Kebumian
Pembahasan soal OSK Kebumian tahun 2020/2021
76. Pada tahun 1912, Alfred L Wegener mengemukakan teori yang menyatakan bahwa dulunya benua-benua di dunia menyatu menjadi satu benua yang sangat besar yang kemudian terpecah menjadi beberapa benua akibat pergerakan di dasar laut. Teori tersebut dikenal dengan...
Penjelasan!
a. Teori dua benua adalah teori yang mengemukakan bahwa benua-benua di dunia pada masa lalu hanya terdiri dari dua benua utama yang terpisah oleh samudra. Dalam teori ini, benua pertama adalah Laurasia yang mencakup wilayah Amerika Utara, Eropa, dan Asia Utara. Sedangkan benua kedua disebut Gondwana, yang meliputi Amerika Selatan, Afrika, India, Antartika, dan Australia.
Menurut teori 2 benua, kedua benua ini terbentuk sekitar 200 juta tahun yang lalu dan terus saling menjauh seiring berjalannya waktu. Pergerakan benua ini, disebut dengan pergerakan tektonik, menyebabkan pembentukan gunung, lembah, dan juga terjadinya gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Teori 2 benua dipopulerkan oleh ilmuwan Alfred Wegener pada tahun 1912. Namun, teori ini tidak diterima secara luas oleh ilmuwan pada masa itu, karena tidak memiliki bukti yang kuat dan tidak dapat menjelaskan beberapa fenomena geologi yang terjadi di dunia. Baru pada tahun 1960-an, teori pergeseran lempeng tektonik dikembangkan, dan teori ini dapat menjelaskan dengan jelas tentang pergerakan benua dan aktivitas geologi lainnya yang terjadi di bumi
b. Teori pengapungan benua atau continental drift theory adalah teori yang menyatakan bahwa benua-benua di dunia pernah berkumpul menjadi satu benua super pada masa lalu, yang disebut dengan Pangea. Teori ini menyatakan bahwa benua-benua tersebut bergerak secara perlahan-lahan dan akhirnya terpisah dan membentuk benua-benua yang ada saat ini. Teori pengapungan benua dikemukakan pertama kali oleh ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener pada tahun 1912, namun teori ini tidak diterima secara luas oleh ilmuwan pada masa itu karena tidak ada bukti yang kuat yang mendukung teori tersebut. Baru pada tahun 1950-an dan 1960-an, ditemukan bukti kuat tentang pergerakan benua, yaitu dengan adanya penemuan punggungan tengah samudra dan terbentuknya medan magnet bumi. Penemuan tersebut mendukung teori pergerakan lempeng tektonik yang dapat menjelaskan pergerakan benua-benua di dunia. Pergerakan lempeng tektonik yang terus berlangsung hingga saat ini menyebabkan aktivitas geologi seperti terjadinya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan pembentukan gunung dan lembah. Teori pengapungan benua sangat penting dalam memahami sejarah geologi dan evolusi kehidupan di bumi, serta memberikan informasi tentang bagaimana bumi terbentuk dan berkembang hingga seperti yang kita kenal saat ini
c. Teori pembentukan kulit bumi kontraksi pertama kali diusulkan oleh seorang ahli geologi bernama James Hutton pada abad ke-18. Hutton adalah seorang ahli geologi Skotlandia yang dikenal sebagai "Bapak Geologi Modern" karena kontribusinya dalam membangun dasar-dasar ilmu geologi. Pada tahun 1785, Hutton menerbitkan bukunya yang berjudul "Theory of the Earth" di mana ia menjelaskan teori kontraksi sebagai salah satu cara terbentuknya kerak bumi. Menurut Hutton, kerak bumi terbentuk akibat dari pendinginan magma dan solidifikasi magma di permukaan bumi. Teori kontraksi ini kemudian diembangkan lebih lanjut oleh seorang ahli geologi asal Prancis bernama Georges-Louis Leclerc, Comte de Buffon pada tahun 1778. Buffon mengusulkan bahwa bumi terbentuk dari material yang berasal dari matahari yang mengalami pendinginan dan menyusut. Teori ini kemudian menjadi populer pada abad ke-19, terutama setelah penemuan radioaktivitas pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Meskipun demikian, teori pembentukan kulit bumi kontraksi sudah tidak lagi menjadi teori yang dominan dalam menjelaskan terbentuknya bumi saat ini. Hal ini disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menghasilkan bukti-bukti baru tentang terbentuknya bumi yang lebih konsisten dengan teori akresi dan teori konsolidasi
d. Teori tektonik lempeng adalah sebuah teori yang menjelaskan tentang bagaimana kerak bumi terbentuk dan bergerak. Menurut teori ini, kerak bumi terdiri dari beberapa lempengan besar yang saling bergerak di atas lapisan mantel bumi yang lebih dalam.
Proses terbentuknya kerak bumi pada teori ini terjadi akibat dari aktivitas magma di bawah permukaan bumi yang mendorong lempengan-lempengan tersebut ke atas. Ketika lempengan-lempengan ini saling bergesekan, maka terjadi aktivitas geologi seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan pembentukan pegunungan.
Teori tektonik lempeng pertama kali diusulkan pada tahun 1912 oleh seorang ahli geologi Jerman bernama Alfred Wegener. Wegener mengamati bahwa bentuk daratan di berbagai benua yang terpisah-pisah ini seakan-akan seperti pernah saling bersambung pada masa lalu, dan ia mengusulkan sebuah teori yang disebut dengan Pangea (Superbenua).
Wegener juga mengusulkan bahwa Pangea terpecah menjadi beberapa lempengan besar yang kemudian bergerak secara perlahan-lahan. Namun, teori ini tidak diterima oleh banyak ahli geologi pada masanya karena kurangnya bukti yang cukup kuat.
