindungi dan dilestarikan. 4). Pesan
Ekologi dan Global: Pukung Pahewan adalah
penyedia oksigen dan penyerap karbon-dioksida |
|||||
|
sejak
dahulu kala. Dan bisa dikatakan sebagai asset daninvestor bagi dunia (Riban |
|||||
|
Satia, etal., 2018:86). |
|||||
|
|
|||||
|
5. Tradisi dan Ritual: |
Tradisi dan Ritual
Dayak memiliki nilai-nilai yang sangat |
||||
|
|
|||||
|
mendalam dan sering kali
melibatkan unsur spiritual. Cerita anak dapat memperkenalkan anak-anak
pada tradisi-tradisi (Dayak),sbb.: |
|||||
|
1). Upacara Kematian (macam-macam
tradisi upacara ritual kematian yg dimiliki |
|||||
|
oleh suku Dayak
(khusus di Kalteng ini, misal Spt.: 1). Tiwah (Dayak Ngaju/Wil. Kahayan,
Rungan, Katingan, Kapuas Kapuas Hilir, Kapuas Tengah, Kapuas Hulu); 2). Tiwah
habenteng/Manenga lewu (Dayak Ngaju, Kab. Barsel/Wil. Dusun Hilir; Kab. Kapuas/wil. Kapuas Murung); |
|||||
|
3). Ayah (Dayak Tumon, Kab. Lamandau); 4).
Totoh (Dayak Siang, Kab. Mura; 5). |
|||||
|
Dalo (Dayak Uut
Danum/Wil. Kab. Gumas, juga Wil. Kab. Mura); 6). Wara (Dayak Dusun, Bayan,
Tawuyan/Wil. Barsel, Barut); 7). Ijambe,
Ngadatun, Miya, Bontang, Nuang Panuk, Siwah (Dayak Maanyan, Kab.
Bartim); 8). Manyambit (Mungkin bagian dr Dayak Tumon, Wil.
Kab. Sukamara). 2). Mangayau (Ngayau/head
hunting, adalah tradisi etnis Dayak di masa lampau |
|||||
|
untuk mencari/berburu kepala musuh sebagai bukti
kekuatan, kesaktian dan seorang |
|||||
|
Ksatria; juga sebagai salah satu komponen penting dalam
upacara ritual). Biasanya |
|||||
|
sebelum berangkat Mangayau,
mereka melaksanakan upacara manajah
Antang. |
|||||
|
Dengan maksud meminta
petunjuk. 3).
Perkawinan
Adat (Spt. Acara Panganten Mandai: didahului acara Lawang Sakepeng,
kemudian dilanjutkan dg acara Haluang hapelek). 4). Tetek Pantan
(Potong Pantan). |
|||||
Tetek Pantan adalah merupakan salah satu upacara adat penyambutan
tamu sebagai bentuk penghormatan yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Dayak. Upacara potong pantan merupakan tradisi yang
telah dilakukan sejak zaman nenek moyang dulu, dan diwariskan secara turun
temurun hingga generasi saat ini. Menurut kepercayaan bahwa upacara ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
hal-hal yang buruk bagi penduduk setempat maupun para tamu yang baru
datang. Ada beberapa jenis Potong Pantan atau Tetek
Pantan, dan penghalang yang digunakan dalam tradisi potong pantan memiliki
kegunaan dan peruntukannya masing-masing yaitu: 1)Pantan haur (bambu) digunakan untuk
penyambutan bagi orang yang baru pulang dari medan perang dengan membawa
kemenangan dan pantan jenisnya menggunakan haur kuning (bambu
kuning); 2)Pantan balanga (guci) akan digunakan pada saat mengadakan acara perkawinan
adat, sebagai simbol kebangsawanan atau status sosial; 3)Pantan garantung
(gong) tujuannya sama dengan pantan balanga (guci); 4)Pantan bawi yaitu
menggunakan para gadis remaja, biasanya dilakukan pada waktu pesta perkawinan; 5)Pantan
bahalai (kain panjang) digunakan untuk para tamu pejabat, orang terhormat status
perempuan yang sulit menggunakan Mandau; 6)Pantan tewu (tebu) digunakan pada
acara kegiatan bergotong royong saat-saat panen atau mengerjakan ladang.
6. Upacara-upacara
Tradisi lainnya, spt.: 1). Upacara Manyadiri (utk kesembuhan); 2). Upacara
Maaler bajai (upacara utk memanggil buaya krn memangsa manusia); 3). Upacara
Balian (utk pengobatan; Spt. di Kab. Bartim, ada: Walian Bawo, Dadas), 4).
Upacara Manyanggar “Totau” (utk minta
ijin dg penghuni hutan, misal: jika kita masuk ke wilayah tertentu (spt. :
hutan-hutan, pendirian perusahaan; selalu mengadakan upacara (Manyanggar); 5). Upacara palas bidan
(spt.: Nahunan); 6). Upacara harubuh (mohon bantuan dlm mendirikan kerangka
bangunan rumah); 7). Upacara Handep haruyung (Saling tolong-menolog dlm
kegiatan menanam padi di ladang); Manajah Antang (Untuk menjemput roh dengan
burung Antang; spt. Antang Darahen, agar dapat memberikan
informasi, melalui suatu isyarat tentang letak atau keberadaan musuh, arah
tujuan, boleh/tidaknya berangkat ),
dan masih banyak lagi yang lainnya.
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
||||||
|
|
BAB III |
|
||||
|
|
||||||
|
|
UNSUR SENI BUDAYA DAN TEKNOLOGI DAYAK |
|
||||
|
|
DALAM PENULISAN CERITA ANAK |
|
||||
|
|
||||||
Di tengah hutan belantara Kalimantan Tengah,
tersembunyi sebuah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, yakni seni dan
budaya masyarakat Dayak. Dari alam yang subur hingga kearifan lokal yang
mendalam, unsur-unsur ini membentuk landasan kokoh bagi cerita-cerita anak yang
penuh warna dan makna.
Dalam upaya mendongengkan kisah yang menggugah hati
anak-anak, memasukkan unsur seni dan budaya Dayak menjadi langkah bijak untuk
mengajak mereka mengeksplorasi keindahan alam, memperkaya pengembangan diri,
menggali ilmu sains, mengapresiasi seni budaya, memahami pariwisata lokal,
merasakan keasyikan olahraga tradisional, menikmati kuliner khas, serta
mengenal lebih dekat flora dan fauna yang unik.
Mengenal alat transfortasi terutama di sungai,
mengenal macam-macam kuliner Kalimantan Tengah dari masing-masing Kabupaten,
tentang hal Pengawetan makanan, mengenal akan suatu prosesi Perkawinan Adat,
seperti pada Suku Dayak
Ngaju ada istilah “Jalan Hadat”, serta juga tidak
kalah penting Mengenal adanya Rumah Tradisional/Adat yang merupakan Karya
arsitektur nenek moyang Suku Dayak sebuah peninggalan di masa lalu.
Dengan menghadirkan unsur-unsur tersebut dalam cerita
anak, kita tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga
tentang kehidupan, lingkungan, dan kearifan lokal. Melalui petualangan yang
menarik dan karakterkarakter yang memikat, anak-anak dapat memahami pentingnya
menjaga alam, mendorong pengembangan diri, mengembangkan minat dalam sains, melestarikan
seni budaya, mendukung pariwisata berkelanjutan, menghargai permainan
tradisional, menikmati kelezatan kuliner lokal, serta melindungi flora dan
fauna yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Unsur Seni,
Budaya dan Teknologi Dayak Dalam Penulisan Cerita Anak
Unsur
Seni, Budaya dan Teknologi Dayak Dalam
Penulisan Cerita Anak, yang akan dibahas, adalah: 1. Alam dan Lingkungan
2. Pengembangan
Diri
3. Sains
4. Seni
Budaya
5. Pariwisata
6. Olahraga/Permainan
Tradisional
7. Kuliner
Khas Dayak
8. Flora
dan Fauna
9. Mengenal
Macam- Macam Kuliner
10. Pengawetan
Makanan
11. Membaca
Jalan Hadat Pada Prosesi Peminangan Suku Dayak Ngaju
12. Mengenal
Rumah Tradisional
13. Alat
Transportasi
14. Alat-alat
lainnya yang dimiliki Suku Dayak
15. Macam-Macam
Nama Anyaman Rotan
16. Benang
Bintik
17. Seni
Bela Diri
18. Seni
Tari
19. Musik
20. Seni
Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah
21. Seni
Rupa
Dalam tulisan ini, penulis akan menjelajahi lebih
dalam unsur-unsur seni dan budaya Dayak Kalimantan Tengah (semua poin atau hal
di atas akan menjadi subbagian pembahasan) yang sekiranya dapat diintegrasikan
dalam penulisan cerita anak. Dari hutan belantara hingga adat istiadat, mari
bersama-sama merangkul kekayaan budaya ini dalam upaya menciptakan
cerita-cerita anak yang mempesona dan mendidik.
1.
Alam
dan Lingkungan: Dalam cerita anak yang mengangkat unsur alam dan
lingkungan, kita dapat memperkenalkan keindahan hutan tropis Kalimantan Tengah
dengan segala kekayaan biodiversitasnya. Anak-anak dapat diajak untuk mengikuti
petualangan tokoh-tokoh cerita yang menjelajahi hutan, menemui berbagai spesies
tumbuhan dan hewan yang unik, serta belajar tentang pentingnya menjaga
ekosistem alamiah.
2.
Pengembangan
Diri: Melalui cerita anak yang memperkaya tema pengembangan diri, kita bisa
menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh cerita dalam menemukan dan mengembangkan
potensi mereka. Inspirasi dari nilai-nilai kearifan lokal Dayak, seperti
semangat gotong royong dan ketahanan dalam menghadapi rintangan, dapat menjadi
sumber motivasi bagi anak-anak untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan
mereka.
3.
Sains:
Dalam cerita yang mengintegrasikan unsur sains, kita dapat memperkenalkan
anak-anak pada pengetahuan tentang flora dan fauna endemik Kalimantan Tengah,
menjelaskan konsep-konsep sederhana tentang ekologi hutan, atau bahkan
menyelipkan petualangan ilmiah di mana tokoh-tokoh cerita menemukan solusi
untuk masalah lingkungan dengan pengetahuan dan keterampilan sains.
4.
Seni
Budaya: Seni budaya Dayak mencakup beragam bentuk, mulai dari seni pahat,
seni lukis, hingga seni tari dan musik tradisional. Dalam cerita anak, kita
dapat menghadirkan tokoh-tokoh cerita yang berlatar belakang seniman atau ahli
seni tradisional Dayak, yang mengajarkan kepada anak-anak tentang keindahan dan
makna di balik karya seni mereka.
5.
Pariwisata:
Melalui cerita anak yang memperkenalkan pariwisata lokal, kita bisa mengajak
anak-anak untuk mengikuti petualangan di tempat-tempat wisata alam atau budaya
di Kalimantan Tengah, sambil menggali keunikan budaya lokal dan memahami
pentingnya melestarikan warisan budaya dan alam.
6.
Olahraga/Permainan
Tradisional: Anak-anak dapat diajak untuk merasakan kegembiraan dan
kebersamaan melalui cerita anak yang mengangkat olahraga atau permainan
tradisional Dayak, seperti balogo.
Bagasing/babayang, sepak sawut atau lomba besei kambe, jukung hias tradisional.
Di samping itu, cerita ini juga dapat memberikan
gambaran tentang pentingnya menjaga gaya hidup aktif dan sehat.
7.
Kuliner
Khas: Cerita anak dapat menjadi sarana yang baik untuk memperkenalkan
anak-anak pada kuliner khas Dayak, seperti penganan dari behat pulut taheta (beras ketan baru) berupa “kenta”, wadi, tepen dawen
jawau, juhu asem rimbang, babutuk/karondam
(lauk buntau/maram), sambal bubuk, pakasem
saluang, pakasem kupak mangkahai juga
hidangan tradisional lainnya seperti wadai
kakicak, wadai cucur, sasagun.
Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga belajar
menghargai keanekaragaman kuliner lokal (dari masingmasing Kabupaten) serta
pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.( Offeny AI, Seni Budaya
Kalimantan Tengah, 2014:321-345)
8.
Flora
dan Fauna: Melalui cerita anak yang menampilkan flora dan fauna Kalimantan
Tengah yang merupakan maskot Provinsi Kalimantan Tengah (Bua Tanggaring dan Burung
Haruei), juga flora dan fauna lainnya seperti Bua karamu, piais, sayuran seperti bajei, kalakai, singkah uhut; macam-macam satwa/ungags lainnya
seperti Kahiu, kalawet, bakei bahandang,
buhis, burung Tingang, burung baliang
atau kita dapat mengajarkan kepada anak-anak tentang keunikan dan
pentingnya menjaga keberagaman hayati. Cerita ini juga bisa menginspirasi rasa
ingin tahu anak-anak tentang kehidupan alam dan pentingnya konservasi.
9.
Mengenal
Macam-Macam Kuliner Kalimantan Tengah: Kuliner adalah cerminan dari budaya
suatu daerah. Dengan memperkenalkan berbagai macam kuliner tradisional
Kalimantan Tengah dalam cerita anak, anak-anak dapat belajar menghargai
keanekaragaman rasa dan bahan makanan lokal serta memahami nilainilai budaya
yang terkandung dalam proses memasak dan menyajikan makanan.
10.
Pengawetan
Makanan: Pengawetan makanan merupakan bagian penting dari kehidupan
masyarakat Dayak untuk menghadapi musim kemarau atau sebagai persiapan dalam
perjalanan panjang. Dalam cerita anak, pengenalan tentang teknik pengawetan
makanan tradisional seperti pemberian asap atau penggunaan garam dapat
memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang kearifan lokal dalam memanfaatkan
sumber daya alam. Pengawetan Makanan dimaksud, adalah spt.:
1. Karinting (Karapas), Kariting/Karinting atau Karapas ialah salah satu cara pengawetan
daging babi. Dalam kamus bahasa Indonesia disebut “Goba” yaitu gorengan daging babi (daging babi dengan lemaknya setelah diiris kecil-keci,
kemudian digoreng, setelah cukup matang, disimpan berikut lemaknya;
2. Sehei
Sehei adalah salah satu cara untuk mengawetkan ikan. Dalam bahasa Indonesia
disebut Salai. Daya tahan cara pengawetan ini tidak lebih dari tujuh hari
(seminggu);
3. Kalasuam,
Kalasuam adalah cara pengawetan daging buruan atau
ikan agar rasanya tidak berubah. Kalasuam adalah semacam pengawetan ikan atau
daging dengan cara dimasak setengah matang di atas permukaan bara api. Namun
pengawetan cara ini daya tahannya tidak lebih dari dua hari;
4. Pakasem,
Pakasem adalah salah satu cara pengawetan ikan atau daging. Dalam bahasa
Indonesia disebut pekasam;
5. Pundang,
Pundang (daing, gereh)adalah pengawetan ikan atau daging dengan cara dijemur di sinar matahari
hingga kering. Dalam bahasa Indonesia disebut ikan kering;
6. Wadi,
Wadia dalah makanan berbahan dasar ikan atau menggunakan daging hewan (spt:
ikan : jelawat (manjohan), patin, tampahas (tapah), bapuyu (puyu), kakapar
(kepar), lais bamban; untuk daging hewan, spt: daging babi (bagi yang non
muslim), kalong, rusa atau menjangan, dll) yang diawetkan dengan bumbu beras
atau padi, atau biji jagung yang disangrai, diberi garam sesuai dengan
perbandingan banyaknya ikan atau daging hewan yang akan diawetkan kemudian
disimpan dalam bumbung atau tempayan atau stoples dan ditutup rapat,
Bumbu-bumbu yang terbuat dari beras (beras biasa atau ketan putih) atau padi
atau jagung yang telah disangrai hingga kering dan matang berwarna kecoklatan
serta telah dihaluskan (ditumbuk secara manual atau diblender) tadi, disebut “lumo” (bahasa Dayak Ngaju). Dalam bahasa
Dayak Maanyan, bumbu ini disebut “Sa'mu”
.
