Buku Solo Non Fiksi, Siapa Takut!
Sebenarnya saya hampir mau menyerah, karena awalnya keinginan saya bisa menyelesaikan resume ini dalam bentuk fiksi yang bisa terus terhubung menjadi benang merah ternyata agak lah sulit ketika hati dan pikiran kita tidaklah fokus, namun tetap dituntut untuk terus bergerak maju.
Rehat sejenak ternyata juga belum bisa membuat kita fokus dan menekan ide baru. Namun ketika membuka pesan WhatsApp di KBMN, muncul kembali kata-kata motivasi Om Jay MENULISLAH SETIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI. Kalimat ini menjadi booster untuk jiwa yang hampir menyerah ini.
Malam ini tak terasa sudah hampir di pertengahan jalan, malam ke 14 untuk kembali menyimak materi yang sangat penting terutama bagi guru seperti saya yang lebih suka menulis fiksi ketimbang non fiksi.
Materi tentang konsep buku non fiksi dengan narasumber keren Ibu Musiin, M.Pd dengan moderator cantik Yendri Novita Sari, S.Pd.
Acara malam ini dibuka dengan salam dari moderator kita, ibu Yendri.
Assalaamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Selamat malam bapak ibu se nusantara. Bagaimana kabarnya Bapak Ibu hebat? Semoga nikmat kesehatan selalu tercurahkan untuk bapak ibu yang tergabung dalam KBMN 28. Aamiin Allahumma Aamiin.
Beliau mengatakan bahwa Tidak terasa kita telah memasuki pertemuan ke-14 dari 30 pertemuan. Hal ini berarti beberapa gerbang lagi akan mengantarkan bapak ibu menuju *terbitnya buku solo.*
Ada beberapa yang saya stalking sudah memiliki banyak buku solo dan juga antologi. Bisa dikatakan gelombang KBMN 28 tempat berkumpulnya para suhu. Dan saya yakin dan percaya gelombang KBMN 28 akan melahirkan lulusan terbanyak dari peserta KBMN sebelumnya.
Bu Yendri menjelaskan Energi positif saling belajar dan antusias dari peserta KBMN 28 sangat luar biasa. Tentunya akan banyak terbit karya buku solo yang tak kalah hebatnya. Semoga saja, Aamiin.
Kepintaran dalam mengemas isi buku tentu menjadi poin penting, bertujuan agar buku yang dihasilkan menjadi bermakna di setiap lembarannya.
Jika kita berbicara tentang buku, maka penulis harus mengetahui bagaimana konsep buku yang akan ditulis. Selain memiliki tujuan dan manfaat, konsep buku juga menjadi strong why penulis agar karya buku yang sedang digarap bisa tuntas baik berupa buku fiksi maupun buku nonfiksi.
Jadi bagi seorang penulis mengetahui konsep buku sangat penting karna berkaitan dengan pola yang akan memudahkan proses penulisan buku Bapak Ibu. Hal ini juga agar Bapak Ibu terhindar dari kemandekan ide atau bahasa kerennya terhindar dari virus writer's block. Ternyata inilah yang baru saja saya alami, mati ide dan hampir menyerah ditengah jalan. Namun sekali lagi kata-kata Omjay selalu menyadarkan saya untuk selalu bangkit kembali dan tak mudah menyerah.
Karena besar sekali harapan saya bisa melahirkan 2 buku solo fiksi dan non fiksi dari resume yang dibuat, semoga semua ini bisa terealisasi, namun semuanya harus dilakukan dengan usaha, kerja keras dan yang pasti juga doa.
Pertemuan malam ini begitu sangat penting karena kita akan mengupas materi tentang *Konsep Buku Nonfiksi* bersama Ibu Musiin, M.Pd dengan panggilan akrab Bu Iin beliau merupakan guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri kelahiran Kota Tahu Takwa Kediri.
Bu Iin juga merupakan peserta KBMN gelombang 8 yang berhasil duet dengan Prof. Eko Indrajit, karya buku mayor beliau berjudul *Literasi Digital Nusantara Meningkatkan Daya Saing Generasi Muda Melalui Literasi.*
Selain menjadi penulis, beliau juga Founder Organisasi Swadaya Masyarakat YAPSI dan juga Founder PT In Jaya.
Kemudian juga tidak kalah hebatnya, alumni IKIP Negeri Malang ini juga berhasil menempuh Short Course di SEAMEO RELC di Singapura pada tahun 2015.
Woow.. ternyata beliau Narasumber multitalenta.. keren. Ini sekilas tentang biodata narasumber kita malam ini.