Pada tahun 1960-an, teknologi sonar dan survei seismik mulai digunakan untuk mempelajari dasar laut dan struktur bawah permukaan bumi. Penelitian ini menunjukkan adanya sistem punggungan tengah di dasar laut yang mengindikasikan adanya pergerakan lempengan-lempengan besar di bawah permukaan laut.
Penelitian tersebut kemudian memberikan dukungan yang kuat terhadap teori tektonik lempeng, dan kini teori ini menjadi teori yang diterima secara luas oleh ilmuwan di bidang geologi. Teori ini juga memainkan peranan penting dalam memahami sejarah bumi, geologi, dan seismologi.
e. Teori konveksi adalah salah satu teori yang menjelaskan tentang bagaimana terjadinya pergerakan lempeng tektonik di dalam bumi. Teori ini menyatakan bahwa pergerakan lempeng tektonik disebabkan oleh adanya aliran konveksi di dalam mantel bumi yang terletak di bawah kerak bumi.
Mantel bumi terdiri dari material yang sangat panas dan cair seperti magma. Akibat dari perbedaan suhu dan tekanan di dalam mantel bumi, magma mengalami pergerakan naik dan turun yang disebut dengan konveksi. Pergerakan magma ini menyebabkan pergeseran lempeng tektonik di atasnya.
Teori konveksi ini pertama kali diusulkan oleh seorang ahli geologi asal Inggris bernama Arthur Holmes pada tahun 1929. Menurutnya, pergerakan magma di dalam mantel bumi dapat menjelaskan berbagai fenomena geologi seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan pembentukan pegunungan.
Teori konveksi ini kemudian diperkuat oleh hasil penelitian geofisika yang menunjukkan adanya aliran panas di dalam mantel bumi. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa zona subduksi di mana terjadi pertemuan antara dua lempeng tektonik dapat terbentuk akibat dari aliran konveksi yang membawa lempengan-lempengan tersebut ke arah bawah.
Meskipun teori konveksi masih menjadi subjek penelitian yang terus berkembang, namun teori ini menjadi teori yang sangat penting dalam menjelaskan berbagai fenomena geologi yang terjadi di bumi. Teori konveksi juga memiliki implikasi penting dalam memahami sejarah dan evolusi bumi serta dalam mengembangkan pemahaman kita tentang geologi dan geodinamika.
77. Berikut adalah yang termasuk dalam 7 lempeng bumi utama...
A. India
B. Eurasia
C. Antartika
D. Amerika Selatan
E. Antartika
Jawaban A
Penjelasan!
Lempeng besar:
Lempeng Pasifik
Lempeng Eurasia
Lempeng Afrika
Lempeng Amerika Utara
Lempeng Amerika Selatan
Lempeng Antartika
Lempeng Indo-Australia
Lempeng kecil: Lempeng Karibia Lempeng Juan de Fuca Lempeng Scotia Lempeng Cocos Lempeng Nazca Lempeng Filipina Lempeng Adriatik Lempeng Arabian Lempeng Laut China Selatan Lempeng Timor
Namun, perlu diingat bahwa klasifikasi lempeng tektonik ini masih menjadi subjek penelitian yang terus berkembang, dan dapat berubah seiring dengan penemuan-penemuan baru dalam bidang geologi.
78.
Penjelasan!Bidang belahan (cleavage) dalam mineral merujuk pada kemampuan suatu mineral untuk membelah atau pecah secara teratur dan berulang kali pada bidang permukaan tertentu. Bidang belahan ini merupakan sifat fisik khas dari suatu mineral dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi mineral tersebut.
Setiap mineral memiliki pola belahan yang berbeda-beda, tergantung pada struktur kristal dan hubungan antara ikatan-ikatan antar atom di dalamnya. Beberapa mineral dapat memiliki satu atau lebih bidang belahan yang teratur dan rata, sementara mineral lainnya mungkin memiliki belahan yang tidak teratur atau bahkan tidak memiliki bidang belahan sama sekali. Contohnya, mineral mika memiliki bidang belahan yang sangat rata dan teratur, sehingga mudah terbelah menjadi lembaran-lembaran tipis. Mineral kuarsa, di sisi lain, tidak memiliki bidang belahan yang jelas, sehingga sulit untuk terbelah atau dipotong dengan rata. Pola belahan pada mineral dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti komposisi kimia mineral, suhu dan tekanan di mana mineral tersebut terbentuk, dan sejarah geologis dari lingkungan di mana mineral tersebut terbentuk. Penting untuk diingat bahwa sifat-sifat fisik mineral, termasuk bidang belahan, harus dikombinasikan dengan sifat-sifat kimia dan fisika lainnya untuk mengidentifikasi mineral secara akurat. Oleh karena itu, analisis mineral yang cermat dan menyeluruh sangat penting dalam bidang geologi dan ilmu bumi secara umum.
79
Deret diskontinyu Bowen adalah deret mineral yang dibentuk oleh serangkaian reaksi mineral dalam pembekuan magma atau lava. Deret ini dinamai setelah ahli geologi Kanada, Norman L. Bowen, yang mengembangkan konsep ini pada tahun 1928.