Wadi merupakan salah satu cara pengawetan ikan yang
daya tahannya bisa mencapai setahun. Tetapi paling cepat; untuk ikan boleh
dikonsumsi kurang lebih selama 3-5 hari; sedangkan untuk daging disarankan
paling cepat 1 minggu baru bisa dikonsumsi. Wadi bisa dibilang adalah makanan
yang "dibusukan melalui proses fermentasi”;
7. Sambal
Bubuk, Sambal Bubuk ialah abon ikan yang siap saji (sudah dimasak).
Sambal Bubuk bisa dibuat dari beberapa jenis ikan, spt. : ikan behau (gabus),
tampahas (tapah), pentet (lele), bakut (betutu);
8. Babutuk,
Babutuk adalah semacam abon basah sebagai lauk pauk diolah dari ikan busuk,
lalu diberi bumbu. Lauk pauk atau babutuk ini dikenal dikalangan suku tertentu
yang mendiami bantaran sungai Barito, mulai Marabahan (Barito Kuala, Kalimantan
Selatan), Buntok, hingga Muara Teweh,bahkan ke Murung Raya (Puruk Cahu).Babutuk
sebagai lauk pauk makan diolah dari ikan-ikan besar yang mati mengapung di
sungai Barito seperti ikan patin (Pangasius sp) atau jenis tapah (famili
Siluridae).Ikan-ikan busuk ini diperoleh tatkala
sungai Barito sedang “sampurak” atau mengalami arus deras dan berair keruh.
Akibat keadaan itu maka ikan mengalami keracunan atau mabuk atau “kahem tungap”
(tertelan air) sehingga mengalami kematian dan hanyut. Pada umumnya ikan-ikan
yang mengambang dalam keadaan membusuk. Ikan-ikan inilah yang dipungut untuk
kemudian diolah menjadi Babutuk .( Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah,
2014:346-351). Ada juga pengawetan Bahan Makanan lainnya (spt.: 1. Jeruk/Tampuyak
(Tempoyak),Tampuyak adalah cara pengawetan daging buah durian yang
diasinkan; 2. Lampuk/Megan (Dodol Durian) Lampuk ialah jenis dodol durian; 3.
Rampang (gaplek), Rampang ialah
salah satu cara pengawetan ubi kayu (singkong).
Bahasa Indonesia disebut gaplek; 4. Kupo (kiwul) ialah salah satu cara
pengawetan singkong melalui proses perendaman di air dalam waktu beberapa
hari.
Daya tahan pengawetan dapat mencapai setahun; 5. Pengawetan
Ubi Kayu maksudnya agarubi kayu tetap awet, tidak cepat rusak/busuk
yaitu menyimpannya ke dalam tanah. Ubi kayu setelah dicabut/dipanenkan, apabila
banyak; dapat disimpan dalam waktu yang lama; 6. Rimpin Mangkahai ialah
salah satu cara pengawetan daging buah cempedak melalui proses penjemuran pada
sinar matahari. Dijemur boleh dengan bijinya, jika sudah agak kering baru
memisahkan bijinya dari daging buah.Daya tahan rimpin mangkahai dapat mencapai
waktu yang cukup lama asalkan kering disimpan di tempat yang aman; spt.:
stoples, galon, dll.; 7. Pakasem Kupak Mangkahai ialah pengawetan kulit cempedak
melalui proses fermentasi yang diberi garam. Selain suku Dayak, suku Banjar
juga mengenal akan jenis makanan yang dibuat dari kulit cempedak ini, mereka
menyebutnya “Mandai” atau “Mandai Basang”; 8. Robung Jomur ialah
pengawetan rebung dengan cara dijemur, biasanya untuk bekal perjalanan,
sewaktu-waktu bisa dimasak. Robung Jomur ini sangat dikenal di kalangan suku
Dayak di Lamandau; 9. Jeruk Kambang Tagarun (Acar Bunga Tagarun) Tagarun merupakan
pohon rawa (Latin : Crataeva nurvala HAM). Pohonnya tidak tinggi. Yang dapat
dikusumsi hanyalah bunganya saja, sedangkan buahnya tidak bisa dikusumsi maupun
dimakan. Bunganya diambil untuk dijadikan acar (.( Offeny AI, Seni Budaya
Kalimantan Tengah, 2014: 361-357).
11.
Membaca
Jalan Hadat Pada Prosesi Peminangan pada Suku Dayak Ngaju Sebagai Teks Sastra:
Adat dan tradisi suku Dayak Ngaju, termasuk prosesi peminangan, memiliki
kedalaman makna dan keindahan tersendiri. Dalam cerita anak, memperkenalkan
prosesi adat sebagai teks sastra dapat memberikan pemahaman tentang nilai-nilai
kehidupan, cinta, dan persahabatan dalam budaya
Dayak Ngaju. Adapun Jalan Hadat Peminangan
“Mamanggul” itu (spt.: Komponenkomponen jalan Hadat Mamanggul (adat peminangan)
pada Suku Dayak Ngaju, dimaksud adalah: 1. Palaku, 2. Saput pakaian, 3. Sinajgn
entang lapik luang, 4. Jarita lapik sangku, 5. Tutup uwan, 6. Lamiang turus
pelek, 7. Bulau singah pelek, 8. Duit lapik ruji, 9. Garantung kuluk pelek, 10.
Pinggan pananan panjahean kuman, 11. Rapin Tuak, 12. Timbuk Tangga, 13. Jangkut
amak (Perlengkapan tidur), 14. Bulau Ngandung/Panginan jandau).
12.
Mengenal
Rumah Tradisional/Adat Kalimantan Tengah: Rumah tradisional Dayak, seperti Betang
(rumah bertiang tinggi dan panjang, dihuni oleh beberapa keluarga) atau rumah
panggung, merupakan simbol kebersamaan dan kekuatan komunitas. Betang juga merupakan jantung Suku
Dayak. Rumah Betang yg masih ada dan sudah tua usianya di Kalimantan Tengah,
ada banyak jumlahnya (spt : 1Betang
Antang Kalang /Betang Tumbang Gagu) (1870) oleh Singa Jaya Antang, berada di
desa Tumbang Gagu, wilayah Kotawaringin Timur, dan replikanya dibangun di Taman
Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta; 2Betang
Toyoi (18941901) oleh Panjat Toyoi, berada di Desa Tumbang Malahoi, simpang
sungai Rungan masuk ke arah sungai Baringei, wilayah Gunung Mas; 3Betang Tumbang Anoi (1893) oleh Damang
Batu di Hulu sungai Kahayan, yg merupakan tempat dilaksanakannya "Rapat
Besar Damai Tumbang Anoi" yg berlangsung dan terwujud pd tgl 22 Mei s.d
tgl 24 Juli 1894); 4Betang Tumbang
Korik, (awal abad 19) di desa Tumbang Korik, wilayah Gunung Mas; 5Betang Konut dibangun sebelum
penjajahan Belanda merupakan pecahan dari Betang Saripoi yg lebih dulu ada,
berada di desa Konut, kecamatan Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya; 6Betang Tambai (1918) di desa Nihan,
wilayah Barito Utara; 7Betang
Buntoi/Huma Gantung
(1870) oleh Djala (Kepala desa Buntoi pd saat itu),
berada di desa Buntoi, wilayah Kabupaten Pulang Pisau; di Kabupaten Lamandau,
spt 8Rumah tradisional "Dinding
Tambi" (1918) oleh Patinggi Nyarik, berada di
desa Tapin Bini, di pinggir sungai Lamandau; 9Rumah/Betang Ojung Batu (kapan didirikan? belum diketahui, yg
jelas betang tsb berumur sangat tua) konon betang ini merupakan tempat kediaman
seorang tokoh masyarakat (tetua adat di Kecamatan Delang saat itu) yg sangat
kaya bernama Omas Petinggi Kaya, krn memiliki ribuan guci antik, yg berada di
Topin Riam Durai, di Kecamatan Delang; 10Betang
Tumbang Apat (1834) oleh Kakek Ura Singa, Kakek Mengkong, dan Kakek Andin (suku
Dayak Siang), dirikan persis di pinggir menghadap Sungai Babuat, berada di desa
Apat, Tumbang Apat, Kabupaten Murung Raya; 11Betang
Patentu (2002/2005) oleh Syaer Sua (seorang tokoh seniman karungut, budayawan,
jg tokoh dlm bidang keagamaan. Betang ini berada di Desa Tumbang Manggu,
Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan; dan banyak lagi betang-betang
(rumah panggung tradisional) lainnya. (Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan
Tengah, 2014:292311-). Disamping memiliki rumah adat, juga ada rumah terapung,
yang disebut “Lanting” yang berada di
tepi Sungai atau danau sebagai rumah terapung. (Offeny AI, Seni Budaya
Kalimantan Tengah, 2014:313).
Dengan demikian, dalam cerita anak, anak-anak dapat
mengenal lebih dekat arsitektur rumah tradisional Dayak atau Betang tersebut, serta nilai-nilai
sosial dan budaya yang terkait dengan kehidupan di dalamnya (spt.: belom
bahadat yakni memelihara: tata krama, akrab, bersahabat, ramah-tamah,
suka menolong sesama, setia kawan, penuh kejujuran, rendah hati (org yg hidup
di dlm masyarakat yg memegang nilai-nilai, norma-norma dlm menjaga keseimbangan
baik antara manusia dengan manusia maupun dng alam sekitar).
13. Alat Transportasi, Terutama Transportasi
Sungai: Dengan sungai-sungai yang melintasi Kalimantan Tengah, alat
transportasi sungai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari
masyarakat Dayak.
Ada beberapa Contoh, seperti : Jukung patai, Jukung rangkan, Jukung sudur, Jukung barubing, Jukung
tiung, Talatap, Arut, Klotok, besei (besei hatue, besei bawi). Macam-macam
alat transportasi dimaksud, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Dalam cerita anak, petualangan menggunakan perahu tradisional di sungai-sungai
Kalimantan dapat menjadi landasan yang menarik untuk mengajak anak-anak
menjelajahi keindahan alam dan memahami betapa pentingnya sungai bagi kehidupan
masyarakat Dayak. (Offeny AI, 2014:273-276).
14. Alat-alat lainnya: 1. Alat Berburu
(spt.: Lunju, Sipet (lengkap dengan telep/ sarangan damek, pisau tangking
(pisau badek), lorang, simpang, sarapang, haup, ambang, keba); 2. Alat Perang
(spt.: Mandau, Sipet, Jambia, Dohong, Talawang); 3. Alat Bertani (spt.:
Baliung, pisau pandirik, Pisau tangking, Pisau pambawau, taja); 4. Alat/Wadah
dan Peralatan bertani (spt.: Sauk, Luntung, Palundu, Keba, Supak, Butah/Rambat,
tugal, gentu); 5. Alat/Wadah Menyimpan Padi dan Alat Pengolahan
(spt.: Lusuk Parei, Jurong, Kiap,
Nyiru, Karanjang, Amak, Lisung, Putaran, );
6.
Alat Penangkap Ikan (spt.: Suar, Pangilar, Tamba,
Haup, Sahiap, Tabing, Rengge, Rawai, Buwu, Jabak, Buka, Takalak, Santapu,
Tampirai, Taut, Banjur, Pisi Balabuh, Rawai Ancak, Kabam/Pasuran), Hajak); 7. Alat Penangkap Binatang/burung, dan
lainnya (spt.: Sambulut burung, Jarat tinjak, Dundang/Sampiti, Rengge/Jawe
Bangamat); Alat Pengrajin/Manjawet (Jangat, Langgei Pangair, Langgei Panising,
Langger puai/biasanya terselip di sisi sarung mandau. Offeny AI, Seni Budaya
Kalimantan Tengah, 2014:256-263, lih. Juga hal.276-277 ).
15. Macam-macam nama Anyaman Rotan: (spt.:
Bakatak Hanangoi, Dare Batang Garing, Dare
Ihing, Dare Uhing, Jangkarang Matanandau, Kala
Hajijit, Kalempang Plara, Kambang Bakung, Kambang Sarunai, Labehu Garantong,
Ngalangkang Garu, Nyaring Hajijit, Putuk Riak, Riak Hanjaliwan, Saluang Murik,
Ulek Labehu. Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:140-145).
16. Benang Bintik: Benang Bintik adalah
sebutan untuk pakaian atau busana
Batik (bercorak/bermotif batik khas Kalimantan Tengah
ke dalam seni Kriya. Benang Binti dapat juga diartikan sebagai baju atau
pakaian yang kesehariannya dipakai oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Pada
jaman dahulu pakaian dibuat dari bahan kulit kayu siren atau dari kulit kayu
nyamo. Bahkan ada pula yang dibuat dari kulit hewan (spt.: dari kulit macan
dahan lengkap dengan ekornya). Bila dilihat dari jauh, seolah-olah ekor
tersebut (ekor pada kulit macan tadi) adalah bagan tubuh dari orang Dayak. Hal
ini yang menyebabkan pada masa lalu muncul anggapan bahwa orang Dayak memiliki ekor
(Tjilik Riwut, 1979:170). 1. Benang Bintik (seni batik/desain benang
bintik atau Busana Dayak) Di Kalimantan Tengah boleh dikatakan bahwa
pengrajin benang bintik sejatinya masih belum ada pengelolaannya secara khusus.
