KEBUDAYAAN LOKAL PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

 

BAB   I    PENDAHULUAN

 

Budaya Dayak yang kaya akan nilai-nilai tradisional dan warisan adat merupakan sumber inspirasi yang melimpah untuk mengembangkan cerita anak Kalimantan Tengah. Dalam penulisan cerita anak, unsur budaya Dayak menjadi fondasi yang kuat untuk memperkaya narasi dan memperkenalkan generasi muda pada kekayaan budaya lokal. Melalui penggunaan unsur-unsur seperti adat istiadat, kepercayaan, serta nilai-nilai kehidupan tradisional, cerita anak dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan dan mempertahankan keberadaan budaya Dayak dalam pikiran dan hati anak-anak Kalimantan Tengah.

Terkait dengan unsur seni, budaya, dan teknologi Dayak dalam penulisan cerita anak, perpaduan yang harmonis antara ketiganya tidak hanya memperkaya narasi cerita, tetapi juga memberikan ruang bagi kreativitas penulis untuk menjembatani keterkaitan antara tradisi dengan perkembangan zaman. Seni tradisional seperti motif ukiran, hiasan tekstil, dan pola tarian Dayak dapat diintegrasikan dalam ilustrasi cerita anak, menciptakan visual yang memukau dan memperdalam pemahaman akan keindahan seni Dayak.

Selain itu, unsur budaya Dayak yang kaya akan mitos, legenda, dan cerita rakyat dapat menjadi bahan bakar bagi imajinasi penulis dalam merancang plot cerita yang menarik dan bernuansa lokal. Hal ini tidak hanya memperkenalkan anakanak pada warisan budaya nenek moyang mereka, tetapi juga mengajarkan mereka untuk menghargai dan memahami kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Dengan memanfaatkan teknologi modern seperti animasi, aplikasi interaktif, atau audiobook, cerita anak yang mengangkat unsur budaya Dayak dapat dihadirkan dalam format yang lebih menarik dan dapat diakses oleh anak-anak di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, penulisan cerita anak tidak hanya menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya Dayak, tetapi juga untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal bagi generasi muda secara global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB   II

 

 

 

UNSUR BUDAYA DAYAK

 

 

DALAM PENULISAN CERITA ANAK

 

 

 

Budaya Dayak merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan tradisi, kepercayaan, dan kearifan lokal. Mengintegrasikan unsur-unsur budaya Dayak dalam penulisan cerita anak dapat memberikan kebermanfaatan ganda: menjaga dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda, serta

meningkatkan apresiasi terhadap keanekaragaman budaya di Indonesia (umumnya)

dan Kaliamantan Tengah (khususnya).

Penulisan Cerita anak merupakan salah satu karya sastra anak. Sastra anak sendiri adalah karya sastra yang ditulis sebagai bacaan untuk anak, yang mana isinya sesuai tingkat perkembangan intelektual serta emosi anak. Cerita anak bisa digunakan sebagai hiburan maupun untuk memberikan anak tentang pendidikan moral (pesanpesan moral).

 

 

Unsur Budaya Dayak dalam Penulisan Cerita Anak

Unsur Budaya Dayak dalam Penulisan Cerita Anak, yang akan dibahas, adalah:

 

1. Mitologi dan Legenda,                                       

 

2.   Cerita Rakyat, 

3.   Sastra (Lisan), 

4.   Alam dan Lingkungan, 

5.   Tradisi dan Upacara Ritual,  dan 

 

6. Upacara-upacara Tradisi lainnya.

 

 

 

 

1. Mitologi dan Legenda:

 Mitologi dan legenda Dayak kaya akan cerita-cerita yang

 

 

 

dipercayai sebagai bagian dari sejarah dan kepercayaan masyarakat Suku Dayak.

Memasukkan tokoh-tokoh mitos seperti “Sangiang” "Batu Suli", " Puruk

 

Harimaung ",  atau lainnya dapat menambah atau memperkaya elemen magis dan

 

petualangan dalam cerita anak.  Di bawah ini beberapa Contoh Mitos dan Legenda.

 

Mitos atau Mite (Cerita suatu bangsa ttg dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran ttg asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tsb

 

mengandung arti mendalam yg diungkapkan dengan cara gaib (lih. KBBI V). 

Mitos merupakan cerita prosa rakyat yang tokohnya mahkluk setengah dewa atau para dewa dan terjadi di dunia yang lain di masa lampau. Mite juga dianggap dan dipercaya oleh yang membuat cerita pernah benar-benar terjadi. Ada beragam isi dari cerita mite mulai dari kemunculan manusia, kemunculan para dunia, kemunculan para hantu, hingga mitos terbentuknya danau, sungai dan lain sebagainya.

Mitos memiliki beberapa ciri seperti dipercaya atau dianggap benar-benar terjadi oleh para penganutnya, cerita yang sederhana dan terdiri dari motif-motif dan plotplot mudah, latar belakang umumnya di masa lampau dan beberapa lainnya.

 

Jenis-jenis mitos atau mite cukup beragam seperti: 1). mitos penciptaan yang menceritakan tentang terciptanya alam semesta (misalnya tentang keperayaan dari kebudayaan suatu bangsa  yang tidak luput dari pencampuran unsur-unsur mitis

(mythis) pula; misal Mitologi tentang “Sangiang” (lihat “Wörterbuch DajackDeutsches” (Kamus Dayak Ngaju-Jerman, Aug. Hardeland, 1859) kemudian; 2). mitos kosmogenik yang menceritakan penciptaan alam semesta melalui perantara; 3). mitos asal-usul yang menceritakan tentang asal mula dari binatang atau jenis tumbuhan; 4). mitos transformasi yang menceritakan perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia dan dunia di hari kemudian; 5). mitos Theogonis adalah cerita mitos atau mite yang bercerita tentang para dewa serta makhluk gaib. Merupakan mite mengenai para dewa dan makhluk adikodrati; 6). mitos Anthropogenic adalah mitos yang bercerita tentang suatu proses terjadinya manusia di dunia ini.

 

Ciri-Ciri Mitos

1.   Cerita yang ada pada mitos itu diyakini benar-benar terjadi oleh para pengikutnya.

2.   Ceritanya terdengar aneh dan sulit dipahami dengan logika, tetapi sangat penting   bagi masyarakat.

3.   Ceritanya sederhana dan terdiri dari beberapa motif dan tindakan sederhana.

4.   Jalan cerita melibatkan ritual tertentu. Kisah-kisah yang terkandung di dalamnya dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga tak boleh dilakukan dengan sembarangan.

5.   Latar belakang dari suatu cerita mitos biasanya masa lalu.

6.   Salah satu jenis kepribadian yang harus dimasukkan dalam mitologi adalah berkaitan dengan budaya dan masyarakat setempat.

 

Fungsi mitos

Mite itu sendiri memiliki beberapa fungsi yang perlu diketahui, yaitu:

1.   Mite berfungsi sebagai sarana pendidikan yang paling efektif untuk memperkuat dan mengkomunikasikan nilai-nilai budaya, norma sosial dan keyakinan tertentu.

2.   Mite berfungsi sebagai pengembangan simbol yang bermakna dan fungsional untuk menjelaskan fenomena lingkungan.

3.   Mite berfungsi sebagai pedoman bagi orang-orang yang percaya dalam memajukan solidaritas sosial di antara anggota, sehingga mereka dapat membedakan satu komunitas dengan komunitas lainnya.

4.   Secara umum, mite akan dikembangkan untuk menyampaikan dan meningkatkan nilai-nilai budaya tertentu, ide-ide dan pengetahuan, dan membantu merangsang pengembangan pemikiran kreatif.

https://www.gramedia.com/literasi/mite-adalah/(Diunduh,Senin,Tgl 12/02/2024. Pk. 20:05).

 

Legenda (Cerita rakyat, tokoh terkenal pada zaman dahulu yg ada hubungannya dg peristiwa sejarah (lih. KBBI V). 

Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap atau dipercaya sebagai cerita suatu kejadian yang benar pernah terjadi oleh yang mempunyai cerita. Cerita legenda mempunyai sifat yang keduniawian atau sekuler dan terjadi di masa yang tidak terlalu lampau.

 

Tokoh dari cerita legenda adalah manusia meski ada kalanya yang mempunyai berbagai sifat luar biasa serta cukup sering dibantu oleh makhluk-makhluk yang ajaib. Ciri-ciri dari cerita legenda adalah dipercaya kejadiannya pernah benar-benar terjadi, tokoh umumnya manusia, sifat keduniawian, bersifat berpindah-pindah dan bersifat semihistoris.

 

Ada beberapa jenis dari cerita legenda, berikut adalah penjelasannya: a. Legenda Alam Gaib

Legenda ini umumnya berbentuk cerita yang dianggap atau dipercaya pernah benar terjadi atau dialami oleh seseorang. Fungsinya adalah untuk meneguhkan kepercayaan rakyat atau takhayul.

b.   Legenda Keagamaan

Legenda ini biasa dikenal dan dipahami sebagai legenda atau cerita dari orang-orang suci. Umumnya legenda ini terjadi di masa lampau dan kental dengan nilai religius atau keagamaan.

Terdapat suri tauladan baik di keagamaan dalam cerita ini yang bisa mempengaruhi pola dari kehidupan masyarakat di zaman dahulu yang belum tahu tentang nilai-nilai agama.

 

c.   Legenda Setempat

Legenda ini biasanya mempunyai hubungan dengan suatu tempat, bentuk topografi suatu daerah, hingga nama tempat. Lebih mudahnya, legenda ini dapat dikatakan sebagai asal-usul dari suatu tempat. Beberapa contoh cerita legenda setempat Bahasa Inggris adalah seperti The Legend of Singapore, The Legend of Philippines, dan The Legend of Hong Kong.

 

d.   Legenda Perseorangan

Legenda ini biasanya akan berkaitan dengan cerita dari tokoh-tokoh tertentu. Dimana tokoh tersebut dianggap atau dipercaya oleh yang memiliki cerita benarbenar terjadi.

 

Di bawah ini ada beberapa contoh Mitologi / Mitos dan Legenda

1). Contoh Mitologi tentang: “Sangiang” (Oleh: Aug. Hardeland)

Sangiang adalah makhluk yang suka menolong. Mereka hidup di danau yang berkabut di Lewu Sangiang, pada dataran Sangiang yang diliputi oleh 160 sungai. Keadaan di sana dan cara penghidupan mereka mirip dengan keadaan di dunia manusia, Cuma di sana semua lebih bagus, lebih riang-ria penuh kebahagiaan.

Umpamanya: Di sana hanya ada pohon yang berbuah, pohon untuk memperpanjang nafas mereka. Pohon untuk menerangi hatinya, yang memberi cahaya untuk hati.

 

Di sana tumbuh Batang Garing yang berdaun bahan halus, bunganya dari emas dan cincin, serta buahnya adalah batu permata yang sangat berharga adalah Lamiang.

Zait cair yang keluar dari pohon itu adalah air yang dapat menghidupkan manusia (Danum Kaharingan).

 

Dahulu kala Sangiang hidup bersama manusia di dunia ini, bahkan mereka berkeluarga dengan manusia akan tetapi pergaulan mereka dengan manusia kurang lancer. Walau pun mereka lebih kuat dan berkuasa dengan manusia, mereka berkekurangan (kalah) dengan manusia, karena mereka mempunyai besi yang terapung (Sanaman Lampang): Artinya besi yang hanya membunuh untuk waktu jangka pendek dan setelah itu orang yang dibunuh dapat hidup kembali.

 

Sedangkan manusia mempunyai besi yang tenggelam (Sanaman Leteng) yang dapat membunuh sekaligus. Hal ini mendorong ayah leluhur Sangiang : Sabuaya, untuk pindah ke Lewu Sangiang. Di sana Sabuaya memperoleh keturunan anaknya Tantulang.

 

Tantulang beranak dua orang anak laki-laki: 1). Panyarawan Katingan, dan 2). Pampulu Hawon. Mereka masing-masing memperoleh 14 orang anak: 7 laki-laki, dan 7 perempuan.

Turunan Panyarawan berkedudukan di Sungei Barirai dan turunan Pambulu Hawon di Sungei Jalayan.

 

Walau pun ada lagi turunan yang berasal dari mereka, hanya turunan Panyarawan dan Pampulu Hawon yang dapat pujian dari manusia. Orang-orang memohon pertolongan / syafaat pada Sangiang  jikalau mereka erlu sesuatu dari dewa. Kalau umpamanya orang jatuh sakit oleh Raja Sial karena dia menculik jiwanya (hal ini penyebab dari kebanyakan penyakit), maka orang memohon kepada Sangiang untuk pergi ke sana dan membawa kembali jiwanya.

 

Kalau ada orang yang meminta peruntungan atau rejeki dari Raja Untung, maka Sangiang harus menyerahkan permohonan ini supaya mendatangkan Raja Untung. Keberuntungan bukanlah diberi oleh Sangiang sendiri melainkan oleh Raja Untung, Jata, Pampahilep, dan lainnya., akan tetapi Sangiang dapat menjauhkan sial dan bahaya dari manusia. 

 

Itu sebabnya orang yang berpergian memujikan diri pada Sangiang dengan pemberian perjanjian (bamiat  untuk Sangiang), bahwa kurban akan diberikan kepada Sangiang kalau yang berpergian telah pulang dengan selamat. Sangiang hanya dapat memberi sial sebagai hukuman kepada orang kalau dia tidak mentaati pada perjanjiannya yang diberikan kepada Sangiang. Hukuman dari Sangiang, adalah: memberi penyakit atau pun memberi ingatan yang tidak sadar.

 

Kurban yang biasanya diberi kepada Sangiang, terutama ayam (3, 5 atau 7 ekor) bersama dengan kue-kue dan buah-buahan. Orang keturunan leluhur Sangiang  masih hidup tetapi mereka purnakaryawan dan mereka tidak lagi dihadapi oleh manusia. Biasanya orang berserah diri kepada 4 Sangiang, ialah anak laki-laki yang tertua dan yang bungsu dari Panyarawan (Raja Ngalang dan Tempon Kanarean) dan dari Pampulu Hawon (Raja Dohong dan Tempon Telon). 

Terserah kepada orang, atau kepada siapa mereka menyerahkan dirinya. Akan tetapi biasanya yang dipilih adalah Sangiang yang telah lama (secara turun-menurun) dihadapi oleh satu kerabat (kecuali kalau Sangiang yang biasa dihadapi tidak menolong lagi dan ternyata pertolongan dari lain Sangiang lebih bermanfaat).

 

Kalau ada kepentingan yang mendesak dapat juga semua Sangang dipanggil. Paling banyak dan sering orang meminta pertolongan dari Tempon Telon, karena dia yang paling kuat dan gagah. Dan hanya Tempon Telon dapat mengantarkan jiwa manusia atau orang yang telah meninggal untuk menuju ke Lewu Liau di Alam Roh.

 

Perlu dijelaskan di sini tentang Riwayat Tempon Telon: Dia lahir pradini (sebelum waktunya), berupa segumpal darah saja, yang oleh ibunya dibuang ke sungai. Gumpal darah itu mendarat dekat Pegunungan Lengkong di Tanah Sangiang, dan di sini Sangiang Puso Baluso, yang sedang mandi, ketemu gumpal itu. Dia lalu memegangnya dan menciptakannya menjadi makhluk yang hidup, dan kepadanya diberi nama “Kumpang Mandau Amas Je Lampang intu penda Langt”  (Kumpang Mandau Emas Yang Terapung di Bawah Langit). Kalau anak yang terlantar ini menjadi makin tua, dia ketem dengan saudara sepupunya Tempon Tiawon. 

 

Tempon Tiawon melarikan diri dari seorang Sangiang yang sangat berkuasa. Manyamei, karena dia hendak menikahinya akan tetapi maksud ini ditolak oleh Tempon Telon.

Manyamei mengejar dia dan hendak menyentuhnya. Pada waktu itu “Kumpang

Mandau Amas Je Lampang intu Penda Langt” membela Tempon Tiawon dan dia berkelahi dengan Manyamei sampai dia kalah dan terbunuh. Kemudian Tempon

Telon kawin dengan Tempon Tiawon atas syarat istrinya bahwa mereka akan berkedudukan di Kampung asalnya. Baru pada waktu ini ibu pengasuh Tempon Telon menjelaskan kepada dia asal-usulnya.

 

Waktu mereka berdua kembali di Tanah Tempon Tiawon, mereka mendapat sambutan yang hangat, karena Tempon Telon mengalahkan Manyamei yang sebelumnya tak seorang pun berani melawan. Diantara mereka adalah Telon yang terkenal karena kekuatannya dan dia menyerahkan dirinya sebagai budaknya kepada suami Tempon Tiawon karena rasa hormat kepadanya. Itu sebabnya nama “Tempon Telon” terjadi. Perkawinan Tempon Telon berlangsung bersama-sama dengan perkawinan saudara laki-lakinya yang menikah dengan saudari dari Tempon Tiawon. Sedangkan saudara laki-laki Tempon Tiawon menikah dengan saudari Tempon Telon. Sejak itu Sangiang Tempon Telon yang paling berwibawa diantara Sangiang yang lain.

 

Selain dari Tempon Telon ada lagi Sangiang yang bernama: Sangomang dengan kawannya Papaloi dan Sakanak. Banyak perbuatan kepahlawanan diceritakan tentang mereka. Orang suka berada dalam perlindungan Sangomang dan untuk ini memang diberikan kurban kepadanya. Kerap kali orang menyerahkan anaknya pada

Sangomang atas perjanjian nanti akan memberi kurban ‘parapah sandehan bereng’ untuk menguatkan ketahanan badan anaknya. Kurban itu, berupa: seekor kerbau, yang nantinya akan diberikan kalau anaknya telah berusia 20 tahun. (Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh: A.H. Klokke, Epse, 24-03-2003) dan Disempurnakan kembali oleh: Offeny Ibrahim). ---off---

 

 

2). Contoh Mitos tentang: “Pangkalima Burung Pemersatu Suku Dayak

Kalimantan”

Pangkalima Burung adalah sosok gaib yang legendaris, yang dipercayai sebagai tokoh pelindung dan pemersatu Suku Dayak. Bisa turun kapan saja dalam wujud nyata untuk memberi pertolongan kepada masyarakat.

 

Ia dipercaya telah mendiami pedalaman hutan Kalimantan sejak beratus-ratus tahun lalu dan mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak. Pangkalima Burung, Sosok Sejati Suku Dayak yang Cinta Damai Namun Kejam Jika Terancam. Panglima Burung atau Pangkalima merupakan sosok yang melekat bagi orang Dayak meski secara wujudnya tak terlihat. 

 

Panglima Burung merupakan tokoh mitos yang melegenda. Sebagian besar Suku

Dayak mempercayai “Panglima Burung”, bahwa dia tinggal di daerah gaib pedalaman Kalimantan dan mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak di Kalimantan, dulu dan sekarang. Panglima Burung akan turun sewaktu-waktu dalam bentuk seutuhnya atau merasuki seseorang untuk menolong apabila suku Dayak sedang dalam posisi terancam, teraniaya, atau hendak melakukan peperangan. 

 

Biasanya masyarakat Dayak melakukan ritual khusus untuk memanggil Panglima Burung. 

Panglima Burung mencuat nama dan sebutannya ketika terjadi kerusuhan Sampit dan kerusuhan Sambas di waktu silam.

 

Sangatlah jelas bahwa Panglima Burung digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat serta karakter sebagai orang Dayak sejati yaitu cinta damai, mengalah, suka menolong, pemalu, sederhana, tapi akan berubah kejam dan gagah berani ketika posisi mereka terancam. ---

3). Contoh Legenda tentang: 1). Legenda Batu Suli, 2). Legenda Puruk

Harimaung

1). Legenda Batu Suli

         Pada jaman dahulu, di hulu sungai Kahayan berdiri sebuah Puruk (bukit batu) yang menjulang kelangit. Puruk ini bernama Puruk Sendukui. Puruk Sendukui ini sering digunakan oleh Gerahasi dan Gerahasai, sepasang raksasa pemakan manusia untuk turun ke bumi. Ada seorang manusia sakti, Darung Bawan namanya, merasa kasihan terhadap nasib manusia yang menderita karena ulah kedua raksasa tersebut.Dia menebang puruk sendukui dengan menggunakan baliung (beliung), agar Gerahasi dan Gerahasai tidak dapat lagi turun ke bumi.

