Trik Menulis Puisi Indah

Resume tujuh belas
Rabu 15 Februari 2023
Tema: Menulis Puisi
Nara Sumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd
Moderator: SIM Chung Wei, SP

Tips Menulis Puisi Indah

Andini harus berangkat untuk pelatihan kepenulisan di Batu Malang Jawa Timur. Karena keberangkatan nya kurang lebih 10 hari jadi Andini meminta tolong kepada Bu Hasanah untuk mengantikan sementara mengajar di sekolah nya.

Kasak-kusuk berita tentang adanya guru pengganti Bu Andini yang mengajar Bahasa Indonesia sudah terdengar sebelum keberangkatan Andini karena memang Andini sudah menjelaskan semuanya kepada siswanya tersebut bahwa dia akan mengikuti pelatihan selama 10 hari di kota Batu Malang, jadi akan ada guru penggantinya selama keberangkatannya.

Jumat pagi selesai kegiatan senam bersama, diumumkan kembali bahwa guru baru pengganti Bu Andini tersebut telah hadir disekolah. 

Kebetulan kelas XII IPA 1 jam pertama setelah senam pagi adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Bagas begitu antusias menunggu guru baru ini, dia duduk dengan gelisah, menanti kedatangan guru tersebut. Disampingnya Evridus duduk dengan santai sambil mengunyah permen karetnya.

”Kamu udah dengar enggak guru baru pengganti Bu Andini bakalan mengajar kelas kita pagi ini,” tanya Bagas.

”Udah ko, malah tadi aku ketemu ibunya di depan kantor,” jawab Evridus santai.

"Kira-kira galak gak orangnya, ya Ev," bisik Bagas yang duduk di kursi bersebelahan dengan Evridus.

"Kalo tadi aku lihat orangnya ramah banget, dan menyapa siapapun yang bertemu dengan beliau, penampilannya begitu anggun dan murah senyum, pastilah lemah lembut." sahut Evridus.

"Berarti, bikin adem. Enggak nyeremin." jawab Bagas.

Lagi asyik ngomongin orangnya, engga berapa lama sudah terdengar suara salam dari guru baru tersebut.

"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya!"

Sapaan dari ambang pintu membuat suasana kelas hening seketika. Semua pandangan mengarah pada sosok anggun yang tengah tersenyum ramah. Dengan tas laptop yang tertenteng di tangan kanannya sedangkan tangan kiri masih memegang pegangan pintu.

"Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." terdengar secara serempak jawaban salam dari seisi kelas.

"Itu Guru baru, anggun kan orangnya!" bisik Evridus. 

Bagas tak menanggapi. Pemuda itu terlalu fokus mengamati ibu guru yang tengah berjalan menuju meja guru.

"Bagaimana kabar semuanya? Semoga kalian sehat selalu ya, sehingga dapat mengikuti pelajaran hari ini dengan baik dan juga semangat," suara lembut mengalun dengan indah.

"Kenalan dulu, Buuuu!" seru seseorang dari barisan belakang.

"Ya, Buu. Tak kenal maka tak sayang." jelas Evridus.

"Belum kenal udah sayang kok bu."

"Hahaaaa ...."

"Hussh! baiklah Ibu akan memperkenalkan diri dulu dengan kalian semua. Nama Ibu E. Hasanah, biasa di panggil Bu Hasanah. Namun untuk kenal lebih dekat dengan ibu, kalian sebaiknya lihat bersama-sama biodata Ibu di tautan yang akan Ibu tampilkan berikut ini," Bu Hasanah membuka laptop lalu menyambungkan dengan proyektor sehingga siswa dapat menyimak dari layar bersama-sama.

Tampak pada layar proyektor sebuah tautan blog pribadi milik Bu Hasanah.

https://hasanahhalima.blogspot.com/2023/02/profil-e-hasanah.html

Anak-anak langsung saja membuka ponsel mereka dan melihat biodata Bu Hasanah tersebut.

”Wah keren, ternyata beliau seorang Doktor Ev, dosen STAI Kharisma dan juga Pengawas Madrasah Aliyah, sudah menghasilkan 2 buku solo dan 78 buah buku antologi.

"Ibu datang ke sekolah kalian untuk mengantikan Bu Andini yang lagi mengikuti pelatihan di Kota Batu Malang, kurang lebih selama 10 hari ke depan." tutur Bu Hasanah.

"Baik Bu?" jawab mereka serentak.

”Semoga ibu enggak galak ya Bu,” celetuk salah satu siswa yang duduk dibelakang.

”Nilainya jangan pelit ya Bu,” celetuk Evridus.

”Emang Bu Andini pelit ya sama nilainya,” tanya Bu Hasanah.

