Ayo Proofreading Dulu


Resume dua belas
Jumat 03 Februari 2023
Tema: Proofreading sebelum menerbitkan tulisan
Nara Sumber: Susanto, S.Pd
Moderator: Helwiyah, S.Pd., M.M

Setelah selesai mengajar Andini mencari Yulia, namun ternyata tu anak engga ketemu dimanapun, akhirnya Andini menelponnya. 

Assalamualaikum, Yul kamu dimana?” tanya Andini.

Walaikumsalam, Aku di perpus, ada apa?” tanya Yulia.

”Kemaren beberapa naskah yang sudah dikumpulkan anak-anak apa sudah di edit, soalnya aku tidak paham karena itu bagianmu,” tanya Andini.

”Belum, tidak ada anak-anak yang memberikan naskahnya padaku,” jawab Yulia.

”Oke aku ke perpus, kamu tunggu ya, aku mau sholat asar dulu di ruang UKS,” jawab Andini.

”Ya.” jawab Yulia.

”Assalamualaikum,” salam Andini, mengakhiri pembicaraan mereka.

”Walaikumsalam,” jawab Yulia. 

Andini segera bergegas menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan ruang UKS dan segera melaksanakan sholat asar di dalam ruang berukuran 4x5 m2 yang didominasi warna putih. Kebetulan ruang itu belum dikunci jadi Andini bisa melaksanakan sholatnya di sana tanpa harus ke masjid sekolah yang lumayan jauh dari bangunan induk sekolah. 

Andini masuk dengan melepas sepatu pantofel hitamnya dan berjalan masuk ke dalam yang terdapat empat ranjang ukuran single dengan tirai di kiri kanannya sebagai pembatas. Terdapat lemari obat dan juga kulkas kecil. 

Andini melaksanakan sholat asar di pojok ruangan yang beralaskan karpet berwarna merah. Selesai sholat Andini segera menuju ke perpustakaan sekolah dengan tas ransel hitam di punggungnya yang penuh dengan berkas-berkas naskah untuk pembuatan majalah sekolah. 

Perpustakaan tersebut berada paling ujung dari seluruh bangunan yang dikelilingi taman bunga lavender, sehingga ketika berada di sana suasana tenang dengan aroma lavender membuat betah siapa yang berada di dalamnya.

Andini berjalan melewati lorong kelas yang mulai sepi karena sebagian besar penghuni sekolah sudah mulai pulang mengingat hari sudah mulai sore.

Sesampainya di perpustakaan, Andini langsung masuk dan duduk di depan Yulia yang tampak asyik mengetik. Dan tak menyadari kedatangannya.

”Assalamualaikum Yul, asyik banget, sampai kehadiranku pun kau tak tampak,” canda Andini.

Walaikumsalam sayangku, maaf aku lagi fokus mengedit naskah novel ku, sudah ditunggu penerbit jadi engga bisa santai-santai” jawab Yulia sambil tersenyum.

”Duh sang novelis, kalau dah nulis novel asyik banget deh, sampai lupa teman,” goda Andini.

”Maaf say, namanya juga nulis ya harus fokus dong,” jawab Yulia dengan cengengesan.

”Berarti novel yang ketiga ya, dah sampai mana?” tanya Andini.

”alhamdulillah, dah proses proofreader, penerbit dah nagih, deadline nya dua minggu lagi,” jelas Yulia.

”Nah kebetulan nih sekalian kau proofreader naskah yang sudah masuk, karena aku sama sekali engga paham,” Andini mengangsurkan map berwarna biru yang sedari tadi berada dalam tas ranselnya.

Sesaat Yulia menimbang-nimbang bundelan tebal naskah yang dibawa Andini. Belum dibuka, hanya membolak-balik saja sambil sesekali  melirik sahabatnya. 

Lalu berucap ”Malas, kerjaan ku banyak nih, bisa ajakan kamu minta April, karena dia juga udah belajar editor,” jawab Yulia dengan menampilkan wajah serius namun sebenarnya bercanda.

”Lah, kamu tau sendiri April cuti melahirkan, apa tega kamu nyuruh dia buat proofreading nih naskah, mana sempat dia ngurus yang beginian. Lagian kemaren ku dengar dia juga menyuruh Bagas untuk menyiapkan naskah tambahan dua bahasa,” jelas Andini.