 

           Bagian puruk yang telah ditebang, kemudian ditendang oleh Darung Bawan hingga terpelanting dari hulu Sungai Kahayan sampai dengan desa Upon Batu sekarang. Potongan puruk tersebut jatuh rebah sehingga menutup aliran Sungai Kahayan. Untuk menanggulangi, kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan. Keputusan musyawarah adalah untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh itu.

 

            Ikan Tampahas (Tapah) ditunjuk sebagai    mandor.Pekerjaannya mengharuskannya terus-menerus berteriak-teriak agar semangat para pekerja selalu tinggi. Ikan Balida (Pipih) diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya.

Berkat usaha mereka akhirnya Batu Suli dapat ditegakkan seperti sedia kala. Namun setiap ikan yang turut mengambil bagian dalam pekerjaan itu harus menanggung akibat pekerjaan besar itu.

Keturunan ikan Tampahas (Tampahas) Tapah misalnya karena kakeknya terlalu banyak membuka mulut untuk berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, kini semuanya memiliki mulut yang berukuran besar.

 

             Keturunan ikan Balida (Pipih), karena kakeknya harus memanggul tebing batu yang sangat berat itu, punggungnya bungkuk dan tulangnya hancur. Kini semuanya mempunyai punggung bungkuk dan tulang yang halus-halus (legenda ini merupakan legenda terkenal di kalangan orang Suku Dayak Ngaju dan Suku Dayak Ot-Danum), percaya bahwa kisah ini benar-benar pernah terjadi. (Legenda ini sangat menarik karena mengajarkan kepada kita perlunya persatuan jika hidup dalam suatu masyarakat. Apalagi di dalam masyarakat yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa karena melalui persatuan kita dapat menjadi teguh dan dengan menyelesaikan apa saja menjadi mudah. Di dalam legenda ini mengandung salah satu sila dari Pancasila yaitu sila Persatuan).

 

2). Legenda Puruk Harimaung

             Pada jaman dahulu, di dekat desa Upon Batu sekarang terdapat sebuah kampung yang bernama Sila Batu Mapan. Di kampung tersebut terdapat seorang penguasa kaya raya yang bernama Tunggal Hanja Liwang. Tunggal Hanja Liwang ini mempunyai sifat yang ganas seperti harimau, yaitu suka membunuh orang.

 

             Suatu ketika, di kampung tersebut datang seorang saudagar yang berasal dari kampung Luwuk Dalam Bekasi di dekat Pulang Pisau. Saudagar itu berniat untuk menjual guci kepada Tunggal Hanja Liwang. Namun karena sifat Tunggal Hanja Liwang yang jahat, maka saudagar tersebut ditawannya. Lalu Tunggal Hanja Liwang meminta uang tebusan kepada keluarga si saudagar.

 

             Adapun saudagar, itu mempunyai seorang menantu yang sakti bernama Bandar. Mendengar mertuanya di tawan oleh Tunggal Hanja Liwang, Bandar lalu berangkat ke Sila Batu Mapan sambil membawa uang tebusan untuk menebus mertuanya.

 

              Sesampainya di Sila Batu Mapan, Bandar ditantang oleh Tunggal Hanja Liwang untuk mengadu kesaktian. Kemudian terjadilah peristiwa perkelahian yang seru antara keduanya. Dalam perkelahian itu ternyata Tunggal Hanja Liwang       terbunuh      dan          rohnya         berubah       menjadi       roh     harimau       yang bergentayangan di kampung tersebut.

 

               Sewaktu peristiwa basaluh (menjelma), kampung tersebut berubah menjadi bukit batu (puruk) dan selanjutnya pada bukit batu tersebut banyak dijumpai lubang yang berderet memanjang. Lubang-lubang itu dipercayai oleh penduduk setempat sebagai tempat bersemayamnya roh harimau tersebut, sehingga sampai saat ini bukit batu tersebut dikenal sebagai Puruk Harimau.

 

                 (Dalam cerita ini digambarkan bahwa kejelekan baik yang berupa kekejaman, kelicikan, ketamakan dan kesombongan akan mati dengan munculnya orang sakti yang membela kebenaran. Dan akibatnya dari buah kejahatan dulu selama masih hidup di dunia ia berada di alam yang lain berubah menjadi roh halus yang menakutkan dan mengganggu manusia itu kembali. Sedangkan mengenai berbagai ceritera Rakyat Kalimantan Tengah, saat ini sudah banyak beredar dalam bentuk buku cetak).

 

2. Cerita Rakyat: Cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalanganrakyat dan diwariskan secara lisan (lih. KBBI V). Cerita rakyat dapat dipahami sebagai sebuah kisah atau cerita yang berasal dari masyarakat zaman dahulu dan berkembang secara luas dari mulut ke mulut hingga pada akhirnya dikenal secara luas. Cerita rakyat sendiri merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan hingga generasi selanjutnya. Di bawah ini beberapa contoh cerita rakyat Kalimantan Tengah.

1). Contoh:

 Judul Cerita: "Utir Bawi Bahanyi" 

 

Sinopsis: (Basa Dayak Ngaju)

Aton ije biti anak bawin Dayak tabela, aran anak te  Utir, ie bajar tahiu kahanyi bara tambie je bakesah tahiu tamueie metuh katabelae. Katika Nyai manaharep halangan intu lewue, ie mingat kare kesah tambie dan manyupa kahanyi intu huang biti berenge kabuat. Maka dia sala amon oloh lewu te manggare ie “Utir Bawi

Bahanyi”.

 

Sinopsis: (Bahasa Indonesia)

Ada seorang anak perempuan Dayak masih belia, nama anak itu Utir, ia belajar tentang keberanian dari neneknya yang bercerita tentang petualangan masa mudanya. Ketika Utir menghadapi rintangan di desanya, dia mengingat ceritacerita neneknya dan menemukan keberanian di dalam dirinya sendiri. Maka tak salah apabila orang kampong tersebut menamakan dia “Utir Wanita Pemberani”.

 

 

2). Contoh:

 Judul Cerita: “Sangkanak Inggare Sabangak”

 

Sinopsis (Basa Dayak Ngaju):

Tege ije biti anak hatue tabela bakena balinga. Arae te “Sangkanak”, baya sana ie nampara bujang ie buah “bangak” kilau buhit gatel je balasut bakarah mahin amon buah danom. Hapus baue-matae uras kana bangak te, sampai dia lalau tau oloh ngasene ie, kapapan ampie. Awi te oloh manggare Sangkanak te “Sabangak”. 

 

Hung ije katika, ie manampara manamuei uka tau manyupa narai je irentah Raja akae te tuntang katahin tanjung teteie are manyupa papire tingkes je mauji kahanyie. 

 

Sinopsis (Bahasa Indonesia):

Ada seorang anak laki-laki muda tampan rupawan. Namanya “Sangkanak”, hanya saja dia beranjak remaja dia mengidap “bangak” seperti penyakit gatal-gatal yang panas dan pedih apalagi terkena air. Seluruh wajahnya semua kena bangak itu, sehingga orang tak dapat mengenali dia, betapa buruk dan jelek rupanya. Sebab itu orang menyebutnya Sangkanak itu “Sabangak”. 

Pada suatu saat, dia memulai petualangan agar supaya dapat   menemukan apa yang diperintah Raja kepadanya  tersebut dan sepanjang perjalannya banyak menemukan berbagai rintangan yang menguji beraniannya….. Simak Cerita lengkapnya (dari Kalangan Suku Dayak Ngaju), berikut:

 

"Sangkanak Inggare Sabangak"

  (Oleh: Sergius P. Tigoi)

Tege ije biti anak hatue tabela bakena baling toto. Arae te “Sangkanak”, baya sana ie nampara bujang ie buah “bangak” (paribasae te mon inyalin akan basa Indonesia, jete inyewut cacar api atawa inyewut kea: cacar ular) kilau buhit gatel je balasut bakarah mahin amon buah danom. Hapus bau-matae uras kana bangak te, sampai dia lalau tau oloh ngasene ie, kapapan ampie. Awi te oloh manggare Sangkanak te

“Sabangak”. Sangkanak akan kabelen oloh, awi kapapan buhite. Ie belum asi-asi dengan indange melai ije puduk korik. Genep andau Sangkanak baya olih satiar mamisi laok bewei akan balut ewen ndue indange.

 

Sinde katika Sangkanak tulak mamisi akan ngaju lewu, mahapan ije jukung korik. Metoh Sangkanak mambesei akan ngaju lewu te, salenga baun andau kaput pijem palus muhun ujan papak panggar mambisa Sangkanak hunjun jukung arute. Narai taluh ati bangak je mawi Sangkanak bakarah manungut sinde, dia laluen angate ie manyarenan te. Tepae kea ie jele-jeleng mambesei dimpah akan lewun Raja palus tende intu batang talian Raja. Sangkanak tame akan huang jamban Raja manyahokan arepe bara andau ujan te.

 

Metoh Sangkanak munduk ngarekot melai huang jamban manyarenan tungut buhite, tara gitae ije kakiwak buring melai tukep ie. Palus mahasil gawi Sangkanak manyurat manggambar intu dinding jamban Raja. Surat dia surat, gambar dia gambar, awi puna Sangkanak dia puji sakola. Tapi taluh je iawie hung dinding te puna bahalap ampie.

Ujan jari tende, andau kea handak kaput, Sangkanak palus buli akan lewu human ewen. Dia pire katahie Raja muhun bara Istana handak mandoi akan batang taliane, metoh ie tame jamban, tara gitae gambar je aton intu dinding jamban te. Raja palus tarewen hayak dengan kasangite. “Eweh oloh je bahanyi mamapa jambanku toh..??!!” Kuan Raja sangit mangkariak. Marak atei sangit raja marima ampin gambar te, “narai rimae gambar toh bahalap ampie, tapi dia aku haratie? Kuae hung ateie.

Tahi kea Raja marima gambar te dia ie sundaue. Sana jari mandoi Raja lompat akan Istana, palus manenga ije parentah akan Mantir Istana uka ie mansanan akan hapus rakyat, jipen hatue bawi bakas tabela uras dumah akan Istana manyunto gambar je intu jamban te. Lepah genep bitie hung karajaan te jaton ije biti je tau manyunto gambar te. Baya Sangkanak ewen ndue indange ih je dia omba, awi Sangkanak cara tolak mamisi.

 

Hung sinde andau Sangkanak jalanae tulak mamisi ie tende intu batang talian raja. hemben te kea ie nekap awi sardadu raja. “Sabangak” toh je hindai umba manyunto gambar intu dinding jamban te” Kuan ewen sardadu. “Manyunto kilen?” kuan pisek Sangkanak. “Boh manyunto-manumon ampin gambar toh, jetoh parentah raja.” kuan ewen. “Ceh!!! amon manyunto gambar kau diati kahalie.” kuan Sangkanak ure-ureh.

“Ayu…gambar kilau te amon puna tau!!” kuan ewen.

 

Ye Sangkanak manduan buring bara sardadu, palus ie manggambar manyunto kilau je aton intu dinding te. Hanjulu toto Sangkanak manumon gambar te.  “Toh, jari ndai kuan Sangkanak!” Ewen sardadu paham hanjak awi Sangkanak tau manyunto tumon gambar te. Ewen mansanan akan Raja, basa Sangkanak tau manyunto gambar te. Raja palus muhun manampayah gambar je awi Sangkanak puna sama, jaton tangkiris isut. Raja hamauh Sangkanak : “rimae ikau toh je manggambar intu dinding jambanku ?” kuan Raja.

 

Ampun….. ampun…. Raja…..!! Puna aku je manggambar intu hete, dia kukatawan narai buku sabab aku palus manduan buring manggambar kilau te.” Kuan Sangkanak tombah masi arepe. Hamauh tinai raja : “Amon puna ikau je manggambar te, narai rimae surat gambar te?” 

Ye Sangkanak benyem hanjulu marima huang atei, palus ie hamauh : “Kutuh rimae raja : “Manuk Bungko Tutuk Salaka, Piak Liau Dandang Wayang, Dohong Nyahu Karis Kilat”. “Kaya-kayah !! hung kueh itah tau sundau ramo kilau te?” Bara kueh ikau dinu auh toh, en puna tege katawam manuk bungko totok salaka, piak liau dandang wayang, tuntang dohong nyaho karis kilat, te?” Kuan Raja hamauh dengan Sangkanak marak basingi.

 

“Dia ku katawan Raja…. ampun aku….!! Aku baya tau manyewut ih, dia kukatawan kilen kea aku tau manyewut je kilau te.” kuan Sangkanak tombah. “Amon ikau dia olih mamparahan akangku taluh je kuam te, ihukum ku ikau!! Aku manenga katika lime walas andau ikau manggau ramo te.” Kuan Raja.

 

Limbah te Sangkanak buli sambil marima auh Raja. Ie paham pehe ateie awi hung kueh batang danum tau sundau ramo kilau te. Nampayahe mahin dia puji. Amon dia ie ihukum patei Raja. Sana sampai huma ie manyarita akan indange taluh je mawi ie, tuntang auh raja te. Indang Sangkanak paham pehe ateie ie manangis masi akan anake Sangkanak.

 

Marak kapusang atei indang Sangkanak hamauh dengan anake. “Nauh ih anakku, kanampin itah dengae, Keleh ikau namuei mangumbang petak danum, mikeh Ranying Hatalla tau masi ikau tuntang ikau tau sundau ramo te. Sahelou bara ikau tolak namuei aku manampa akam katupat akan bahatam andau jewu.” Kuan indang Sangkanak marak tangise. 

 

Hung hanjewu andau marak andau buta-butat tampalawei te, Sangkanak paramisi dengan indange, palus ie haguet tolak namuei. Tamuei dia katawan tintu jalanae.

Kaput andau Sangkanak tende mambaring arep batiruh melai sengkong baner, hanjewu andau manuntung jalanan tinai. Nukat bukit, sewu janah, dimpah sungei saka, tame balua parak kayu, tanjung tetei dia katawan lewu ije inintu.

 

Hung andau je kaujue, Sangkanak tende tanjunge awi tege handipe hai herep matep jalan je inyurue. Ampie handipe hai te ngalingkar arepe hung bentuk jalan. jaton olih mahila, handak mules jari kejau tanjung tetei. Sangkanak palus mampalua damek baipu, mambidik sipet, palus manyipet handipe hai te. Sampai handak lepah isin sipet te handipe dia batindar tuntang hindai matei. “Hakarang indang…!”, kuan Sangkanak, damek toh baya tisa ije ih tinai.  Sana Sangkanak manyipet hapan damek je pangkalepahe, handipe te palus tindar manggayar rangka-rangkah.

 

Sangkanak rangka-rangkah kea manuntut handipe je manggayar te. Tapi tagal andau jari kaput Sangkanak dia manampayah akan kueh handipe te manggayar. Palus ie tende manuntut handipe, sambil marima taluh panyangkume te. Salenga dumah ije kongan Sangkalap Gimai, je paham kahaie. Palapase mahin kahain amak hilai. Palus sangkalap te hamauh dengan Sangkanak, “narai gawim hetoh nah esu?” kuan sangkalap te . 

 

Sangkanak tarewen basa sangkalap te tau bapander. “Aku toh namuei, dia katawan tintu jalanangku, aku manyak handipe je nyipetku endau.” kuan Sangkanak tombah. “Yoh … tawangku ih. Handipe je nyipetm te “apangm” Apangm te je ngalikar bentok jalan te metoh ie balampah.” Apangm te horan hatulang dengan indangm, ie kawin tinai dengan bawin taloh”, kuan sangkalap dengan Sangkanak. Narai katarewen angat Sangkanak, basa ie jari manyipet apange.

 

Amon ikau handak manyak apangm, tau aku magah ikau, tawangku ekae. “Yoh bue, amon tau magah aku eka apangku” kuan Sangkanak. “Tau, lompat ikau hunjun likutku”. Ye Sangkanak palus lompat akan hunjun likut Sangkalap Gimai te. Dia pire katahie, palus ewen sampai intu baun human oloh. Sangkanak muhun bara likut sangkalap. Sangkalap mameteh dengan Sangkanak. “Amon ikau esu handak buli, katok ih jihi bentok huma te telo kali, aku dumah manduan ikau.” Yoh bue kuan Sangkanak.

 

Sangkanak palus lompat akan human oloh te, sana ie nyalungka baun tonggang huma, oloh huma te hamauh, “Palus Sangkanak..!” kuan ewen bara derep. “Boh?? bara kueh ewen katawan arangku? kuan atei Sangkanak. Sangkanak tame akan huang huma, intu bentok huma te tege ije  hantun oloh ingujuh bentok huma. Ie dia kea misek ewen je jari malihi te.

 

Sana limbah kare kuman mihop, oloh huma te bapander sarita dengan Sangkanak, basa ewen te hampahari dengan Sangkanak. Ewen baepat biti anak apang ewen je harian. tuntang kuan ewen hantu je bentok huma te hantun apang ewen je buah sipet Sangkanak.

 

Helo bara apang ewen mahutus, ie mameteh, basa kareh tege oloh dumah arae te Sangkanak, ie te anakku je helo, ie te je manyipet aku metoh aku balampah”. Tapi ela keton sangit dengae awi ie dia katawan. “Kareh amon aku mahutus, limbah keton maniwah aku, keton tau mambagi kare ramo panatau je lihiku akan keton hampahari, tuntang keton manenga kea bagin ayun anakku Sangkanak,” kuan peteh apang ewen. Puna paham kanyasal Sangkanak awi ie jari manyipet apange sampai malihi. Tapi kawan paharie mampung ie, jete herahe puna kahandak Ranying Hatalla.

Andau kauju jari sampai hantun apang ewen imapui manumon adat helo. Limbah te ewen hampahari maniwah karewun tulang apang ewen. Hung tiwah te ewen mampatei ije kongan hadangan hai. Tisan hadangan te imundut akan tambang indang Sangkanak melai lewu amon Sangkanak buli kareh.

 

Upacara Tiwah jari hapus, te kawan paharin anak apang Sangkanak mamumpung arep ewen, palus ewen mambagi panatau je impelai apang ewen, tuntang peteh apang ewen, Sangkanak dinun kea bagie yete : “ije Kongan Manok Bungko Totok Salaka, ije Dohong tuntang ije Karis, je puna  pusaka helo.

 

Sangkanak hanjak awi ie dinun ramo waris je puna eka itung huange. Hung andau ije tinai Sangkanak balaku paramisi dengan kawan paharie, handak buli akan lewu human indange. Palus Sangkanak mangatok jihi hung bentok huma hantelo kali, salenga dumah Sangkalap Gimai hai te, palus Sangkanak lompat sangkalap hai te, ie buli akan human indange. Dia pire katahie ewen sampai baun human indang Sangkanak. Sangkanak manyewut are tarima kasih tagal pandohop Sangkalap Gimai, balalu Sangkalap Gimai te lilap.

 

Sangkanak palus mantehau indange, sana manampayah anake buli barigas indang Sangkanak hanjak toto. Katahin lihi Sangkanak namuei indange jaton bara belai kuman awi pehe ateie. Sangkanak mukei pundut sarangan balut je imbite, isin hadangan, indange kuman lawan toto, palus ie barigas tinai. Indang Sangkanak tarewen hanjak manampayah anake salenga keleh kare buhit bangak anake te. Sangkanak manjadi oloh hatue ije bakena balinga toto. Limbah uras ranai te Sangkanak manyarita ampin tamueie, tuntang ie sundau dengan taliau apange je manenga akae waris panatau je imbagi akan genep anak jariae. 

Indange puna maiyoh auh taliau basa horan ie hinje apang Sangkanak. Indang Sangkanak manarima kasih tagal asih Hatalla, mahaga anake, tuntang apange dia nalingau anake kabuat. Lius Sangkanak ewen ndue indang batiruh, Sangkanak mameteh dengan indange , basa jewu andau je kalime walas manumon janjin Raja.

“Amon hung bentuk andau jewu tege auh nyaho kilat je paham toto ela habut.” kuan Sangkanak dengan indange.

 

Manumon auh Sangkanak hung bentok andau ie mampalua manok bungko, dohong tuntang karis, ije waris bagin ai te uras impaluae, hanyak dengan manutung garu manyan ie japa jimat mendeng intu baun tonggang hayak hamauh, “yoh, amon puna aku utus Raja badudus, tuntang dohong, karis toh puna turus panatau apangku, narai bewei je ilakuku uras manjadi manumon auhku.” Kuan Sangkanak. Sangkanak palus manyilak dohong bara kumpange, nyalenga nyaho maletar mahiau dia kalaluen kilau auh petak danum uras bisak-bisaka. Limbah te ie manyilak karis, palus kilat hasambur manyila langit.