Deret diskontinyu Bowen terdiri dari dua cabang, yaitu deret ferromagnesian dan deret plagioklas. Deret ferromagnesian meliputi olivin, piroksen, amfibol, dan biotit, sedangkan deret plagioklas meliputi plagioklas kalsium (anorthite) hingga plagioklas natrium (albite). Reaksi pembentukan mineral di dalam deret diskontinyu Bowen adalah reaksi yang saling terkait dan membentuk serangkaian mineral yang berbeda-beda dalam pembekuan magma atau lava. Mineral yang terbentuk pertama kali adalah olivin, kemudian diikuti oleh piroksen, amfibol, dan biotit pada deret ferromagnesian. Pada deret plagioklas, mineral yang terbentuk pertama kali adalah plagioklas kalsium, kemudian diikuti oleh plagioklas campuran, dan akhirnya plagioklas natrium. Reaksi dalam deret diskontinyu Bowen terjadi secara bertahap dan tergantung pada suhu, tekanan, dan komposisi kimia magma atau lava. Suhu yang lebih tinggi cenderung mempromosikan pembentukan mineral yang lebih besi dan magnesium yang kaya, sedangkan suhu yang lebih rendah mempromosikan pembentukan mineral yang lebih kaya silika. Deret diskontinyu Bowen sangat penting dalam memahami mineralogi dan petrologi, karena serangkaian mineral yang terbentuk memberikan petunjuk tentang kondisi pembekuan magma atau lava di masa lalu. Deret ini juga dapat digunakan untuk memprediksi mineral yang akan terbentuk dalam kondisi tertentu dan digunakan dalam eksplorasi mineral serta pemetaan geologi. [4/4 15.02] Dewi Indria, S.Si: Deret kontinyu dalam reaksi Bowen adalah deret mineral yang terbentuk secara bertahap dalam proses pembekuan magma atau lava, dimulai dari mineral yang kaya silika (felsic) hingga mineral yang kaya besi dan magnesium (mafic). Deret ini disebut "kontinyu" karena tidak ada batas tegas antara satu mineral dengan mineral lainnya. Deret kontinyu Bowen meliputi mineral felsik seperti kuarsa, ortoklas, plagioklas natrium, hornblenda, dan biotit, hingga mineral mafik seperti piroksen, olivin, dan magnetit. Mineral felsik pada deret ini biasanya terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dan kaya silika, sedangkan mineral mafik terbentuk pada suhu yang lebih rendah dan kaya besi dan magnesium. Reaksi dalam deret kontinyu Bowen terjadi secara bertahap dan tergantung pada suhu dan komposisi kimia magma atau lava. Pada suhu yang tinggi, mineral yang terbentuk lebih kaya silika, sedangkan pada suhu yang rendah mineral yang terbentuk lebih mafik. Mineral pada deret kontinyu Bowen dapat terbentuk dengan cara kristalisasi fraksional atau diferensiasi magma, di mana mineral terbentuk karena proses pemisahan senyawa-senyawa kimia tertentu dari magma atau lava. Deret kontinyu Bowen sangat penting dalam memahami mineralogi dan petrologi, karena memberikan petunjuk tentang sejarah pembekuan magma atau lava di masa lalu. Deret ini juga dapat digunakan untuk memprediksi mineral yang akan terbentuk dalam kondisi tertentu dan digunakan dalam eksplorasi mineral serta pemetaan geologi. [4/4 15.02] Dewi Indria, S.Si: Reaksi Bowen adalah serangkaian reaksi kimia yang terjadi pada saat magma atau lava mendingin dan membentuk mineral yang berbeda-beda. Reaksi ini dinamai setelah Norman L. Bowen, seorang ahli geologi Kanada yang mengembangkan konsep ini pada tahun 1928. Reaksi Bowen terdiri dari dua deret mineral yang saling terkait, yaitu deret diskontinyu dan deret kontinyu. Deret diskontinyu meliputi mineral ferromagnesian seperti olivin, piroksen, amfibol, dan biotit, serta plagioklas. Sedangkan deret kontinyu meliputi mineral felsik seperti kuarsa, ortoklas, plagioklas natrium, hornblenda, dan biotit, hingga mineral mafik seperti piroksen, olivin, dan magnetit. Reaksi Bowen terjadi karena perubahan suhu dan komposisi kimia magma atau lava selama proses pendinginan. Pada suhu yang tinggi, mineral yang terbentuk lebih kaya silika, sedangkan pada suhu yang rendah mineral yang terbentuk lebih mafik. Mineral pada deret diskontinyu terbentuk melalui kristalisasi fraksional atau pemisahan senyawa-senyawa kimia tertentu dari magma atau lava. Sedangkan pada deret kontinyu, mineral terbentuk secara bertahap dan tidak ada batas tegas antara satu mineral dengan mineral lainnya. Reaksi Bowen sangat penting dalam memahami mineralogi dan petrologi, karena memberikan petunjuk tentang sejarah pembekuan magma atau lava di masa lalu. Reaksi ini juga digunakan dalam eksplorasi mineral serta pemetaan geologi. [4/4 15.04] Dewi Indria, S.Si: Granit adalah jenis batuan beku yang terbentuk dari magma yang mendingin di dalam bumi. Tekstur granit dapat bervariasi tergantung pada kondisi pendinginan dan kristalisasi magma saat terbentuk. Berikut adalah beberapa tekstur batuan granit yang umum ditemukan: Tekstur granular: Tekstur granular adalah tekstur granit yang paling umum. Tekstur ini terbentuk ketika kristal-kristal granit mendingin dan kristalisasi secara berangsur-angsur dalam ukuran yang seragam. Tekstur granular ini membuat granit terlihat seperti butir-butir besar yang menyatu. Tekstur porfirik: Tekstur porfirik terbentuk ketika granit mendingin dengan cepat di bawah permukaan bumi, yang menyebabkan kristal-kristal yang lebih besar terbentuk di tengah-tengah massa granit, sedangkan kristal-kristal