Pada umumnya kita hanya sering menjual desain benang bintik ke Jawa. Sejujurnya
saya masih belum bangga dengan kehadiran berbagai motif benang bintik
Kalimantan Tengah yang saat ini sangat banyak beredar di setiap toko-toko
pakaian, swalayan, toko sovenir, seperti yang ada di kota Palangka Raya.
Motif-motif yang ada baik yang masih tradisional (asli), pengembangan, maupun
perpaduan semuanya didesain, dikembangkan dan terus produksinya di Jawa. Nenek
moyang kita tidak terampil membatik. Kita akui bahwa ahlinya adalah orang di
Jawa atau boleh dikatakan luar Kalimantan (seperti Solo,Yogya, Bali, Sumbawa,
dll.) Tetapi soal desain saya akui sangat hebat, seperti yang dikembangkan oleh
sesepuh Tokoh Dayak disamping sebagai seorang tetua adat, budayawan, dan
menguasai dibidang kepercayaan agama leluhur,
juga merupakan seorang seniman (maestro), salah satunya “seniman
(maestro) desain benang bintik” suku Dayak Ngaju; beliau
adalah Damang Y. Saililah yang saat
ini bisa kita lihat pada berbagai macam benang bintik oleh para pengembang
desain), sumber utamanya adalah dari Buku Aneka Ragam Ukiran dan Lukisan Dayak
Ngaju Kalimantan Tengah, (Damang Y. Saililah, 1984; dalam Offeny AI, Seni
Budaya Kalimantan Tengah, 2014:162-172).
2. Beberapa
ragam busana (pakaian) yang dipakai dan dimiliki oleh masyarakat
Dayak.
Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki
masyarakat Dayak, ada banyak macam nama dan pemanfaatan/penggunannya:
1.
Pakaian
untuk Dukun/Belian, biasanya menggunakan bawahan berupa kain
bahalai/sarung, sedang atasannya tidak menggunakan baju tetapi dilengkapi
berbagai asesoris seperti untaian/kalung/saling taring-menaring (aneka ragam
taring) dan manik-manik, serta dilengkapi dengan gelang gapura (bahasa
Indonesia Gelang Pontoh), pinggang diikat dengan selendang. Kalung atau untaian yang dikenakan itu
disebut “samben” (biasanya dikenakan oleh para lelaki). Sedangkan kaum wanita
(dukun wanita) cukup mengenakan pakaian sederhana (sebagai atasan) dan
tapih/bahalai (sebagai bawahannya) juga pakai selendang.
2.
Pakaian
Demang Kepala Adat, berupa baju atasan model tekuk balanga atau model
busana palembangan (tanpa kerah) dengan model leher bulat atau segitiga.
3.
Atau
ada pula pakaian yang dipakai oleh para sesepuh, ketika upacara adat/khusus
pada upacara tiwah, yaitu: 1) Baju Kalambi Barun Rakawan, atau 2) Salingkat
Sangkurat Benang Ranggam Malahoi.
4.
Pakaian
Perang atau Baju (juga untuk mangayau) dan ikat kepala,untuk ikat kepala :
Topi, Salutup (umumnya sering dipakai di kantor-kantor, maupun ketika rapat,
pertemuan dstnya), Lawung (biasanya diikat di kepala), Sampah ukong (jenis topi
yang terbuat dari bahan kajang ukong), sampah angang (sejenis topi pisur waktu
melakukan upacara manawur), Lawung Sansulai Dare Nucung Tingang (sejenis ikat
kepala yang digunakan pada saat upacara adat, khususnya pada saat pelaksanaan
upacara tiwah). Sedangkan untuk pakaian,spt. : ewah (cawat); ewah bumbun
(semacam cawat yang digunakan dalam upacara adat dan berwarna kuning); ewah
nyamo (ewah yang terbuat dari bahan kulit kayu nyamo); sakarut/sangkarut
(semacam rompi dan di bagian sebelah dalam banyak jimat); karungkong sulau
(baju yang terbuat dari tali atau kulit kayu, dan dipakai untukmengayau atau
berperang). Demikian juga pada sarung mandau penuh dengan ‘penyang’ (jimat).
Ketika Perang atau pergi mengayau; kelengkapan pakaian belumlah lengkap jika
tidak ‘manangking mandau’ (mengenakan mandau). Kekuatan adalah pada Mandau.
Mandau-mandau yang digunakan seringkali adalah Mandau yang sudah berusia
ratusan tahun dan telah diturunkan dari generasi ke generasi dan dianggap
sebagai suatu benda yang sacral. Para pengayau zaman dahulu percaya bahwa
“kekuatan” mereka terletak pada Mandau itu sendiri, karena sering Mandau ini
deberi “isian” atau “gana” dalam bahasa dayak ngajunya.
5.
Pakaian
semua golongan. Pakaian (busana) yang dapat dipakai oleh semua golongan
dalam keseharian (baik acara resmi atau tidak), yaitu benang bintik (batik)
bisa dilengkapi ikat kepala/lawung atau yang sudah berbentuk topi. Atau busana
apa saja.
6.
Pakaian
Penari. Berbagai pakaian digunakan dalam tarian tradisional yang menjadi
kekayaan suku Dayak diantaranya ada yang terbuat dari kulit kayu nyamo atau
jenis kain biasa, dan hampir seluruhnya dilengkapi dengan hiasan berupa
manik-manik, juga bulu-bulu burung khas Kalimantan (spt.: bulu burung haruei (Indonesia
disebut merak kerdil), tingang, baliang (bahasa Dayak Ngaju, dan bahasa
Indonesianya Rangkong/rangkok; bahasa Inggris Rino Hornbill).
7.
Pakaian
Pengantin. Berbagai macam model pakaian (busana) Pengantin pada suku Dayak;
Pengantin pria Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit
perak atau tali pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk
atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari
gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat
kepala dengan hiasan bulu ekor tingang, kalung dan sowang (subang). Busana
pengantin pada suku Dayak banyak di pengaruhi oleh unsur budaya Melayu (spt. :
desain/motif gaya palembangan teluk balanga, dsb). 1). Busana pengantin wanita, misal dalam Acara adat memakai Kebaya Panjang
songket, 2). Busana pengantin
pria Dayak Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit
perak atau tali pinggang dan salutup (tutup
kepala). Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang,
cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang.
Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan
hiasan bulu tingang (rangkok), kalung
dan subang.
8.
Busana
kaum perempuan, terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau
pendek, dari kain satin atau beludru, yang pada bagian bawahnya diberi corak
hias stilasi bentuk flora atau fauna. Paduannya rok panjang sebatas betis,
disebut salui, dari kain yang sama
yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Rambut
yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala, lawung bawi, dari kain yang sewarna
dengan baju dengan sehelai bulu burung
haruei yang diselipkan pada ikat
kepala bagian belakang. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung
manikmanik, dan anting-anting atau sowang (Indonesia “subang”: perhiasan pd
cuping telinga).
9.
Baju
kaum lelaki disebut tekuk balanga atau baju palembangan, model baju pria
Melayu tapi berkerah, juga dari beludru atau satin. Pada kerah, ujung lengan
baju, dan bagian dada, diberi hiasan. Celananya disebut salawar gobeh, celana
panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya.
Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau
kopiah yang disebut salutup, tapi kebanyakan orang menyebutnya lawung atau lawung siam. Busana tradisional
masyarakat Dayak Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari
kain tenun halus serat kapas atau sutra. Busana pengantin, pakaian acara-acara
adat, kostum taritarian, dan sebagainya, kebanyakan dibuat dari kain beludru,
satin, atau sutra. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari
bentuk asalnya. Pakaian tradisional masyarakat
Dayak Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan
Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal
masa lampau.Berbagai macam model pakaian (busana) suku Dayak sebagaimana
diuraikan di atas menunjukan betapa kaya khasanah budaya kita dari jaman dahulu
hingga kini mari kita bersama-sama ikut serta mengembangkan dan sekaligus
melestarikannya melaluipembelajaran muatan lokal.
17.
Seni Bela Diri: Asal-usul Seni
Bela diri silat Kuntau dan Bangkui
Yang Dimiliki
Masyarakat Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah
Sejarah Seni bela diri Kuntau
menurut lisan para generasi tua merupakan pencak silat warisan nenek moyang
orang Dayak dari zaman dahulu kala, gerakannya banyak mirip dengan beladiri
dari dataran China karena konon asal muasal suku Dayak berasal dari daerah
dataran China, lebih tepatnya Yunan Selatan. Kuntao
atau kuntau (Hanzi:拳道 / Romanisasi Hokkien: kûn-thâu)
adalah istilah dalam bahasa Hokkien untuk seni bela diri yang diciptakan oleh
komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya Kepulauan Melayu.Secara
harfiah berarti "jalan kepalan", kata kuntao lebih akurat
diterjemahkan sebagai "seni perang". Meskipun
paling sering dipraktikkan di Malaysia (khususnya Kalimantan), Indonesia,
Singapura, dan Filipina. Ini merupakan seni bela diri Tiongkok yang dibawa oleh
pedagang, buruh, dan pemukim lainnya dari Cina Selatan. Gaya harus disesuaikan
dengan medan yang berbeda, bersaing gaya lokal dan berkelahi dengan senjata
lokal. Banyak (jika tidak sebagian besar) gaya kuntao telah memasukkan teknik
dari silat dan beberapa membentuk bahkan mengubah nama mereka dari
"kuntao" menjadi "silat". Gaya yang menggabungkan kedua
kuntao silat dan bersama-sama kadang-kadang disebut kuntao silat.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kuntao (Diunduh,
Kamis, tgl. 15/02/2024; Pk.14:57 Wib).
Pada
dasarnya, pencak silat sebagai seni bela diri juga merupakan tradisi bangsa
Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur seperti penghormatan antarsesama
manusia, mengutamakan persaudaraan dan menguatkan ikatan sosial. Ikatan yang
diajarkan dalam silat kuntau meliputi hubungan yang baik dengan Tuhan, dengan
sesama manusia dan dengan lingkungan.
Pencak silat sebagai salah satu
kearifan lokal yang ada di daerah Kalimantan
Tengah, perlu diperkenalkan kembali kepada generasi
muda sekarang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter. Salah satu seni
bela diri pencak silat dikenal di daerah Kalimantan Tengah yaitu kuntau. Namun di Daerah Kalimantan
Selatan juga mengenal seni bela diri ini, (Jurnal Pendidikan Sosiologi
Antropologi Vol.5, No. 1 (Januari, 2023), hal. 51). Kuntau sendiri terdiri dari
berbagai macam bentuk jurus dan langkah gerakan yang berbeda-beda, tergantung
wilayah dan tempat di mana kita berguru atau belajar Kuntau itu. Kuntau
mempunyai ciri khas persamaan gerakan , sehingga mudah dikenali. Proses belajar
kuntau pun pada umumnya relatif lama, sulit dan harus mempunyai ketahanan fisik
yang kuat. Proses terakhir dari belajar
Kuntau ialah kita berada dalam suatu lingkaran, dan harus bisa menangkis
serangan, baik menggunakan senjata atau pun tidak menggunakan senjata (tangan
kosong). Bagi Suku Dayak Ngaju, kuntau
dikenal sebagai seni bela diri tradisional yang sering ditampilkan dalam
upacara “Adat Panganten Mandai”.
Rombongan/iring-iringan Calon mempelai Pria, biasanya sudah berada di depan
halaman rumah Calon mempelai Wanita,
maka pada saat itu pula akan ditampikan dari kedua belah pihak permainan
kuntau, sebagai salam pembuka dan salam penghormatan serta untuk menjalin
ikatan persaudaraan, sekaligus membuka rintangan yang biasanya berupa
benang-benang, yang merintangi pintu
gerbang
“lawang Sakepeng” (Lawang Seketeng) yang telah
dihiasi dengan gaba-gaba berada di depan pintu masuk rumah orang tua Calon
mempelai Wanita sebelum memasuki acara “Haluang” prosesi kawin Adat (pernikahan
adat) akan dilangsungkan di dalam rumah calon mempelai wanita.
Lawang Sakepeng diserta permainan kuntau atau silat
diiringi dengan irama tabuhan gendang dan gong khas Dayak, maksunya adalah
mencerminkan filosofi atau makna agar pasangan pengantin nanti setelah menikah,
diyakini mampu menghadapi segala cobaan dalam hidup mereka.
Seni bela diri Bangkui menggunakkan
tangan kosong dan mengandalkan kelincahan gerakan pemainnya, meski ada juga
beladiri Bangkui yang menggunakan toya/tongkat. Bangkui lebih cenderung
menyerang musuh dari bagian bawah dan langsung menyerang titik pertahanan tubuh
lawan. Bangkui sendiri merupakan seni beladiri yang gerakannya di inspirasi
dari gerakan hewan bangkui yaitu
jenis beruk (pigtailed macaque atau
kera ekor babi) yang hidup tersebar di belantara Kalimantan. Bangkui digunakan
sebagai jurus pamungkas untuk mematikan dan mengunci gerakan lawan, karena
gerakan bangkui sendiri banyak mempunyai gerakan melumpuhkan lawan dengan hanya
satu kali serangan. Untuk itu Bangkui sangat berbahaya jika digunakan secara
sembarangan. Ada kalanya Seni Beladiri Kuntau (sebagaimana uraian di atas)
akan memiliki perpaduan/gabungan terutama pada variasi pukulan atau gerakan
dengan Seni Beladiri Bangkui, sehingga sering disebut Kuntau
Bangkui.
Kuntau Bangkaui adalah bela diri
asli Dayak Ngaju yang sudah dikenal sejak zaman Asang Kayau (headhunters). Kuntau Bangkui adalah seni
bela diri untuk self-defense yang menggunakan seluruh gerakan anggota tubuh;
seperti gerakan tangan, bahu, tinju, telapak tangan, jemari, kaki, pergelangan
kaki dan lutut. Sisi kaki dan tapak kaki digunakan secara sistematis dan
teratur untuk menghindar dan menyerang lawan.
https://mmc.kalteng.go.id/berita/read/660/asal-muasal-silat-kuntau-bangkuikhas-dayak-ngaju-kalimantan-tengah (Diunduh
Kamis, tgl., 15/0202024; Pk. 14:21 Wib).
18. Seni Tari: Seni Tari Kalimantan Tengah dapat dilihat
secara umum dan secara khusus berdasarkan dari Wilayah Kabupaten Masing-masing.
1. Tentang Tari Tradisional Secara Umum
1.1. Ulasan Tentang Tari Tradisional
Sesungguhnya tarian tradisional bersumber dari
orang-orang tua yang banyak pengalamannya dan masih tinggal di desa daerah
pedalaman Kalimantan Tengah. Sumber- sumber informasi tentang kesenian
tradisional di daerah itu sebenarnya cukup banyak, akan tetapi oleh pergeseran
waktu maka orang-orang tua dimaksud sudah banyak yang meninggal dan seakan-akan
pengetahuan tentang kesenian yang dimiliki mereka itu terbawa pula keliang
lahat sehingga banyak tarian atau kesenian tradisional orang Dayak yang
bernilai seni yang tinggi hilang atau punah.