 

Mahining auh kilau handak saluh, are oloh hung lewun Raja tarewen sabanen, tengahe tujah kilau oloh matei. Tengahe misek kilen taloh mawi lewu toh je kilau handak saluh hung bentok andau toh. Metoh te kea Sangkanak hamauh : “Aku balaku Istana mendeng baun human indangku, lipet sapuluh kahalape bara Istana

Raja, sepsimpan dengan kakare panatau hung Istana te.” Salenga manjugut Istana tumon auh Sangkanak. Limbah te Sangkanak hamauh : “Aku balaku jipen rakyat  lipet lime bara ayun Raja. 

 

Uras taluh je manumon auh Sangkanak manjadi. Kute kea dengan manok bungko, gagenep manok te manandu balua bara totoke butup amas salaka kahain bua tangkuhis. Tagal te Sangkanak dengan indange manjari oloh tatau  labien bara Raja. Tara hining Raja  auh kabar basa intu lewu ngawa tege ije Karajaan Taheta, je lipet sapuluh bara panatau ain Raja te. Balalu Raja mimbit oloh maja akan lewu Raja Taheta te. Sana sampai hete Raja hengan manampayah karajaan je paham hai te. 

 

Sangkanak manampayah tege Raja dumah maja marusik palus ie mamalus Raja dengan kare sardadu ayue. Ie manyarungan Raja sambil manyarita ampin tamuei ije biti oloh hatue je inggare Sabangak. Palus Raja manetek saritae kea mansanan basa Sabangak sampai andau toh hindai ati buli bara tamueie, maka lime walas andau je inukas jari sampai.

 

Sangkanak palus mansanan arepe basa ie te je inggare Sabangak nah, je rentah Raja manggau manok bungko, totok salaka, piak liau dandang wayang, dohong nyaho karis kilat, narai katarewen Raja mahining kesah Sangkanak je kilau te, ie handak dia percaya balalu ie balaku ampun dengan Sangkanak, palus mangawin anake dengan Sangkanak je bakena balinga te hayak tatau sanang. --

 

Peteh Penyang (Pesan Moral) :

1.   Jalan Pambelom itah dia itah mangatawan, uras jari iatur awi Tuhan Hatalla.

2.   Belom asi-asi, kabelen oloh dia mahambang itah bagawi basatiar usaha.

3.   Ela itah mangutuk, mahina, mamapa, mambarangai oloh je belom asi-asi. Eweh katawan ie kareh belom batuah marajaki labien bara itah.

4.   Kasalan itah je jari mahalau jete dia itah tau mubahe, jete tingak ajar akan itah, tuntang jalan itah mangambuah haluli akan kahalap.

5.   Rajaki tuah amon jari sampai akan dumah manambang itah, je cangkal basatiar bausaha, dia akan oloh je munduk manure jaton taloh gawi usaha. Balukudoa tuntang bagawi (Ora Et Labora) akan imberkat Tuhan Hatalla. ---

 

3.  Seni Sastra (Lisan) 

Sebenarnya Seni Sastra (lisan) masih berhubungan dengan Mitos maupun Legenda.

Masyarakat Kalimantan Tengah tidak mengenal sistem tulisannya sendiri, sebab itu seni sastra yang ada adalah seni sastra lisan. Sastra tersebut secara umum dapat dibagi menurut isinya ke dalam : cerita-cerita yang berkenaan dengan pahlawan, dan cerita-cerita mengenai tokoh-tokoh manusia, kejadian-kejadian alam, binatang-binatang, cerita-cerita jenaka. Dapat kita lihat sebagaimana pada contoh berikut: 1).  Kesusteraan Suci

  Kesusteraan suci sebagaimana yang terdapat di dalam sastra sangen atau sangiang (nama bahasa upacara yang sudah tidak memiliki vitalitas lagi) atau sastra di dalam agama kepercayaan Leluhur Suku Dayak berisi cerita-cerita tentang kejadian dunia, manusia, dunia atau lewu tatau (negeri kaya), dunia bawah, sangiang-sangiang (dewa-dewa) kekuatan baik dan jahat, perjalanan rohroh manusia, mantra-mantra, japaian-japaian atau tawur. Singkatnya sastra tersebut merupakan bagian dari mitos.

  

Pewarisan mitos ini dari mulut ke mulut dilakukan melalui suatu cara yang cukup menjamin kelangsungannya.

 

 

Beberapa syair yang ada di bawah sini merupakan contoh bait yang sangat puitis berkenan dengan penciptaan dunia menurut kepercayaan leluhur Suku Dayak, sbb. :

 Nyaho mamparunguh tungkupe Kilat panjang mamparinjet ruang Artinya :

Guntur Agung membuka kuasanya

Kilat panjang menggetarkan ruang 

 

Bentuk-bentuk yang demikian dapat pula terjadi dalam tuturan-tuturan yang prosais. Ini merupakan ciri khas dari sastra sangen.

 

Ciri lainnya ialah penurunan tidak langsung mengenai sesuatu benda, makhluk atau keadaan, misalnya :

Tingang mangkungan lunuk. Maksudnya: Burung Tingang (Rangkok/Rangkong) hinggap pada beringin (yang dimakud ialah kawin).

 

Adapun bentuk-bentuk penuturan berikut adalah menuturkan tentang negeri roh yang kekal abadi, yang disebut Lewu Tatau, sbb.:

Lewu tatau

Negeri kaya

 

habaras bulau

 

berpasir emas

 

Rundung Raja

Tempat (negeri) Raja

 

Habusung hintan

 

bertumpukkan Intan Permata

 

Lewu tatau je dia

Negeri kaya yang tak melelahkan 

 

rumpang tulang

tulang (tak perlu kerja berat)

 

Rundung raja isen

Tempat raja (yang paling baik)

kamala uhat

yang tak melemahkan urat (tak perlu bersusah

payah)

2). Dongeng

Cerita-cerita rakyat yang dipercaya kebenarannya dan sering diceritakan oleh orang tua-tua kepada anak-anaknya. Ada banyak macamnya (Dongeng tentang binatang, Dongeng tentang legenda, Dongeng tentang penjelmaan dewa, dsb.

     

Dongeng tentang penjelmaan dewa di Kalangan Suku Dayak, contoh:  Bapa Sangomang, Indu Sangomang, dan Sangomang (satu-satunya) putera tunggal. Mereka dianggap sebagai dewa yang sangat sakti dan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Menurut keyakinan sebagian orang Dayak di Kalimantan Tengah, keluarga Bapa Sangomang ini adalah golongan tokoh misterius yang terkenal memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Maka ajaran hidup keluarga ini dipedomani oleh mereka yang percaya dan diamalkan di dunia ini. Hal ini dapat disaksikan dalam salah satu bagian dari tata cara adat perkawinan menurut kepercayaan leluhur, yaitu pada upacara haluang/hapelek. Arti upacara ini adalah untuk melaksanakan adat, sebagaimana yang telah digariskan oleh Indu Sangomang, mengenai kewajiban apa yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki mau pun pihak perempuan.

 

4. Alam dan Lingkungan:

 Budaya Dayak sangat terkait dengan alam dan

 

lingkungan sekitarnya. Hutan, sungai, dan gunung menjadi latar yang penting dalam

kehidupan sehari-hari dan mitologi mereka. Cerita anak bisa menggambarkan

keindahan alam serta pentingnya menjaga kearifan lokal, dan ekosistem.

 

 

1). Contoh:

 Judul Cerita: "Rahasia Hutan Dayak Kalimantan Tengah" 

 

Sinopsis: Seorang anak perempuan Dayak, Bawi Nyai, menjelajahi hutan yang indah di sekitar desanya. Di sana, dia bertemu dengan makhluk-makhluk (burung,

satwa, juga ular) hutan seperti burung Tingang (Rangkong), burung Baliang

(Enggang), burung Haruei (Kuau raja), Kahiu (Orangutan), Kalasi (Monyet merah), Kalawet, (Uwa-uwa), Buhis (Siamang), dan Panganen, Tangkalalok (Jenis ular besar). Bawi Nyai belajar tentang pentingnya menjaga hutan dan kehidupan liar di dalamnya. 

 

Kemudian dapat kita simak pada Sebuah Buku, yang mana di dalamnya banyak bercerita tentang alam dan lingkungan di Kalimantan Tengah.

 

 2).

 

Contoh :

Pukung Pahewan”, (lih. Riban Satia, etal., 2018). 

Di dalamnya ada diselipkan pesan-pesan moral (sebagai interprestasi pesan-pesan

), yaitu: 1). Pesan Teologis: Kesadaran bahwa alam semesta ini

 

kearifan lokal

memiliki Sang pencipta; Hidup bukan untuk diri sendiri tetapi bersama makhluk

lainnya; Sesama manusia saling mengasihi bukan saling menghabisi; Mengelola bumi dengan baik dengan memelihara, menjaga, dan melestarikan alam ciptaanNya. 2).  Pesan Moral: Bentuk ketaatan dan kepatuhan sebagai symbol dari

penghormatan dan penghargaan kepada kebaikan-kebaikan sesame dan alam

semesta. 3). Pesan Budaya: Warisan tradisi budaya leluhur laksana sebuah pusaka wajib dipelihara, dikelola, dilindungi dan dilestarikan. 4). Pesan Ekologi dan Global: Pukung Pahewan adalah penyedia oksigen dan penyerap karbon-dioksida

sejak dahulu kala. Dan bisa dikatakan sebagai asset daninvestor bagi dunia (Riban

Satia, etal., 2018:86).

 

5. Tradisi dan Ritual:

 Tradisi dan Ritual Dayak memiliki nilai-nilai yang sangat

 

mendalam dan sering kali  melibatkan unsur spiritual. 

Cerita anak dapat memperkenalkan anak-anak pada tradisi-tradisi (Dayak),sbb.: 

1).  Upacara Kematian (macam-macam tradisi upacara ritual kematian yg dimiliki

oleh suku Dayak (khusus di Kalteng ini, misal Spt.: 1). Tiwah (Dayak Ngaju/Wil. Kahayan, Rungan, Katingan, Kapuas Kapuas Hilir, Kapuas Tengah, Kapuas Hulu); 2). Tiwah habenteng/Manenga lewu (Dayak Ngaju, Kab. Barsel/Wil. Dusun Hilir;

Kab. Kapuas/wil. Kapuas Murung); 

3).  Ayah (Dayak Tumon, Kab. Lamandau); 4). Totoh (Dayak Siang, Kab. Mura; 5).

Dalo (Dayak Uut Danum/Wil. Kab. Gumas, juga Wil. Kab. Mura); 6). Wara (Dayak Dusun, Bayan, Tawuyan/Wil. Barsel, Barut); 7). Ijambe,  Ngadatun, Miya, Bontang, Nuang Panuk, Siwah (Dayak Maanyan, Kab. Bartim); 8). Manyambit (Mungkin bagian dr Dayak Tumon, Wil. Kab. Sukamara). 

 

2). Mangayau (Ngayau/head hunting, adalah tradisi etnis Dayak di masa lampau

untuk mencari/berburu kepala musuh sebagai bukti kekuatan, kesaktian dan seorang

Ksatria; juga sebagai salah satu komponen penting dalam upacara ritual). Biasanya

sebelum berangkat Mangayau, mereka melaksanakan upacara manajah Antang.

Dengan maksud meminta petunjuk. 

 

3). Perkawinan Adat (Spt. Acara Panganten Mandai: didahului acara Lawang Sakepeng, kemudian dilanjutkan dg acara Haluang hapelek). 

 

4). Tetek Pantan (Potong Pantan).

Tetek Pantan adalah merupakan salah satu upacara adat penyambutan tamu sebagai bentuk penghormatan yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Dayak. Upacara potong pantan merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak zaman nenek moyang dulu, dan diwariskan secara turun temurun hingga generasi saat ini. Menurut kepercayaan bahwa upacara ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang buruk bagi penduduk setempat maupun para tamu yang baru datang. Ada beberapa jenis Potong Pantan atau Tetek Pantan, dan penghalang yang digunakan dalam tradisi potong pantan memiliki kegunaan dan peruntukannya masing-masing yaitu: 1)Pantan haur (bambu) digunakan untuk penyambutan bagi orang yang baru pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan dan pantan jenisnya menggunakan haur kuning (bambu kuning); 2)Pantan balanga (guci) akan digunakan pada saat mengadakan acara perkawinan adat, sebagai simbol kebangsawanan atau status sosial; 3)Pantan garantung (gong) tujuannya sama dengan pantan balanga (guci); 4)Pantan bawi yaitu menggunakan para gadis remaja, biasanya dilakukan pada waktu pesta perkawinan; 5)Pantan bahalai (kain panjang) digunakan untuk para tamu pejabat, orang terhormat status perempuan yang sulit menggunakan Mandau; 6)Pantan tewu (tebu) digunakan pada acara kegiatan bergotong royong saat-saat panen atau mengerjakan ladang.

 

6. Upacara-upacara Tradisi lainnya, spt.: 1). Upacara Manyadiri (utk kesembuhan); 2). Upacara Maaler bajai (upacara utk memanggil buaya krn memangsa manusia); 3). Upacara Balian (utk pengobatan; Spt. di Kab. Bartim, ada: Walian Bawo, Dadas), 4). Upacara Manyanggar “Totau” (utk minta ijin dg penghuni hutan, misal: jika kita masuk ke wilayah tertentu (spt. : hutan-hutan, pendirian perusahaan; selalu mengadakan upacara (Manyanggar); 5). Upacara palas bidan (spt.: Nahunan); 6). Upacara harubuh (mohon bantuan dlm mendirikan kerangka bangunan rumah); 7). Upacara Handep haruyung (Saling tolong-menolog dlm kegiatan menanam padi di ladang); Manajah Antang (Untuk menjemput roh dengan burung Antang; spt. Antang Darahen, agar dapat memberikan informasi, melalui suatu isyarat tentang letak atau keberadaan musuh, arah tujuan, boleh/tidaknya berangkat ),   dan masih banyak lagi yang lainnya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB   III

   

 

 

UNSUR SENI BUDAYA DAN TEKNOLOGI DAYAK

 

 

DALAM PENULISAN CERITA ANAK

 

 

 

Di tengah hutan belantara Kalimantan Tengah, tersembunyi sebuah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, yakni seni dan budaya masyarakat Dayak. Dari alam yang subur hingga kearifan lokal yang mendalam, unsur-unsur ini membentuk landasan kokoh bagi cerita-cerita anak yang penuh warna dan makna. 

 

Dalam upaya mendongengkan kisah yang menggugah hati anak-anak, memasukkan unsur seni dan budaya Dayak menjadi langkah bijak untuk mengajak mereka mengeksplorasi keindahan alam, memperkaya pengembangan diri, menggali ilmu sains, mengapresiasi seni budaya, memahami pariwisata lokal, merasakan keasyikan olahraga tradisional, menikmati kuliner khas, serta mengenal lebih dekat flora dan fauna yang unik.

 

Mengenal alat transfortasi terutama di sungai, mengenal macam-macam kuliner Kalimantan Tengah dari masing-masing Kabupaten, tentang hal Pengawetan makanan, mengenal akan suatu prosesi Perkawinan Adat, seperti pada Suku Dayak

Ngaju ada istilah “Jalan Hadat”, serta juga tidak kalah penting Mengenal adanya Rumah Tradisional/Adat yang merupakan Karya arsitektur nenek moyang Suku Dayak sebuah peninggalan di masa lalu. 

 

Dengan menghadirkan unsur-unsur tersebut dalam cerita anak, kita tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan, lingkungan, dan kearifan lokal. Melalui petualangan yang menarik dan karakterkarakter yang memikat, anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga alam, mendorong pengembangan diri, mengembangkan minat dalam sains, melestarikan seni budaya, mendukung pariwisata berkelanjutan, menghargai permainan tradisional, menikmati kelezatan kuliner lokal, serta melindungi flora dan fauna yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.  

 

Unsur Seni,  Budaya dan Teknologi Dayak Dalam Penulisan Cerita Anak

Unsur Seni,  Budaya dan Teknologi Dayak Dalam Penulisan Cerita Anak, yang akan dibahas, adalah: 1.  Alam dan Lingkungan

2.       Pengembangan Diri

3.       Sains

4.       Seni Budaya

5.       Pariwisata

6.       Olahraga/Permainan Tradisional

7.       Kuliner Khas Dayak

8.       Flora dan Fauna

9.       Mengenal Macam- Macam Kuliner

10.   Pengawetan Makanan

11.   Membaca Jalan Hadat Pada Prosesi Peminangan Suku Dayak Ngaju 

12.   Mengenal Rumah Tradisional

13.   Alat Transportasi

14.   Alat-alat lainnya yang dimiliki Suku Dayak

15.   Macam-Macam Nama Anyaman Rotan

16.   Benang Bintik

17.   Seni Bela Diri                      

18.   Seni Tari  

19.   Musik

20.   Seni Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah

21.   Seni Rupa

        

                   

Dalam tulisan ini, penulis akan menjelajahi lebih dalam unsur-unsur seni dan budaya Dayak Kalimantan Tengah (semua poin atau hal di atas akan menjadi subbagian pembahasan) yang sekiranya dapat diintegrasikan dalam penulisan cerita anak. Dari hutan belantara hingga adat istiadat, mari bersama-sama merangkul kekayaan budaya ini dalam upaya menciptakan cerita-cerita anak yang mempesona dan mendidik.

1.                Alam dan Lingkungan: Dalam cerita anak yang mengangkat unsur alam dan lingkungan, kita dapat memperkenalkan keindahan hutan tropis Kalimantan Tengah dengan segala kekayaan biodiversitasnya. Anak-anak dapat diajak untuk mengikuti petualangan tokoh-tokoh cerita yang menjelajahi hutan, menemui berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang unik, serta belajar tentang pentingnya menjaga ekosistem alamiah.

 

2.                Pengembangan Diri: Melalui cerita anak yang memperkaya tema pengembangan diri, kita bisa menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh cerita dalam menemukan dan mengembangkan potensi mereka. Inspirasi dari nilai-nilai kearifan lokal Dayak, seperti semangat gotong royong dan ketahanan dalam menghadapi rintangan, dapat menjadi sumber motivasi bagi anak-anak untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan mereka.

 

3.                Sains: Dalam cerita yang mengintegrasikan unsur sains, kita dapat memperkenalkan anak-anak pada pengetahuan tentang flora dan fauna endemik Kalimantan Tengah, menjelaskan konsep-konsep sederhana tentang ekologi hutan, atau bahkan menyelipkan petualangan ilmiah di mana tokoh-tokoh cerita menemukan solusi untuk masalah lingkungan dengan pengetahuan dan keterampilan sains.

4.                Seni Budaya: Seni budaya Dayak mencakup beragam bentuk, mulai dari seni pahat, seni lukis, hingga seni tari dan musik tradisional. Dalam cerita anak, kita dapat menghadirkan tokoh-tokoh cerita yang berlatar belakang seniman atau ahli seni tradisional Dayak, yang mengajarkan kepada anak-anak tentang keindahan dan makna di balik karya seni mereka.

 

5.                Pariwisata: Melalui cerita anak yang memperkenalkan pariwisata lokal, kita bisa mengajak anak-anak untuk mengikuti petualangan di tempat-tempat wisata alam atau budaya di Kalimantan Tengah, sambil menggali keunikan budaya lokal dan memahami pentingnya melestarikan warisan budaya dan alam.

 

6.                Olahraga/Permainan Tradisional: Anak-anak dapat diajak untuk merasakan kegembiraan dan kebersamaan melalui cerita anak yang mengangkat olahraga atau permainan tradisional Dayak, seperti balogo. Bagasing/babayang, sepak sawut atau lomba besei kambe, jukung hias tradisional. 

Di samping itu, cerita ini juga dapat memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga gaya hidup aktif dan sehat.