”Enggaaaak..,” jawab mereka serentak. Nampak Bu Hasanah tersenyum ramah.

"Oke, untuk mempersingkat waktu kita yang cuma beberapa hari ini maka ibu akan langsung mulai saja pembelajarannya, materi kita berkaitan dengan puisi karena Ibu Andini ada proyek bersama ibu dalam pembuatan 250 puisi karya sekolah kalian yang nanti akan dibuat dalam buku antologi, jadi akan kita mulai dari kelas ini.” jelas Bu Hasanah.

"Waah, emang bisa Bu?" Evridus antusias.

"Pasti bisa, sebab itu kita akan belajar lebih dulu bagaimana langkah-langkah menulis puisi yang baik, cantik, dan indah." Bu Hasanah menjelaskan dengan suara yang lembut sehingga semua siswa terhipnotis dan fokus memperhatikan beliau

"Ada yang sudah pernah menulis puisi?" tanya Bu Hasanah.

Gaduh sesaat, saling tunjuk dan kode-kodean dengan kedipan mata.

"Bagas dan Imro Bu, yang suka nulis." kata sebuah suara. 

Bagas dan Imro melebarkan matanya.

"Waah.., keren! yang mana Bagas dan Imro?" tanya Bu Hasanah. Bagas si ketua kelas merangkap ketua OSIS dengan wajah ganteng bak oppa-oppa Korea mengangkat tangan.

Begitu juga dengan gadis manis berkerudung panjang yang baru saja memperoleh juara fiksimini terbaik yang akan  dimuat dalam majalah sekolah pun ikut mengangkat tangannya.

"Saya, Bu." jawab mereka berbarengan.

"Wah jodoh nih, menjawab dan mengangkat tangannya bisa barengan juga, celetuk Evridus yang duduk di samping Bagas.

”Hahaha..,” suara tawa dan tepuk tangan pun terdengar riuh dari dalam kelas.

”Hussh.., tidak boleh mengejek doakan aja supaya beneran,” canda Bu Hasanah mengamati Bagas dan Imro yang memiliki wajah ganteng dan juga cantik tersebut.

”Aamiin,” jawab satu kelas serentak, yang dipelototi Bagas dan Imro menunduk malu.

Benar, suka menulis puisi?" Bu Hasanah tersenyum lembut ke arah Bagas dan Imro

"Hmm, yaa Bu, cuma saja juga senang bikin cerpen .... Nulis puisi buat tugas aja, Bu." jawab Imro ragu.

"Nah, itu artinya sudah menulis puisi dan bisa, dong!" Bu Hasanah memberikan acungan jempol sebagai apresiasi.

"Bagaimana dengan Bagas,” tanya Bu Hasanah.

”Hmm, Saya masih suka bingung mencari kata-katanya, Bu." kilah Bagas.

”Dia juara satu lomba puisi tingkat sekolah Bu,” celetuk Evridus.

”wah keren itu. Baiklah, Ibu akan membagikan beberapa tips dan trik agar puisi kalian lebih indah," jelas Bu Hasanah 

"Kita mulai, ya!" lanjut Beliau

"Baik Buuuuu."

Bu Hasanah mengawali materi dengan penjelasan mengenai pengertian puisi.

1. Pengertian puisi menurut KBBI

2. Pengertian puisi menurut ahli

"Sampai disini, ada yang mau bertanya?" Bu Hasanah mengedarkan pandangan kepada para siswa yang terlihat antusias. Bagas mengangkat tangan.

"Ciri-ciri puisi itu apa saja, Bu?" tanya Bagas.

"Baiklah Bagas, selanjutnya mari kita cermati bersama ciri-ciri puisi."

"Berikut ini adalah struktur puisi, ada baris atau bait, larik, diksi, majas, dan lainnya. Boleh disimak dulu!" lanjut Beliau.

Pada layar tampak penjelasan selanjutnya mengenai struktur puisi.

Struktur fisik puisi (unsur wujud):

1. Berbentuk baris/bait 

2. Diksi : pemilihan kata indah dan memiliki kekuatan makna

3. Majas : Bahasa kias untuk mengungkapkan isi hati penyair

4. Rima : persamaan bunyi di baris atau di akhir baris untuk memunculkan keindahan bunyi.

”Puisi itu ada berapa jenis Bu?” tanya Imro.

”Jenis Puisi secara umum ada dua, yaitu :

I. Puisi lama. 

Puisi ini masih terikat aturan-aturan tentang jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, persajakan/rima dan banyaknya suku kata dalam tiap baris.

Ciri-ciri Puisi lama :  

Tidak diketahui nama penulis atau pengarangnya 

Merupakan sastra lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut

Begitu terikat aturan. Misalnya jumlah kata dalam tiap baris. 