Disamping itu, dipengaruhi pula oleh perbedaan agama
dari kepercayaan Kaharingan ke agama Kristen Protestan dan Islam, sehingga
menyebabkan tariantarian yang umumnya memuat nilai-nilai sakral sudah
ditinggalkan mereka. Itu sangat disesalkan.
Demikian pula dampak dari pada arus globalisasi
komunikasi dan informasi yang begitu cepat mempengaruhi sikap mental
masyarakat, terutama dikalangan anakanak muda dan para pendidik yang lebih
akrab dengan seni, sehingga hampir meninggalkan seni tradisional. Situasi dan
kondisi kehidupan masyarakat yang seperti ini merupakan suatu dilema yang kadang-kadang
tidak mampu dijadikan sebagai pertahanan atau penyaring yang tangguh untuk
menyelesaikan arus-arus budaya baru yang akan mempengaruhi budaya asli yang
memiliki nilai-nilai luhur itu. Istilah ‘tapengan’ (ungkapan tradisional) Dayak
Ngaju mengatakan “akan ngaju dia kuman manok, akan ngawa dia kuman tabuan”
artinya segala sesuatu sikap hidup (usaha) serba tidak berhasil. Pengertian
lain yang lebih luas lagi yaitu : mempertahankan yang lama juga tidak mampu,
mengikuti cara-cara kehidupan modern juga gagal. Ini diibaratkan yang
tidak memiliki sikap mental yang
loyal dan kokoh dan tidak memiliki suatu
pendirian hidup yang kuat dalam dirinya. Oleh karenanya sistem budaya dan kesenian
pun akan ikut terpengaruh, khususnya dibidang seni budaya di daerah pedalaman.
Sekarang pengaruh Musik CD/Cassete Dangdut dan lagu-lagu barat ikut
mempengaruhi seni tari di desa-desa sebab anak-anak muda lebih menggemari
musik-musik di Cassete, CD, flash disc, micro SD, MP3/MP4; atau karena mereka
dari sejak kecil melihat dan mengenal lagu-lagu melalui Cassete, MP3/MP4 dan
musik serta tarian daerah jarang didengar dan dilihat oleh mereka sejak dini.
Apalagi di jaman globalisasi ini mereka lebih suka iPod, laptops atau HP mereka
sendiri.
1.2. Ragam Tarian Secara umum di Kalimantan
Tengah.
Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan Suku Dayak sebagai
penduduk aslinya kaya dengan keanekaragaman seni dan budaya peninggalan masa
lalu. Satu dari kearifan khasanah budaya warisan nenek moyang tersebut terkandung
dalam ragam seni tarian. Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR)
menggelar pentas tari garapan dan tradisional. Kegiatan ini merupakan salah
satu bentuk promosi kesenian daerah guna mendukung pengembangan potensi wisata
lokal. Kegiatan yang dilangsungkan di Gedung Eka Tingang Nganderang (dulu :
Betang Mandala Wisata) tersebut menampilkan tujuh cindera tari dari tiga
sanggar seni budaya yang ada di kota Palangka Raya.
Ketiga sanggar itu antara lain Sanggar Balanga
Tingang dengan menampikan tari Mandau, tari Rantak Kipas Gempita, tari
Giring-Giring dan tari Bahalai. Dari kegiatan tersebut, ada sejumlah literatur
dari sejarah dan makna tarian yang dipentaskan. Berikut catatannya.
1.2.1.
Tari Wadian Amun Rahu
Tarian ini pada mulanya adalah
sebuah tarian tradisional Suku Dayak Kalimantan
Tengah
(Suku Dayak Maanyan) yang bersifat sakral, magis dan religius. Tarian yang
biasa dimainkan oleh kaum perempuan ini pada masa lampau dimaknai sebagai
prosesi adat untuk menghantarkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
setelah selesai panen padi. Selain itu, tarian ini juga sering dilakukan
sebagai salah satu prasyarat tata cara penyembuhan seseorang yang menderita
penyakit. Ciri khas dari tari Wadian Amun Rahu terlihat pada penggunaan tata
busananya yang didominasi warna merah dan putih sebagai perlambang keagungan
Sang Maha Pencipta.
1.2.2.
Tari Jarangkang Bango
Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang diadaptasi
dari tarian Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah dengan nama yang sama. Di
daerah tersebut, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak. Jarangkong Bango
merupakan perangkat tari berupa benda yang dibuat dari batok kelapa yang
dibelah dua, kemudian dilubangi untuk mengaitkan tali pegangan. Perangkat ini
kemudian digunakan oleh para penari sebagai properti utama dalam tarian ini.
Tarian ini menunjukan sebuah kebersamaan dan kekompakan serta solidaritas
anak-anak Suku Dayak Kalimantan Tengah dalam hidup bermasyarakat.
1.2.3.
Tari Gelang Dadas dan Bawo (Gelang Iruang
Wandrung)
Tarian ini merupakan rampak selaras
dua gerak tari yang disatukan yaitu Wadian
Dadas dan Wadian Bawo dan kemudian disebut Tari
Iruang Wandrung. Tarian Dadas dilakukan oleh penari wanita, sedangkan Gelang
Bawo ditarikan oleh penari pria. Dengan iringan perpaduan musik tradisonal yang
energik tarian ini pada jaman dulu berfungsi sebagai tarian untuk menghantar
syukuran kepada Yang Maha Kuasa karena keberhasilan dalam seluruh aspek
kehidupan Suku Dayak Kalimantan Tengah.
1.2.4.
Tari giring-giring awalnya adalah tarian yang
berasal dari daerah DAS Barito, Kalimantan Tengah. Tari giring-giring biasa
dipertunjukkan dengan perangkat musik dari bambu yang berbunji jika digetarkan.
Alat musik ini biasa disebut Ganggereng dan dimainkan bersama sebuah tongkat
yang di sebut Gantar. Tari ini biasa ditampilkan pada acara-acara adat sebagai
perwujudan perasaan suka cita warga terutama pada saat menyambut tamu- tamu
kehormatan. Dalam perkembangannya, gerak dan ragam Giring-giring telah
mengalami banyak pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan teknik dasar
tarinya.
1.2.5.
Tari Rantak Kipas Gempita
Tarian ini menggambarkan semangat generasi muda dalam
meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan. Kemajemukan sosial dan budaya dalam
diri para pemuda yang menuntut ilmu di Bumi Tambun Bungai bukanlah suatu
hambatan dalam mewujudkan cita- cita bersama untuk memajukan daerah.
Dibanding konsep awalnya, sajian tarian ini telah
mengalami pengembangan ragam gerak dengan tidak meninggalkan kaidah dan tehnik
dasarnya. Tarian ini dimainkan dengan
lincah dan gembira, sebagai manifestasi dari semangat yang dimiliki oleh
generasi muda dalam upaya ikut serta dalam membangun masyarakat, bangsa dan
negara.
1.2.6.
Tarian Mandau
Tari ini merupakan tarian yang umumnya dilmainkan
oleh kaum perempuan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah semangat seluruh
warga Dayak dalam pertahanan diri dan kampong halaman dari ancaman pihak-pihak
luar.
Dalam penyajiannya penari melakuikan gerakan yang
lembut, gagah dan energik. Saat ini, penggarapan tari, gerak dan ragamnya telah
mengalami pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan tekniknya yang
sudah dikenal luas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah sejak masa silam.
1.2.7.
Tari Bahalai atau Tari Selendang Bawi
Tarian ini merupakan cindera tari yang diangkat dari
kelengkapan pakaian berupa selendang di kalangan kaum wanita Suku Dayak
Kalimantan Tengah. Sama seperti tarian lainnya, tari ini juga telah mengalami
pengembangan di beberapa bagian gerak dan atribut petari. Tarian ini dimainkan
dengan lemah gemulai oleh penari putrid sebagai gambaran sukacita dan ucapan
syukur kepada Tuhan atas terlaksananya suatu hajatan besar di kalangan warga.
1.2.8.
Tari Kanjan
Tari kanjan ada beberapa macam :
1.
Tari kanjan pahi; 2. Tari kanjan hatue; 3. Tari
kanjan halu; 4. Tari kanjan bawi.Tari Kanjan atau Manganjan (sebutan untuk
menarikan Kanjan) adalah tarian yang biasa ditarikan oleh para Basir (Balian
dalam istilah suku, di Dayak sepanjang sungai Barito) (dukun atau pemimpin
spiritual) pada saat upacara tiwah (upacara memindahkan tulang belulang orang
yang sudah mati, serta mengantar roh yang sudah mati ke alam lain) atau dalam
upacara pengobatan atau upacara membuang kesialan dan menolak bala. Biasanya
tarian ini ditarikan mengelilingi hewan kurban (kerbau) atau mengelilingi
tihang atau tiang (sangkairaya) yang diletakkan di tengah. Jumlah penari bisa
berjumlah tiga sampai empat orang atau lebih. Semua bunyi-bunyian saat itu
ditabuh dengan irama dan nada tertentu. Tarian ini bisa ditarikan di dalam
ruangan maupun di luar ruangan (tempat terbuka) sesuai kebutuhan dan dimana
acara atau upacara berlangsung. Tarian ini penuh dengan nuansa magis
dikarenakan para penari adalah para Balian dan diperuntukkan sebagai sarana
dalam upacara. Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (khususnya Dayak Ngaju), atau
suku Dayak lainnya yang beragama Kaharingan (Agama Helo atau Hindu Kaharingan)
masih menggunakan tarian ini dalam setiap upacara tersebut.
1.2.9. Tari Bukung (Tari Topeng Bukung)
Tari Bukung itu sendiri merupakan Tarian yang biasa
digelar pada acara ritual Tiwah, yakni upacara ritual pengangkatan, pembersihan
tulang dan menyimpan tulang ke dalam ‘Sandung’ atau rumah kecil tempat
penyimpanan tulang. Kesenian tari Bukung atau topeng Bukung terdiri dari
beberapa macam yakni : 1. Bukung Tuan (Topeng menyerupai manusia), 2. Bukung
Kinyak (Topeng/wajah dan anggota badan dilumpuri), 3. Bukung Metu (Topeng yang
dibuat berbagai macam bentuk binatang baik yang di udara, darat dan air) dan 4.
Bukung Bungkus (Seluruh anggota tubuh dibungkus dengan dedaunan seperti daun
pisang). Esensi tarian Bukung menggambarkan sekelompok hantu, yang disajikan
oleh beberapa orang penari yang menyerupai manusia, binatang dan
tumbuh-tumbuhan turut bersuka cita dalam mengantar arwah ke Lewu Liau (surga)
seperti pada acara prosesi pemakaman, para penari yang menggunakan bermacam
topeng tersebut adalah kerabat dekat/keluarga almarhum yang lebih dulu
meninggal dunia dan arwahnya belum dihantar ke Lewu Liau (surga). Tarian ini
dikenal sebagai tarian kematian bagi suku Dayak tertentu,seperti dijumpai di
Pedalaman Lamandau
(misalnya di Desa Kudangan,
Kecamatan Delang, atau desa lainnya).
1.3. Ragam
Tarian Secara Khusus di Kalimantan Tengah.
Ada beberapa judul tarian yang pernah hidup dan
sering ditarikan pada tahun sebelum kemerdekaan sampai dengan tahun 70-an
adalah sangat banyak. Namanama judul tari yang sempat dicatat adalah sebagai
berikut (Lihat juga pada Tabel di atas):
a. Di wilayah Sungai Kahayan
Hulu, sbb.:
1.
Kanjan ( Upacara adat tiwah )
2.
Kinyah (Ot Danum )
3.
Harariung (Ot Danum )
4.
Kanjan Patahu ( Upacara adat )
5.
Kanjan tantehau (Upacara pengobatan orang sakit)
6.
Somomuhka
7.
Kanjan halu
8.
Kinyah konyadun
9.
Kinyah polanuk
10. Kinyah
jolawi
11. Hobabaca
12. Nganyak
urak
13. Deder
Kahayan dengan musik kangkanong.
b. Di wilayah Sungai Katingan
dan Sungai Rungan terdapat judul tari sbb. :
1. Tasai
2. Kanjan
3. Kanjan
Alu
4. Deder
dengan musik kecapi
5. Bigal
6. Tanjung
katung
7. Riam
panjang
8. Tasai
lunuk ramba
c. Di Lamandau dan wilayah Kotawaringin Barat terdapat
judul/nama tari , sbb.:
1.
Tari Bukung
2.
Tari Kambang Pandan
3.
Tari Bagondang
4.
Tari Kipas Dayung
5.
Dan lain-lain
d. Di Sungai Kapuas Hulu dan Barito terdapat
beberapa nama tari, sbb.:
1.
Tari wadian bawo ………………….…..... BT / BS
(Bartim / Barsel)
2.
Tari wadian dadas ……………….…….…
BT / BS
3.
Tari giring-giring (ganggereng) ………....... BT / BS
4.
Tari bahalai
………………………….…... BT / BS
5.
Tari Iruang wundrung ………………........ BT / BS
6.
Tari deder Barito ………………......……. BS / BU/MR (Barsel/Barut /Mura)
7.
Tari sangku ………………………….…… KH
(Kahayan Hulu)
8.
Tari samuling
………………… ………... BT / BS
9.