yang lebih kecil terbentuk di sekitarnya. Tekstur berbentuk tabular: Tekstur berbentuk tabular terjadi ketika granit mendingin dan mengeras dengan sangat cepat di permukaan bumi. Tekstur ini ditandai dengan terbentuknya lembaran-lembaran tipis dan sejajar pada permukaan batuan granit. Tekstur porfiritik-korok: Tekstur porfiritik-korok terbentuk ketika terdapat korok-korok atau rongga kecil pada batuan granit, di mana terdapat kristal-kristal yang lebih besar terbentuk di dalam korok dan kristal-kristal yang lebih kecil di sekitarnya. Tekstur mandi: Tekstur mandi terbentuk ketika granit mendingin dan kristalisasi berhenti secara tiba-tiba sebelum selesai. Tekstur ini ditandai dengan adanya area yang kasar dan tidak teratur yang terdapat di antara kristal-kristal yang lebih besar. Tekstur batuan granit ini dapat memberikan petunjuk tentang kondisi dan proses pembentukan batuan tersebut. Selain itu, tekstur granit juga dapat mempengaruhi sifat fisik dan mekanik batuan, seperti kekuatan dan ketahanannya terhadap abrasi atau erosi. [4/4 15.07] Dewi Indria, S.Si: Tekstur batuan beku terdiri menjadi dua yaitu yang memiliki ukuran kristal yang seragam dan tidak seragam. Granit Memiliki tekstur... Granit memiliki tekstur kristal yang seragam atau granular. Tekstur granular pada granit terbentuk ketika magma yang mengandung mineral silikat mendingin secara perlahan di bawah permukaan bumi dan menghasilkan kristal-kristal mineral yang seragam ukurannya. Oleh karena itu, granit memiliki struktur butir yang terlihat seragam dan halus ketika diamati dengan mata telanjang atau mikroskop. Tekstur granular ini merupakan tekstur yang paling umum pada batuan granit dan juga sering disebut sebagai tekstur granitik. [4/4 15.12] Dewi Indria, S.Si: Tekstur batuan beku terdiri menjadi dua yaitu yang memiliki ukuran kristal yang seragam dan tidak seragam. Granit Memiliki tekstur... A. Equigranular aphanitic B. Inequigranular phaneritic C. Equigranular porfiroafanitic D. Enequigranular faneraporfiritic E. Equigranular phaneritic E. Equigranular phaneritic Penjelasan: Granit memiliki tekstur kristal yang seragam atau granular. Tekstur granular pada granit terbentuk ketika magma yang mengandung mineral silikat mendingin secara perlahan di bawah permukaan bumi dan menghasilkan kristal-kristal mineral yang seragam ukurannya. Oleh karena itu, granit memiliki struktur butir yang terlihat seragam dan halus ketika diamati dengan mata telanjang atau mikroskop. Tekstur ini disebut dengan tekstur granular atau equigranular phaneritic. [4/4 15.13] Dewi Indria, S.Si: Equigranular aphanitic adalah tekstur batuan beku yang memiliki butir atau kristal dengan ukuran seragam dan kecil, yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang atau hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Tekstur ini sering ditemukan pada batuan beku seperti basalt, andesit, dan diorit yang terbentuk akibat pendinginan magma atau lava yang cepat pada permukaan bumi. Butir-butir mineral pada batuan jenis ini tidak terlihat dengan jelas karena ukurannya yang sangat kecil dan seragam. Oleh karena itu, tekstur ini juga disebut sebagai aphanitic. Sedangkan equigranular mengacu pada ukuran butir yang seragam atau sama besar. Karena ukuran butir yang seragam, tekstur equigranular aphanitic tidak memiliki perbedaan ukuran butir yang signifikan antara satu butir dengan butir lainnya. Tekstur ini sering kali memiliki kepadatan yang cukup tinggi dan struktur yang kompak. Equigranular aphanitic terbentuk ketika magma atau lava pendinginannya cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal yang cukup besar dan terbentuk butir mineral yang seragam dan kecil. Hal ini terjadi karena pendinginan yang cepat tidak memberikan waktu yang cukup bagi kristal untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. [4/4 15.14] Dewi Indria, S.Si: Inequigranular phaneritic adalah jenis tekstur pada batuan beku yang memiliki butiran atau kristal dengan ukuran yang tidak seragam atau tidak sama besar. Tekstur ini dapat ditemukan pada batuan beku seperti granodiorit, gabro, dan diabas. Butiran pada jenis tekstur ini memiliki ukuran yang cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan bantuan alat pembesaran seperti kaca pembesar. Ukuran butir tidak seragam pada tekstur inequigranular phaneritic, sehingga terlihat variasi dalam ukuran butir yang cukup signifikan. Kondisi yang menyebabkan terbentuknya tekstur ini adalah pendinginan magma atau lava yang cukup lambat pada kedalaman yang cukup dalam, sehingga kristal-kristal mineral memiliki waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan berkembang. Tekstur inequigranular phaneritic memiliki tampilan yang relatif kasar, tidak seragam, dan memiliki variasi warna yang berbeda-beda. Oleh karena itu, jenis tekstur ini sering terlihat lebih berwarna dan kontras dibandingkan dengan jenis tekstur batuan beku lainnya. Karena ukuran butir yang besar, tekstur ini sering kali memiliki sifat kekuatan dan kepadatan yang cukup tinggi, sehingga banyak digunakan sebagai bahan bangunan dan material konstruksi. [4/4 15.15] Dewi Indria, S.Si: Equigranular porfiroafanitic adalah jenis tekstur pada batuan beku yang memiliki butir