 

7.                Kuliner Khas: Cerita anak dapat menjadi sarana yang baik untuk memperkenalkan anak-anak pada kuliner khas Dayak, seperti penganan dari behat pulut taheta (beras ketan baru) berupa “kenta”, wadi, tepen dawen jawau, juhu asem rimbang, babutuk/karondam (lauk buntau/maram), sambal bubuk, pakasem saluang, pakasem kupak mangkahai juga hidangan tradisional lainnya seperti wadai kakicak, wadai cucur, sasagun. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga belajar menghargai keanekaragaman kuliner lokal (dari masingmasing Kabupaten) serta pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.( Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:321-345)

 

8.                Flora dan Fauna: Melalui cerita anak yang menampilkan flora dan fauna Kalimantan Tengah yang merupakan maskot Provinsi Kalimantan Tengah (Bua Tanggaring dan Burung Haruei), juga flora dan fauna lainnya seperti Bua karamu, piais, sayuran seperti bajei, kalakai, singkah uhut; macam-macam satwa/ungags lainnya seperti Kahiu, kalawet, bakei bahandang, buhis, burung Tingang, burung baliang  atau kita dapat mengajarkan kepada anak-anak tentang keunikan dan pentingnya menjaga keberagaman hayati. Cerita ini juga bisa menginspirasi rasa ingin tahu anak-anak tentang kehidupan alam dan pentingnya konservasi.

 

9.                Mengenal Macam-Macam Kuliner Kalimantan Tengah: Kuliner adalah cerminan dari budaya suatu daerah. Dengan memperkenalkan berbagai macam kuliner tradisional Kalimantan Tengah dalam cerita anak, anak-anak dapat belajar menghargai keanekaragaman rasa dan bahan makanan lokal serta memahami nilainilai budaya yang terkandung dalam proses memasak dan menyajikan makanan.

 

10.            Pengawetan Makanan: Pengawetan makanan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak untuk menghadapi musim kemarau atau sebagai persiapan dalam perjalanan panjang. Dalam cerita anak, pengenalan tentang teknik pengawetan makanan tradisional seperti pemberian asap atau penggunaan garam dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Pengawetan Makanan dimaksud, adalah spt.:  

1.   Karinting  (Karapas), Kariting/Karinting atau Karapas ialah salah satu cara pengawetan daging babi. Dalam kamus bahasa Indonesia disebut “Goba” yaitu gorengan daging babi (daging babi dengan lemaknya setelah diiris kecil-keci, kemudian digoreng, setelah cukup matang, disimpan berikut lemaknya; 

2.   Sehei Sehei adalah salah satu cara untuk mengawetkan ikan. Dalam bahasa Indonesia disebut Salai. Daya tahan cara pengawetan ini tidak lebih dari tujuh hari

(seminggu); 

3.   Kalasuam,

Kalasuam adalah cara pengawetan daging buruan atau ikan agar rasanya tidak berubah. Kalasuam adalah semacam pengawetan ikan atau daging dengan cara dimasak setengah matang di atas permukaan bara api. Namun pengawetan cara ini daya tahannya tidak lebih dari dua hari; 

4.   Pakasem, Pakasem adalah salah satu cara pengawetan ikan atau daging. Dalam bahasa Indonesia disebut pekasam; 

5.   Pundang, Pundang (daing, gereh)adalah pengawetan ikan atau  daging dengan cara dijemur di sinar matahari hingga kering. Dalam bahasa Indonesia disebut ikan kering; 

6.   Wadi, Wadia dalah makanan berbahan dasar ikan atau menggunakan daging hewan (spt: ikan : jelawat (manjohan), patin, tampahas (tapah), bapuyu (puyu), kakapar (kepar), lais bamban; untuk daging hewan, spt: daging babi (bagi yang non muslim), kalong, rusa atau menjangan, dll) yang diawetkan dengan bumbu beras atau padi, atau biji jagung yang disangrai, diberi garam sesuai dengan perbandingan banyaknya ikan atau daging hewan yang akan diawetkan kemudian disimpan dalam bumbung atau tempayan atau stoples dan ditutup rapat, Bumbu-bumbu yang terbuat dari beras (beras biasa atau ketan putih) atau padi atau jagung yang telah disangrai hingga kering dan matang berwarna kecoklatan serta telah dihaluskan (ditumbuk secara manual atau diblender) tadi, disebut “lumo” (bahasa Dayak Ngaju). Dalam bahasa Dayak Maanyan, bumbu ini disebut “Sa'mu” .

Wadi merupakan salah satu cara pengawetan ikan yang daya tahannya bisa mencapai setahun. Tetapi paling cepat; untuk ikan boleh dikonsumsi kurang lebih selama 3-5 hari; sedangkan untuk daging disarankan paling cepat 1 minggu baru bisa dikonsumsi. Wadi bisa dibilang adalah makanan yang "dibusukan melalui proses fermentasi”; 

7.   Sambal Bubuk, Sambal Bubuk ialah abon ikan yang siap saji (sudah dimasak). Sambal Bubuk bisa dibuat dari beberapa jenis ikan, spt. : ikan behau (gabus), tampahas (tapah), pentet (lele), bakut (betutu); 

8.   Babutuk, Babutuk adalah semacam abon basah sebagai lauk pauk diolah dari ikan busuk, lalu diberi bumbu. Lauk pauk atau babutuk ini dikenal dikalangan suku tertentu yang mendiami bantaran sungai Barito, mulai Marabahan (Barito Kuala, Kalimantan Selatan), Buntok, hingga Muara Teweh,bahkan ke Murung Raya (Puruk Cahu).Babutuk sebagai lauk pauk makan diolah dari ikan-ikan besar yang mati mengapung di sungai Barito seperti ikan patin (Pangasius sp) atau jenis tapah (famili

Siluridae).Ikan-ikan busuk ini diperoleh tatkala sungai Barito sedang “sampurak” atau mengalami arus deras dan berair keruh. Akibat keadaan itu maka ikan mengalami keracunan atau mabuk atau “kahem tungap” (tertelan air) sehingga mengalami kematian dan hanyut. Pada umumnya ikan-ikan yang mengambang dalam keadaan membusuk. Ikan-ikan inilah yang dipungut untuk kemudian diolah menjadi Babutuk .( Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:346-351). Ada juga pengawetan Bahan Makanan lainnya (spt.: 1. Jeruk/Tampuyak (Tempoyak),Tampuyak adalah cara pengawetan daging buah durian yang diasinkan; 2. Lampuk/Megan (Dodol Durian) Lampuk ialah jenis dodol durian; 3.

Rampang (gaplek), Rampang ialah salah satu cara pengawetan ubi kayu (singkong).  Bahasa Indonesia disebut gaplek; 4. Kupo (kiwul) ialah salah satu cara pengawetan singkong melalui proses perendaman di air dalam waktu beberapa hari. 

Daya tahan pengawetan dapat mencapai setahun; 5. Pengawetan Ubi Kayu maksudnya agarubi kayu tetap awet, tidak cepat rusak/busuk yaitu menyimpannya ke dalam tanah. Ubi kayu setelah dicabut/dipanenkan, apabila banyak; dapat disimpan dalam waktu yang lama; 6. Rimpin Mangkahai ialah salah satu cara pengawetan daging buah cempedak melalui proses penjemuran pada sinar matahari. Dijemur boleh dengan bijinya, jika sudah agak kering baru memisahkan bijinya dari daging buah.Daya tahan rimpin mangkahai dapat mencapai waktu yang cukup lama asalkan kering disimpan di tempat yang aman; spt.: stoples, galon, dll.; 7. Pakasem Kupak Mangkahai ialah pengawetan kulit cempedak melalui proses fermentasi yang diberi garam. Selain suku Dayak, suku Banjar juga mengenal akan jenis makanan yang dibuat dari kulit cempedak ini, mereka menyebutnya “Mandai” atau “Mandai Basang”; 8. Robung Jomur ialah pengawetan rebung dengan cara dijemur, biasanya untuk bekal perjalanan, sewaktu-waktu bisa dimasak. Robung Jomur ini sangat dikenal di kalangan suku Dayak di Lamandau; 9. Jeruk Kambang Tagarun  (Acar Bunga Tagarun) Tagarun merupakan pohon rawa (Latin : Crataeva nurvala HAM). Pohonnya tidak tinggi. Yang dapat dikusumsi hanyalah bunganya saja, sedangkan buahnya tidak bisa dikusumsi maupun dimakan. Bunganya diambil untuk dijadikan acar (.( Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014: 361-357).

 

11.            Membaca Jalan Hadat Pada Prosesi Peminangan pada Suku Dayak Ngaju Sebagai Teks Sastra: Adat dan tradisi suku Dayak Ngaju, termasuk prosesi peminangan, memiliki kedalaman makna dan keindahan tersendiri. Dalam cerita anak, memperkenalkan prosesi adat sebagai teks sastra dapat memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan, cinta, dan persahabatan dalam budaya

Dayak Ngaju. Adapun Jalan Hadat Peminangan “Mamanggul” itu (spt.: Komponenkomponen jalan Hadat Mamanggul (adat peminangan) pada Suku Dayak Ngaju, dimaksud adalah: 1. Palaku, 2. Saput pakaian, 3. Sinajgn entang lapik luang, 4. Jarita lapik sangku, 5. Tutup uwan, 6. Lamiang turus pelek, 7. Bulau singah pelek, 8. Duit lapik ruji, 9. Garantung kuluk pelek, 10. Pinggan pananan panjahean kuman, 11. Rapin Tuak, 12. Timbuk Tangga, 13. Jangkut amak (Perlengkapan tidur), 14. Bulau Ngandung/Panginan jandau).

 

12.            Mengenal Rumah Tradisional/Adat Kalimantan Tengah: Rumah tradisional Dayak, seperti Betang (rumah bertiang tinggi dan panjang, dihuni oleh beberapa keluarga) atau rumah panggung, merupakan simbol kebersamaan dan kekuatan komunitas. Betang juga merupakan jantung Suku Dayak. Rumah Betang yg masih ada dan sudah tua usianya di Kalimantan Tengah, ada banyak jumlahnya (spt : 1Betang Antang Kalang /Betang Tumbang Gagu) (1870) oleh Singa Jaya Antang, berada di desa Tumbang Gagu, wilayah Kotawaringin Timur, dan replikanya dibangun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta; 2Betang Toyoi (18941901) oleh Panjat Toyoi, berada di Desa Tumbang Malahoi, simpang sungai Rungan masuk ke arah sungai Baringei, wilayah Gunung Mas; 3Betang Tumbang Anoi (1893) oleh Damang Batu di Hulu sungai Kahayan, yg merupakan tempat dilaksanakannya "Rapat Besar Damai Tumbang Anoi" yg berlangsung dan terwujud pd tgl 22 Mei s.d tgl 24 Juli 1894); 4Betang Tumbang Korik, (awal abad 19) di desa Tumbang Korik, wilayah Gunung Mas; 5Betang Konut dibangun sebelum penjajahan Belanda merupakan pecahan dari Betang Saripoi yg lebih dulu ada, berada di desa Konut, kecamatan Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya; 6Betang Tambai (1918) di desa Nihan, wilayah Barito Utara; 7Betang Buntoi/Huma Gantung

(1870) oleh Djala (Kepala desa Buntoi pd saat itu), berada di desa Buntoi, wilayah Kabupaten Pulang Pisau; di Kabupaten Lamandau, spt 8Rumah tradisional "Dinding

Tambi" (1918) oleh Patinggi Nyarik, berada di desa Tapin Bini, di pinggir sungai Lamandau; 9Rumah/Betang Ojung Batu (kapan didirikan? belum diketahui, yg jelas betang tsb berumur sangat tua) konon betang ini merupakan tempat kediaman seorang tokoh masyarakat (tetua adat di Kecamatan Delang saat itu) yg sangat kaya bernama Omas Petinggi Kaya, krn memiliki ribuan guci antik, yg berada di Topin Riam Durai, di Kecamatan Delang; 10Betang Tumbang Apat (1834) oleh Kakek Ura Singa, Kakek Mengkong, dan Kakek Andin (suku Dayak Siang), dirikan persis di pinggir menghadap Sungai Babuat, berada di desa Apat, Tumbang Apat, Kabupaten Murung Raya; 11Betang Patentu (2002/2005) oleh Syaer Sua (seorang tokoh seniman karungut, budayawan, jg tokoh dlm bidang keagamaan. Betang ini berada di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan; dan banyak lagi betang-betang (rumah panggung tradisional) lainnya. (Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:292311-). Disamping memiliki rumah adat, juga ada rumah terapung, yang disebut “Lanting” yang berada di tepi Sungai atau danau sebagai rumah terapung. (Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:313).

Dengan demikian, dalam cerita anak, anak-anak dapat mengenal lebih dekat arsitektur rumah tradisional Dayak atau Betang tersebut, serta nilai-nilai sosial dan budaya yang terkait dengan kehidupan di dalamnya (spt.: belom bahadat yakni memelihara: tata krama, akrab, bersahabat, ramah-tamah, suka menolong sesama, setia kawan, penuh kejujuran, rendah hati (org yg hidup di dlm masyarakat yg memegang nilai-nilai, norma-norma dlm menjaga keseimbangan baik antara manusia dengan manusia maupun dng alam sekitar).

 

13.    Alat Transportasi, Terutama Transportasi Sungai: Dengan sungai-sungai yang melintasi Kalimantan Tengah, alat transportasi sungai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak. 

Ada beberapa Contoh, seperti : Jukung patai, Jukung rangkan, Jukung sudur, Jukung barubing, Jukung tiung, Talatap, Arut, Klotok, besei (besei hatue, besei bawi). Macam-macam alat transportasi dimaksud, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Dalam cerita anak, petualangan menggunakan perahu tradisional di sungai-sungai Kalimantan dapat menjadi landasan yang menarik untuk mengajak anak-anak menjelajahi keindahan alam dan memahami betapa pentingnya sungai bagi kehidupan masyarakat Dayak. (Offeny AI, 2014:273-276).

 

14.    Alat-alat lainnya: 1. Alat Berburu (spt.: Lunju, Sipet (lengkap dengan telep/ sarangan damek, pisau tangking (pisau badek), lorang, simpang, sarapang, haup, ambang, keba); 2. Alat Perang (spt.: Mandau, Sipet, Jambia, Dohong, Talawang); 3. Alat Bertani (spt.: Baliung, pisau pandirik, Pisau tangking, Pisau pambawau, taja); 4. Alat/Wadah dan Peralatan bertani (spt.: Sauk, Luntung, Palundu, Keba, Supak, Butah/Rambat, tugal, gentu); 5. Alat/Wadah Menyimpan Padi dan Alat Pengolahan

(spt.: Lusuk Parei, Jurong, Kiap, Nyiru, Karanjang, Amak, Lisung, Putaran, );  6.

Alat Penangkap Ikan (spt.: Suar, Pangilar, Tamba, Haup, Sahiap, Tabing, Rengge, Rawai, Buwu, Jabak, Buka, Takalak, Santapu, Tampirai, Taut, Banjur, Pisi Balabuh, Rawai Ancak, Kabam/Pasuran), Hajak);  7. Alat Penangkap Binatang/burung, dan lainnya (spt.: Sambulut burung, Jarat tinjak, Dundang/Sampiti, Rengge/Jawe Bangamat); Alat Pengrajin/Manjawet (Jangat, Langgei Pangair, Langgei Panising, Langger puai/biasanya terselip di sisi sarung mandau. Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:256-263, lih. Juga hal.276-277 ).

 

 

 

15.    Macam-macam nama Anyaman Rotan: (spt.: Bakatak Hanangoi, Dare Batang Garing, Dare 

Ihing, Dare Uhing, Jangkarang Matanandau, Kala Hajijit, Kalempang Plara, Kambang Bakung, Kambang Sarunai, Labehu Garantong, Ngalangkang Garu, Nyaring Hajijit, Putuk Riak, Riak Hanjaliwan, Saluang Murik, Ulek Labehu. Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:140-145).

 

16.    Benang Bintik: Benang Bintik adalah sebutan untuk pakaian atau busana

Batik (bercorak/bermotif batik khas Kalimantan Tengah ke dalam seni Kriya. Benang Binti dapat juga diartikan sebagai baju atau pakaian yang kesehariannya dipakai oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Pada jaman dahulu pakaian dibuat dari bahan kulit kayu siren atau dari kulit kayu nyamo. Bahkan ada pula yang dibuat dari kulit hewan (spt.: dari kulit macan dahan lengkap dengan ekornya). Bila dilihat dari jauh, seolah-olah ekor tersebut (ekor pada kulit macan tadi) adalah bagan tubuh dari orang Dayak. Hal ini yang menyebabkan pada masa lalu muncul anggapan bahwa orang Dayak memiliki ekor (Tjilik Riwut, 1979:170).  1.   Benang Bintik (seni batik/desain benang bintik atau Busana Dayak) Di Kalimantan Tengah boleh dikatakan bahwa pengrajin benang bintik sejatinya masih belum ada pengelolaannya secara khusus. Pada umumnya kita hanya sering menjual desain benang bintik ke Jawa. Sejujurnya saya masih belum bangga dengan kehadiran berbagai motif benang bintik Kalimantan Tengah yang saat ini sangat banyak beredar di setiap toko-toko pakaian, swalayan, toko sovenir, seperti yang ada di kota Palangka Raya. Motif-motif yang ada baik yang masih tradisional (asli), pengembangan, maupun perpaduan semuanya didesain, dikembangkan dan terus produksinya di Jawa. Nenek moyang kita tidak terampil membatik. Kita akui bahwa ahlinya adalah orang di Jawa atau boleh dikatakan luar Kalimantan (seperti Solo,Yogya, Bali, Sumbawa, dll.) Tetapi soal desain saya akui sangat hebat, seperti yang dikembangkan oleh sesepuh Tokoh Dayak disamping sebagai seorang tetua adat, budayawan, dan menguasai dibidang kepercayaan agama leluhur,  juga merupakan seorang seniman (maestro), salah satunya “seniman (maestro) desain benang bintik” suku Dayak Ngaju; beliau adalah Damang Y. Saililah yang saat ini bisa kita lihat pada berbagai macam benang bintik oleh para pengembang desain), sumber utamanya adalah dari Buku Aneka Ragam Ukiran dan Lukisan Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, (Damang Y. Saililah, 1984; dalam Offeny AI, Seni Budaya Kalimantan Tengah, 2014:162-172).

 

2.  Beberapa ragam busana (pakaian) yang dipakai dan dimiliki oleh masyarakat Dayak. 

Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak, ada banyak macam nama dan pemanfaatan/penggunannya: 

1.                Pakaian untuk Dukun/Belian, biasanya menggunakan bawahan berupa kain bahalai/sarung, sedang atasannya tidak menggunakan baju tetapi dilengkapi berbagai asesoris seperti untaian/kalung/saling taring-menaring (aneka ragam taring) dan manik-manik, serta dilengkapi dengan gelang gapura (bahasa Indonesia Gelang Pontoh), pinggang diikat dengan selendang.  Kalung atau untaian yang dikenakan itu disebut “samben” (biasanya dikenakan oleh para lelaki). Sedangkan kaum wanita (dukun wanita) cukup mengenakan pakaian sederhana (sebagai atasan) dan tapih/bahalai (sebagai bawahannya) juga pakai selendang.

2.                Pakaian Demang Kepala Adat, berupa baju atasan model tekuk balanga atau model busana palembangan (tanpa kerah) dengan model leher bulat atau segitiga. 

3.                Atau ada pula pakaian yang dipakai oleh para sesepuh, ketika upacara adat/khusus pada upacara tiwah, yaitu: 1) Baju Kalambi Barun Rakawan, atau 2) Salingkat Sangkurat Benang Ranggam Malahoi. 

4.                Pakaian Perang atau Baju (juga untuk mangayau) dan ikat kepala,untuk ikat kepala : Topi, Salutup (umumnya sering dipakai di kantor-kantor, maupun ketika rapat, pertemuan dstnya), Lawung (biasanya diikat di kepala), Sampah ukong (jenis topi yang terbuat dari bahan kajang ukong), sampah angang (sejenis topi pisur waktu melakukan upacara manawur), Lawung Sansulai Dare Nucung Tingang (sejenis ikat kepala yang digunakan pada saat upacara adat, khususnya pada saat pelaksanaan upacara tiwah). Sedangkan untuk pakaian,spt. : ewah (cawat); ewah bumbun (semacam cawat yang digunakan dalam upacara adat dan berwarna kuning); ewah nyamo (ewah yang terbuat dari bahan kulit kayu nyamo); sakarut/sangkarut (semacam rompi dan di bagian sebelah dalam banyak jimat); karungkong sulau (baju yang terbuat dari tali atau kulit kayu, dan dipakai untukmengayau atau berperang). Demikian juga pada sarung mandau penuh dengan ‘penyang’ (jimat). Ketika Perang atau pergi mengayau; kelengkapan pakaian belumlah lengkap jika tidak ‘manangking mandau’ (mengenakan mandau). Kekuatan adalah pada Mandau. Mandau-mandau yang digunakan seringkali adalah Mandau yang sudah berusia ratusan tahun dan telah diturunkan dari generasi ke generasi dan dianggap sebagai suatu benda yang sacral. Para pengayau zaman dahulu percaya bahwa “kekuatan” mereka terletak pada Mandau itu sendiri, karena sering Mandau ini deberi “isian” atau “gana” dalam bahasa dayak ngajunya.