Deder Kapuas …………………………… . KH
10. Tasai
(Harariung Lunuk) …………...…… KH
11. Kanjan ………………………………….. KH
12. Tantulo …………………………..……… MR
13. Tari
kompos ………………………..…… BT / BS
14. Tari
tiruk tuwo ……………………..……. KH
15. Tari
cuhuk onyuh ……………………...... KH
16. Tari
polanuk …………………………….. BT /BS
17. Tari
kurung-kurung ……………………... MR
18. Tari
tomi toto ……………………....……. BT / BS
19. Tari
badunce ……………………...……... BT / BS
20. Tari
badewa …………………………...... KH
21. Tari
karang orong ……………… …..….. KH
22. Tari
karang halu ………………… ..…... KH
23. Tari
bere ……………………….…….…. KH
24. Tari
indung mulung ………………..….. BT / BS
25. Tari
amun rahu ……………………….... BT / BS
26. Tari
giring-giring bokas …………...….... BT / BS
2. Asal, Makna Tarian, dan Jumlah Para
Penari Tradisional Kalimantan Tengah (Lihat Tabel di bawah ini):
|
Nama Tarian Daerah Asal Makna / Fungsi Tarian Penari/Jumlah |
|
|
1. Daerah Barito - Tari
Wadian bawo - Tari
Wadian dadas - Tari
Mausat - Tari
Santio - Tari
Indung Mulung - Tari
Samuling - Tari
Giring-giring - Tari
Bahalai |
- Sakral,
untuk menyembuhkan orang sakit dan 1-7 orang laki keramaian 1-7
orang perempuan - Sakral,
untuk menyembuhkan orang sakit dan
keramaian 1
orang perempuan tua - Sakral, untuk
menyembuhkan orang sakit 1-5
orang perempuan - Sakral,
untuk menobatkan 1-5 orang
perempuan - Sakral,
untuk menobatkan 5 orang
laki/pr - Ritual,
penyembahan 7-10 orang laki/pr - Keindahan,
keakrapan dan berfungsi sebagai 2-10
orang laki/pr |
|
- Tari Tampak
Ehek - Tari
Deder Barito - Tari
Kompos - Tari
Tontulo - Tari
Kurung-kurung - Tari
Tiruk Tuwo - Tari
Cukuk Onyuh - Tari
Polanuk - Tari Tomi
Toto - Tari
Badunce |
hiburan 2-10
orang laki/pr - Keindahan,
keakrapan dan berfungsi sebaga
hiburan 2-10
orang laki/pr - Keindahan,
keakrapan dan berfungsi sebagai 2-8
orang laki hiburan - Keindahan,
keakrapan dan berfungsi sebagai 4-10
orang laki/pr hiburan - Waspada,
siap siaga, berfungsi sebagai atraksi hiburan 5-7
orang pr/laki - Ritual,
pemujaan, berfungsi sebagai hiburan |
|
|
dalam pesta adat Dayak Siang - Bermakna
keindahan alam yang selalu memberikan semangat hidup bagi lingkungannya dan
berfungsi sebagaihiburan bagi masyarakat Dayak Siang. - Bermakna
peniruan dari alam lingkungan dan berfungsi untuk memberikan pesan- pesan
bagi para penonton dan hiburan. - sda - - Bermakna
keluesan, fungsi menghibur - sda-. |
4 orang laki/pr 4 orang laki/pr 2 orang laki |
|
|
- Tari Bere
- Tari
Karang Orong - Tari
Badewa |
- Sakral, penyembuhan
orang sakit |
2-4 orang laki 1 orang pr/laki |
|
Nama
Tarian Daerah |
Makna/Fungsi
Tarian |
Penari/Jumlah
|
|
2. Kapuas/Kahayan danKatingan - Kanjan
(Dalam Pesta Tiwah) - Tasai (Dalam Pesta Tiwah) - Kanjan
Potuhu - Kanjan
Tehteu - Somomukka
|
- Sakral, menghantarkan
roh-roh orang yang sudah meniggal ke
Lewu Tatau, dan roh-roh binatang (kerbau) sebelum ditombak
oleh “Upon Gawi” (Tiwah). - Makna
kegembiraan, untuk |
30-100 orang
laki/pr (massal) 30-100 orang |
|
menyampaikan rasa syukur kepada yang
maha (massal) kuasa atas segala keberhasilan. Dan perlindungan yang diberikan. -
Bermakna sakral, dan berfungsi membuktikan sesuatu kebenaran terhadap hal-hal yang
tidak 2-4 orang laki/pr Kelihatan agar menjadi nyata. -
Bermakna sakral, dan berfungsi untuk 1 orang peremuan menyembuhkan orang sakit. -
Bermakna ritual, dan berfungsi menghantarkan 4-6 orang laki |
||
|
- Habobaca/bobaja
- Nganyah
Urok - Harariung
|
roh (arwah) orang mati.
-
Bermakna sakral dan ritual, serta berfungsi 1-3 orang
sebagai sebagai Mediator antara roh-roh peremuan sangiang dengan
manusia untuk melaksanakan
pengobatan terhadap orang yang sakit secara tradisional. -
Ritual, berfungsi untuk menghantarkan roh- roh binatang sembelihan pada saat
pesta tiwa 4-6 orang ke lewu Tatau roh
orang yang di Tiwahkan perempuan -
Bermakna kesatuan dan kesatuan dalam 10-30 orang lk/pr kehidupan orang Dayak,
berfungsi untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan yang dalam, |
|
|
|
|
serta saling memberikan hiburan dan rasa |
|
|
|
|
kegembiraan. |
|
|
|
|
|
|
|
|
- Kinyah konyadun |
-
Lelucon, serta berfungsi sebagai hiburan. -
Lelucon, serta berfungsi |
1 - 2 orang
laki |
|
|
|
sebagai hiburan - Lelucon, serta berfungsi
sebagai hiburan |
|
|
|
|
|
|
|
|
- Kinyah Polanuk |
- Bermakna sopan santun dan |
1 - 2 orang laki |
|
|
|
tata cara dalam pergaulan |
|
|
|
|
muda mudi dan berfungsi |
|
|
|
|
sebagai sarana untuk |
|
|
|
|
menyampaikan pesan-pesan |
|
|
|
|
dan isi hati kpd org lain atau |
|
|
|
- Kinyah
Jolawi - Deder
Kahayan - Bigal |
masyarakat himbauan. - Bermaknamemikat,
berfungsi sebagai sarana untuk
menimbulkan rasa Simpatik dari kaum wanita |
1 - 2 orang
laki 2 - 8 orang
laki/pr 2 - 4 orang laki- laki |
|
|
- Tanjung |
- Bermakna keindahan alam dan berfungsi sebagai hiburan. |
6 - 20 orang pr |
|
|
|
|
|
|
|
- Riam Panjang |
- Bermakna keindahan alas
dan |
6 - 20 orang pr |
|
|
- Deder
Katingan / berfungsi sebagai hiburan - Bermakna
keindahan alam |
4 - 6 orang laki/pr |
||
|
Rungan dan berfungsi sebagai hiburan. |
|
||
|
|
|
||
|
Nama Tarian Daerah Asal Makna / Fungsi tarian |
Penari/Jumlah
|
||
|
3. Kotawaringin Barat/ Lamandau - Bermakna ritual.
berfungsi ikut serta - Tari
Bukung meramaikan
saat menunggu orang mati pada malam hari dan upacara pesta adat lainnya. |
2-8 orang laki |
||
|
- Tarikambang Pandan - Bermakna keindahan dan kelembutan
seorang wanita, berfungsi sebagai sarana hiburan antar muda mudi dan orang
tua yang akrab. |
4-8 orang laki/pr |
||
|
- Tari Bagondang
- Bermakna peniruan,
yang berfungsi sebagai sarana
untuk mentransferkan suatu ekspresi gerak melalui bunyi gendang, |
2-4 orang laki/pr |
||
|
- Tari
kipas dayung - Bermaknakeindahan. Ddan berfungsisebagai ekspresi peniruan
dari alam dan sebagai sarana
hiburan. 19. Musik (Seni Musik Kalimantan Tengah): 1. Mengenal
Alat-alat Musik Daerah Kalimantan Tengah |
19-6 orang laki/pr |
||
Beberapa macam alat musik daerah
yang kita kenal, antara lain:
1.1. Kangkanong
Kangkanong (kenong) adalah alat musik berbentuk gong
kecil (bahasa Dayak Ngaju disebut ‘tatawak’) dan lebih dikenal dengan nama
kenong atau bonang (bahasa Indonesia). Setiap perangkat kangkanong terdiri atas
5 atau 7 buah satuan dan masing- masing satuan tadi di letakkan di atas sebuah
kotak resonasi yang sudah diberi 2 baris tali sebagai tempat meletakkan
buah-buah kangkanong.
1.1.1. Fungsi dan Macam-macam Irama yang
dihasilkan - Fungsi
:
Fungsi dan Macam-macam Irama yang
dihasilkan:
Kangkanong dipergunakan sebagai instrumen pengiring
untuk mengiringi taritarian, upacara adat, balian, dsb.
- Macam-macam irama yang dihasilkan
:
Kangkanong yang ada di Kalimantan Tengah, memiliki
laras yang telah disesuaikan dengan nada-nada daerah.
Seperangkat kangkanong yang terdiri
dari 5 buah nadanya, adalah :
A - C - D - E - G.
Perangkat kangkanong yang terdiri
dari 7 buah nadanya, adalah :
A - C - D - E - G - A - E.
1.2. Gandang
Gandang (gendang) adalah sebagai kelengkapan
perangkat alat musik yang terdiri atas
: garantong (gong), dan kangkanong (kenong). Gandang dibuat dari kayu yang
bagian dalamnya diberi berongga. Membrannya dari kulit hewan (kulit rusa,
sapi), dan dipasang pada badan alat musik tadi dengan dengan rotan.
1.2.1. Macam-macam Gandang
Gandang yang kita kenal di
Kalimantan Tengah ini ada 3 macam : 1).
Gandang
tatau, 2) gandang manca, 3) gandang bontang.
- Gandang tatau (gandang tunggal) adalah
sejenis gandang yang agak besar dan panjang. Panjangnya kurang lebih 2 meter
dan garis tengahnya kurang lebih 40 cm. Pada bagian ujungnya yang besar
dipasang membran (biasanya kulit sapi, rusa, ular sawa/piton) sedangkan pada
bagian pangkalnya dibiarkan terbuka. Gandang seperti ini hanya dipakai dalam
upacara adat, seperti upacara penyambutan tamu agung atau pada upacaraq tiwah
(upacara kematian). Alat musik pengiring lainnya terdiri dari gong sebanyak 3-5
buah dan seperangkat kangkanong (kenong).
- Gandang manca (gandang kembar). Gendang
ini terdiri dari dua buah (sepasang) dan pada kedua ujungnya dipasang membran.
Pada bagian ujung yang besar dipasang membran yang tebal, sedangkan pada ujung
yang lebih kecil dipasang membran yang lebih tipis. Gandang ini disebut pula gandang panggulung. Pasangan gandang ini
lebih kecil dan cara pemasangan membrannya merupakan kebalikan dari cara
pemasangan gandang panggulung. Pada bagian ujung yang bergaris tengah lebar
dipasang membran yang tipis sedangkan pada bagian ujung yang lebih sempit dipasang
membran yang tebal. Gandang jenis ini disebut juga gandang paningkah.
- Gandang bontang. Gandang bontang
bentuknya mirip dengan gandang tatau. Bedanya hanya lebih kecil dan lebih
pendek. Diameter kurang lebih 20-30 cm. Dan panjang antara 30-50 cm. Membrannya
terbuat dari kulit hewan yang tebal.
1.2.2. Fungsi dan Macam-macam
Irama yang dihasilkan - Fungsi
:
Biasanya dipergunakan untuk
pengiring Upacara Balian Bawo dan Balian Dadas.
- Cara
membunyikan :
Cara membunyikan gandang ini bukan dengan telapak
tangan seperti gandanggandang lainnya, tetapi ditabuh dengan bilah rotan yang
besar.
1.3. Kacapi (kecapi/kanyapi)
Kacapi adalah alat musik petik tradisional. Alat
musik ini terdapat di seluruh wilayah Kalimantan Tengah, terutama di daerah
pedalaman. Di luar Kalimantan Tengah alat musik ini sangat terkenal di kalangan
penduduk asli Kalimantan Timur dan
Kalimantan Barat. Jadi alat musik ini merupakan salah satu khasanah alat musik
teradisional orang Dayak yang mendiami pulau Kalimantan.
1.3.1. Bahan
untuk membuat kacapi (kanyapi)/kecapi)
Bahan utama untuk membuat kacapi adalah kayu
hanjalutung. Sejenis kayu pulai (pantung) atau dari jalutung.
1.3.2. Fungsi
dan Cara memainkan kacapi
- Fungsi
:
Fungsi utama sebagai sarana penghibur. Alat musik
petik ini dapat menghibur si pemain sendiri maupun orang lain yang
mendengarkan. Dalam perkembangannya alat musik ini dipergunakan untuk
mengiringi tarian dan nyanyian tradisional. Kdang- kadang dapat dikombinasikan
dengan alat musik lain seperti rabab, suling, kangkanong, katambung. Alat musik
kacapi ini sangat dikenal sebagai pengiring tari kinyah (tari perang).
- Cara
memainkan kacapi
Caranya hampir sama dengan memainkan gitar. Namun
kacapi hanya memiliki senar 2, atau 3. Untuk menentukan tinggi rendahnya nada,
pada rusuk bidang datar di bawah pengencang senar ada bantal-bantal yang
terbuat dari kayu atau bambu yang keras. Senar dapat dikencang-kendorkan dengan
alat putar yang terdapat pada kepala kacapi. Aneka ragam lagu-lagu dapat
dimainkan dengan kacapi.
1.4.
Garantung (Gong)
1.4.1. Asal-usul dan jenisnya
Garantung termasuk alat musik idiophone. Alat musik
ini terbuat dari bahan logam besi, perunggu, atau kuningan. Diduga alat musik
ini masuk ke Kalimantan Tengah waktu kekuasaan Majapahit. Menurut legenda
masyarakat Kalimantan Tengah, garantung dibuat oleh Raja Kaling. Masyarakat
menganggapnya sebagai benda berharga dan pula berfungsi sebagai barang adat.
Dapat pula dijadikan alat tukar atau menilai sesuatu barang atau jasa.
Garantung yang dijadikan alat musik terdiri atas 5 buah dengan laras
masing-masing G, E, D, C, A.
Menurut bentuknya garantung dibagi atas 4 jenis dan
dalam bahasa daerah, diberi nama:
1) Garantung tantawak (tatawak)
Gong kecil berat antara 5-7,5 kg;
macam irama yang dimainkan/bernada: G atau E 2) Garantung lisung
Gong jenis tanggung/sedang; macam irama yang
dimainkan (bernada) : D atau C
3) Garantung
papan
Gong besar yang bentuknya
gepeng/rendah; macam irama yang dimainkan
(bernada) : A
4) Garantung
bandih
Gong kecil yang bernada tinggi.
1.4.2. Fungsi
Benda ini sangat berperan dalam berbagai upacara
adat. Disamping itu gong dipakai juga oleh orang Dayak untuk memberi isyarat
atau tanda kepada kelompok atau desa lain. Pada waktu seseorang meninggal
dunia, selama mayatnya berada di rumah pada malam hari garantung (gong) maniti
(menabuh/memainkan irama pukulan gong) dengan maksud mengiringi roh si mati
dalam perjalanannya menuju negeri para arwah. Sebagai alat musik tradisional
yang bersifat sakral, garantung dibunyikan dengan irama khusus selama upacara
tiwah berlangsung. Tari kanjan adalah tarian sakral yang diiringi oleh musik
garantung (gong). Pada jaman dulu orang yang banyak memiliki garantung (gong)
menduduki status sosial yang cukup tinggi dan sangat disegani oleh masyarakat.
2.