mineral dengan ukuran yang seragam, namun terdapat beberapa kristal yang lebih besar dari kristal yang lain. Jenis tekstur ini terbentuk ketika magma atau lava mengalami dua tahap pendinginan yang berbeda, yakni pendinginan pertama yang cepat di permukaan bumi dan pendinginan kedua yang lebih lambat pada kedalaman yang lebih dalam. Pada tahap pendinginan pertama, magma atau lava mengalami pendinginan yang cepat sehingga menghasilkan butir-butir mineral dengan ukuran kecil dan seragam. Setelah itu, magma atau lava yang tersisa akan memasuki saluran vulkanik yang lebih dalam dan mengalami pendinginan yang lebih lambat. Pada tahap pendinginan kedua ini, magma atau lava akan membentuk kristal-kristal yang lebih besar, yang disebut fenokris, di dalam bahan dasar yang telah mengkristal pada tahap pertama. Kristal fenokris ini biasanya terbentuk dari mineral yang memiliki titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan dengan mineral yang terbentuk pada tahap pertama, seperti kuarsa, ortoklas, atau plagioklas. Sedangkan butir mineral yang terbentuk pada tahap pertama memiliki ukuran yang seragam dan kecil, sehingga tekstur ini disebut sebagai equigranular. Equigranular porfiroafanitic memiliki tampilan yang unik, yaitu butiran mineral yang seragam dan kecil serta terdapat beberapa fenokris yang lebih besar. Warna butiran mineral dan fenokris pada jenis tekstur ini bisa berbeda-beda tergantung pada jenis mineral yang terdapat di dalamnya. Jenis tekstur ini biasanya ditemukan pada batuan beku seperti andesit porfiritik, diorit porfiritik, dan granit porfiritik. [4/4 15.17] Dewi Indria, S.Si: Inequigranular phaneroporphyritic adalah jenis tekstur pada batuan beku yang memiliki butir mineral dengan ukuran yang tidak seragam, dan terdapat beberapa kristal yang lebih besar dari kristal yang lain. Jenis tekstur ini juga memiliki fenokris seperti pada Equigranular porfiroafanitic, namun fenokris pada Inequigranular phaneroporphyritic tidak teratur dalam ukurannya dan penyebarannya. Tekstur ini terbentuk ketika magma atau lava mengalami dua tahap pendinginan yang berbeda, di mana pendinginan pertama menghasilkan butir-butir mineral dengan ukuran kecil dan tidak seragam, kemudian pada tahap pendinginan kedua terbentuk kristal-kristal yang lebih besar, yang disebut fenokris, di dalam bahan dasar yang telah mengkristal pada tahap pertama. Pada jenis tekstur ini, ukuran kristal fenokris tidak seragam, sehingga disebut Inequigranular. Sedangkan ukuran butir mineral pada tahap pertama memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga jenis tekstur ini disebut Phaneroporphyritic. Inequigranular phaneroporphyritic biasanya terjadi pada batuan beku seperti basalt porfiritik, andesit porfiritik, dan diorit porfiritik. Warna dan jenis mineral yang terdapat pada butir dan fenokris dapat bervariasi tergantung pada jenis batuan beku tersebut. [4/4 15.18] Dewi Indria, S.Si: Equigranular phaneritic adalah jenis tekstur pada batuan beku yang memiliki butir mineral dengan ukuran yang seragam. Jenis tekstur ini terbentuk ketika magma atau lava yang mengandung mineral-mineral tertentu mendingin secara perlahan-lahan dan terkristalisasi secara bersamaan, sehingga menghasilkan kristal-kristal mineral dengan ukuran yang sama atau seragam. Tekstur ini biasanya terdapat pada batuan beku intrusif atau plutonik, seperti granit, diorit, gabro, dan peridotit. Granit, misalnya, memiliki tekstur equigranular phaneritic karena terbentuk dari magma yang mendingin secara perlahan-lahan di bawah permukaan bumi, sehingga kristal-kristal mineralnya sempat tumbuh secara seragam. Ciri khas dari jenis tekstur ini adalah butir mineralnya yang seragam atau sama besar, sehingga membuat batuan terlihat homogen atau seragam dalam strukturnya. Karena ukuran butir mineralnya yang besar, tekstur ini dapat dilihat dengan mudah dengan menggunakan alat optik, seperti mikroskop biasa atau polarisasi cahaya silang. Ukuran butir mineral dapat memberikan informasi tentang kecepatan pendinginan magma atau lava, serta tekanan dan suhu yang terjadi selama proses pembentukan batuan beku tersebut. [4/4 15.23] Dewi Indria, S.Si: Berdasarkan kandungan SiO2 nya, batuan beku dibedakan menjadi beberapa macam. Batuan beku disebut sebagai batuan beku ultrabasa apabila... A. Kandungan SiO2 nya lebih dari 66% B. Kandungan SiO2 nya antara 52% hingga 66% C. Kandungan SiO2 nya antara 45% hingga 52% D. Kandungan SiO2 nya kurang dari 45% E. Tidak ada kandungan SiO2 sama sekali Berdasarkan kandungan SiO2 nya, batuan beku dibedakan menjadi beberapa macam. Batuan beku disebut sebagai batuan beku ultrabasa apabila kandungan SiO2 nya kurang dari 45%. Batuan beku ultrabasa memiliki komposisi mineral yang kaya akan besi dan magnesium, serta rendah akan silika atau SiO2. Contoh dari batuan beku ultrabasa adalah peridotit dan dunite. Batuan beku ultrabasa terbentuk dari magma atau lava yang berasal dari mantel bumi, sehingga sering dijumpai pada daerah-daerah yang berhubungan dengan lempeng tektonik, seperti pada dasar samudra atau terdapat di kompleks batuan peridotit di beberapa gunung api. [4/4 15.24] Dewi Indria, S.Si: Sementasi adalah proses pengikatan partikel atau butir-butir