 

 

Jenis-jenis Puisi Lama : 

Mantera, Ucapan-ucapan yang memiliki kekuatan gaib

Pantun, adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b

Seloka, pantun yang berkait atau bertautan

Talibun, yaitu pantun genap yang setiap barisnya terdiri dari 6, 8 atau 10 baris. 

 


II. Puisi Baru. Puisi ini tidak terikat oleh aturan. Bentuknya lebih bebas dari puisi lama.

Ciri-ciri Puisi Baru :

Memiliki bentuk yang rapi atau simetris

Persajakan akhir yang teratur 

Menggunakan pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain

Sebagian besar bait dengan empat baris atau empat untai

Jenis Puisi Baru :

Balada, yaitu Puisi berisi kisah atau cerita

Himne, yaitu puisi pujaan untuk menghormati Tuhan, seorang pahlawan ataupun tanah air

Ode, yaitu puisi sanjungan untuk orang yang berjasa

Epigram, yakni puisi yang berisi ajaran hidup

Romansa, puisi yang berisi luapan hati atau cinta kasih

Elegi, puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan

Satire, yaitu puisi yang berisi sindiran maupun kritik. 

Puisi semakin berkembang. Perubahan bentuk dan isi bisa disesuaikan dengan selera. 

Saran ibu untuk penulis puisi pemula, tulis saja menggunakan kata-kata atau diksi yang nyaman dan enak di hati.” jelas Bu Hasanah panjang lebar.

"Sebetulnya menulis puisi itu sekarang mengikuti perkembangan dan perubahan bentuk dan isi sesuai perkembangan selera. Apalagi untuk pemula, nulis saja menggunakan kata-kata atau diksi yang enak di hati." papar Bu Hasanah.

"Bagaimana agar puisi terlihat inda dibaca Bu?” tanya Evridus.

”Penekanan pada segi estetika dan penggunaan diksi, Rima, majas itu akan mempengaruhi keindahan puisinya." jelas Bu Hasanah.

"Bu, izin bertanya!" seru Bagas seraya mengangkat tangan.

"Silakan!"

"Contoh puisi kontemporer itu yang seperti apa, Bu?"

"Baiklah Bagas, contohnya seperti puisi akrostik, puisi patidusa, puisi telelet, dan puisi 2.0."

"Bu, bertanyaaa!" Imro pun mengangkat tangan.

"Silahkan Imro!"

"Tentang pemilihan kata dan diksi, untuk puisi, Bu bagaimana tips dan triknya biar bisa indah."

"Oh, iya. Biasanya  Ibu akan kumpulkan dulu kata-kata indah. Misalnya menemukan kata Bagaskara kata lain untuk matahari atau mentari. Bimantara untuk langit."

"Bu, kalau memilih diksi yang tepat itu bagaimana?" Bagas bertanya lagi.

"Cara menentukan diksi yang tepat dalam puisi itu harus memperhatikan ketepatan kata dengan makna, kebenaran, kecermatan, keserasian kata, dan kelaziman digunakan dalam puisi." tutur Bu Hasanah.

Terlihat siswa mulai mengangguk-angguk, kemungkinan mulai memahami apa yang sudah disampaikan Bu Hasanah.

”Ibu akan kasih tantangan untuk kalian, silahkan kalian buat puisi dengan tema Mengejar Mimpi,” 

Kelas kembali riuh dengan keluhan dan sahut-sahutan perasaan masing-masing siswa.

"Susah mulainya."

"Bingung.

"Ihh, galau."

"Perasaanku tak karuan ...."

"Udah dapat berapa baris, Ev?" Bagas melirik Evridus disebelahnya.

"Kertas masih kosong, tapi di kepalaku penuh dengan kata yang susah untuk ku ungkapkan, bagaimana dengan kau yang juara satu puisi?" jawab Evridus dengan wajah tengilnya.

"Isshhh!" Bagas mendengus sebal.

Senyum Bu Hasanah masih mengembang, bangga dengan antusias siswa akan materi yang disampaikannya. Beliau optimis jika semangat anak muda seperti mereka tetap dipupuk, literasi bangsa akan terus meningkat.

Mengapai Mimpi Meraih Asa

Ku langkahkan kaki kecil di trotoar panas ini

Tuk mengejar mimpi akan masa depan 

Walau tetes keringat mengalir diantara pelipis pipi

Takkan pernah menyurutkan langkah ku tuk meraih cita masa depan


Terimakasih atas ilmu baru yang begitu menginspirasi.
Kuala Pembuang, Selasa 14 Februari 2023
Salam manis,
Dewi Indria, S.Si

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resum pertemuan 1 KBMN PGRI angkatan 28

Resume pertemuan ke 7 KBMN PGRI 28

Soal KSTK KEBUMIAN 2020