Seni Musik Dan Beberapa Kelompok
Besar Jenis/Irama Musik serta
Tarian Tradisional Kalimantan Tengah
Ada beberapa irama musik. Sebagai musik pengiring
tari, musik daerah dibagi ke dalam empat golongan repertoire (persediaan lakon,
lagu dan dsbnya untuk dimainkan) :
1. Irama
Kinyah : mempergunakan kombinasi alat kacapi (kecapi), garode (alat
tiup dari kulit labu dan bambu) atau suling balawung (suling bersabuk,
berlobang empat). Dapat juga diiringi alat-alat lain seperti kangkanong
(kenong) secara perlahan sebagai latar belakang.
2. Irama
Tasai : mempergunakan kombinasi garantong, gandang, kangkanong (dari
kayu atau dari logam), atau hanya mempergunakan beberapa buah katambung
(gendang lebih panjang). Kombinasi ini dipakai juga untuk deder.
3. Irama
Giring-Giring (Ganggereng) : mempergunakan kombinasi gong, gendang dan
kenong atau ditambah dengan tangkung undang (alat pukul seperti kerongkong
undang terbuat dari logam untuk menjaga irama).
4. Irama
Kanjan : mempergunakan irama yang disebut gandang-garantong (gendang
dan empat sampai lima buah gong dengan tangga nada seperti telah disebutkan di
atas).
Dari alat-alat yang disebutkan di atas dapat
dikektahui bahwa musik daerah mengenal: alat tiup, alat petik dan alat pukul.
Selain itu, ada satu jenis alat dari bambu yang direntangkan di mulut dan
talinya diatrik sehingga menimbulkan bunyi.Alat ini disebut gariding yang
dianggap di dalam mitos sebagai alat yang tertua bersama-sama dengan kacapi
yang bertali dua atau tiga.
Sebagai musik pengiring nyanyian non-sakral, terdapat
irama balian yang mempergunakan 5 sampai dengan 9 katambung (selalu jumlahnya
ganjil) untuk mengiringi resitasi kesusteraan suci sangen atau sangiang dalam
bait-bait penghantar roh-roh yang disebut hanteran di dalam upacara tiwah.
5. Irama
Kacapi/kanyapi (kecapi) : dimainkan pada waktu senggang pada malam hari
atau siang hari di ladang ataupun di desa. Lantunan nada-nada yang indah akan
membuat kesan syahdu di tengah keheningan suasana di daerah pedalaman. Dalam
perkembangannya alat musik petik ini dipergunakan untuk mengiringi tarian dan
nyanyian tradisional. Kadang-kadang dapat dikombinasikan dengan irama alat
musik lain, seperti rabab, suling, kangkanong, katambung. Alat musik kacapi ini
sangat dikenal sebagai pengiring tari kinyah (tari perang).
6. Irama
Karungut :
a. Dalam
syair karungut dewasa ini sudah mulai banyak perubahan , antara lain yang
berisikan sejarah, pesan pembangunan, maupun kritik, saran, dan himbauan.
Karungut melagukan syair-syair kesenian daerah ini dikenal pada jalur sungai
Kahayan, Kapuas, Katingan, dan sebagian jalur sungai Barito. Menurut Herce,
puisi bersifat “dulce et utile” menyenangkan bukan berarti sesuatu yang
menjemukan. Berfaedah bukan berarti memboroskan waktu atau sebagai perintang
waktu tapi sesuatu yang patut mendapatkan perhatian. Dengan demikian fungsi
seni sastra khususnya karungut sangat menyenangkan dan berguna. Lahirnya sebuah
karungut adalah ekspresi dari luapan perasaan jiwa seseorang, sedih, senang atau
gembira, cita-cita dan harapan yang diiringi rasa seni yang tinggi. Untuk
memudahkan pemahaman yang disampaikan melalui karungut maka para seniman
pencipta karungut merubah syair-syair bahasa sangiang (bahasa sastra dayak
ngaju yang sangat tinggi nilai sastranya) agar lebih komunikatif yaitu dengan
menggunakan berbagai bahasa ,baik bahasa daerah suku lain dan bahasa Indonesia
yang sesuai dengan kemampuan si pencipta maupun yang membawakannya sehingga
karungut menjadi dinamis dan komunikatif bagi yang mendengarkannya.
b. Notasi
Karungut
Karungut sebagai salah satu alunan Nada yang teratur
yang merupakan hasil peninggalan nenek moyang suku Dayak yang turun – temurun .
Kebudayaan ini perlu dikembangkan dan dibukukan notasinya agar dapat digunakan
oleh semua kalangan masyarakat luas . Notasinya tidak jauh berbeda dengan
notasi untuk jenis – jenis musik Nusantara lainnya .
Notasi karungut berkembang sesuai dengan kemampuan si
pelaku atau pembawanya. Kemudian berangsur-angsur seiring dengan perkembangan
jaman oleh para pencipta dan pelaku seni, karungut mulai diterapkan kedalam
kunci Nada dan akhirnya terbentuklah kunci nada pada karungut.
Notasi tangga nada pada Karungut :
6 1 2 3 5 ( la , do , re , mi , sol
) Nada Dasar pada Karungut :
Nada Dasar : Cm, Dm , Em, Fm, Gm,
Am, Bm.
c. Ciri-ciri karungut
Karungut mempunyai ciri-ciri
tertentu, terutama didalam pembuatan syairnya :
1. Syair
karungut harus mengandung unsur-unsur :
a.
Bait
pembuka: Merupakan bait yang mengandung kata-kata pembuka, salam
pembuka,dan sapaan kepada seseorang ataupun kelompok-
kelompok/organisasiorganisasi. Bait pembuka didalam karungut boleh lebih dari
satu bait, tergantung dari keinginan si pengarang itu sendiri.
b.
Bait Isi:
Merupakan bait yang mengandung kata-kata yang bersifat keinginan, harapan,
tujuan, cita-cita, pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain, melewati
alunan karungut.Bait isi didalam syair karungut tidak dibatasi jumlahnya, yang
jelas merupakan tujuan yang ingin disampaikan dapat terwujud, dan dapat
dipahami oleh orang yang mendengarkannya.
c.
Bait
penutup: Merupakan bait yang mengandung kata-kata penutup, yang merupakan
akhir dari sebuah harapan, nasehat, cita-cita dan tujuan yang disampaikan
kepada orang lain yang mendengarkannya.
2. Syair
karungut terdiri dari :
a. Baris
1: a. Merupakan sisipan/sampiran, atau
b. Tidak
menggunakan sisipan/sampiran . contoh : Bunga mawar bunga melati ......
c. Baris
1 mempunyai hubungan yang sangat erat dengan baris 3, baik dari segi akhiran
kata dan syair yang akan dituliskan.
a. Baris
2: a. Merupakan sisipan/ sampiran, atau
b. Tidak
menggunakan sisipan/sampiran contoh : Harum baunya dipagi hari
b. Baris
2 mempunyai hubungan yang sangat erat dengan baris 4, baik dari segi akhiran
kata dan syair yang akan dituliskan.
c. Baris
3: a. Merupakan kata-kata yang mengandung keinginan yang hendak disampaikan
kepada orang lain.
d. Baris
4: a. Merupakan kata-kata yang mengandung keinginan yang hendak disampaikan
kepada orang lain.
Contoh hubungan dan keterkaitan
baris 1,2,3 dan 4
...........................................................................
dengan
...........................................................................
mu
...........................................................................
akan
...........................................................................
tertentu
3. Syair karungut harus memenuhi syarat pada
kata akhiran Contoh :
Bunga mawar bunga melati Harum
baunya dipagi hari Salam hormat Bapak Bupati
Selamat berjumpa kami menanti
Pada akhiran kata ( cetak miring) akan terasa
persamaanya, akhiran ti,ri,ti, dan ti
(a,a,a,a)
Contoh :
Bunga mawar bunga melati Tumbuh
dihutan tiada yang tau Salam hormat Bapak
Bupati Dari kami pegawai baru
Pada akhiran kata akan terasa persamaan dan
pebedaannya.baris 1 mempunyai hubungan akhiran dengan baris 3, dan baris 2
mempunyai hubungan akhiran dengan baris 4 ( a, b, a, b ).
Berikut contoh lain irama Karungut (disampaikan
melalui bahasa Dayak Ngaju) menceritakan tentang masa lalu dan kini, serta
suasana kawasan alam di sepanjang alur sungai tersebut yang menyimpan
nilai-nilai yang bermakna sangat mendalam, yang patut kita simak
syair-syairnya. ‘Tumbang Manange’, itulah judul irama karungut ini.
TUMBANG MANANGE
(Irama Karungut)
Tumbang Manange katika hamalem
Benyem tunis je kaput pijem
Nandai teluk hayak handalem
Likut lewu Puruk Tamanggung
Puruk Hai Bukit Batu hayak
gantung
Bakarambang hakalingkang
Tagal kare je batu usang
Kilau kota Manahan asang
Aju lewu je Batu Suli
Kilau tanda tihang bandera lewu
hai
Dehes karas aju lewu
Jete arae Upon Batu
Hulek hatambeleng bagana toto
Tege batu je Lawang Kuwu
Hung gantau aju batu je buku
tewu
Tinai hung bentok rahusan
Tege Panahan Panyaharan
Batu due hatalunjan
Hila ngawa badehes lalau
Nyambut tinai awi Batu Jala Balau
Hila ngawa Batu Lawang Jata
Akan tanda lewu taheta
Lewu Ulek Balai Jata
Hakarang Indang, hakarang Apang
Harungku bingat, ikau Batu
Tangkasiang
Kuan kesah oloh horan
Batu bara hulu Kahayan
Masuh malentop Batu Panahan
Batu je toh, bahanyi toto
Palus Tapian, laut Lewu Upon Batu
Tikas toh bewei karangan ikei
Mahasil gawi hanjewu, halemei
Sambil melai manunggu kekei
Lalehan kea kapasi ikei
Lewu korik Jahai inende dagang
tamuei. *)
*) Oleh : A.DJ/Rusiniwati, Tewah 2006 (Disalin kembali
oleh : Offeny A.I)
3.
Beberapa Kelompok Besar 5 Jenis
Irama Musik Tradisional
Kalimantan Tengah (Lihat Tabel) di bawah ini
Jenis Irama Alat
Musik Jenis
Tarian/Naynyian Lagu
1.
Irama - Garantong
(gong) 5 buah - Kanjan
Kanjan -
Gandang (gendang) tatau 1 buah - Kanjan
Potahu
- Kangkanong
(kenong) 1 Set - Kanjan
Buhkang
- Tarai,
raraup, tangkung undang - Tasai
Nganyak urak
- Tasai
sangkai Raya
* Lagu Parung
2.
Irama - Kacapi, 1-2
buah * Lagu Kandan
Kinyah -
Rabab, 1 buah * Lagu Tawui
- Suling - Kinyah (lk )
- Kinyah bawi
- Tari Mandau
(pr)
3.
Irama Dewa - Gong, 3 - 4 buah * Lagu Tandak Mandau
- Gendang, 1
- 5 buah * Lagu
Karungut
- Sarun, 1
set * Lagu Malo-malo
- Kenong, 1
set - Wadian Bawo
- Karempet, - Wadian Dadas
- Katambung,
2 buah - Marasuk
sangiang
- Hobobaca/bobaja
- Bukung/Sababuka
- Amun Rahu
- Iruang
Wunrung
- Balian
santio
- Tari Baras
Mayang
*
Lagu Moloak
*
Tumet Leut (Lagu)
20. Seni Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah
Seni
Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah Kalimantan Tengah, adalah:
1. Seni Suara (Seni Vokal)
Seni suara ataupun lagu-lagu daerah adalah sebagai
salah satu unsur budaya yang memiliki potensi untuk memperkokoh jati diri,
sekaligus sebagai hihuran sangat penting untuk disebarluaskan melalui berbagai
kegiatan di masyarakat maupun melalui jalur pendidikan, terutama melalui
pelajaran muatan lokal. Perkembangan seni suara seperti lagu-lagu daerah saat
ini semakin maju mengikut arus globalisasi.
2. Mengenal Lagu-lagu Daerah
Lagu-lagu daerah Kalimantan Tengah saat ini telah
banyak digemari oleh masyarakat dan anak-anak sekolah, tetapi keterbatasan kita
belum sepenuhnya memiliki referensi berupa buku-buku sebagai penunjang. Pada
kesempatan ini bahwa lagu-lagu daerah yang ada di Kalimantan Tengah ini akan
kita bagi kedalam dua bagian :
1) Lagu-lagu
Rakyat (daerah), 2) Lagu-lagu Pop
Daerah.
a.
Lagu-lagu Rakyat (daerah) yang kita
kenal, diantaranya :
1) Manasai, 2) Karungut, 3) Tumpi Wayu, 4) Nansarunai, 5)
Tumet Leut, dll.
b. Lagu-lagu
Pop Daerah Kalimantan Tengah. Sebenarnya antara lagu-lagu rakyat (daerah)
maupun lagu-lagu pop daerah sulit dibedakan. Tergantung irama musik
penggiringnya (ada yang diiringi dengan alat musik sederhana/tradisional, dan
ada juga dengan alat musik modern).
Lagu-lagu
pop yang kita kenal sekarang adalah, seperti : 1) Isen Mulang, 2) Manasai
(Manari Manasai), 3) Lewungku Utusku,
4) O Indang O Apang, 5) Nansarunai, 6) Itak
Gumer, 7) Riwut Andau, 8) Lehan Kapurum Andi, 9) Dia
Mangira Dia Manyangka,10) Bulan Bunter, 11) Susung Hanjewu, 12) Has Kantuh
Andi, 13) Nyarungan Panginan
Behas Taheta, 14) Tolak Namuei, 15)
Burung Tangkasiang, 16) Buah Karuhei, 17)
Bukit Batu Suli, 18) Baka Dia, 19) Haruyong Manggetem,
20) Manok Rangkang, 21) Nyalamat Himba,
22) Riwut Andau, 23) Danau Mare, 24) Haluang Hapelek, 25) Hapeteng Janji, 26)
Ka Danau, 27) Hanjak Sanai, dll.
Seni vokal yang
populer di wilayah Kalimantan Tengah saat ini adalah : Karungut, Kandan,
Mansana, Kalalai Lalai, Ngendau, Natum, Dodoi, Marung, Selengot, dll.,
(penulis pernah mendengar irama selengot ini yang
dilantunkan oleh seorang sesepuh Agama Hindu Kaharingan, yaitu ketika berada di
Desa Karamuan (wilayah Barito Utara), dalam bahasa Dayak Dusun Malang). Contoh
Syair Lagu : Manari Manasai, dan Itak Gumer.