"Apa sebaiknya kamu belajar proofreading juga, jadi saat aku sibuk kamu bisa bantu-bantu, kalau nyuruh anak-anak masih belum bisa diandalkan semuanya, sedangkan anggota kita yang guru, baru Andi dan Mini mereka masih belum paham dalam dunia menulis,” jelas Yulia.

"Aku enggak sepercaya diri itu buat swasunting sendiri.” keluh Andini dengan wajah memelas. 

"Bukannya Kamu sudah menghasilkan berbagai macam karya fiksi dan non fiksi, itu menandakan ilmu tentang kepenulisan mu udah keren. Lebih keren lagi kalau Kamu bisa proofreader tadi."

”Ilmu tentang tata bahasaku minim banget," jelas Andini.

"Hihi .... makanya Kamu harus belajar self editing! biar ada kepuasan tersendiri. Alur cerita yang kamu inginkan enggak terkontaminasi, kalau aku sibuk gini dan tegang waktunya berbarengan harus disegerakan, maka satu-satunya cara kamu juga harus belajar kan" Yulia menjelaskan dengan gaya santainya.

Saat asyiknya mereka berdebat, tiba-tiba Bagas dan Evridus datang menghampiri.

”Assalamualaikum Bu,” sapa Bagas.

Selamat sore Bu,” sapa Evridus.

Mereka menoleh ke arah pintu masuk, nampak Bagas dan Evridus berdiri dengan masih menggunakan seragam putih abunya. Andini dan Yulia menjawab salam mereka. 

”Walaikumsalam Bagas, sore Evridus. Kalian belum pulang?” jawab Andini dan Yulia berbarengan.

”Ada apa ke sini?” tanya Andini.

"Duduk dulu!" Yulia menepuk kursi kosong yang berada disisi kiri kursinya.

”Terima Kasih Bu,” jawab Bagas dan Evridus, masuk ke dalam perpustakaan.

Bagas dan Evridus duduk di kursi yang tadi ditepuk Yulia. Bagas menyerahkan map coklat yang sedari tadi dia kepit di tangan kanannya.

”Belum Bu, kami tadi nyari Bu Andini karena mau menambahkan beberapa naskah dalam majalah sekolah kita yang kemaren diminta Bu April. Beliau meminta untuk menambahkan Artikel pengetahuan umum yang disajikan dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, kebetulan kami sudah translate yang dibantu Mr. Baim,” jelas Bagas.

”Kapan kamu ketemu Bu April?” tanya Yulia.

”Kemaren beliau nelpon saya Bu,” jawab Bagas.

Andini mengambil map coklat tersebut dan mulai membaca isi didalamnya. Kemudian dia berkata kepada Bagas.

”kerena Bu April masih cuti dan Bu Yulia lagi sibuk, kalian kan anggotanya Bu Yulia dalam bidang publikasi, editing dan plagiarisme. Apa kamu bisa bantu ibu proofreading naskah yang ada?” tanya Andini.

”Tapi saya belum belajar proofreading Bu,” jawab Bagas dan di anggukkan Evridus.

”Ibu yang akan mengajarkan kalian, jadi nanti bisa bantu Bu Andini, karena saat ini ibu lagi di kejar target naskah novel ibu, jadi engga ada waktu lagi untuk proofreading naskah majalah kita, karena Bu April juga masih cuti melahirkan,” jelas Yulia.

"Baik Bu," jawab Bagas dan Evridus.

Yulia langsung membalik laptopnya dan mengarahkan kepada Andini, Bagas dan Evridus.

"Kebetulan Ibu pernah mengikuti materi tentang Proofreading sebelum menerbitkan tulisan. Narasumbernya Pak Susanto, S.Pd." 

Yulia menggerakkan jemari, menggulirkan mouse untuk mencari materi yang sudah dia simpan sebelumnya.

"Wiih, ini kalimatnya keren banget, Yul! siapa yang bikin?" seru Andini antusias.

Bagi pemikir, buah pikirnya hanya akan bersemayam dalam pikiran jika tak diucapkan dan ditulis 

Bagi pembicara, pembicaraannya hanya akan menguap lewat suara bila tak dituliskan

Bagi penulis ,tulisannya akan tersimpan dalam catatan jika tak dipublikasikan.