Moderator kita ternyata berasal dari Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Pesisir Selatan. Jika bapak ibu berkunjung ke daerah saya, maka mata akan dimanjakan dengan panorama pantai di sepanjang jalan, wah sama persis seperti tempat saya.
Bu Yendri juga merupakan peserta di KBMN gelombang 25-26 bersama kakak Purbaniasita, Koko Sim Chung Wei, dan lainnya.
Lanjut dengan materi yang akan di sampaikan oleh Bu Iin mengenai pengertian tulisan nonfiksi. menurut beliau tulisan ini bersifat objektif dan berbasis data dan fakta. Bahasa yang digunakan juga bersifat denotatif, apa adanya.
Ini merupakan contoh-contoh tulisan nonfiksi.
Menurut Bu Iin beliau tidak pernah bermimpi untuk bisa menulis buku, namun ternyata kelas menulis Om Jay menjadi pembuktian bahwa TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN. Kata Prof Rhenaldi Kasali, kalau kita berpikir secara Opportunity Based, kita akan selalu yakin ada pintu di tengah tembok rintangan. Seperti nasihat Om Jay “Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi.”
Bu Iin merupakan alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8, beliau juga mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis yang diberikan Prof. Eko. Sembilan orang angkatan beliau telah berhasil menaklukkan tantangan menulis Prof Eko dan buku yang telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Yang berjudul Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi. Semoga juga kami bisa menyelesaikan tantangan ini sama seperti ini ibu dengan judul Teaching Soft Skills.
Menurut Bu Iin ketakutan dalam menulis berasal dari diri kita sendiri, sehingga kita harus bisa mengalahkan ketakutan diri kita, karena dengan begitu kita bisa melihat potensi luar biasa dalam diri kita sendiri. Karena ketakutan itu ternyata merendahkan potensi kita untuk menulis.
Ada beberapa ketakutan yang biasa dirasakan ketika menulis buku adalah sebagai berikut:
1. Takut tidak ada yang membaca.
2. Takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan.
3. Merasa karya orang lain lebih bagus.
Namun abaikan semua itu, karena kita tidak akan pernah bisa kalau kita cuma terfokus pada 3 hal yang hanya membuat kita tidak akan pernah bisa maju
Berkaitan dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:
1. Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)
Contoh: Buku Pelajaran
2. Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.
Contoh: Buku Panduan
3. Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara)
Proses penulisan buku nonfiksi terdiri dari 5 langkah, yakni
1. Pratulis
2. Menulis Draf
3. Merevisi Draf
4. Menyunting Naskah
5. Menerbitkan
Beberapa Langkah Pertama Pratulis
1. Menentukan tema
2. Menemukan ide
3. Merencanakan jenis tulisan
4. Mengumpulkan bahan tulisan
5. Bertukar pikiran
6. Menyusun daftar
7. Meriset
8. Membuat Mind Mapping
9. Menyusun kerangka
Tema bisa ditentukan satu saja dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll.
Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya
1. Pengalaman pribadi
2. Pengalaman orang lain
3. Berita di media massa
4. Status Facebook/Twitter/Whatsapp/ Instagram
5. Imajinasi
6. Mengamati lingkungan
7. Perenungan
8. Membaca buku
9. Survey
10. Wawancara
Artinya, kita tidak akan bisa menulis dengan bagus, jika kita tidak pernah membaca dan mengupdate pengetahuan kita.
Referensi berasal dari data dan fakta yang saya peroleh dari literasi di internet.
Referensi penulisan buku bisa dari sumber berikut ini.
1 . Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
2. Keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
3. Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;
4. Penemuan yang telah didapatkan.
5. Pemikiran yang telah direnungkan
Tahap berikutnya membuat kerangka.Kerangka ini saya ajukan ke Prof. Eko dan disetujui untuk melanjutkan ke proses penulisan.
BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia
A. Pembagian Generasi Pengguna Internet
B. Karakteristik Generasi Dalam Berinternet
BAB 2 Media Sosial
A. Media Sosial
B. UU ITE
C. Kejahatan di Media Sosial
BAB 3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka Literasi Digital
E. Level Kompetensi Literasi Digital
F. Manfaat
G. Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi
H. Kewargaan Digital
BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62
A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
C. Membangun Digital Mindset Warganet +62
Dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, saya mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be
Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.
Berikut ini adalah anatomi buku nonfiksi.
1. Halaman Judul
2. Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman Daftar Isi
4. Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakata
6. Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian /Bab
8. Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman Glosarium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halaman Indeks
12. Halaman Tentang Penulis












Lengkap dan keren
BalasHapusLengkap resumenya
BalasHapushttps://rambawani-menujucinta-nya.blogspot.com/2023/02/mari-konstruksi-buku-nonfiksi.html