Berikut Lagu Manari Manasai dan Lagu Itak Gumer:
1). Manari Manasai (Ciptaan : Holten Rudji):
|
Lirik
Lagu: Manari Manasai |
Lirik
Lagu: Menari Manasai (Bahasa
Indonesia) |
|
(Bahasa Dayak Ngaju) |
|
|
Pukul gandang
garantung Hayak dengan kangkanung Sambil tuntang gantau Miar mundur dan maju Bahalai dan salendang Imeteng intu kahang Ngaliling sangkai lunuk Je impendeng hung bentuk Ayu manari manasai, |
Pukul gendang dan gong Diiringi dengan kenong Ke kiri dan ke kanan Bergerak mundur dan maju Kain panjang dan
selendang Diikat di pinggang Mengelilingi sangkai
lunuk*) Yang didirikan di
tengah-tengah Ayo menari manasai, Menari manasai jangan
sampai ketinggalan...2x |
|
Manari manasai ela aton je
melai…… 2x |
Catatan : *) sangkai lunuk adalah semacam "tiang/tugu" terbuat dari ikatan
ranting pohon beringin) yang didirikan di
tengah-tengah.
2). Lagu
Itak Gumer (Bahasa Maanyan):
21.
Seni Rupa Kalimantan Tengah
Perkembangan Seni
Rupa, termasuk di Dalamnya: Seni Lukisan, Seni Hias Tubuh (Tato), Seni Pahat,
Seni Kriya.
Seni rupa yang berkembang di dalam masyarakat adalah
seni patung, seni ukir, seni anyaman (tamunan dare) dan benang bintik
(batik).
1. Seni Lukis/Lukisan (Pada Kanvas atau pada
Tembok, dll.):
Di daerah perkotaan spt. : Lukisan-lukisan atau
ornament khas Dayak pada pilar Jembatan Kahayan, atau Lukisan pada tembok,
Jukung hias (perahu hias), ada yang bermotif burung tingang dsb, dengan
menggunakan bahan cat, kain kanvas, dan banyak lagi yang lain yang dihasilkan
oleh para seniman muda dari kalangan Suku Dayak, mereka banyak yang berasal
dari lulusan Sarjana Seni Rupa dari Perguruan Tinggi ISI (Institut Seni
Indonesia) Yogyakarta; Mereka yang dari ISI, spt.:
Lampang L. Tandang, Tria Trang, Donny, JJ Queen
(mereka sekarang berada di PEKAT/Perupa Kalimantan Tengah, penulis juga ada di
dalam Komite ini). Dan ada juga lulusan dari Perguruan Tinggi lain. Disamping
lulusan seni rupa, mereka ada yang lulus sebagai Sarjana Seni Tari; spt.: Jimy
O. Andin (sekarang sebagai Dosen Sendratasik Fkip UPR, juga berada di
DKPR/Dewan Kesenian Kota Palangka Raya) beliau juga punya “Sanggar Tari Tut
Wuri Handayani” di Jl. Sanggabuana Selatan Kota Palangka Raya. Dan banyak lagi
yang lain penulis lupa nama-nama mereka.
2. Seni lukis Tubuh (Cacah / Tutang (tato /
tatto):
Cacah / Tutang (tato / tatto), adalah termasuk Seni
Hias Tubuh (tutang/Tatto), ada yang dibuat secara permanen. Dan ada pula yang
dibuat secara tidak permanen, artinya bisa dibuang, spt.: tutang atau tatto
ornament khas Dayak pada para penari, baik wanita atau pria (di lengan atau pun
di bagian tubuh). Ada yang diberi warna, ada juga hanya menggunakan warna hitam
saja.
Tutang (Tato atau rajah, adalah symbol kekuatan,
hubungan dengan Tuhan, dengan alam, dan perjalanan hidup bagi suku Dayak).
Sekilas mengenai Sejarah Tutang (tato) Pada Suku
Dayak: Pada jaman dahulu orang-orang suku Dayak sangat gemar membuat
tutang/cacah (tato) di tubuh mereka. Adapun maksud membikin gambar-gambar di
tubuh atau badan sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Tjilik Riwut, dalam Bukunya
Kalimantan Membangun, 1979; ialah: 1) Terikat dengan agama dan kepercayaan.
Menurut kepercayaannya, bilamana mereka kelak sudah meninggal dunia dan mereka
sudah ditiwah (dibikin upacara mengantar arwah mereka ke sorga), maka bilamana
mereka sudah masuk ke dalam sorga-loka, maka bekas tutang (cacah) yang hitam
tadi berobah menjadi emas, dan seluruh badannya mengkilap bercahaya-cahaya; 2)
Sebagai tanda ia suku Dayak. Sebab menurut dalam sejarah asli bangsa Indonesia
Dayak yang dinamai “Tetek Tatum” bahwa semua
keturunan dari “Antang Bajela Bulau”, “Tunggul Garing Janjahunan Laut” harus
batutang (bercacah/bertato) sebagai tanda bahwa ia adalah keturunan dari Antang Bajela Bulau, datuk atau moyang
mereka. Dan semua keturunan yang bernama suku Dayak harus digambar badannya dan
harus imepesek (ditindik telinganya); 3) Terikat dengan kepahlawanan. Jaman
dahulu, kalau seorang pemuda Dayak tidak digambar badannya (bertutang/cacah),
maka dianggap pemuda yang hina, penakut oleh gadisgadis. Sama seperti kayu yang
lurus tidak mempunyai dahan, ranting dan daun, yang sama sekali tidak ada
hasilnya harapan untuk berubah (Tjilik Riwut, 1979:264-265). Adapun nama gambar
motif Tutang (Cacah)/Tato, Umpamanya : 1. Gambar naga/tambun; 2. Lampinak
(Pangkah); 3. Apoi (Api); 4. Palapas langau (Sayap lalat); 5. Matan punei (Mata
Punai); 6. Saluang murik (Seluang mudik); 7. Manok tutang penang (Ayam tato
lengan); 8. Manok tutang usuk (Ayam tato dada/rusuk);
9. Tutang bajai (tato buaya); 10. Tutang tasak bajain
dinding (Tato cicak buaya tembok) (Tjilik Riwut, 1979:265).
Berikut salah satu Contoh Tato:
Tutang Suku Dayak Tutang
pada bagian belakang Tutang Pada lengan Penari
Ngaju (Tempo Doeloe)
3. Seni pahat, dapat kita lihat spt.
Talawang (Perisai yang di pahat pada kayu ulin), pada Pilar bangunan rumah atau
gedung.
4. Seni Ukir, misal pada gagang dan sarung
Mandau, langgei puai (pisau raut/yang ada pada sarung mandau), pada sapundu,
sandung, tiang pantar, pada lesplang rumah ada diukir dengan menggunakan pahat
ukir, atau ada juga dengan system kerawang menggunakan pahat dan gergaji/jigsaw.
5. Seni Kriya, dpt kita lihat pada uraian
di bawah ini:
1). Kerajinan anyaman, spt.:
anyaman topi, salutup, tas, tikar dsb, berbahan rotan, purun, bamban, aur dll. Di sini ditampilkan ada
Bermacam-macam nama anyaman dari Rotan dsb.
Papire Macam Aran Tamunan Daren Uei
(Macam-Macam Nama Anyaman
Rotan), sbb.:
Bakatak Hanangoi (Kodok Berenang) Batang
Garing
Dare Ihing Dare
Uhing
Jangkarang Matanandau Kala
Hajijit
Kalepang Plara Kambang
Bakung
Kambang Sarunai Labehu
Garantong
Ngalangkang Garu Nyaring
Hajijit
Putak Riak Riak
Hanjaliwan
Saluang Murik Ulek
Labehu
Tas salah satunya motif Jangkarang Topi diantaranya motif Puson Ujau
Matanandau
![]()
Rambat motif puson ujau Salutup anyaman rotan dibordir
Sumber Data : Ibu Ramintje, 27-08-2011
2). Kerajinan Getah
Nyato
Kerajinan Getah Nyatu (Kayu Nyatoh (
Palaquium spp.).
1. Bahan
Baku
Kerajinan Getah Nyatu termasuk kelompok seni kriya.
Kerajinan getah kayu nyatu yang berasal dari pohon kayu nyatu (Indonesia
‘Nyatoh’). Pohon nyatu sendiri merupakan tanaman eksotis Kalimantan Tengah yang
hanya tumbuh di dua wilayah tertentu di provinsi tersebut, yaitu di Kabupaten
Pangkalan Bun dan di Kecamatan Bukit Tangkiling (kawasan Sei Gohong), Kota
Palangkaraya. Bukan berarti bahwa di tempat lain tidak ada, mungkin lebih
banyak, seperti di kawasan Kapuas, Katingan dsbnya.Getah kayu nyatu selama ini
dimanfaatkan oleh masyarakat adat suku Dayak di wilayah tersebut sebagai bahan
baku untuk pembuatan kerajinan khas suku Dayak, seperti berbagai bentuk perayu,
patung masyarakat adat suku Dayak dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.
2. Jenis
Getah Nyatu Untuk Membuat Seni Kerajinan
Jenis getah nyatu ini biasanya ada 2 macam : 1).
Jenis Sambun; 2). Jenis Baringen. Jenis Sambun biasanya tumbuh di daerah
perbukitan (dataran tinggi). Jenis Sambun termasuk jenis getah nyatu terbaik,
karena memiliki sifat cepat keras dan pemakaiannya sangat irit dibandingkan
dengan jenis getah nyatu Baringen. Sedangkan jenis Baringen, tumbuh di dataran
rendah (tanah rawa). Tetapi bukan berarti jenis Baringen tidak baik, hanya beda
sifat, yaitu getahnya agak lambat keras, dan agak sudah dibentuk/diolah menjadi
sebuah karya seni (kerajinan) dsbnya. Kini kerajinan getah nyatu telah menjadi
salah satu ciri khas provinsi Kalimantan Tengah yang dikembangkan oleh
masyarakat dengan dukungan Pemda setempat menjadi barang souvenir yang sangat unik
dan menarik. 3. Proses Pengambilan Getah
Nyatu Dari Pohonnya
Kemudian proses selanjutnya batang pohon nyatu di
kuliti untuk diambil bagian kulitnya. Selanjutnya, kulit kayu nyatu itu direbus
di dalam air mendidih yang sebelumnya telah dicampur dengan minyak tanah.
Proses perebusan tersebut dilakukan untuk memisahkan (mengekstrak) getah dari
kulit kayu nyatu. Dalam keadaan air rebusan yang masih mendidih, getah pohon
nyatu yang sudah terpisah dari kulit pohon itu kemudian diambil untuk
selanjutnya direbus kembali untuk memisahkan getah dari sisa-sisa minyak tanah.
4.
Proses Pewarnaan Getah Nyatu
Getah pohon nyatu yang sudah terpisah dari minyak
tanah itu kemudian dipilah- pilah untuk proses pewarnaan. Untuk memberikan
warna warni pada getah, dan para perajin getah nyatu di Kalteng biasanya
menggunakan bahan pewarna alami yang diambil dari tanaman asli di Kalteng.
Proses pewarnaan dilakukan dengan cara merebus getah nyatu itu bersama-sama
dengan bahan tanaman sumber pewarnaan alam. Biasanya pewarna alami yang dipakai
terdiri dari empat jenis warna, yaitu hitam, kuning, merah dan hijau. Getah
nyatu yang sudah diberi bahan pewarna alam itu kemudian diambil dan dalam
keadaan masih panas (dalam rebusan air mendidih) langsung dibentuk dan dianyam
menjadi berbagai bentuk kerajinan getah nyatu. Proses pembentukan getah nyatu
harus dilakukan dalam keadaan masih panas karena dalam kondisi tersebut getah
nyatu masih dalam keadaan meleleh sehingga mudah dibentuk. Sedangkan kalau
sudah dingin, getah nyatu sulit dibentuk karena sudah berada dalam keadaan
beku.Kerajinan anyaman getah nyatu umumnya mengambil bentuk perahu tradisional
Dayak yang dilengkapi dengan awak dan berbagai asesorisnya. Bentuk perahu
tersebut menggambarkan cerita tersendiri yang diambil dari cerita asli
masyarakat suku Dayak di Kalteng. Sebagaimana diketahui di Kalteng sendiri
terdapat sejumlah suku Dayak, diantaranya Dayak Maanyan, Dayak Ngaju (Kapuas,
Kahayan), Bakumpai, Dayak Katingan. Bentuk perahu yang biasanya dipergunakan
dalam kerajinan anyaman getah nyatu umumnya dicirikan dengan bentuk kepala
tambun atau naga dan kepala burung antang (elang) atau tingang yang terletak di
bagian depan perahu. Perahu yang mengambil bentuk kepala tambun atau naga
biasanya dipakai untuk menunjukkan perahu perang dan perahu untuk upacara adat
Tiwah (memindahkan kepala leluhur dalam agama Hindu Kaharingan), namun bentuk
kepala tabun atau naga pada perahu perang dan perahu untuk upacara adat Tiwah
sedikit berbeda. Sementara perahu yang mengambil bentuk kepala antang atau
elang biasanya menggambarkan perahu berburu.Perahu perang berkepala tambun atau
naga juga memiliki posisi kepala yang berbeda. Posisi kepala tambun atau naga
yang mendongak ke atas menggambarkan bahwa perahu tersebut telah berhasil
memenangkan peperangan. Posisi kepala tambun atau naga lurus menggambarkan
perahu sedang menuju ke arah peperangan. Sedangkan posisi kepala tambun atau
naga menunduk ke bawah menggambarkan perahu sedang dalam perang. Selama ini
para pengrajin memproduksi kerajinan anyaman getah nyatu hanya berdasarkan
pesanan. (Majalah Kina (No.1-2008; Departemen Perindustrian RI).
Gbr. Pohon Nyatu (Bhs. Latin :
Palaquium spp.) :
![]()
Nyatu bisa dibudidayakan Nyatu tumbuh Liar Bentuk daun, bunga Pohon Nyatu mengeluarkan getah (biji atau
stek)
dan buah Nyatu
Gbr.