Bagi penulis media, tulisannya akan tertimpa materi tulisan lain jika tak dibukukan

Maka, ucapkan dan tuliskan yang ada dalam pikiran.

 Publikasikan dan bukukan apa yang sudah ditulis.,agar banyak orang yang dapat membacanya.

Abadi dalam bentuk kumpulan buah pikiran yang tertulis dan tersusun rapi dalam sebuah buku.

"Ini tulisan Bu Helwiyah, moderatornya." jawab Yulia setelah membaca kalimat pembuka dari moderator yang dia simpan di laptop sebagai penyemangat nya untuk selalu berkarya.

”Pesertanya penulis semua ya bu?" tanya Bagas semakin antusias.

"Sepertinya iya. Tujuan utamanya kan, pengen bisa menulis. Setelah itu, tulisan kita bisa dibukukan biar dibaca banyak orang."

"Diajarin semuanya?" tanya Evridus.

”Betul banget,” jawab Yulia.

”Kenapa kau tak mengajak ku Yul ikut pelatihan ini?” tanya Andini.

”Bukannya aku sudah mengajakmu waktu itu tapi kau sendiri bilang bukan bidangmu.” jelas Yulia.

”Benarkah?” tanya Andini yang langsung dia jawab sendiri pertanyaannya tersebut. ”menyesal sekali aku kenapa tidak ikut materi ini, ternyata keren banget narasumber nya, engga kaleng-kalengan orang nya,” jelasnya dengan wajah cemberut.

”Sudah kita belajar aja lagi sama-sama, malu tuh wajah dilihat Bagas dan Evridus, jelek banget.

Bagas dan Evridus tersenyum malu melihat perdebatan dua guru favorit mereka. Andini nyengir saja dengan teguran dari Yulia.

Yulia menarik lengan Andini mendekat agar sahabatnya dapat ikut membaca dari layar laptopnya. Tanpa menghalangi kedua siswa yang juga ikut belajar bersama mereka. Mereka mulai asyik membaca biodata narasumber.

Susanto, S.Pd biasa disapa Pak D. Beliau seorang pendidik, blogger aktif, dan pemateri. Sekarang bertugas sebagai guru kelas di SDN. Mardiharjo. Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan. Pak D adalah alumni kelas BM gelombang 15.

https://blogsusanto.com/kalimatmu-kepanjangan/

"Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia. Hmm .... pantas saja tulisan di blog beliau sebagus itu." gumam Andini sesaat setelah membuka tautan blog milik narasumber di HP setelah melihat link tersebut di laptop Yulia.

"Tanpa cela dan enak dibaca, kan." imbuh Yulia.

"Iya benar, padahal aku juga guru bahasa Indonesia, tapi rasanya masih kalah jauh dari beliau,” Jawab Andini.

Makanya ayok kita lanjutkan apa tips dan triks biar kita bisa jadi proofreading yang baik." lanjut Yulia. Sahabatnya mengangguk setuju. Dan kedua siswa masih asyik, menyimak.

Merekapun kembali konsentrasi memperhatikan tulisan yang dijelaskan Pak D. Kali ini, ada juga tautan blog yang memuat salah satu resume materi proofreading yang secara sengaja Beliau bagikan. Resume tersebut milik Pak Ahmad Fatch.

https://ahmadfatch.blogspot.com/2022/09/belajar-cara-menulis-pgri-gelombang-ke_19.html?m=0

"Kalau sampai didokumentasikan berarti resumenya keren banget, nih, Yul." ujar Andini. Yulia mengangguk, kemudian Andini segera membuka link tautan tersebut melalui HP nya.

"Aku bacain ya, biar kita paham bareng-bareng!" kata Yulia yang disetujui oleh Andini, Bagas dan Evridus.

"Aku bacain pengertian Proofreading dari Pak D aja, Beliau mengutip dari laman uptbahasa.untan.ac.id Proofreading adalah proses peninjauan kembali sebuah teks dilihat dari aspek kebahasaan dan penulisannya. 

Tujuannya adalah guna mengecek kembali bahwa teks atau esai yang akan diserahkan sudah bebas dari kesalahan pengetikan (typo), kesalahan ejaan, kesalahan grammar, atau kesalahan-kesalahan mendasar lainnya."

