Merangkai Diksi dalam Indahnya Kata

Resume delapan belas
Jumat 17 Februari 2023
Tema: Diksi dan Seni Bahasa
Nara Sumber: Maydearly
Moderator: Widya Arema

Merangkai Diksi dalam Indahnya Kata

Akhirnya setelah mengikuti pelatihan selama 1 Minggu di Kota Batu Malang Andini pulang kembali ke daerah nya< banyak ilmu yang dia dapatkan selama pelatihan yang nantinya akan dia tularkan kembali kepada teman dan juga siswanya agar gerak literasi selalu terus bergerak.

Hari ini Andini mengadakan kegiatan pelatihan bersama komunitas menulis di sekolahnya.

Andini mengundang narasumber dari luar untuk memberikan materi mengenai Diksi dan Seni Bahasa, untuk bisa melatih anggota komunitasnya dalam pembuatan 250 puisi karya guru dan siswa di sekolahnya yang nanti akan bergerak membantunya.

Andini, Yulia dan April serta beberapa siswa sudah menunggu kedatangan nara sumber beserta temannya di depan sekolah. Nampak sebuah mobil Avanza putih memasuki gerbang sekolah dan memarkirkan mobilnya di garasi mobil yang ada disebelah kanan bangunan sekolah.

Nampak Bu Maydearly turun mengenakan baju batik dengan rok hitam dengan kerudung warna senada, di sebelahnya berjalan seorang wanita dengan perawakan yang sama berjalan menghampiri mereka. 

Andini dan kedua temannya nampak tersenyum menyambut tamu kehormatan mereka hari ini.

”Assalamualaikum Bu May, terimakasih banyak sudah berkenan hadir di sekolah kami untuk memberikan materi di komunitas menulis kami,' sambut Andini dengan tersenyum manis.

”Walaikumsalam, Bu Andini, Bu Yulia dan Bu April, terimakasih banyak atas sambutannya dan saya sangat senang bisa di undang di komunitas ibu ini. Kenalkan ini Bu Widya yang nanti akan membantu saya sebagai moderator,” jelas Bu Maydearly memperkenalkan Bu Widya dan menjabat tangan Andini dan teman-teman nya sambil tersenyum ramah, begitu juga dengan Bu Widya.

”Selamat datang Bu May dan Bu Widya, salam kenal dari saya,” jelas April.

Andini kemudian mempersilahkan tamu mereka untuk menuju aula sekolah yang mana sudah nampak ramai anggota komunitas mereka menunggu kehadiran tamu istimewa mereka.

Sekolah nampak sepi karena memang kegiatan mereka ini berlangsung di hari Minggu sehingga ruangan dan halaman nampak lenggang kecuali di ruang aula tempat pertemuan mereka berlangsung saat ini.

Kegiatan komunitas menulis ini biasanya dilangsungkan dua kali dalam satu bulan secara online dan satu kali pertemuan rutin setiap dua bulannya.

Sehingga pertemuan rutin kali ini Andini meminta kepada temannya untuk bisa mengisi kegiatan ini dengan pembelajaran terkait diksi dan seni bahasa.

Saat mulai memasuki ruangan suara riuh anak-anak nampak terdengar ramai karena kedatangan dua narasumber cantik dengan sejuta pesonanya.

Saat berada di dalam ruangan Andini mulai membuka jalannya acara yang kemudian langsung di lanjutkan dengan materi yang dibawakan oleh Bu Maydearly dengan moderatornya Bu Widya.

"Assalamualaikum, selamat pagi rekan-rekan penulis muda Seruyan!" Sapa Bu Widya sang moderator 

"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatu."

"Selamat pagi, Buuuuu!"

"Wah, Alhamdulillah semangat semua ya. Baiklah senang rasanya Saya masuk di kelas ini dan mendapat sambutan seceria ini."

"Kami juga senang jumpa Ibu Widya dan Ibu May yang cantik. hehee ...." celoteh Evridus, si tukang bayolan. Nampak terdengar riuh tawa sejenak dari anak-anak.

"Terimakasih. Karena sudah sangat manis menyambut Kami. Jadi Saya akan memberi hadiah untaian diksi indah untuk kelas ini," sahut Bu Widya.