5.                Pakaian semua golongan. Pakaian (busana) yang dapat dipakai oleh semua golongan dalam keseharian (baik acara resmi atau tidak), yaitu benang bintik (batik) bisa dilengkapi ikat kepala/lawung atau yang sudah berbentuk topi. Atau busana apa saja.

6.                Pakaian Penari. Berbagai pakaian digunakan dalam tarian tradisional yang menjadi kekayaan suku Dayak diantaranya ada yang terbuat dari kulit kayu nyamo atau jenis kain biasa, dan hampir seluruhnya dilengkapi dengan hiasan berupa manik-manik, juga bulu-bulu burung khas Kalimantan (spt.: bulu burung haruei (Indonesia disebut merak kerdil), tingang, baliang (bahasa Dayak Ngaju, dan bahasa Indonesianya Rangkong/rangkok; bahasa Inggris Rino Hornbill).

7.                Pakaian Pengantin. Berbagai macam model pakaian (busana) Pengantin pada suku Dayak; Pengantin pria Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu ekor tingang, kalung dan sowang (subang). Busana pengantin pada suku Dayak banyak di pengaruhi oleh unsur budaya Melayu (spt. : desain/motif gaya palembangan teluk balanga, dsb). 1). Busana pengantin wanita, misal dalam Acara adat memakai Kebaya Panjang  songket, 2). Busana pengantin pria Dayak Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang dan salutup (tutup kepala). Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu tingang  (rangkok), kalung dan subang.

8.                Busana kaum perempuan, terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek, dari kain satin atau beludru, yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Paduannya rok panjang sebatas betis, disebut salui, dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala, lawung bawi, dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manikmanik, dan anting-anting atau sowang (Indonesia “subang”: perhiasan pd cuping telinga).

9.                Baju kaum lelaki disebut tekuk balanga atau baju palembangan, model baju pria Melayu tapi berkerah, juga dari beludru atau satin. Pada kerah, ujung lengan baju, dan bagian dada, diberi hiasan. Celananya disebut salawar gobeh, celana panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut salutup, tapi kebanyakan orang menyebutnya lawung atau lawung siam. Busana tradisional masyarakat Dayak Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Busana pengantin, pakaian acara-acara adat, kostum taritarian, dan sebagainya, kebanyakan dibuat dari kain beludru, satin, atau sutra. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Pakaian tradisional masyarakat  Dayak Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau.Berbagai macam model pakaian (busana) suku Dayak sebagaimana diuraikan di atas menunjukan betapa kaya khasanah budaya kita dari jaman dahulu hingga kini mari kita bersama-sama ikut serta mengembangkan dan sekaligus melestarikannya melaluipembelajaran muatan lokal.

 

 

 

 

 17.   Seni Bela Diri:  Asal-usul Seni Bela diri silat Kuntau dan Bangkui 

Yang Dimiliki Masyarakat Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah

Sejarah Seni bela diri Kuntau menurut lisan para generasi tua merupakan pencak silat warisan nenek moyang orang Dayak dari zaman dahulu kala, gerakannya banyak mirip dengan beladiri dari dataran China karena konon asal muasal suku Dayak berasal dari daerah dataran China, lebih tepatnya Yunan Selatan. Kuntao atau kuntau (Hanzi:拳道 / Romanisasi Hokkien: kûn-thâu) adalah istilah dalam bahasa Hokkien untuk seni bela diri yang diciptakan oleh komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya Kepulauan Melayu.Secara harfiah berarti "jalan kepalan", kata kuntao lebih akurat diterjemahkan sebagai "seni perang". Meskipun paling sering dipraktikkan di Malaysia (khususnya Kalimantan), Indonesia, Singapura, dan Filipina. Ini merupakan seni bela diri Tiongkok yang dibawa oleh pedagang, buruh, dan pemukim lainnya dari Cina Selatan. Gaya harus disesuaikan dengan medan yang berbeda, bersaing gaya lokal dan berkelahi dengan senjata lokal. Banyak (jika tidak sebagian besar) gaya kuntao telah memasukkan teknik dari silat dan beberapa membentuk bahkan mengubah nama mereka dari "kuntao" menjadi "silat". Gaya yang menggabungkan kedua kuntao silat dan bersama-sama kadang-kadang disebut kuntao silat. 

https://id.wikipedia.org/wiki/Kuntao (Diunduh, Kamis, tgl. 15/02/2024; Pk.14:57 Wib).

Pada dasarnya, pencak silat sebagai seni bela diri juga merupakan tradisi bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur seperti penghormatan antarsesama manusia, mengutamakan persaudaraan dan menguatkan ikatan sosial. Ikatan yang diajarkan dalam silat kuntau meliputi hubungan yang baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan. 

Pencak silat sebagai salah satu kearifan lokal yang ada di daerah Kalimantan

Tengah, perlu diperkenalkan kembali kepada generasi muda sekarang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter. Salah satu seni bela diri pencak silat dikenal di daerah Kalimantan Tengah  yaitu kuntau. Namun di Daerah Kalimantan Selatan juga mengenal seni bela diri ini, (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi Vol.5, No. 1 (Januari, 2023), hal. 51). Kuntau sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk jurus dan langkah gerakan yang berbeda-beda, tergantung wilayah dan tempat di mana kita berguru atau belajar Kuntau itu. Kuntau mempunyai ciri khas persamaan gerakan , sehingga mudah dikenali. Proses belajar kuntau pun pada umumnya relatif lama, sulit dan harus mempunyai ketahanan fisik yang kuat.  Proses terakhir dari belajar Kuntau ialah kita berada dalam suatu lingkaran, dan harus bisa menangkis serangan, baik menggunakan senjata atau pun tidak menggunakan senjata (tangan kosong). Bagi Suku Dayak Ngaju, kuntau dikenal sebagai seni bela diri tradisional yang sering ditampilkan dalam upacara “Adat Panganten Mandai”. Rombongan/iring-iringan Calon mempelai Pria, biasanya sudah berada di depan halaman rumah Calon mempelai Wanita,  maka pada saat itu pula akan ditampikan dari kedua belah pihak permainan kuntau, sebagai salam pembuka dan salam penghormatan serta untuk menjalin ikatan persaudaraan, sekaligus membuka rintangan yang biasanya berupa benang-benang, yang  merintangi pintu gerbang 

“lawang Sakepeng” (Lawang Seketeng) yang telah dihiasi dengan gaba-gaba berada di depan pintu masuk rumah orang tua Calon mempelai Wanita sebelum memasuki acara “Haluang” prosesi kawin Adat (pernikahan adat) akan dilangsungkan di dalam rumah calon mempelai wanita. 

Lawang Sakepeng diserta permainan kuntau atau silat diiringi dengan irama tabuhan gendang dan gong khas Dayak, maksunya adalah mencerminkan filosofi atau makna agar pasangan pengantin nanti setelah menikah, diyakini mampu menghadapi segala cobaan dalam hidup mereka.

Seni bela diri Bangkui menggunakkan tangan kosong dan mengandalkan kelincahan gerakan pemainnya, meski ada juga beladiri Bangkui yang menggunakan toya/tongkat. Bangkui lebih cenderung menyerang musuh dari bagian bawah dan langsung menyerang titik pertahanan tubuh lawan. Bangkui sendiri merupakan seni beladiri yang gerakannya di inspirasi dari gerakan hewan bangkui yaitu jenis beruk (pigtailed macaque atau kera ekor babi) yang hidup tersebar di belantara Kalimantan. Bangkui digunakan sebagai jurus pamungkas untuk mematikan dan mengunci gerakan lawan, karena gerakan bangkui sendiri banyak mempunyai gerakan melumpuhkan lawan dengan hanya satu kali serangan. Untuk itu Bangkui sangat berbahaya jika digunakan secara sembarangan. Ada kalanya Seni Beladiri Kuntau (sebagaimana uraian di atas) akan memiliki perpaduan/gabungan terutama pada variasi pukulan atau gerakan dengan Seni Beladiri Bangkui, sehingga sering disebut Kuntau Bangkui.

Kuntau Bangkaui adalah bela diri asli Dayak Ngaju yang sudah dikenal sejak zaman Asang Kayau (headhunters). Kuntau Bangkui adalah seni bela diri untuk self-defense yang menggunakan seluruh gerakan anggota tubuh; seperti gerakan tangan, bahu, tinju, telapak tangan, jemari, kaki, pergelangan kaki dan lutut. Sisi kaki dan tapak kaki digunakan secara sistematis dan teratur untuk menghindar dan menyerang lawan.

https://mmc.kalteng.go.id/berita/read/660/asal-muasal-silat-kuntau-bangkuikhas-dayak-ngaju-kalimantan-tengah (Diunduh Kamis, tgl., 15/0202024; Pk. 14:21 Wib).

 

 

 

 

18.   Seni Tari:  Seni Tari Kalimantan Tengah dapat dilihat secara umum dan secara khusus berdasarkan dari Wilayah Kabupaten Masing-masing.

1.    Tentang Tari Tradisional Secara Umum

1.1.     Ulasan Tentang Tari Tradisional

Sesungguhnya tarian tradisional bersumber dari orang-orang tua yang banyak pengalamannya dan masih tinggal di desa daerah pedalaman Kalimantan Tengah. Sumber- sumber informasi tentang kesenian tradisional di daerah itu sebenarnya cukup banyak, akan tetapi oleh pergeseran waktu maka orang-orang tua dimaksud sudah banyak yang meninggal dan seakan-akan pengetahuan tentang kesenian yang dimiliki mereka itu terbawa pula keliang lahat sehingga banyak tarian atau kesenian tradisional orang Dayak yang bernilai seni yang tinggi hilang atau punah. 

Disamping itu, dipengaruhi pula oleh perbedaan agama dari kepercayaan Kaharingan ke agama Kristen Protestan dan Islam, sehingga menyebabkan tariantarian yang umumnya memuat nilai-nilai sakral sudah ditinggalkan mereka. Itu sangat disesalkan.

Demikian pula dampak dari pada arus globalisasi komunikasi dan informasi yang begitu cepat mempengaruhi sikap mental masyarakat, terutama dikalangan anakanak muda dan para pendidik yang lebih akrab dengan seni, sehingga hampir meninggalkan seni tradisional. Situasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang seperti ini merupakan suatu dilema yang kadang-kadang tidak mampu dijadikan sebagai pertahanan atau penyaring yang tangguh untuk menyelesaikan arus-arus budaya baru yang akan mempengaruhi budaya asli yang memiliki nilai-nilai luhur itu. Istilah ‘tapengan’ (ungkapan tradisional) Dayak Ngaju mengatakan “akan ngaju dia kuman manok, akan ngawa dia kuman tabuan” artinya segala sesuatu sikap hidup (usaha) serba tidak berhasil. Pengertian lain yang lebih luas lagi yaitu : mempertahankan yang lama juga tidak mampu, mengikuti cara-cara kehidupan modern juga gagal. Ini diibaratkan yang tidak  memiliki sikap mental yang loyal  dan kokoh dan tidak memiliki suatu pendirian hidup yang kuat dalam dirinya. Oleh karenanya sistem budaya dan kesenian pun akan ikut terpengaruh, khususnya dibidang seni budaya di daerah pedalaman. Sekarang pengaruh Musik CD/Cassete Dangdut dan lagu-lagu barat ikut mempengaruhi seni tari di desa-desa sebab anak-anak muda lebih menggemari musik-musik di Cassete, CD, flash disc, micro SD, MP3/MP4; atau karena mereka dari sejak kecil melihat dan mengenal lagu-lagu melalui Cassete, MP3/MP4 dan musik serta tarian daerah jarang didengar dan dilihat oleh mereka sejak dini. Apalagi di jaman globalisasi ini mereka lebih suka iPod, laptops atau HP mereka sendiri.

 

1.2.     Ragam Tarian Secara umum di Kalimantan Tengah.

Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan Suku Dayak sebagai penduduk aslinya kaya dengan keanekaragaman seni dan budaya peninggalan masa lalu. Satu dari kearifan khasanah budaya warisan nenek moyang tersebut terkandung dalam ragam seni tarian. Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR) menggelar pentas tari garapan dan tradisional. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk promosi kesenian daerah guna mendukung pengembangan potensi wisata lokal. Kegiatan yang dilangsungkan di Gedung Eka Tingang Nganderang (dulu : Betang Mandala Wisata) tersebut menampilkan tujuh cindera tari dari tiga sanggar seni budaya yang ada di kota Palangka Raya.

Ketiga sanggar itu antara lain Sanggar Balanga Tingang dengan menampikan tari Mandau, tari Rantak Kipas Gempita, tari Giring-Giring dan tari Bahalai. Dari kegiatan tersebut, ada sejumlah literatur dari sejarah dan makna tarian yang dipentaskan. Berikut catatannya.

 

1.2.1.        Tari Wadian Amun Rahu

Tarian ini pada mulanya adalah sebuah tarian tradisional Suku Dayak Kalimantan

Tengah (Suku Dayak Maanyan) yang bersifat sakral, magis dan religius. Tarian yang biasa dimainkan oleh kaum perempuan ini pada masa lampau dimaknai sebagai prosesi adat untuk menghantarkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, setelah selesai panen padi. Selain itu, tarian ini juga sering dilakukan sebagai salah satu prasyarat tata cara penyembuhan seseorang yang menderita penyakit. Ciri khas dari tari Wadian Amun Rahu terlihat pada penggunaan tata busananya yang didominasi warna merah dan putih sebagai perlambang keagungan Sang Maha Pencipta.

 

1.2.2.        Tari Jarangkang Bango

Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang diadaptasi dari tarian Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah dengan nama yang sama. Di daerah tersebut, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak. Jarangkong Bango merupakan perangkat tari berupa benda yang dibuat dari batok kelapa yang dibelah dua, kemudian dilubangi untuk mengaitkan tali pegangan. Perangkat ini kemudian digunakan oleh para penari sebagai properti utama dalam tarian ini. Tarian ini menunjukan sebuah kebersamaan dan kekompakan serta solidaritas anak-anak Suku Dayak Kalimantan Tengah dalam hidup bermasyarakat.

 

1.2.3.        Tari Gelang Dadas dan Bawo (Gelang Iruang Wandrung)

Tarian ini merupakan rampak selaras dua gerak tari yang disatukan yaitu Wadian

Dadas dan Wadian Bawo dan kemudian disebut Tari Iruang Wandrung. Tarian Dadas dilakukan oleh penari wanita, sedangkan Gelang Bawo ditarikan oleh penari pria. Dengan iringan perpaduan musik tradisonal yang energik tarian ini pada jaman dulu berfungsi sebagai tarian untuk menghantar syukuran kepada Yang Maha Kuasa karena keberhasilan dalam seluruh aspek kehidupan Suku Dayak Kalimantan Tengah.

1.2.4.        Tari giring-giring awalnya adalah tarian yang berasal dari daerah DAS Barito, Kalimantan Tengah. Tari giring-giring biasa dipertunjukkan dengan perangkat musik dari bambu yang berbunji jika digetarkan. Alat musik ini biasa disebut Ganggereng dan dimainkan bersama sebuah tongkat yang di sebut Gantar. Tari ini biasa ditampilkan pada acara-acara adat sebagai perwujudan perasaan suka cita warga terutama pada saat menyambut tamu- tamu kehormatan. Dalam perkembangannya, gerak dan ragam Giring-giring telah mengalami banyak pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan teknik dasar tarinya.

 

1.2.5.        Tari Rantak Kipas Gempita

Tarian ini menggambarkan semangat generasi muda dalam meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan. Kemajemukan sosial dan budaya dalam diri para pemuda yang menuntut ilmu di Bumi Tambun Bungai bukanlah suatu hambatan dalam mewujudkan cita- cita bersama untuk memajukan daerah.

Dibanding konsep awalnya, sajian tarian ini telah mengalami pengembangan ragam gerak dengan tidak meninggalkan kaidah dan tehnik dasarnya.  Tarian ini dimainkan dengan lincah dan gembira, sebagai manifestasi dari semangat yang dimiliki oleh generasi muda dalam upaya ikut serta dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara.

 

1.2.6.        Tarian Mandau

Tari ini merupakan tarian yang umumnya dilmainkan oleh kaum perempuan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah semangat seluruh warga Dayak dalam pertahanan diri dan kampong halaman dari ancaman pihak-pihak luar.

Dalam penyajiannya penari melakuikan gerakan yang lembut, gagah dan energik. Saat ini, penggarapan tari, gerak dan ragamnya telah mengalami pengembangan dengan tidak meninggalkan kaidah dan tekniknya yang sudah dikenal luas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah sejak masa silam.

 

1.2.7.        Tari Bahalai atau Tari Selendang Bawi

Tarian ini merupakan cindera tari yang diangkat dari kelengkapan pakaian berupa selendang di kalangan kaum wanita Suku Dayak Kalimantan Tengah. Sama seperti tarian lainnya, tari ini juga telah mengalami pengembangan di beberapa bagian gerak dan atribut petari. Tarian ini dimainkan dengan lemah gemulai oleh penari putrid sebagai gambaran sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan atas terlaksananya suatu hajatan besar di kalangan warga.

 

1.2.8.        Tari Kanjan

Tari kanjan ada beberapa macam :

1.                 Tari kanjan pahi; 2. Tari kanjan hatue; 3. Tari kanjan halu; 4. Tari kanjan bawi.Tari Kanjan atau Manganjan (sebutan untuk menarikan Kanjan) adalah tarian yang biasa ditarikan oleh para Basir (Balian dalam istilah suku, di Dayak sepanjang sungai Barito) (dukun atau pemimpin spiritual) pada saat upacara tiwah (upacara memindahkan tulang belulang orang yang sudah mati, serta mengantar roh yang sudah mati ke alam lain) atau dalam upacara pengobatan atau upacara membuang kesialan dan menolak bala. Biasanya tarian ini ditarikan mengelilingi hewan kurban (kerbau) atau mengelilingi tihang atau tiang (sangkairaya) yang diletakkan di tengah. Jumlah penari bisa berjumlah tiga sampai empat orang atau lebih. Semua bunyi-bunyian saat itu ditabuh dengan irama dan nada tertentu. Tarian ini bisa ditarikan di dalam ruangan maupun di luar ruangan (tempat terbuka) sesuai kebutuhan dan dimana acara atau upacara berlangsung. Tarian ini penuh dengan nuansa magis dikarenakan para penari adalah para Balian dan diperuntukkan sebagai sarana dalam upacara. Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (khususnya Dayak Ngaju), atau suku Dayak lainnya yang beragama Kaharingan (Agama Helo atau Hindu Kaharingan) masih menggunakan tarian ini dalam setiap upacara tersebut.

 

1.2.9. Tari Bukung (Tari Topeng Bukung)

Tari Bukung itu sendiri merupakan Tarian yang biasa digelar pada acara ritual Tiwah, yakni upacara ritual pengangkatan, pembersihan tulang dan menyimpan tulang ke dalam ‘Sandung’ atau rumah kecil tempat penyimpanan tulang. Kesenian tari Bukung atau topeng Bukung terdiri dari beberapa macam yakni : 1. Bukung Tuan (Topeng menyerupai manusia), 2. Bukung Kinyak (Topeng/wajah dan anggota badan dilumpuri), 3. Bukung Metu (Topeng yang dibuat berbagai macam bentuk binatang baik yang di udara, darat dan air) dan 4. Bukung Bungkus (Seluruh anggota tubuh dibungkus dengan dedaunan seperti daun pisang). Esensi tarian Bukung menggambarkan sekelompok hantu, yang disajikan oleh beberapa orang penari yang menyerupai manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan turut bersuka cita dalam mengantar arwah ke Lewu Liau (surga) seperti pada acara prosesi pemakaman, para penari yang menggunakan bermacam topeng tersebut adalah kerabat dekat/keluarga almarhum yang lebih dulu meninggal dunia dan arwahnya belum dihantar ke Lewu Liau (surga). Tarian ini dikenal sebagai tarian kematian bagi suku Dayak tertentu,seperti dijumpai di Pedalaman Lamandau

(misalnya di Desa Kudangan, Kecamatan Delang, atau desa lainnya).