"Hmm .... hampir sama sih, dengan pengertian Proofreading yang diungkapkan oleh Pak Ahmad Fatch di blognya itu," lanjut Andini dengan mata yang menatap ke layar HP nya namun telinga masih menyimak penjelasan Yulia tersebut.

"Intinya membaca ulang, memeriksa tulisan untuk meminimalisir kesalahan pada saat kita menulis sebelum dipublikasikan atau dicetak dalam bentuk buku. Gitu, ya bu?" tanya Bagas.

"Yup, betul sekali kamu Bagas,” puji Yulia.

”ibu mau membacakan resumenya Pak Ahmad Fatch ya!" jelas Andini, yang disimak oleh Yulia, Bagas dan Evridus.

Kembali Andini membaca uraian materi selanjutnya dengan suara nyaring.

”Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Proofreading sebagai berikut:

1. Apakah sebuah kalimat efektif atau tidak?

2. Susunannya sudah tepat atau belum?

3. Substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak?

"Ngerti kan? alasan mengapa kita harus melakukan proofreading, tadi sudah kamu ungkapkan." Yulia melirik sahabatnya, Andini mengangguk.

"Sebaiknya, kapan kita harus melakukan proofreading itu, Bu?" tanya Evridus.

"Hmm .... Pak D mengungkapkan bahwa Setelah tulisan 'jadi' langkah selanjutnya adalah melakukan swasunting atau self editing--" Yulia berhenti sejenak baru melanjutkan kalimatnya.

"Nuliiis dulu sampai kelar, baru proofreading. Enggak langsung saat itu juga, sih. Kata Pak D endapkan dulu beberapa jam, baru membaca ulang naskahmu." jelas Yulia.

”ijin bertanya bu, apakah proffreading ini suatu tahapan wajib setelah kita melalui tahap editorial? Bukannya di layar komputer itu susah ada tanda jika tulisan kita tidak sesuai KBBI ya?” tanya Evridus.

”Apakah proofreading ini sesuatu tahapan wajib setelah kita melalui tahap editorial? Jawabnya, Iya. Kita menulis laptop menggunakan keyboard, di tablet atau hape pun menggunakan keyboard. Mungkin KBBI-nya tepat akan tetapi, karena tanpa sengaja tombol tertentu, misalnya spasi, ikut tersentuh, melompat satu huruf dong. Misalnya begitu, paham?” jelas Yulia.

”iya paham Bu,” jawab Evridus.

"Pak D ngasih gambar alur proofreading, sama beberapa tautan. Nih, lihat!" lanjut Yulia.

"Pak D juga bilang bahwa Alat yang digunakan untuk membantu kita melakukan proofreading, tentu saja KBBI dan PUEBI yang sejak 16 Agustus 2022 diganti dengan EYD. Ketetapan itu merujuk pada Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Untuk lebih lengkapnya kita dapat mempelajari sendiri dari laman https://ejaan.kemdikbud.go.id/ ." jelas Yulia.

Mereka kemudian larut dalam keasyikannya membaca materi yang disampaikan oleh Pak Susanto. Bersahutan, menyetujui, ataupun sekedar mengangguk.

"Selain menyesuaikan dengan EYD, Pak D juga memberikan saran jika proofreading dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi google doc. Kalau naskah kita tersimpan di MS. Word. Ada tautannya nih, yuk kita lihat bentar!" jawab Andini dan kemudian langsung membuka laman tersebut di HP nya kembali.

https://www.techtoolsforwriters.com/hemingway-app-a-proofreading-tool-for-writers/

https://www.youtube.com/watch?v=tZZgrv5-JXo

https://blogsusanto.com/belajar-langsung-praktik-menulis-cerpen-bagian-3-narasi-dan-dialog/

"Bu, apa perbedaan editor yang ada di penerbit itu sama proofreding?" tanya Bagas 

"Pak D mengatakan jika Editing, orangnya disebut editor, memeriksa lebih dari itu. Untuk penerbit Mayor. Editor menyesuaikan dengan misi perusahaan penerbitan, standar tulisan. Proofreading melakukan uji baca pada tulisan. Gitu Gas," jelas Yulia dan di anggukan Andini dan Evridus.

"Yul, ada enggak urutan pastinya dalam melakukan Proofreading? selain membaca ulang tulisannya?" tanya Andini.