Pengrajin Getah Nyatu
Contoh
Kerajinan Getah Nyatu:
Perahu Naga
Perahu
Hias Burung Tingang
BAB IV
PENUTUP KESIMPULAN DAN
SARAN
A. KESIMPULAN
|
Dari pembahasan
mengenai unsur budaya Dayak dalam penulisan cerita anak, |
|
dapat disimpulkan bahwa kekayaan budaya dan seni Dayak
memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas dalam
mengembangkan cerita yang bernilai edukatif dan menghibur. Penggunaan unsur
budaya, seni, dan |
|
teknologi Dayak dalam cerita
anak bukan hanya memperkaya pengalaman membaca |
|
anak-anak, tetapi juga
memperkuat identitas budaya lokal serta memperkenalkannya |
|
kepada
generasi muda. |
|
Hal
ini sebagaimana dari beberapa uraian yang telah dikemukakan: |
|
1. Integrasi
unsur budaya Dayak juga unsur seni dan teknologi dalam penulisan |
|
cerita anak bukan hanya menyediakan
hiburan, tetapi juga merupakan upaya |
|
untuk melestarikan warisan budaya yang kaya
dan memperkenalkannya kepada |
|
generasi
muda. Melalui cerita anak, nilai-nilai budaya Dayak dapat disampaikan dengan
cara yang menarik dan edukatif bagi pembaca anak-anak. |
2. Dari
beragam unsur seni dan budaya Dayak Kalimantan Tengah yang dapat diintegrasikan
dalam penulisan cerita anak, terbentuklah sebuah panorama yang kaya akan
keindahan alam, kearifan lokal, dan pelajaran berharga bagi anak-anak. Melalui
cerita anak yang memperkenalkan alam dan lingkungan, anak-anak diajak untuk
menghargai dan menjaga keberagaman hayati serta pentingnya pelestarian
lingkungan. Pengembangan diri menjadi tema penting dengan mengambil inspirasi
dari nilai-nilai kearifan lokal Dayak, seperti semangat gotong royong dan
ketahanan dalam menghadapi rintangan.
3. Dalam
penulisan cerita anak yang mengintegrasikan unsur sains, anak-anak
diperkenalkan pada
pengetahuan ilmiah tentang flora dan fauna
endemik Kalimantan Tengah, serta diinspirasi untuk mengeksplorasi konsep-konsep
ekologi hutan. Seni budaya Dayak menjadi sumber inspirasi untuk mengajarkan
anak-anak tentang keindahan dan makna di balik karya seni tradisional,
sementara pariwisata lokal menjadi jendela bagi mereka untuk mengenal
tempat-tempat wisata alam dan budaya di daerah tersebut.
4. Olahraga
dan permainan tradisional Dayak tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan
anak-anak tentang pentingnya gaya hidup aktif dan sehat. Sementara itu,
pengenalan kuliner khas Dayak melalui cerita anak memberikan kesempatan bagi
anak-anak untuk menghargai keanekaragaman kuliner lokal serta memahami
pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Terakhir, melalui penulisan
cerita anak yang mengangkat flora dan fauna Kalimantan Tengah, anak-anak dapat
memperluas pengetahuan mereka tentang kehidupan alam dan pentingnya konservasi
lingkungan, demikian juga unsur seni budaya lainnya.
Dengan
demikian, penulisan cerita anak menjadi sarana yang efektif dalam mempromosikan
dan melestarikan warisan budaya Dayak secara kreatif dan inklusif.
B.
SARAN
1.
Mendorong penulis,
ilustrator, dan pembuat cerita anak untuk lebih menggali dan memanfaatkan
kekayaan budaya Dayak sebagai inspirasi utama dalam menciptakan karya-karya
yang berkualitas.
2.
Mengembangkan
kolaborasi antara komunitas Dayak, penulis cerita anak, seniman, dan teknisi
teknologi untuk menciptakan produk-produk kreatif yang mengangkat nilai-nilai
budaya Dayak.
3.
Meningkatkan
aksesibilitas cerita anak berbasis budaya Dayak melalui berbagai platform
(rencana kerja; program), termasuk buku cetak, aplikasi digital, dan media
online, agar dapat dijangkau oleh anak-anak dari berbagai latar belakang.
4.
Mengintegrasikan
pemahaman dan apresiasi terhadap budaya Dayak dalam kurikulum pendidikan (terutama
kurikulum muatan lokal), sehingga anak-anak dapat belajar tentang warisan
budaya lokal dari masing-masing daerah mereka sendiri sejak dini.
5.
Mendukung inisiatif
pengembangan dan penyebaran cerita anak berbasis budaya Dayak melalui
program-program pemerintah, organisasi non-pemerintah, serta industri kreatif
lokal.
Dengan menerapkan saran-saran di atas, diharapkan
penulisan cerita anak yang mengangkat unsur budaya Dayak dapat menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari upaya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya
lokal Kalimantan Tengah.
REFERENSI
Bahruddin, B., & Hidayatullah, N., 2021. Puisi Sastra Lisan Dayak Ngaju: Kajian
Struktur dan Nilai Estetik. Prosiding Seminar Nasional
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Danandjaja,
James, 1994. Folklor Indonesia: Ilmu
Gosip, Dongeng, dan lain-lain.
Jakarta: Percetakan PT Temprint.
Djamaluddin,
D., 2019. Kearifan Lokal dalam Sastra
Lisan Dayak Ngaju. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(1),
163-167.
Estarika,
Arita, 2020. Dambung Sandan (Sebuah
Legenda Suku Dayak). Cetakan
pertama. Banjarbaru: Zukzezexpress.
Ibrahim,
Offeny. A., 2012. Kumpulan Sarita Rakyat
Kalimantan Tengah (Kumpulan Cerita
Rakyat Kalimantan Tengah) Inyampai Mahapan Due Basa Dayak Ngaju, Indonesia (Disampaikan
Melalui Dua Bahasa : Dayak Ngaju, Indonesia), Cetakan 1. Jakarta: Penerbit
Midada Rahma Press.
Ibrahim, Offeny. A., 2019. Kamus Umum Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia,
Indonesia-
Dayak Ngaju; dilengkapi Tata Bahasa
Basa Dayak Ngaju. Palangka Raya: Bursa Fotocopy.
Ibrahim,
Offeny. A., 2014. Seni Budaya Kalimantan
Tengah, Cetakan pertama Surabaya: Penerbit Jenggala Pustaka Utama.
Ibrahim, Offeny. A., 2023. Tradisi Lisan & Sastra Lisan Kalimantan Tengah: Palangka Raya:
Bursa Fotocopy.
Klokke
A.H., 1998. Traditional Medicine Among
The Ngaju Dayak In Central Kalimantan; The 1935 Writings Of Former Ngaju
Dayak Priest Edite and Translated by A.H. Klokke Borneo Research Council
Monograph Series Published by Borneo Research Council, Inc. P.O Box A Phillips,
ME 04966 U.S.A.
Nuryatin
dan Irawati, 2016. Pembelajaran
Menulis Cerpen (PDF).
Semarang: Penerbit Cipta
Prima Nusantara. (Diunduh, Tgl 25/04/2023)
Pertiwi,
Hana, dan Offeny A Ibrahim, 2011. Upon
Ajar Basa Dayak Ngaju Akan Kalas
Jahawen SD. Cetakan Ketiga. Palangka Raya: UD Solo Baru.
Rampai,
Kiwok D., Agus B. Amann, Angie Rohan, (Tim Penyunting), 1996, Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Tengah. Proyek
Pembinaan Perpustakaan Umum Dati Ii Tersebar Dl6 (Enam) Kabupaten/Kotamadya
Dati Ii Pada Dinas P Dan K Propinsi Dati I Kalimantan Tengah 1995/1996.
Riwut,
Tjilik, 2003. Maneser Panatau Tatu Hiang
(Menyelami Kekayaan Leluhur). Cetakan Pertama. Palangka Rya: Penerbit
Pusakalima.
---------------,
2015. Maneser Panatau Tatu Hiang
(Menyelami Kekayaan Leluhur). Cetakan Kedua. Yogyakarta: Penerbit NR
Publishing.
Rus Andianto, M., Mihing, Samuel & Uan,
Sinar, 1987. Sastra Lisan Dayak Ngaju.
Pusal Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
S,
Aprilliana Ratna, dkk., 2018. Pembelajaran
Menulis Cerpen di Era Digital. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta.
Sandan, AB., dkk., 2007. Kumpulan
Lagu-lagu Daerah Kalimantan Tengah. Penerbit PemprovKalteng Dinas P dan K Program
Pengelolaan Kekayaan Budaya Tahun 2007.
Sisilda,
Rensi, Triwulandari, Rizqia Sadida, 2016.
Bukit Batu Suli: cerita rakyat dari
Kalimantan Tengah. Penerbit: Jakarta Timur : Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa.
Suryani, A. S., & Nursanti, E., 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Sastra
Lisan Dayak Ngaju.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2(1), 95-100.
Taryana,
T., 2020. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
dalam Dongeng Dayak Ngaju. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Guru
Sekolah Dasar, 2(1), 15-20.
Wijanarti,
Titik, 2021. Laporan Disertasi: Struktur
Naratif Dan Fungsi Tradisi Lisan
Sansana Bandar Dalam Kehidupan Masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Surakarta: Program Doktor Kajian
Budaya pada Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
https://www.gramedia.com/literasi/mite-adalah/(Diunduh,Senin,Tgl 12/02/2024. Pk.
20:05).
|
https://www.inews.id/multimedia/infografis/5-misteri-suku-dayak-yang-menakutkan-nomor-3para-pria-harus-hati-hati (Diunduh
Sabu, 10/02/2024, Pk.:18:29). |
|
|
https://www.google.com/search?q=Cerita+Sangkanak+Inggare+Sabangak&rlz=1C1GCEA_enID9
79ID979&oq=Cerita+Sangkanak+Inggare+Sabangak&gs (Diunduh
Rabu, Tgl. 13/02/22024. PK.
10:15 Wib.)
|
|
https://ugm.ac.id/id/berita/22114-tradisi-lisan-nusantara-pelestarian-dan-perkembangan; Diunduh, Tgl 16/04/2023).
https://selaluberuntung351.blogspot.com/2020/12/penelitian-pendakian-mistis-digunung.html (diunduh
tgl, 10 Juli 2022, pukul 19.41).
PENYUSUN
Offeny
Ibrahim, lahir di Mahajandau, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan,
Kalimantan Tengah, 10 September 1958, dari orang tua Adrianus Ibrahim (Alm.)
dan Ridine Atjeng (Alm.). Anak ke 4
(empat) dari 7 (tujuh) putra bersaudara.
Pendidikan formal : SDN-SMPN di
Mengkatip (1967-1975); SMAN di Kuala
Kapuas (1979). Melanjutkan Studi di Universitas Palangka Raya (Unpar/sekarang
UPR) dan lulus sebagai Sarjana S1 Pendidikan (1985). Telah menyelesaikan
Program Magister Ilmu Agama Dan Kebudayaan pada Universitas Hindu Indonesia
(UNHI) di Denpasar, Bali (2011).
Pengalaman: Penulisan Cerita
Rakyat, Ornamen, Stand Pameran, dll); Pernah mengabdi Sebagai Tenaga Dosen di
FKIP Universitas Palangka Raya (1986-2023) dan memasuki Purnatugas dari FKIP
UPR (1 Oktober 2023); Dosen Tidak Tetap di STIKes Eka Harap Palangka Raya
(2012-sekarang); Instruktur Mahasiswa PPG Prajabatan UPR Tahun
2022-2023; Sebagai Pemateri/Narasumber pada Mata
Pelajaran Muatan Lokal bagi Guru
PAUD,
SD/MI/ SDLB/SMP/SMA se- Kalimantan
Tengah (2010); Pemateri/ Narasumber Untuk Guru-guru pada Program
Kegiatan Bimbingan Teknis Mata
Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Khusus, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan
Tengah (2018). Tim Penyusunan Kurikulum Mulok SMA, pada Dinas Pendidikan Provinsi
Kalimantan Tengah
(2019); Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Pemandu
Wisata Alam Pedesaan dan Perkotaan, pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Palangka Raya (2019); Narasumber
Konsinyasi Prapenerbitan Kamus Budaya
Kalimantan Tengah, Kamus Dwibahasa
Dayak Ngaju-Indonesia, dan Ekabahasa Dayak Ngaju, pada Balai Bahasa
Kalimantan Tengah (2019);
Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Guru Master atau Guru Utama Revitalisasi
Bahasa Daerah untuk Tunas Bahasa Ibu dengan Tema: Bahasa Dayak Ngaju I dan II
pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah (2022).
Kemudian bersama dengan Saudara
Albert. A. Bingan (alm.) telah menyusun dan menerbitkan Kamus Dwibahasa
Dayak Ngaju-Indonesia (1996), dan
Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Pokok Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju) (2001);
Bersama Ibu Hana Pertiwi telah
menyusun dan menerbitkan Buku Upon Ajar Basa Dayak Ngaju untuk SD Kelas II s.d
Kelas VI SD (2006); menyusun dan menerbitkan Buku Kumpulan Sarita Rakyat
Kalimantan Tengah (Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah, dalam Dua Bahasa Dayak Ngaju dan Bahasa Indonesia)
(2012); Menyusun dan menerbitkan Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah
(2014).
Ditunjuk dan diangkat sebagai
Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan Dayak Lembaga Penelitian Universitas
Palangka Raya (2001-2004); Diangkat sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS
FKIP Universitas Palangka Raya (Masa Bakti 2016 - 2020). Kemudian ditunjuk dan
diangkat kembali sebagai Ketua Jurusan Pendidikan IPS Fkip Universitas Palangka
Raya (Masa Bakti 2021 - 2024); Anggota Senat Fkip UPR (Masa Bakti 2021 - 2024).
Tenaga Pengajar di FKIP UNPAR/UPR (1986-2023), dan Purnatugas dari FKIP UPR (1
Oktober 2023).
Tim Penyusunan Kurikulum Mulok SMA,
pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (2019); Narasumber pada
Kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Alam Pedesaan dan Perkotaan, pada Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya (2019); Narasumber Konsinyasi Prapenerbitan Kamus Budaya
Kalimantan Tengah, Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, dan Ekabahasa Dayak
Ngaju, pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah (2019); Narasumber pada Kegiatan
Pelatihan Guru Master atau Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Tunas
Bahasa Ibu dengan Tema: Bahasa Dayak Ngaju I dan II pada Balai Bahasa
Kalimantan Tengah (2022). Kemudian bersama dengan Saudara Albert. A. Bingan
(alm.) telah menyusun dan menerbitkan Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia
(1996), dan Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Pokok Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju)
(2001);
Pernah memperoleh Sertifikat sebagai
Juara III dari Bupati Kapuas Bpk Ir. Burhanudin Ali, pada Sayembara Desain
Monumen Bundaran Besar jalan Pemuda Kuala Kapuas (2004); Memperoleh Piagam
Penghargaan sebagai Tokoh
Bahasa, dari Balai Bahasa
Kalimantan Tengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada kegiatan Anugerah
Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan
Kalimantan Tengah (2019); Pernah memperoleh Hadiah Terbaik I, pada Sayembara
Nama Maskot Administrasi dan Vokasi UPR bernuansa Kearifan Lokal B ahasa Dayak
Ngaju, Palangka Raya (2020); Menerima Piagam Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda
Kehormatan RI Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI, Bpk Joko
Widodo (2022).
Menikah dengan Arita Estarika Belle
Amann, dikaruniai 3 putera : Aldria Adriano Ibrahim, Aldio Ferdika Ibrahim, Aldonius Oktora
Ibrahim.
Komentar
Posting Komentar