     

1.3.  Ragam Tarian Secara Khusus di Kalimantan Tengah.

Ada beberapa judul tarian yang pernah hidup dan sering ditarikan pada tahun sebelum kemerdekaan sampai dengan tahun 70-an adalah sangat banyak. Namanama judul tari yang sempat dicatat adalah sebagai berikut (Lihat juga pada Tabel di atas):

a. Di wilayah Sungai Kahayan Hulu, sbb.:

1.        Kanjan ( Upacara adat tiwah )

2.        Kinyah (Ot Danum )

3.        Harariung (Ot Danum )

4.        Kanjan Patahu ( Upacara adat )

5.        Kanjan tantehau (Upacara pengobatan orang sakit)

6.        Somomuhka

7.        Kanjan halu

8.        Kinyah konyadun

9.        Kinyah polanuk

10.    Kinyah jolawi

11.    Hobabaca

12.    Nganyak urak

13.    Deder Kahayan dengan musik kangkanong.

                    

b. Di wilayah Sungai Katingan dan Sungai Rungan terdapat judul tari sbb. :

1.       Tasai

2.       Kanjan

3.       Kanjan Alu

4.       Deder dengan musik kecapi

5.       Bigal

6.       Tanjung katung

7.       Riam panjang

8.       Tasai lunuk ramba

 

c. Di Lamandau dan wilayah Kotawaringin Barat terdapat judul/nama    tari , sbb.:

1.        Tari Bukung

2.        Tari Kambang Pandan

3.        Tari Bagondang

4.        Tari Kipas Dayung

5.        Dan lain-lain

 

d.  Di Sungai Kapuas Hulu dan Barito terdapat beberapa nama tari, sbb.:

1.           Tari wadian bawo   ………………….….....  BT / BS  (Bartim / Barsel)

2.           Tari wadian dadas   ……………….…….…  BT / BS   

3.           Tari giring-giring (ganggereng) ……….......  BT / BS

4.           Tari bahalai   ………………………….…...  BT / BS

5.           Tari Iruang wundrung   ………………........  BT / BS

6.           Tari deder Barito   ………………......…….   BS / BU/MR (Barsel/Barut /Mura)  

7.           Tari sangku ………………………….……   KH  (Kahayan Hulu)

8.           Tari samuling   …………………  ………...  BT / BS

9.           Deder Kapuas …………………………… .  KH   

10.       Tasai (Harariung Lunuk)   …………...……  KH   

11.       Kanjan   …………………………………..   KH  

12.       Tantulo   …………………………..………  MR

13.       Tari kompos   ………………………..……  BT / BS 

14.       Tari tiruk tuwo   ……………………..……. KH

15.       Tari cuhuk onyuh   ……………………......  KH

16.       Tari polanuk   ……………………………..  BT /BS

17.       Tari kurung-kurung   ……………………...  MR   

18.       Tari tomi toto   ……………………....……. BT / BS

19.       Tari badunce   ……………………...……... BT / BS

20.       Tari badewa   …………………………......  KH  

21.       Tari karang orong   ……………… …..…..  KH  

22.       Tari karang halu    ………………… ..…...  KH

23.       Tari bere   ……………………….…….….  KH

24.       Tari indung mulung   ………………..…..   BT / BS

25.       Tari amun rahu   ………………………....   BT / BS

26.       Tari giring-giring bokas  …………...…....   BT / BS

 

2. Asal, Makna Tarian, dan Jumlah Para Penari Tradisional Kalimantan Tengah (Lihat Tabel di bawah ini):

Nama Tarian Daerah Asal                      Makna / Fungsi Tarian                           Penari/Jumlah

1. Daerah Barito

-    Tari Wadian bawo

-    Tari Wadian dadas

-    Tari Mausat

-    Tari Santio

-    Tari Indung Mulung

-    Tari Samuling

-    Tari Giring-giring

-    Tari Bahalai

           

-    Sakral, untuk menyembuhkan orang sakit dan 1-7 orang laki

   keramaian                                                                   1-7 orang perempuan

-    Sakral, untuk menyembuhkan orang sakit dan

   keramaian                                                                1 orang perempuan tua

-    Sakral, untuk menyembuhkan orang sakit            1-5 orang perempuan

-    Sakral, untuk menobatkan             1-5 orang perempuan

-    Sakral, untuk menobatkan             5 orang laki/pr

-    Ritual, penyembahan         7-10 orang laki/pr

-    Keindahan, keakrapan dan berfungsi sebagai       2-10 orang laki/pr

 

-    Tari Tampak Ehek

-    Tari Deder Barito

-    Tari Kompos

-    Tari Tontulo

 

-    Tari Kurung-kurung

 

 

-    Tari Tiruk Tuwo

-    Tari Cukuk Onyuh

-    Tari Polanuk

-    Tari Tomi Toto

-    Tari Badunce

   hiburan                                                                 2-10 orang laki/pr

-     Keindahan, keakrapan dan berfungsi sebaga

   hiburan                                                                 2-10 orang laki/pr

-     Keindahan, keakrapan dan berfungsi sebagai  2-8 orang laki hiburan

-     Keindahan, keakrapan dan berfungsi sebagai  4-10 orang laki/pr hiburan

-     Waspada, siap siaga, berfungsi sebagai atraksi  

hiburan                                                                    5-7 orang pr/laki

-     Ritual, pemujaan, berfungsi sebagai hiburan

dalam pesta adat Dayak Siang

-     Bermakna keindahan alam yang selalu memberikan semangat hidup bagi lingkungannya dan berfungsi sebagaihiburan bagi masyarakat Dayak Siang.

-     Bermakna peniruan dari alam lingkungan dan berfungsi untuk memberikan pesan- pesan bagi para penonton dan hiburan.

-     sda -

-     Bermakna keluesan, fungsi menghibur - sda-.

 

 

4 orang laki/pr

4 orang laki/pr

2 orang laki

 

-   Tari Bere

-   Tari Karang Orong

-   Tari Badewa

  

- Sakral, penyembuhan orang sakit

 

2-4 orang laki

1 orang pr/laki

 

 

Nama Tarian Daerah

Makna/Fungsi Tarian

Penari/Jumlah

2. Kapuas/Kahayan  danKatingan

-   Kanjan (Dalam

  Pesta Tiwah)

 

 

 

-   Tasai

(Dalam Pesta Tiwah)

 

 

-   Kanjan Potuhu

 

 

-   Kanjan Tehteu

 

-   Somomukka

 

 

-    Sakral, menghantarkan roh-roh orang yang   sudah meniggal ke Lewu Tatau, dan roh-roh

    binatang (kerbau) sebelum ditombak oleh  

    “Upon Gawi” (Tiwah).

 

-    Makna kegembiraan, untuk

 

 30-100 orang laki/pr

 (massal)

 

 

 

 30-100 orang

    menyampaikan rasa syukur kepada yang maha  (massal)     kuasa atas segala keberhasilan.      Dan perlindungan yang diberikan. 

-                      Bermakna sakral, dan berfungsi membuktikan      sesuatu kebenaran terhadap hal-hal yang tidak  2-4 orang laki/pr

    Kelihatan agar menjadi nyata.                                                

             

-                      Bermakna sakral, dan berfungsi untuk  1 orang peremuan    menyembuhkan orang sakit.

 

-                      Bermakna ritual, dan berfungsi menghantarkan   4-6 orang laki

 

-   Habobaca/bobaja

 

 

 

 

-   Nganyah Urok

 

 

 

-   Harariung

roh (arwah) orang mati.

             

             

-       Bermakna sakral dan ritual, serta berfungsi            1-3 orang  sebagai sebagai Mediator antara roh-roh     peremuan

   sangiang dengan manusia untuk melaksanakan     pengobatan terhadap orang yang sakit secara                tradisional.       

             

-       Ritual, berfungsi untuk menghantarkan roh-         roh binatang sembelihan pada saat pesta tiwa  4-6 orang ke lewu Tatau roh orang yang di Tiwahkan       perempuan

-       Bermakna kesatuan dan kesatuan dalam  10-30 orang lk/pr kehidupan orang Dayak, berfungsi untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan yang dalam, 

 

 

serta saling memberikan hiburan dan rasa

 

 

 

kegembiraan.

 

 

 

 

 

 

- Kinyah konyadun

 

-        Lelucon, serta berfungsi sebagai hiburan.

-        Lelucon, serta berfungsi

 1 - 2 orang laki

 

 

   sebagai hiburan

- Lelucon, serta berfungsi sebagai hiburan

 

 

 

 

 

 

 

- Kinyah Polanuk

 - Bermakna sopan santun dan

  1 - 2 orang laki

 

 

  tata cara dalam pergaulan

 

 

 

  muda mudi dan berfungsi

 

 

 

  sebagai sarana untuk

 

 

 

  menyampaikan pesan-pesan

 

 

 

  dan isi hati kpd org lain atau

 

 

 

-     Kinyah Jolawi

-     Deder Kahayan

-     Bigal

  masyarakat himbauan.

- Bermaknamemikat, berfungsi sebagai sarana  untuk menimbulkan rasa Simpatik dari kaum wanita

 

1   - 2 orang laki

2   - 8 orang laki/pr

 2 - 4 orang laki- 

          laki

 

- Tanjung

- Bermakna keindahan alam dan berfungsi    sebagai hiburan.

 6 - 20 orang pr

 

 

 

 

 

- Riam Panjang

- Bermakna keindahan alas dan

 6 - 20 orang pr

 

-    Deder Katingan /            berfungsi sebagai hiburan

-    Bermakna keindahan alam

 

 4 - 6 orang laki/pr

   Rungan                                   dan berfungsi sebagai hiburan.

 

           

 

 

Nama Tarian Daerah Asal                       Makna / Fungsi tarian

Penari/Jumlah

3. Kotawaringin Barat/         

     Lamandau                       - Bermakna ritual. berfungsi ikut serta   

- Tari Bukung                           meramaikan saat menunggu orang mati pada

malam hari dan upacara pesta adat lainnya.

 

2-8 orang laki

           

- Tarikambang Pandan - Bermakna keindahan dan kelembutan seorang wanita, berfungsi sebagai sarana hiburan antar muda mudi dan orang tua yang akrab.

 

4-8 orang laki/pr

- Tari Bagondang                   - Bermakna peniruan, yang berfungsi sebagai

sarana untuk mentransferkan suatu ekspresi gerak melalui bunyi gendang,

2-4 orang laki/pr

- Tari kipas dayung - Bermaknakeindahan. Ddan berfungsisebagai ekspresi peniruan dari alam dan sebagai    sarana hiburan.

 

19.   Musik (Seni Musik Kalimantan Tengah):

1. Mengenal Alat-alat Musik Daerah Kalimantan Tengah

19-6 orang laki/pr

 

Beberapa macam alat musik daerah yang kita kenal, antara lain:

1.1. Kangkanong

Kangkanong (kenong) adalah alat musik berbentuk gong kecil (bahasa Dayak Ngaju disebut ‘tatawak’) dan lebih dikenal dengan nama kenong atau bonang (bahasa Indonesia). Setiap perangkat kangkanong terdiri atas 5 atau 7 buah satuan dan masing- masing satuan tadi di letakkan di atas sebuah kotak resonasi yang sudah diberi 2 baris tali sebagai tempat meletakkan buah-buah kangkanong.

1.1.1. Fungsi dan Macam-macam Irama yang dihasilkan - Fungsi :

Fungsi dan Macam-macam Irama yang dihasilkan:

Kangkanong dipergunakan sebagai instrumen pengiring untuk mengiringi taritarian, upacara adat, balian, dsb.

- Macam-macam irama yang dihasilkan :

Kangkanong yang ada di Kalimantan Tengah, memiliki laras yang telah disesuaikan dengan nada-nada daerah.

Seperangkat kangkanong yang terdiri dari 5 buah nadanya, adalah : 

A - C - D - E - G.

Perangkat kangkanong yang terdiri dari 7 buah nadanya, adalah : 

A - C - D - E - G - A - E.

 

1.2. Gandang

Gandang (gendang) adalah sebagai kelengkapan perangkat alat musik   yang terdiri atas : garantong (gong), dan kangkanong (kenong). Gandang dibuat dari kayu yang bagian dalamnya diberi berongga. Membrannya dari kulit hewan (kulit rusa, sapi), dan dipasang pada badan alat musik tadi dengan dengan rotan.

1.2.1. Macam-macam Gandang

Gandang yang kita kenal di Kalimantan Tengah ini ada 3 macam : 1).

Gandang tatau, 2) gandang manca, 3) gandang bontang.

-       Gandang tatau (gandang tunggal) adalah sejenis gandang yang agak besar dan panjang. Panjangnya kurang lebih 2 meter dan garis tengahnya kurang lebih 40 cm. Pada bagian ujungnya yang besar dipasang membran (biasanya kulit sapi, rusa, ular sawa/piton) sedangkan pada bagian pangkalnya dibiarkan terbuka. Gandang seperti ini hanya dipakai dalam upacara adat, seperti upacara penyambutan tamu agung atau pada upacaraq tiwah (upacara kematian). Alat musik pengiring lainnya terdiri dari gong sebanyak 3-5 buah dan seperangkat kangkanong (kenong).

-       Gandang manca (gandang kembar). Gendang ini terdiri dari dua buah (sepasang) dan pada kedua ujungnya dipasang membran. Pada bagian ujung yang besar dipasang membran yang tebal, sedangkan pada ujung yang lebih kecil dipasang membran yang lebih tipis. Gandang ini disebut pula gandang panggulung. Pasangan gandang ini lebih kecil dan cara pemasangan membrannya merupakan kebalikan dari cara pemasangan gandang panggulung. Pada bagian ujung yang bergaris tengah lebar dipasang membran yang tipis sedangkan pada bagian ujung yang lebih sempit dipasang membran yang tebal. Gandang jenis ini disebut juga gandang paningkah.

 

-       Gandang bontang. Gandang bontang bentuknya mirip dengan gandang tatau. Bedanya hanya lebih kecil dan lebih pendek. Diameter kurang lebih 20-30 cm. Dan panjang antara 30-50 cm. Membrannya terbuat dari kulit hewan yang tebal.

1.2.2.  Fungsi dan Macam-macam Irama yang dihasilkan - Fungsi :

Biasanya dipergunakan untuk pengiring Upacara Balian Bawo dan Balian Dadas.

-       Cara membunyikan :

Cara membunyikan gandang ini bukan dengan telapak tangan seperti gandanggandang lainnya, tetapi ditabuh dengan bilah rotan yang besar.

1.3. Kacapi (kecapi/kanyapi)

Kacapi adalah alat musik petik tradisional. Alat musik ini terdapat di seluruh wilayah Kalimantan Tengah, terutama di daerah pedalaman. Di luar Kalimantan Tengah alat musik ini sangat terkenal di kalangan penduduk asli Kalimantan  Timur dan Kalimantan Barat. Jadi alat musik ini merupakan salah satu khasanah alat musik teradisional orang Dayak yang mendiami pulau Kalimantan.

1.3.1.     Bahan untuk membuat kacapi (kanyapi)/kecapi)

Bahan utama untuk membuat kacapi adalah kayu hanjalutung. Sejenis kayu pulai (pantung) atau dari jalutung.

1.3.2.     Fungsi dan Cara memainkan kacapi

-       Fungsi :

Fungsi utama sebagai sarana penghibur. Alat musik petik ini dapat menghibur si pemain sendiri maupun orang lain yang mendengarkan. Dalam perkembangannya alat musik ini dipergunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian tradisional. Kdang- kadang dapat dikombinasikan dengan alat musik lain seperti rabab, suling, kangkanong, katambung. Alat musik kacapi ini sangat dikenal sebagai pengiring tari kinyah (tari perang).

-       Cara memainkan kacapi

Caranya hampir sama dengan memainkan gitar. Namun kacapi hanya memiliki senar 2, atau 3. Untuk menentukan tinggi rendahnya nada, pada rusuk bidang datar di bawah pengencang senar ada bantal-bantal yang terbuat dari kayu atau bambu yang keras. Senar dapat dikencang-kendorkan dengan alat putar yang terdapat pada kepala kacapi. Aneka ragam lagu-lagu dapat dimainkan dengan kacapi.

1.4.  Garantung (Gong)

1.4.1.  Asal-usul dan jenisnya

Garantung termasuk alat musik idiophone. Alat musik ini terbuat dari bahan logam besi, perunggu, atau kuningan. Diduga alat musik ini masuk ke Kalimantan Tengah waktu kekuasaan Majapahit. Menurut legenda masyarakat Kalimantan Tengah, garantung dibuat oleh Raja Kaling. Masyarakat menganggapnya sebagai benda berharga dan pula berfungsi sebagai barang adat. Dapat pula dijadikan alat tukar atau menilai sesuatu barang atau jasa. Garantung yang dijadikan alat musik terdiri atas 5 buah dengan laras masing-masing G, E, D,  C,  A.

Menurut bentuknya garantung dibagi atas 4 jenis dan dalam bahasa daerah, diberi nama:

1) Garantung tantawak (tatawak)

Gong kecil berat antara 5-7,5 kg; macam irama yang dimainkan/bernada: G atau E 2) Garantung lisung

 Gong jenis tanggung/sedang; macam irama yang dimainkan (bernada) : D atau C

3)  Garantung papan

Gong besar yang bentuknya gepeng/rendah; macam irama yang dimainkan

(bernada) : A

4)  Garantung bandih

Gong kecil yang bernada tinggi.

1.4.2.  Fungsi

Benda ini sangat berperan dalam berbagai upacara adat. Disamping itu gong dipakai juga oleh orang Dayak untuk memberi isyarat atau tanda kepada kelompok atau desa lain. Pada waktu seseorang meninggal dunia, selama mayatnya berada di rumah pada malam hari garantung (gong) maniti (menabuh/memainkan irama pukulan gong) dengan maksud mengiringi roh si mati dalam perjalanannya menuju negeri para arwah. Sebagai alat musik tradisional yang bersifat sakral, garantung dibunyikan dengan irama khusus selama upacara tiwah berlangsung. Tari kanjan adalah tarian sakral yang diiringi oleh musik garantung (gong). Pada jaman dulu orang yang banyak memiliki garantung (gong) menduduki status sosial yang cukup tinggi dan sangat disegani oleh masyarakat.

 

2.  Seni Musik Dan Beberapa Kelompok Besar Jenis/Irama Musik serta 

Tarian Tradisional Kalimantan Tengah 

 

Ada beberapa irama musik. Sebagai musik pengiring tari, musik daerah dibagi ke dalam empat golongan repertoire (persediaan lakon, lagu dan dsbnya untuk dimainkan) :

1.   Irama Kinyah : mempergunakan kombinasi alat kacapi (kecapi), garode (alat tiup dari kulit labu dan bambu) atau suling balawung (suling bersabuk, berlobang empat). Dapat juga diiringi alat-alat lain seperti kangkanong (kenong) secara perlahan sebagai latar belakang.

 

2.   Irama Tasai : mempergunakan kombinasi garantong, gandang, kangkanong (dari kayu atau dari logam), atau hanya mempergunakan beberapa buah katambung (gendang lebih panjang). Kombinasi ini dipakai juga untuk deder.

 

3.   Irama Giring-Giring (Ganggereng) : mempergunakan kombinasi gong, gendang dan kenong atau ditambah dengan tangkung undang (alat pukul seperti kerongkong undang terbuat dari logam untuk menjaga irama).

 

4.   Irama Kanjan : mempergunakan irama yang disebut gandang-garantong (gendang dan empat sampai lima buah gong dengan tangga nada seperti telah disebutkan di atas).

Dari alat-alat yang disebutkan di atas dapat dikektahui bahwa musik daerah mengenal: alat tiup, alat petik dan alat pukul. Selain itu, ada satu jenis alat dari bambu yang direntangkan di mulut dan talinya diatrik sehingga menimbulkan bunyi.Alat ini disebut gariding yang dianggap di dalam mitos sebagai alat yang tertua bersama-sama dengan kacapi yang bertali dua atau tiga.

Sebagai musik pengiring nyanyian non-sakral, terdapat irama balian yang mempergunakan 5 sampai dengan 9 katambung (selalu jumlahnya ganjil) untuk mengiringi resitasi kesusteraan suci sangen atau sangiang dalam bait-bait penghantar roh-roh yang disebut hanteran di dalam upacara tiwah.

 

5.   Irama Kacapi/kanyapi (kecapi) : dimainkan pada waktu senggang pada malam hari atau siang hari di ladang ataupun di desa. Lantunan nada-nada yang indah akan membuat kesan syahdu di tengah keheningan suasana di daerah pedalaman. Dalam perkembangannya alat musik petik ini dipergunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian tradisional. Kadang-kadang dapat dikombinasikan dengan irama alat musik lain, seperti rabab, suling, kangkanong, katambung. Alat musik kacapi ini sangat dikenal sebagai pengiring tari kinyah (tari perang).