"Ada dong. Kita harus balik lagi ke blog Pak Ahmad Fatch, tadi emang engga kamu baca habis ya?" tanya Yulia.

Andini nyengir kuda, dan tersenyum malu.

”Aku cuma baca sekilas aja,” jawab Andini.

”Kau ini, budayakan lah literasi jangan cuma kau nyuruh murid kau aja yang baca, tapi gurunya sendiri malas baca, malu lah kau sama Bagas dan Evridus,” omel Yulia dengan logat Batak.

Bagas dan Evridus tersenyum malu-malu, melihat kelakuan konyol kedua gurunya.

”Lah kau sendiri mempermalukan aku didepan mereka, malu lah aku,” balas Andini dengan logat Bataknya juga.

Akhirnya mereka tertawa bersama, karena celoteh riang Andini dan Yulia. Begitulah kekonyolan dua guru ini yang selalu ceria dan tak ada kesan formal kepada siswa sehingga mereka menjadi guru favorit anak-anak karena begitu dekat dan santainya mereka, sehingga anak-anak merasa diperlakukan seperti teman.

Mereka kembali mengamati tulisan Ahmad Fatch yang di buka Yulia di laptopnya.

Langkah dalam melakukan proofreading? 

Merevisi draf awal teks. Membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan, atau menghapus seluruh bagian.

Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa, dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.

Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.

mengecek ejaan. Ejaan yang kita tulis harus merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit.

"Hmm, baiklah Aku paham." gumam Andini.

"Selain typo adakah ciri-ciri lain kalimat tidak efektif sehingga tulisan kita renyah dibaca?” tanya Evridus.

”Ada. Pedomani EYD untuk penggunaan tanda baca dan tentu saja kosa kata. Kalau kalimatnya muter-muter dengan kosa kata yang itu-itu saja, akan membosankan dan membuat kalimat tidak efektif,” jelas Yulia, dan sejenak menarik nafas nya.

”Ilmu menulis, diterapkan ketika menulis, misalnya satu paragraf satu ide pokok. Selebihnya, memainkan kosa kata menjadi kalimat yang enak dibaca. Sedangkan tata bahasa, aturan EYD, digunakan setelah tulisan selesai.” jelas Yulia panjang lebar.

"Naaah, gitu. Mau belajar Proofreading sendiri, kan?" Yulia tersenyum ke arah Andini, Bagas dan Evridus. 

”Paling tidak ketika kalian nanti punya karya sendiri, kalian sudah paham bagaimana mem proofreading karya dan naskah kalian sendiri, terutama saat seperti ini, karena aku banyak kerjaan,” jelas Yulia sambil nyengir. 

”modus kau Yul, sebenarnya itukan kerjaan kamu, tapi apalah daya aku juga tidak tega melihatmu dengan kantong panda mu itu, terlihat sekali kau stress dan banyak bergadang, sebagai sahabat setia sepenanggungan maka aku akan belajar dan menyerahkan tugas ini dulu kepada Bagas dan Evridus!” Andini tersenyum lebar.

”Emang kalian sudah paham?” tanya Yulia pada Bagas dan Evridus.

”Insya Allah sedikit paham Bu, nanti akan kami bantu namun tetap perlu arahan dari ibu berdua,” jelas Bagas yang dianggukkan oleh Evridus.

”Kalian memang kesayangan ibu, yang selalu mengerti kami,” jelas Andini dengan senyuman.

”Oke ini naskahnya, jadi kalian baca pelan-pelan dan kalau ada kesalahan bisa kalian lingkari dan tanyakan kepada kami.” jelas Yulia dengan menyodorkan bundelan naskah yang tadi sudah diserahkan Andini kepadanya.

Tak terasa jam, sudah menunjukkan pukul 16.30 wib jadi mereka segera pulang dan Yulia mengunci pintu perpus yang tadi dia pinjam dengan pengurus perpus sekolah.


***

Semoga majalah ini nantinya selalu memberikan kebaikan untuk semua orang dan jadi ladang pahala untuk kita, aamiin,” jelas Andini.

Tiba-tiba Andini teringat bagaimana perjuangan awal mereka untuk bisa membuat majalah sekolah ini........











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resum pertemuan 1 KBMN PGRI angkatan 28

Resume pertemuan ke 7 KBMN PGRI 28

Soal KSTK KEBUMIAN 2020