mineral ke dalam suatu batuan sedimen melalui pengendapan material yang ada di antara celah-celah butir. Proses ini terjadi secara alami di alam dan merupakan tahapan penting dalam pembentukan batuan sedimen. Sementasi dapat terjadi karena adanya berbagai faktor, seperti tekanan hidrostatik atau tekanan dari berat material di atasnya, tekanan dari air yang mengalir, atau adanya mineral pengisi yang dapat terendapkan di antara celah-celah butir mineral. Selain itu, sementasi juga dapat dipengaruhi oleh kandungan air atau kelembapan di sekitarnya, suhu, dan pH lingkungan sekitar. Sementasi dapat menghasilkan beberapa jenis batuan sedimen, seperti batu pasir, batu gamping, breksi, dan batupasir kuarsa. Misalnya, batu pasir terbentuk melalui proses sementasi pada butir-butir mineral yang terdapat dalam material sedimen berupa pasir. Butir-butir pasir ini kemudian terikat satu sama lain oleh mineral pengisi, seperti kalsit atau kuarsa, sehingga membentuk sebuah batuan yang padat dan keras. Proses sementasi memerlukan waktu yang cukup lama untuk terjadi dan umumnya membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil dan bersifat statis. Oleh karena itu, sementasi seringkali menjadi indikator yang baik untuk mengetahui kondisi lingkungan geologi pada saat pembentukan batuan sedimen. [4/4 15.25] Dewi Indria, S.Si: Kompaksi adalah proses pengurangan volume pada material sedimen yang terjadi ketika material tersebut mengalami penumpukan atau penimbunan oleh material lainnya. Proses ini terjadi karena adanya tekanan hidrostatik dan berat material di atasnya yang bertumpuk sehingga menyebabkan material sedimen terjepit dan terdesak. Proses ini merupakan tahapan penting dalam pembentukan batuan sedimen dan sering terjadi bersamaan dengan proses sementasi. Kompaksi dapat terjadi pada berbagai jenis material sedimen, seperti pasir, lumpur, dan batuan vulkanik. Ketika material sedimen tersebut mengalami penumpukan, maka material tersebut akan mengalami deformasi dan kompresi akibat adanya tekanan hidrostatik dan berat material di atasnya. Deformasi ini akan menyebabkan butir-butir mineral menjadi lebih rapat dan terdesak satu sama lain, sehingga volume dari material sedimen tersebut akan mengecil. Proses kompaksi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kandungan air atau kelembapan pada material sedimen, bentuk dan ukuran butir mineral, sifat material yang bertumpuk di atasnya, dan waktu penumpukan material sedimen tersebut. Dalam pembentukan batuan sedimen, proses kompaksi dapat membentuk batuan yang padat, keras, dan kuat seperti batu pasir, batu gamping, dan batupasir kuarsa. Secara umum, proses kompaksi dan sementasi seringkali terjadi bersamaan dan merupakan tahapan penting dalam pembentukan batuan sedimen. Proses ini juga dapat menjadi indikator yang baik untuk mengetahui kondisi lingkungan geologi pada saat pembentukan batuan sedimen. [4/4 15.27] Dewi Indria, S.Si: Rekristalisasi adalah proses terjadinya pertumbuhan ulang atau regenerasi kristal pada batuan, mineral, atau material lainnya setelah terjadinya deformasi atau perubahan suhu dan tekanan pada material tersebut. Proses ini umumnya terjadi pada batuan metamorf, meskipun juga dapat terjadi pada batuan beku dan batuan sedimen. Rekristalisasi terjadi ketika kristal-kristal yang telah terbentuk pada material tersebut mengalami deformasi atau rusak, sehingga memerlukan pertumbuhan kristal yang baru untuk memperbaiki atau menggantikan kristal yang rusak tersebut. Proses ini dapat terjadi secara alami, seperti pada batuan metamorf yang terbentuk akibat suhu dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan bumi, atau dapat juga terjadi karena pengaruh manusia, seperti pada logam yang ditempa atau dirolling. Proses rekristalisasi sangat penting dalam membentuk struktur dan tekstur pada batuan metamorf. Ketika batuan metamorf terbentuk akibat tekanan dan suhu yang tinggi, maka kristal-kristal pada batuan tersebut akan mengalami deformasi dan rusak. Kemudian, melalui proses rekristalisasi, kristal-kristal yang baru akan tumbuh untuk menggantikan kristal yang rusak tersebut, sehingga membentuk struktur dan tekstur yang berbeda pada batuan metamorf. Proses rekristalisasi dapat terjadi pada berbagai jenis mineral, seperti kuarsa, kalsit, garnet, dan mineral-mineral lainnya. Ketika terjadi rekristalisasi pada mineral tersebut, maka bentuk, ukuran, dan orientasi kristal yang baru dapat berbeda dengan kristal asalnya, tergantung pada kondisi lingkungan dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi proses tersebut. Secara keseluruhan, rekristalisasi adalah proses penting dalam membentuk struktur dan tekstur pada batuan metamorf, dan merupakan hasil dari interaksi antara suhu, tekanan, dan waktu pada material yang mengalami deformasi atau perubahan kondisi lingkungan. [4/4 15.28] Dewi Indria, S.Si: Litifikasi adalah proses pembentukan batuan sedimen melalui pengendapan dan konsolidasi bahan-bahan yang terbawa oleh air, angin, atau es. Proses ini terjadi dalam tiga tahap, yaitu pengendapan, kompaksi, dan sementasi. Tahap pertama, pengendapan, terjadi ketika bahan-bahan sedimen terbawa oleh air, angin, atau es dan kemudian terendapkan