 

6.   Irama Karungut :

a.   Dalam syair karungut dewasa ini sudah mulai banyak perubahan , antara lain yang berisikan sejarah, pesan pembangunan, maupun kritik, saran, dan himbauan. Karungut melagukan syair-syair kesenian daerah ini dikenal pada jalur sungai Kahayan, Kapuas, Katingan, dan sebagian jalur sungai Barito. Menurut Herce, puisi bersifat “dulce et utile” menyenangkan bukan berarti sesuatu yang menjemukan. Berfaedah bukan berarti memboroskan waktu atau sebagai perintang waktu tapi sesuatu yang patut mendapatkan perhatian. Dengan demikian fungsi seni sastra khususnya karungut sangat menyenangkan dan berguna. Lahirnya sebuah karungut adalah ekspresi dari luapan perasaan jiwa seseorang, sedih, senang atau gembira, cita-cita dan harapan yang diiringi rasa seni yang tinggi. Untuk memudahkan pemahaman yang disampaikan melalui karungut maka para seniman pencipta karungut merubah syair-syair bahasa sangiang (bahasa sastra dayak ngaju yang sangat tinggi nilai sastranya) agar lebih komunikatif yaitu dengan menggunakan berbagai bahasa ,baik bahasa daerah suku lain dan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kemampuan si pencipta maupun yang membawakannya sehingga karungut menjadi dinamis dan komunikatif bagi yang mendengarkannya.

 

b.   Notasi Karungut

Karungut sebagai salah satu alunan Nada yang teratur yang merupakan hasil peninggalan nenek moyang suku Dayak yang turun – temurun . Kebudayaan ini perlu dikembangkan dan dibukukan notasinya agar dapat digunakan oleh semua kalangan masyarakat luas . Notasinya tidak jauh berbeda dengan notasi untuk jenis – jenis musik Nusantara lainnya .

Notasi karungut berkembang sesuai dengan kemampuan si pelaku atau pembawanya. Kemudian berangsur-angsur seiring dengan perkembangan jaman oleh para pencipta dan pelaku seni, karungut mulai diterapkan kedalam kunci Nada dan akhirnya terbentuklah kunci nada pada karungut.

Notasi tangga nada pada Karungut :

6 1 2 3 5 ( la , do , re , mi , sol ) Nada Dasar pada Karungut :

Nada Dasar : Cm, Dm , Em, Fm, Gm, Am, Bm.

 

c. Ciri-ciri karungut

Karungut mempunyai ciri-ciri tertentu, terutama didalam pembuatan syairnya :

1. Syair karungut harus mengandung unsur-unsur :

a.                 Bait pembuka: Merupakan bait yang mengandung kata-kata pembuka, salam pembuka,dan sapaan kepada seseorang ataupun kelompok- kelompok/organisasiorganisasi. Bait pembuka didalam karungut boleh lebih dari satu bait, tergantung dari keinginan si pengarang itu sendiri.

b.                Bait Isi: Merupakan bait yang mengandung kata-kata yang bersifat keinginan, harapan, tujuan, cita-cita, pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain, melewati alunan karungut.Bait isi didalam syair karungut tidak dibatasi jumlahnya, yang jelas merupakan tujuan yang ingin disampaikan dapat terwujud, dan dapat dipahami oleh orang yang mendengarkannya.

c.                 Bait penutup: Merupakan bait yang mengandung kata-kata penutup, yang merupakan akhir dari sebuah harapan, nasehat, cita-cita dan tujuan yang disampaikan kepada orang lain yang mendengarkannya.

2. Syair karungut terdiri dari :

a.   Baris 1: a.   Merupakan sisipan/sampiran, atau

b.   Tidak menggunakan sisipan/sampiran . contoh : Bunga mawar bunga melati ......

c.   Baris 1 mempunyai hubungan yang sangat erat dengan baris 3, baik dari segi akhiran kata dan syair yang akan dituliskan.

a.   Baris 2: a. Merupakan sisipan/ sampiran, atau

b.   Tidak menggunakan sisipan/sampiran contoh : Harum baunya dipagi hari

b.   Baris 2 mempunyai hubungan yang sangat erat dengan baris 4, baik dari segi akhiran kata dan syair yang akan dituliskan.

c.   Baris 3: a. Merupakan kata-kata yang mengandung keinginan yang hendak disampaikan kepada orang lain.

d.   Baris 4: a. Merupakan kata-kata yang mengandung keinginan yang hendak disampaikan kepada orang lain.

Contoh hubungan dan keterkaitan baris 1,2,3 dan 4

........................................................................... dengan

........................................................................... mu

........................................................................... akan

........................................................................... tertentu  

3.  Syair karungut harus memenuhi syarat pada kata akhiran Contoh :

Bunga mawar bunga melati Harum baunya dipagi hari Salam hormat Bapak Bupati

Selamat berjumpa kami menanti

Pada akhiran kata ( cetak miring) akan terasa persamaanya, akhiran ti,ri,ti, dan ti  (a,a,a,a)

Contoh :

Bunga mawar bunga melati Tumbuh dihutan tiada yang tau Salam hormat Bapak

Bupati Dari kami pegawai baru

Pada akhiran kata akan terasa persamaan dan pebedaannya.baris 1 mempunyai hubungan akhiran dengan baris 3, dan baris 2 mempunyai hubungan akhiran dengan baris 4 ( a, b, a, b ).

Berikut contoh lain irama Karungut (disampaikan melalui bahasa Dayak Ngaju) menceritakan tentang masa lalu dan kini, serta suasana kawasan alam di sepanjang alur sungai tersebut yang menyimpan nilai-nilai yang bermakna sangat mendalam, yang patut kita simak syair-syairnya. ‘Tumbang Manange’, itulah judul irama karungut ini.

TUMBANG MANANGE

(Irama Karungut)

 

Tumbang Manange katika hamalem 

Benyem tunis je kaput pijem 

Nandai teluk hayak handalem

 

Likut lewu Puruk Tamanggung 

Puruk Hai Bukit Batu hayak gantung 

Bakarambang hakalingkang

Tagal kare je batu usang 

Kilau kota Manahan asang

 

Aju lewu je Batu Suli

Kilau tanda tihang bandera lewu hai 

Dehes karas aju lewu

Jete arae Upon Batu

Hulek hatambeleng bagana toto

 

Tege batu je Lawang Kuwu

Hung gantau aju batu je buku tewu 

Tinai hung bentok rahusan

Tege Panahan Panyaharan 

Batu due hatalunjan                                                 

Hila ngawa badehes lalau 

Nyambut tinai awi Batu Jala Balau

 

Hila ngawa Batu Lawang Jata 

Akan tanda lewu taheta 

Lewu Ulek Balai Jata

 

Hakarang Indang, hakarang Apang 

Harungku bingat, ikau Batu Tangkasiang 

 

Kuan kesah oloh horan

Batu bara hulu Kahayan

Masuh malentop Batu Panahan

 

Batu je toh, bahanyi toto

Palus Tapian, laut Lewu Upon Batu

 

Tikas toh bewei karangan ikei 

Mahasil gawi hanjewu, halemei 

Sambil melai manunggu kekei 

Lalehan kea kapasi ikei 

Lewu korik Jahai inende dagang tamuei. *)   

*) Oleh : A.DJ/Rusiniwati, Tewah 2006 (Disalin kembali oleh : Offeny A.I)

        

 

   

3.    Beberapa Kelompok Besar 5 Jenis Irama Musik Tradisional

       Kalimantan Tengah (Lihat Tabel) di bawah ini

 

                Jenis Irama                           Alat Musik                              Jenis Tarian/Naynyian Lagu

1.                Irama   - Garantong (gong) 5 buah      - Kanjan

             Kanjan             - Gandang (gendang) tatau 1 buah               - Kanjan Potahu

-   Kangkanong (kenong) 1 Set   - Kanjan Buhkang

-   Tarai, raraup, tangkung undang         - Tasai Nganyak urak

-   Tasai sangkai Raya

                                                                                                          * Lagu Parung

2.                Irama   - Kacapi, 1-2 buah       * Lagu Kandan

             Kinyah             - Rabab, 1 buah                                           * Lagu Tawui

-  Suling       - Kinyah (lk )

-  Kinyah bawi

-  Tari Mandau (pr)

3.                Irama Dewa - Gong, 3 - 4 buah           * Lagu Tandak Mandau

-   Gendang, 1 - 5 buah            * Lagu Karungut

-   Sarun, 1 set * Lagu Malo-malo

-   Kenong, 1 set          - Wadian Bawo

-   Karempet,   - Wadian Dadas

-   Katambung, 2 buah             - Marasuk sangiang

-   Hobobaca/bobaja

-   Bukung/Sababuka

-   Amun Rahu

-   Iruang Wunrung

-   Balian santio

-   Tari Baras Mayang

* Lagu Moloak

* Tumet Leut (Lagu)

 

  20.   Seni Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah

   Seni Vokal, dan Lagu-Lagu Daerah Kalimantan Tengah, adalah:

1.       Seni Suara (Seni Vokal)

Seni suara ataupun lagu-lagu daerah adalah sebagai salah satu unsur budaya yang memiliki potensi untuk memperkokoh jati diri, sekaligus sebagai hihuran sangat penting untuk disebarluaskan melalui berbagai kegiatan di masyarakat maupun melalui jalur pendidikan, terutama melalui pelajaran muatan lokal. Perkembangan seni suara seperti lagu-lagu daerah saat ini semakin maju mengikut arus globalisasi.

2.       Mengenal Lagu-lagu Daerah

Lagu-lagu daerah Kalimantan Tengah saat ini telah banyak digemari oleh masyarakat dan anak-anak sekolah, tetapi keterbatasan kita belum sepenuhnya memiliki referensi berupa buku-buku sebagai penunjang. Pada kesempatan ini bahwa lagu-lagu daerah yang ada di Kalimantan Tengah ini akan kita bagi kedalam dua bagian : 

1)   Lagu-lagu Rakyat (daerah), 2) Lagu-lagu Pop Daerah.

a. Lagu-lagu Rakyat (daerah) yang kita kenal, diantaranya : 

1) Manasai, 2)   Karungut, 3) Tumpi Wayu, 4) Nansarunai, 5) Tumet Leut, dll.

b. Lagu-lagu Pop Daerah Kalimantan Tengah. Sebenarnya antara lagu-lagu rakyat (daerah) maupun lagu-lagu pop daerah sulit dibedakan. Tergantung irama musik penggiringnya (ada yang diiringi dengan alat musik sederhana/tradisional, dan ada juga dengan alat musik modern).

Lagu-lagu pop yang kita kenal sekarang adalah, seperti : 1) Isen Mulang, 2) Manasai

(Manari Manasai), 3) Lewungku Utusku, 4) O Indang O Apang, 5) Nansarunai, 6) Itak

Gumer, 7) Riwut Andau, 8) Lehan Kapurum Andi, 9) Dia Mangira Dia Manyangka,10) Bulan Bunter, 11) Susung Hanjewu, 12) Has Kantuh Andi, 13) Nyarungan Panginan

Behas Taheta, 14) Tolak Namuei, 15) Burung Tangkasiang, 16) Buah Karuhei, 17)

Bukit Batu Suli, 18) Baka Dia, 19) Haruyong Manggetem, 20) Manok Rangkang,  21) Nyalamat Himba, 22) Riwut Andau, 23) Danau Mare, 24) Haluang Hapelek, 25) Hapeteng Janji, 26) Ka Danau, 27) Hanjak Sanai, dll. 

Seni vokal yang populer di wilayah Kalimantan Tengah saat ini adalah : Karungut, Kandan, Mansana, Kalalai Lalai, Ngendau, Natum, Dodoi, Marung, Selengot, dll.,

(penulis pernah mendengar irama selengot ini yang dilantunkan oleh seorang sesepuh Agama Hindu Kaharingan, yaitu ketika berada di Desa Karamuan (wilayah Barito Utara), dalam bahasa Dayak Dusun Malang). Contoh Syair Lagu : Manari Manasai, dan Itak Gumer.

Berikut Lagu Manari Manasai dan Lagu Itak Gumer:

1).  Manari Manasai (Ciptaan : Holten Rudji):

Lirik Lagu: Manari Manasai

Lirik Lagu: Menari Manasai (Bahasa Indonesia)

(Bahasa Dayak Ngaju)

Pukul gandang garantung 

Hayak dengan kangkanung

 

Sambil tuntang gantau 

Miar mundur dan maju

 

Bahalai dan salendang 

Imeteng intu kahang

 

Ngaliling sangkai lunuk

Je impendeng hung bentuk

 

Ayu manari manasai,

Pukul gendang dan gong 

Diiringi dengan kenong

 

Ke kiri dan ke kanan 

Bergerak mundur dan maju

 

Kain panjang dan selendang 

Diikat di pinggang

 

Mengelilingi sangkai lunuk*) 

Yang didirikan di tengah-tengah

 

Ayo menari manasai,

Menari manasai jangan sampai ketinggalan...2x

Manari manasai ela aton je melai…… 2x

  

Catatan : *) sangkai lunuk adalah semacam "tiang/tugu" terbuat dari ikatan ranting pohon beringin) yang                        didirikan di tengah-tengah. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2).  Lagu Itak Gumer (Bahasa Maanyan):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21.   Seni Rupa Kalimantan Tengah

Perkembangan Seni Rupa, termasuk di Dalamnya: Seni Lukisan, Seni Hias Tubuh (Tato), Seni Pahat, Seni Kriya.

 

Seni rupa yang berkembang di dalam masyarakat adalah seni patung, seni ukir, seni anyaman (tamunan dare) dan benang bintik (batik). 

1.       Seni Lukis/Lukisan (Pada Kanvas atau pada Tembok, dll.): 

Di daerah perkotaan spt. : Lukisan-lukisan atau ornament khas Dayak pada pilar Jembatan Kahayan, atau Lukisan pada tembok, Jukung hias (perahu hias), ada yang bermotif burung tingang dsb, dengan menggunakan bahan cat, kain kanvas, dan banyak lagi yang lain yang dihasilkan oleh para seniman muda dari kalangan Suku Dayak, mereka banyak yang berasal dari lulusan Sarjana Seni Rupa dari Perguruan Tinggi ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta; Mereka yang dari ISI, spt.:

Lampang L. Tandang, Tria Trang, Donny, JJ Queen (mereka sekarang berada di PEKAT/Perupa Kalimantan Tengah, penulis juga ada di dalam Komite ini). Dan ada juga lulusan dari Perguruan Tinggi lain. Disamping lulusan seni rupa, mereka ada yang lulus sebagai Sarjana Seni Tari; spt.: Jimy O. Andin (sekarang sebagai Dosen Sendratasik Fkip UPR, juga berada di DKPR/Dewan Kesenian Kota Palangka Raya) beliau juga punya “Sanggar Tari Tut Wuri Handayani” di Jl. Sanggabuana Selatan Kota Palangka Raya. Dan banyak lagi yang lain penulis lupa nama-nama mereka. 

 

2.       Seni lukis Tubuh (Cacah / Tutang (tato / tatto): 

Cacah / Tutang (tato / tatto), adalah termasuk Seni Hias Tubuh (tutang/Tatto), ada yang dibuat secara permanen. Dan ada pula yang dibuat secara tidak permanen, artinya bisa dibuang, spt.: tutang atau tatto ornament khas Dayak pada para penari, baik wanita atau pria (di lengan atau pun di bagian tubuh). Ada yang diberi warna, ada juga hanya menggunakan warna hitam saja.

Tutang (Tato atau rajah, adalah symbol kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dengan alam, dan perjalanan hidup bagi suku Dayak). 

Sekilas mengenai Sejarah Tutang (tato) Pada Suku Dayak: Pada jaman dahulu orang-orang suku Dayak sangat gemar membuat tutang/cacah (tato) di tubuh mereka. Adapun maksud membikin gambar-gambar di tubuh atau badan sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Tjilik Riwut, dalam Bukunya Kalimantan Membangun, 1979; ialah: 1) Terikat dengan agama dan kepercayaan. Menurut kepercayaannya, bilamana mereka kelak sudah meninggal dunia dan mereka sudah ditiwah (dibikin upacara mengantar arwah mereka ke sorga), maka bilamana mereka sudah masuk ke dalam sorga-loka, maka bekas tutang (cacah) yang hitam tadi berobah menjadi emas, dan seluruh badannya mengkilap bercahaya-cahaya; 2) Sebagai tanda ia suku Dayak. Sebab menurut dalam sejarah asli bangsa Indonesia

Dayak yang dinamai “Tetek Tatum” bahwa semua keturunan dari “Antang Bajela Bulau”, “Tunggul Garing Janjahunan Laut” harus batutang (bercacah/bertato) sebagai tanda bahwa ia adalah keturunan dari Antang Bajela Bulau, datuk atau moyang mereka. Dan semua keturunan yang bernama suku Dayak harus digambar badannya dan harus imepesek (ditindik telinganya); 3) Terikat dengan kepahlawanan. Jaman dahulu, kalau seorang pemuda Dayak tidak digambar badannya (bertutang/cacah), maka dianggap pemuda yang hina, penakut oleh gadisgadis. Sama seperti kayu yang lurus tidak mempunyai dahan, ranting dan daun, yang sama sekali tidak ada hasilnya harapan untuk berubah (Tjilik Riwut, 1979:264-265). Adapun nama gambar motif Tutang (Cacah)/Tato, Umpamanya : 1. Gambar naga/tambun; 2. Lampinak (Pangkah); 3. Apoi (Api); 4. Palapas langau (Sayap lalat); 5. Matan punei (Mata Punai); 6. Saluang murik (Seluang mudik); 7. Manok tutang penang (Ayam tato lengan); 8. Manok tutang usuk (Ayam tato dada/rusuk);

9. Tutang bajai (tato buaya); 10. Tutang tasak bajain dinding (Tato cicak buaya tembok) (Tjilik Riwut, 1979:265). 

Berikut salah satu Contoh Tato:

 

Tutang Suku Dayak                 Tutang pada bagian belakang Tutang Pada lengan Penari

Ngaju (Tempo Doeloe)                                                              

 

3.     Seni pahat, dapat kita lihat spt. Talawang (Perisai yang di pahat pada kayu ulin), pada Pilar bangunan rumah atau gedung. 

 

4.     Seni Ukir, misal pada gagang dan sarung Mandau, langgei puai (pisau raut/yang ada pada sarung mandau), pada sapundu, sandung, tiang pantar, pada lesplang rumah ada diukir dengan menggunakan pahat ukir, atau ada juga dengan system kerawang menggunakan pahat dan gergaji/jigsaw. 

 

5.     Seni Kriya, dpt kita lihat pada uraian di bawah ini: 

1). Kerajinan anyaman, spt.: anyaman topi, salutup, tas, tikar dsb, berbahan rotan, purun,  bamban, aur dll. Di sini ditampilkan ada Bermacam-macam nama anyaman dari Rotan dsb.

 

 

 

 

 

Papire Macam Aran Tamunan Daren Uei (Macam-Macam Nama Anyaman

Rotan), sbb.:

 

 

                     Bakatak Hanangoi (Kodok Berenang)                                                 Batang Garing

             

 

                                               Dare Ihing                                                                              Dare Uhing

                 

 

                                 Jangkarang Matanandau                                                               Kala Hajijit

        

 

                                       Kalepang Plara                                             Kambang Bakung

 

 

                                    Kambang Sarunai                                          Labehu Garantong

 

                    

                                   Ngalangkang Garu                                              Nyaring Hajijit

      

 

                                            Putak Riak                                                  Riak Hanjaliwan

 

 

                                        Saluang Murik                                                   Ulek Labehu

 

 

                Tas salah satunya motif Jangkarang              Topi diantaranya motif Puson Ujau

Matanandau

             

                            Rambat motif puson ujau                          Salutup anyaman rotan dibordir 

                

       

                                                                                                      Sumber Data : Ibu Ramintje, 27-08-2011

2).  Kerajinan  Getah Nyato

Kerajinan Getah Nyatu (Kayu Nyatoh ( Palaquium spp.). 

1.     Bahan Baku

Kerajinan Getah Nyatu termasuk kelompok seni kriya. Kerajinan getah kayu nyatu yang berasal dari pohon kayu nyatu (Indonesia ‘Nyatoh’). Pohon nyatu sendiri merupakan tanaman eksotis Kalimantan Tengah yang hanya tumbuh di dua wilayah tertentu di provinsi tersebut, yaitu di Kabupaten Pangkalan Bun dan di Kecamatan Bukit Tangkiling (kawasan Sei Gohong), Kota Palangkaraya. Bukan berarti bahwa di tempat lain tidak ada, mungkin lebih banyak, seperti di kawasan Kapuas, Katingan dsbnya.Getah kayu nyatu selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat adat suku Dayak di wilayah tersebut sebagai bahan baku untuk pembuatan kerajinan khas suku Dayak, seperti berbagai bentuk perayu, patung masyarakat adat suku Dayak dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.

2.     Jenis Getah Nyatu Untuk Membuat Seni Kerajinan

Jenis getah nyatu ini biasanya ada 2 macam : 1). Jenis Sambun; 2). Jenis Baringen. Jenis Sambun biasanya tumbuh di daerah perbukitan (dataran tinggi). Jenis Sambun termasuk jenis getah nyatu terbaik, karena memiliki sifat cepat keras dan pemakaiannya sangat irit dibandingkan dengan jenis getah nyatu Baringen. Sedangkan jenis Baringen, tumbuh di dataran rendah (tanah rawa). Tetapi bukan berarti jenis Baringen tidak baik, hanya beda sifat, yaitu getahnya agak lambat keras, dan agak sudah dibentuk/diolah menjadi sebuah karya seni (kerajinan) dsbnya. Kini kerajinan getah nyatu telah menjadi salah satu ciri khas provinsi Kalimantan Tengah yang dikembangkan oleh masyarakat dengan dukungan Pemda setempat menjadi barang souvenir yang sangat unik dan menarik. 3.  Proses Pengambilan Getah Nyatu Dari Pohonnya

Kemudian proses selanjutnya batang pohon nyatu di kuliti untuk diambil bagian kulitnya. Selanjutnya, kulit kayu nyatu itu direbus di dalam air mendidih yang sebelumnya telah dicampur dengan minyak tanah. Proses perebusan tersebut dilakukan untuk memisahkan (mengekstrak) getah dari kulit kayu nyatu. Dalam keadaan air rebusan yang masih mendidih, getah pohon nyatu yang sudah terpisah dari kulit pohon itu kemudian diambil untuk selanjutnya direbus kembali untuk memisahkan getah dari sisa-sisa minyak tanah.

 

4.  Proses Pewarnaan Getah Nyatu

Getah pohon nyatu yang sudah terpisah dari minyak tanah itu kemudian dipilah- pilah untuk proses pewarnaan. Untuk memberikan warna warni pada getah, dan para perajin getah nyatu di Kalteng biasanya menggunakan bahan pewarna alami yang diambil dari tanaman asli di Kalteng. Proses pewarnaan dilakukan dengan cara merebus getah nyatu itu bersama-sama dengan bahan tanaman sumber pewarnaan alam. Biasanya pewarna alami yang dipakai terdiri dari empat jenis warna, yaitu hitam, kuning, merah dan hijau. Getah nyatu yang sudah diberi bahan pewarna alam itu kemudian diambil dan dalam keadaan masih panas (dalam rebusan air mendidih) langsung dibentuk dan dianyam menjadi berbagai bentuk kerajinan getah nyatu. Proses pembentukan getah nyatu harus dilakukan dalam keadaan masih panas karena dalam kondisi tersebut getah nyatu masih dalam keadaan meleleh sehingga mudah dibentuk. Sedangkan kalau sudah dingin, getah nyatu sulit dibentuk karena sudah berada dalam keadaan beku.Kerajinan anyaman getah nyatu umumnya mengambil bentuk perahu tradisional Dayak yang dilengkapi dengan awak dan berbagai asesorisnya. Bentuk perahu tersebut menggambarkan cerita tersendiri yang diambil dari cerita asli masyarakat suku Dayak di Kalteng. Sebagaimana diketahui di Kalteng sendiri terdapat sejumlah suku Dayak, diantaranya Dayak Maanyan, Dayak Ngaju (Kapuas, Kahayan), Bakumpai, Dayak Katingan. Bentuk perahu yang biasanya dipergunakan dalam kerajinan anyaman getah nyatu umumnya dicirikan dengan bentuk kepala tambun atau naga dan kepala burung antang (elang) atau tingang yang terletak di bagian depan perahu. Perahu yang mengambil bentuk kepala tambun atau naga biasanya dipakai untuk menunjukkan perahu perang dan perahu untuk upacara adat Tiwah (memindahkan kepala leluhur dalam agama Hindu Kaharingan), namun bentuk kepala tabun atau naga pada perahu perang dan perahu untuk upacara adat Tiwah sedikit berbeda. Sementara perahu yang mengambil bentuk kepala antang atau elang biasanya menggambarkan perahu berburu.Perahu perang berkepala tambun atau naga juga memiliki posisi kepala yang berbeda. Posisi kepala tambun atau naga yang mendongak ke atas menggambarkan bahwa perahu tersebut telah berhasil memenangkan peperangan. Posisi kepala tambun atau naga lurus menggambarkan perahu sedang menuju ke arah peperangan. Sedangkan posisi kepala tambun atau naga menunduk ke bawah menggambarkan perahu sedang dalam perang. Selama ini para pengrajin memproduksi kerajinan anyaman getah nyatu hanya berdasarkan pesanan. (Majalah Kina (No.1-2008; Departemen Perindustrian RI).

 

Gbr. Pohon Nyatu (Bhs. Latin : Palaquium spp.) :

 

Nyatu  bisa dibudidayakan    Nyatu tumbuh Liar      Bentuk daun, bunga  Pohon Nyatu mengeluarkan getah (biji atau stek)                                       dan  buah Nyatu 

 

 

Gbr. Pengrajin Getah Nyatu

 

                                

Contoh Kerajinan Getah Nyatu:

    

 

                        Perahu Naga                                             Perahu Hias Burung Tingang

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB   IV   

PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN

      

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan mengenai unsur budaya Dayak dalam penulisan cerita anak,

dapat disimpulkan bahwa kekayaan budaya dan seni Dayak memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas dalam mengembangkan cerita yang bernilai edukatif dan menghibur. Penggunaan unsur budaya, seni, dan

teknologi Dayak dalam cerita anak bukan hanya memperkaya pengalaman membaca

anak-anak, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal serta memperkenalkannya

kepada generasi muda. 

 

Hal ini sebagaimana dari beberapa uraian yang telah dikemukakan:

1. Integrasi unsur budaya Dayak juga unsur seni dan teknologi dalam penulisan

cerita anak bukan hanya menyediakan hiburan, tetapi juga merupakan upaya

untuk melestarikan warisan budaya yang kaya dan memperkenalkannya kepada

generasi muda. Melalui cerita anak, nilai-nilai budaya Dayak dapat disampaikan dengan cara yang menarik dan edukatif bagi pembaca anak-anak. 

2.   Dari beragam unsur seni dan budaya Dayak Kalimantan Tengah yang dapat diintegrasikan dalam penulisan cerita anak, terbentuklah sebuah panorama yang kaya akan keindahan alam, kearifan lokal, dan pelajaran berharga bagi anak-anak. Melalui cerita anak yang memperkenalkan alam dan lingkungan, anak-anak diajak untuk menghargai dan menjaga keberagaman hayati serta pentingnya pelestarian lingkungan. Pengembangan diri menjadi tema penting dengan mengambil inspirasi dari nilai-nilai kearifan lokal Dayak, seperti semangat gotong royong dan ketahanan dalam menghadapi rintangan.

3.   Dalam penulisan cerita anak yang mengintegrasikan unsur sains, anak-anak diperkenalkan pada

 pengetahuan ilmiah tentang flora dan fauna endemik Kalimantan Tengah, serta diinspirasi untuk mengeksplorasi konsep-konsep ekologi hutan. Seni budaya Dayak menjadi sumber inspirasi untuk mengajarkan anak-anak tentang keindahan dan makna di balik karya seni tradisional, sementara pariwisata lokal menjadi jendela bagi mereka untuk mengenal tempat-tempat wisata alam dan budaya di daerah tersebut.

4.   Olahraga dan permainan tradisional Dayak tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya gaya hidup aktif dan sehat. Sementara itu, pengenalan kuliner khas Dayak melalui cerita anak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menghargai keanekaragaman kuliner lokal serta memahami pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Terakhir, melalui penulisan cerita anak yang mengangkat flora dan fauna Kalimantan Tengah, anak-anak dapat memperluas pengetahuan mereka tentang kehidupan alam dan pentingnya konservasi lingkungan, demikian juga unsur seni budaya lainnya.

 

Dengan demikian, penulisan cerita anak menjadi sarana yang efektif dalam mempromosikan dan melestarikan warisan budaya Dayak secara kreatif dan inklusif. 

 

B.   SARAN

1.   Mendorong penulis, ilustrator, dan pembuat cerita anak untuk lebih menggali dan memanfaatkan kekayaan budaya Dayak sebagai inspirasi utama dalam menciptakan karya-karya yang berkualitas.

2.   Mengembangkan kolaborasi antara komunitas Dayak, penulis cerita anak, seniman, dan teknisi teknologi untuk menciptakan produk-produk kreatif yang mengangkat nilai-nilai budaya Dayak.

3.   Meningkatkan aksesibilitas cerita anak berbasis budaya Dayak melalui berbagai platform (rencana kerja; program), termasuk buku cetak, aplikasi digital, dan media online, agar dapat dijangkau oleh anak-anak dari berbagai latar belakang.

4.   Mengintegrasikan pemahaman dan apresiasi terhadap budaya Dayak dalam kurikulum pendidikan (terutama kurikulum muatan lokal), sehingga anak-anak dapat belajar tentang warisan budaya lokal dari masing-masing daerah mereka sendiri sejak dini.

5.   Mendukung inisiatif pengembangan dan penyebaran cerita anak berbasis budaya Dayak melalui program-program pemerintah, organisasi non-pemerintah, serta industri kreatif lokal.

 

Dengan menerapkan saran-saran di atas, diharapkan penulisan cerita anak yang mengangkat unsur budaya Dayak dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya lokal Kalimantan Tengah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

 

Bahruddin, B., & Hidayatullah, N., 2021. Puisi Sastra Lisan Dayak Ngaju: Kajian Struktur   dan  Nilai Estetik. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

 

Danandjaja, James, 1994. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain.             Jakarta: Percetakan PT Temprint. 

 

Djamaluddin, D., 2019. Kearifan Lokal dalam Sastra Lisan Dayak Ngaju. Prosiding            Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(1), 163-167. 

  

Estarika, Arita, 2020. Dambung Sandan (Sebuah Legenda Suku Dayak). Cetakan            pertama. Banjarbaru: Zukzezexpress.

 

Ibrahim, Offeny. A., 2012. Kumpulan Sarita Rakyat Kalimantan Tengah (Kumpulan Cerita  Rakyat Kalimantan Tengah) Inyampai Mahapan  Due Basa Dayak Ngaju, Indonesia (Disampaikan Melalui Dua Bahasa : Dayak Ngaju, Indonesia), Cetakan 1. Jakarta: Penerbit Midada Rahma Press.

 

Ibrahim, Offeny. A., 2019. Kamus Umum Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, Indonesia-

           Dayak Ngaju; dilengkapi Tata Bahasa Basa Dayak Ngaju. Palangka Raya: Bursa Fotocopy.

 

Ibrahim, Offeny. A., 2014. Seni Budaya Kalimantan Tengah, Cetakan pertama Surabaya:              Penerbit Jenggala Pustaka Utama.

 

Ibrahim, Offeny. A., 2023. Tradisi Lisan & Sastra Lisan Kalimantan Tengah: Palangka Raya: Bursa Fotocopy.

 

Klokke A.H., 1998. Traditional Medicine Among The Ngaju Dayak In Central Kalimantan;             The 1935 Writings Of Former Ngaju Dayak Priest Edite and Translated by A.H.             Klokke Borneo Research Council Monograph Series Published by Borneo Research             Council, Inc. P.O Box A Phillips, ME 04966 U.S.A.

 

Nuryatin dan Irawati, 2016. Pembelajaran Menulis Cerpen (PDF). Semarang: Penerbit              Cipta Prima Nusantara. (Diunduh, Tgl 25/04/2023)

 

Pertiwi, Hana, dan Offeny A Ibrahim, 2011. Upon Ajar Basa Dayak Ngaju Akan Kalas            Jahawen SD. Cetakan Ketiga. Palangka Raya: UD Solo Baru.

 

Rampai, Kiwok D., Agus B. Amann, Angie Rohan, (Tim Penyunting), 1996, Cerita Rakyat  Daerah Kalimantan Tengah. Proyek Pembinaan Perpustakaan Umum Dati Ii Tersebar Dl6 (Enam) Kabupaten/Kotamadya Dati Ii Pada Dinas P Dan K Propinsi Dati I Kalimantan Tengah 1995/1996.

 

Riwut, Tjilik, 2003. Maneser Panatau Tatu Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur). Cetakan            Pertama. Palangka Rya: Penerbit Pusakalima.

 

 

---------------, 2015. Maneser Panatau Tatu Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur). Cetakan           Kedua. Yogyakarta: Penerbit NR Publishing.

 

 Rus Andianto, M., Mihing, Samuel & Uan, Sinar, 1987. Sastra Lisan Dayak Ngaju. Pusal           Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan             Kebudayaan. Jakarta. 

 

S, Aprilliana Ratna, dkk., 2018. Pembelajaran Menulis Cerpen di Era Digital. Yogyakarta:            Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Sandan, AB., dkk., 2007. Kumpulan Lagu-lagu Daerah Kalimantan Tengah. Penerbit   PemprovKalteng Dinas P dan K Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Tahun 2007.

 

Sisilda, Rensi, Triwulandari, Rizqia Sadida, 2016. Bukit Batu Suli: cerita rakyat dari Kalimantan Tengah. Penerbit: Jakarta Timur : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 Suryani, A. S., & Nursanti, E., 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Sastra Lisan           Dayak Ngaju. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,           2(1), 95-100.

 

Taryana, T., 2020. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Dongeng Dayak Ngaju. Prosiding            Seminar Nasional Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(1), 15-20.

 

Wijanarti, Titik, 2021. Laporan Disertasi: Struktur Naratif Dan Fungsi Tradisi Lisan            Sansana Bandar Dalam Kehidupan Masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah.            Surakarta: Program Doktor Kajian Budaya pada Program Pascasarjana Universitas           Sebelas Maret.

 https://www.gramedia.com/literasi/mite-adalah/(Diunduh,Senin,Tgl 12/02/2024. Pk. 20:05).

 

https://www.inews.id/multimedia/infografis/5-misteri-suku-dayak-yang-menakutkan-nomor-3para-pria-harus-hati-hati (Diunduh Sabu, 10/02/2024, Pk.:18:29).

 

https://www.google.com/search?q=Cerita+Sangkanak+Inggare+Sabangak&rlz=1C1GCEA_enID9 79ID979&oq=Cerita+Sangkanak+Inggare+Sabangak&gs (Diunduh Rabu, Tgl. 13/02/22024. PK.

10:15 Wib.)

 

https://ugm.ac.id/id/berita/22114-tradisi-lisan-nusantara-pelestarian-dan-perkembangan;  Diunduh, Tgl 16/04/2023).

 

https://selaluberuntung351.blogspot.com/2020/12/penelitian-pendakian-mistis-digunung.html (diunduh tgl, 10 Juli 2022, pukul 19.41).

 

 

 

 

 

 





 

PENYUSUN

                                                          

                                           

Offeny Ibrahim, lahir di Mahajandau, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 10 September 1958, dari orang tua Adrianus Ibrahim (Alm.) dan Ridine Atjeng (Alm.). Anak  ke 4 (empat) dari 7 (tujuh) putra bersaudara.

 

Pendidikan formal : SDN-SMPN di Mengkatip (1967-1975);  SMAN di Kuala Kapuas (1979). Melanjutkan Studi di Universitas Palangka Raya (Unpar/sekarang UPR) dan lulus sebagai Sarjana S1 Pendidikan (1985). Telah menyelesaikan Program Magister Ilmu Agama Dan Kebudayaan pada Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di Denpasar, Bali (2011). 

 

Pengalaman: Penulisan Cerita Rakyat, Ornamen, Stand Pameran, dll); Pernah mengabdi Sebagai Tenaga Dosen di FKIP Universitas Palangka Raya (1986-2023) dan memasuki Purnatugas dari FKIP UPR (1 Oktober 2023); Dosen Tidak Tetap di STIKes Eka Harap Palangka Raya (2012-sekarang); Instruktur Mahasiswa PPG Prajabatan UPR Tahun

2022-2023;  Sebagai Pemateri/Narasumber pada Mata Pelajaran Muatan Lokal bagi  Guru PAUD,  

 

SD/MI/ SDLB/SMP/SMA se- Kalimantan Tengah (2010); Pemateri/ Narasumber Untuk Guru-guru pada Program

Kegiatan Bimbingan Teknis Mata Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Khusus, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (2018). Tim Penyusunan Kurikulum Mulok SMA, pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah

(2019);  Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Alam Pedesaan dan Perkotaan, pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya (2019); Narasumber  Konsinyasi Prapenerbitan Kamus Budaya

Kalimantan Tengah, Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, dan Ekabahasa Dayak Ngaju, pada Balai Bahasa

Kalimantan Tengah (2019); Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Guru Master atau Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Tunas Bahasa Ibu dengan Tema: Bahasa Dayak Ngaju I dan II pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah (2022). 

 

Kemudian bersama dengan Saudara Albert. A. Bingan (alm.) telah menyusun dan menerbitkan Kamus Dwibahasa

Dayak Ngaju-Indonesia (1996), dan Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Pokok Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju) (2001);

Bersama Ibu Hana Pertiwi telah menyusun dan menerbitkan Buku Upon Ajar Basa Dayak Ngaju untuk SD Kelas II s.d Kelas VI SD (2006); menyusun dan menerbitkan Buku Kumpulan Sarita Rakyat Kalimantan Tengah (Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah, dalam  Dua Bahasa Dayak Ngaju dan Bahasa Indonesia) (2012); Menyusun dan menerbitkan Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah (2014).  

 

Ditunjuk dan diangkat sebagai Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan Dayak Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya (2001-2004); Diangkat sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS FKIP Universitas Palangka Raya (Masa Bakti 2016 - 2020). Kemudian ditunjuk dan diangkat kembali sebagai Ketua Jurusan Pendidikan IPS Fkip Universitas Palangka Raya (Masa Bakti 2021 - 2024); Anggota Senat Fkip UPR (Masa Bakti 2021 - 2024). Tenaga Pengajar di FKIP UNPAR/UPR (1986-2023), dan Purnatugas dari FKIP UPR (1 Oktober 2023). 

 

Tim Penyusunan Kurikulum Mulok SMA, pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (2019); Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Alam Pedesaan dan Perkotaan, pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya (2019); Narasumber  Konsinyasi Prapenerbitan Kamus Budaya Kalimantan Tengah, Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, dan Ekabahasa Dayak Ngaju, pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah (2019); Narasumber pada Kegiatan Pelatihan Guru Master atau Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Tunas Bahasa Ibu dengan Tema: Bahasa Dayak Ngaju I dan II pada Balai Bahasa Kalimantan Tengah (2022). Kemudian bersama dengan Saudara Albert. A. Bingan (alm.) telah menyusun dan menerbitkan Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia (1996), dan Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Pokok Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju) (2001); 

 

 

Pernah memperoleh Sertifikat sebagai Juara III dari Bupati Kapuas Bpk Ir. Burhanudin Ali, pada Sayembara Desain Monumen Bundaran Besar jalan Pemuda Kuala Kapuas (2004); Memperoleh Piagam Penghargaan sebagai Tokoh

Bahasa, dari Balai Bahasa Kalimantan Tengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada kegiatan Anugerah

Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan Kalimantan Tengah (2019); Pernah memperoleh Hadiah Terbaik I, pada Sayembara Nama Maskot Administrasi dan Vokasi UPR bernuansa Kearifan Lokal B ahasa Dayak Ngaju, Palangka Raya (2020); Menerima Piagam Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan RI Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI, Bpk Joko Widodo (2022).

 

Menikah dengan Arita Estarika Belle Amann, dikaruniai 3 putera : Aldria Adriano Ibrahim,  Aldio Ferdika Ibrahim, Aldonius Oktora Ibrahim.

 

                                                                                                                         

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal KSTK KEBUMIAN 2020

Pembahasan Soal OSK Kebumian Tahun 2020

Prediksi soal astronomi olimpiade Kebumian