di tempat yang lebih rendah. Bahan-bahan sedimen dapat berupa butir-butir mineral, pecahan batuan, atau bahan organik seperti kerang atau cangkang. Tahap kedua, kompaksi, terjadi ketika lapisan sedimen di atasnya menimbulkan tekanan pada lapisan di bawahnya. Tekanan ini mengurangi volume dan mengurangi jarak antara butir-butir sedimen. Proses ini juga dapat menghilangkan sebagian air dan udara dari dalam sedimen. Tahap ketiga, sementasi, terjadi ketika bahan-bahan sedimen tersebut mengalami pengikatan dan mengeras menjadi batuan sedimen melalui pengendapan mineral, seperti kalsit, kuarsa, atau hematit. Proses ini dapat terjadi secara kimiawi atau mekanis, dan dapat membentuk batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, batu kapur, atau batu bara. Proses litifikasi memerlukan waktu yang lama, terkadang berjuta-juta tahun, dan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti suhu, tekanan, kelembaban, dan kandungan bahan-bahan mineral atau organik. Batuan sedimen yang terbentuk melalui proses litifikasi dapat memberikan informasi tentang lingkungan geologis dan kondisi paleoklimat pada waktu pembentukannya. [4/4 15.29] Dewi Indria, S.Si: Antigenesis adalah proses terjadinya perubahan pada batuan sedimen atau batuan metamorf melalui proses fisika dan kimia yang terjadi di dalam bumi, tanpa melalui tahap pencairan atau meleleh. Proses antigenesis terjadi karena adanya pengaruh tekanan, suhu, kelembaban, dan bahan kimia yang terdapat di dalam bumi. Proses ini dapat mengubah struktur mineral, ukuran butir, orientasi kristal, dan tekstur batuan, sehingga terbentuklah batuan metamorf seperti gneis, skist, marmer, dan lain-lain. Proses antigenesis dapat terjadi pada batuan sedimen atau batuan metamorf melalui beberapa cara, antara lain: Metamorfisme Kontak: terjadi ketika batuan sedimen atau batuan metamorf terkena panas yang tinggi dari batuan intrusi, seperti magma atau batuan beku. Metamorfisme Dinamik: terjadi ketika batuan sedimen atau batuan metamorf terkena tekanan dan gaya geser yang tinggi, seperti pada zona patahan atau zona subduksi. Metamorfisme Regional: terjadi ketika batuan sedimen atau batuan metamorf mengalami pengaruh tekanan dan suhu tinggi yang tersebar secara luas, seperti pada zona gunung api atau daerah orogeni. Metamorfisme Hidrotermal: terjadi ketika batuan sedimen atau batuan metamorf terkena cairan panas yang mengandung mineral, seperti pada daerah yang dekat dengan sumber air panas atau daerah yang mengandung mineral tambang. Proses antigenesis dapat memberikan informasi tentang kondisi geologis dan lingkungan yang ada pada waktu pembentukannya. Batuan metamorf juga dapat memiliki kegunaan ekonomis, seperti sebagai bahan bangunan, bahan tambang, atau sebagai bahan untuk seni dan perhiasan. [4/4 15.35] Dewi Indria, S.Si: These following sedimentary structures can be used as a marker for the upper part of the sedimentary layer, except ... Berikut ini struktur sedimen yang dapat digunakan sebagai penanda untuk bagian atas lapisan sedimen, kecuali... [4/4 15.38] Dewi Indria, S.Si: Berikut ini struktur sedimen yang dapat digunakan sebagai penanda untuk bagian atas lapisan sedimen, kecuali... A. Flute cast B. Load cast C. Bioturbation D. Lamination E. Flame structure Jawaban: C. Bioturbation Penjelasan: Struktur sedimen seperti flute cast, load cast, lamination, dan flame structure dapat digunakan sebagai penanda untuk bagian atas lapisan sedimen. Bioturbation, di sisi lain, terjadi ketika organisme seperti cacing, krustasea, dan moluska mengganggu dan mencampur sedimen, sehingga tidak dapat digunakan sebagai penanda untuk bagian atas lapisan sedimen [4/4 15.40] Dewi Indria, S.Si: Flute cast adalah struktur sedimen yang terbentuk di bagian bawah lapisan sedimen akibat arus yang bergerak secara kontinyu pada permukaan sedimen tersebut. Struktur ini terlihat seperti goresan panjang dan ramping yang menunjukkan arah aliran sedimen. Flute cast biasanya berukuran beberapa sentimeter hingga beberapa meter dan dapat ditemukan dalam lapisan sedimen berupa pasir atau kerikil. Proses pembentukan flute cast terjadi ketika arus fluida, seperti air atau angin, mengalir melewati permukaan sedimen. Arus tersebut membentuk alur yang berbentuk "V" di permukaan sedimen, kemudian sedimen di dalam alur tersebut tergerus dan terbawa arus. Ketika arus tersebut berhenti atau melambat, sedimen di dalam alur tersebut terendapkan kembali dan membentuk flute cast. Flute cast dapat digunakan sebagai petunjuk arah aliran sedimen dan arah pergerakan arus yang membentuknya [4/4 15.41] Dewi Indria, S.Si: Load cast adalah struktur sedimen yang terbentuk di bagian bawah lapisan sedimen akibat adanya beban atau tekanan yang dihasilkan oleh sedimen di atasnya. Struktur ini terlihat seperti tonjolan atau gulungan kecil yang berbentuk oval pada permukaan sedimen yang lebih lembut di bawahnya. Load cast biasanya berukuran beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter dan dapat ditemukan dalam lapisan sedimen berupa pasir atau lumpur. Proses pembentukan load cast terjadi ketika sedimen yang lebih berat menimpa sedimen yang lebih halus dan lunak di bawahnya. Beban atau tekanan yang dihasilkan oleh sedimen di atasnya memampatkan dan memindahkan sedimen yang lebih halus dan lunak, sehingga membentuk tonjolan atau gulungan kecil pada permukaan sedimen yang lebih lembut di bawahnya. Load cast dapat digunakan sebagai petunjuk adanya sedimen yang lebih berat atau lebih tebal di atasnya, dan dapat digunakan untuk memperkirakan ketebalan lapisan sedimen yang lebih tinggi. [4/4 15.42] Dewi Indria, S.Si: Bioturbation adalah proses aktivitas organisme hidup dalam endapan sedimen yang mengakibatkan terganggunya struktur sedimen awal. Organisme yang melakukan bioturbation dapat berupa binatang seperti cacing, udang, dan moluska, atau tumbuhan seperti akar-akar dan akar serabut. Kegiatan bioturbation dapat menghasilkan struktur sedimen yang berbeda-beda, tergantung pada jenis organisme dan cara mereka bergerak. Beberapa contoh struktur yang dihasilkan dari bioturbation antara lain adanya jalur-jalur atau lubang-lubang yang terbentuk akibat aktivitas boru binatang atau akar-akar tumbuhan yang menembus sedimen, serta adanya campuran antara lapisan sedimen yang berbeda akibat pergerakan organisme. Aktivitas bioturbation dapat memberikan informasi penting tentang lingkungan deposisi sedimen, karena pola aktivitas organisme ini dipengaruhi oleh sifat lingkungan fisik dan kimia. Sebagai contoh, beberapa organisme hidup cenderung hidup di daerah sedimen yang lebih kaya nutrisi atau yang memiliki [4/4 15.44] Dewi Indria, S.Si: Lamination atau laminasi adalah struktur sedimen berupa lapisan tipis yang terbentuk akibat pengendapan material sedimen yang seragam di atas satu sama lain. Laminasi biasanya terlihat jelas dalam batuan sedimen halus seperti lempung atau pasir halus. Laminasi juga dapat menjadi petunjuk umur suatu lapisan sedimen karena biasanya terjadi secara teratur di sepanjang lapisan sedimen dan dapat dibandingkan dengan lapisan serupa pada lokasi yang berbeda. Selain itu, pola laminasi dapat menunjukkan arah aliran air atau angin saat pengendapan sedimen terjadi. [4/4 15.50] Dewi Indria, S.Si: Benua-benua yang termasuk dalam Laurasia adalah: Eropa Asia Utara Amerika Utara (sebagian) Greenland (sebagian) Laurasia terbentuk pada zaman Paleozoikum dan awal Mesozoikum ketika benua super Pangea mulai pecah menjadi beberapa benua yang lebih kecil, termasuk Laurasia dan Gondwana. Pada awalnya, Laurasia terdiri dari benua-benua Eropa dan Asia Utara yang terpisah oleh Samudra Tethys yang sempit. Selama jutaan tahun, Laurasia terus bergerak dan mengalami perubahan bentuk hingga akhirnya memisahkan diri menjadi benua-benua yang ada saat ini. [4/4 15.50] Dewi Indria, S.Si: Teori dua benua (Two Continents Theory) adalah teori yang pertama kali diusulkan oleh ahli geologi Jerman, Alfred Wegener, pada tahun 1912. Teori ini menyatakan bahwa semua benua di Bumi dahulunya membentuk satu benua raksasa yang disebut Pangea, kemudian memisah menjadi dua benua besar yaitu Laurasia dan Gondwana pada era Mesozoikum sekitar 200 juta tahun yang lalu. Benua-benua tersebut kemudian terus bergerak menjauh hingga membentuk posisi saat ini. Teori dua benua didasarkan pada bukti-bukti seperti kemiripan bentuk pesisir dan lereng antara benua-benua yang terpisah jauh, kemiripan fosil dan sisa-sisa organisme di benua-benua yang terpisah, serta kesesuaian formasi geologi di seberang lautan. Namun, teori ini awalnya tidak diterima oleh mayoritas ahli geologi pada masanya, karena tidak memiliki penjelasan yang cukup tentang mekanisme pergerakan benua dan kekuatan apa yang mendorong pergerakan benua. Baru pada tahun 1960-an, dengan ditemukannya teori tektonik lempeng, teori ini akhirnya diterima sebagai sebuah fakta. [4/4 15.52] Dewi Indria, S.Si: Benua-benua yang terbentuk dari pecahan superkontinen Gondwana adalah: Afrika: Benua Afrika adalah benua terbesar kedua di dunia setelah Asia. Benua ini mencakup sebagian besar wilayah tropis dan subtropis di belahan dunia bagian selatan, termasuk padang pasir Sahara yang terletak di bagian utara benua. Amerika Selatan: Benua Amerika Selatan terletak di sebelah barat daya Benua Amerika dan merupakan benua keempat terbesar di dunia. Benua ini terdiri dari sebelas negara, termasuk Brasil, Argentina, dan Peru. Antartika: Antartika adalah benua yang terletak di Kutub Selatan dan dikelilingi oleh Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, dan Samudra Hindia. Benua ini adalah benua terdingin dan terkering di dunia, dan hanya dihuni oleh para ilmuwan dan staf penelitian. Australia: Benua Australia terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dan merupakan benua terkecil keenam di dunia. Negara Australia mencakup sebagian besar wilayah benua tersebut, sementara negara lain seperti Selandia Baru dan Papua Nugini terletak di dekatnya. India: Benua India terletak di sebelah selatan Benua Asia dan merupakan benua terbesar ketujuh di dunia. Benua ini terkenal dengan keindahan alamnya dan warisan budayanya yang kaya. Madagaskar: Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia dan terletak di lepas pantai Afrika Timur. Meskipun secara geografis bukan bagian dari benua Afrika, pulau ini dianggap sebagai bagian dari kelompok benua yang terbentuk dari pecahan Gondwana


Komentar
Posting Komentar