SAHABAT

Oleh : Widya Setianingsih

Sayap kami saling menyangga

Arungi berdua gemerlap letihnya dunia

Hadirkan setiap warna membungkam resah yang ada

Abaikan setiap mata munafik yang bersorak dalam duka

Biarkan tangan kami saling tergenggam, menguatkan dalam balutan doa

Atau mentertawakan takdir yang dengan seenaknya mengatur hilir mudik nestapa

Tak usah dengarkan mereka, cukup bersamamu hatiku jauh dari gulana.

Tepuk tangan membahana, seisi ruang aula terpukau dengan puisi akrostik yang dibacakan oleh Bu Widya. Dengan rangkaian diksi yang begitu indahnya.

"Terimakasih, marilah kita mulai kelas kita hari ini. Sebelumnya perkenalkan nama Saya Widya Setyaningsih yang nantinya akan memandu kegiatan pembelajaran kita pagi ini. Hari ini kita akan diajak belajar bagaimana menulis Diksi dan Seni Bahasa yang nantinya akan dibawakan oleh ibu yang cantik ini, Beliau Ibu Maydearly, sahabat Saya.

Mari kita berkenalan dulu dengan mencermati biodata Beliau yang akan Saya tampilkan dilayar." tutur Bu Widya. 

Sang moderator menghubungkan laptop ke layar infokus. Semua siswa tampak fokus pada data diri yang telah tampil pada layar.

"Bu Maydearly adalah seorang pengajar di SMPN 1 Lebak Gedong Kabupaten Lebak, Banten. Pendidikan terakhir Beliau adalah Magister Pendidikan Bahasa Inggris lulusan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai seorang pendidik, Beliau juga memiliki aktivitas sebagai penulis, kurator, blogger, motivator, dan narasumber." Bu Widya menjeda kalimatnya untuk memperhatikan sejenak antusiame para siswa. Ternyata semua mata masih terpusat pada layar.

"Buku karya Beliau sudah cukup banyak. Terdiri dari 10 buku antologi, 2 buku kurator, 1 buku duo bersama Prof. Eko Indrajit, serta 3 buah buku solo." pungkas Bu Widya mengakhiri kalimat yang disambut dengan decakan kagum para siswa.

"Untuk lebih mengefektifkan waktu mari kita persilahkan Bu Maydearly untuk memulai pemaparan materinya."

Kembali tepuk tangan membahana dari penjuru ruang aula yang saat ini dihadiri kurang lebih 100 siswa. Bu Maydearly tersenyum, menggeser berdirinya menjadi lebih ke tengah.

"Terimakasih Bu Widya. Saya sangat senang sekali dengan antusiasme kelas ini, kalian begitu semangat semoga akan semangat untuk membuat karya-karya hebat nantinya. Kita santai saja, nanti kalau ada pertanyaan biar Bu Widya kasih kode. Namun sebelum ke materi lebih lanjut, Saya ingin menampilkan dulu serangkaian kalimat penyemangat dari Dr. Wijaya Kusumah, M. Pd. yang biasa di sapa dengan panggilan Om Jay, beliau merupakan Kepala Program Studi KBMN PGRI Angkatan 28." tuturnya dengan suara lembut.

Layar menampilkan kalimat motivasi dari Dr. Wijaya Kusumah, M. Pd. 

"Selalulah semangat dan selalu jaga kesehatan sebab menulis itu menyehatkan bahkan menyembuhkan bagi mereka yang sedang sakit.
Belajar memerlukan kesabaran sekaligus keikhlasan. Siapa yang sabar pasti akan pintar. Siapa yang ikhlas pasti tuntas. Belajar menulis harus dimulai dari diri sendiri. Menjaga konsistensi dalam menulis bukanlah perkara mudah. Menulis dalam kesibukan bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Namun, berikanlah tugas itu kepada orang yang sibuk. Sebab orang yang sibuk itu pandai mengelola waktu dengan baik. Mereka sukses dalam hidupnya."

Tepuk tangan membahana kembali, semangat jiwa muda dari penulis muda Seruyan begitu tersulut setelah membaca motivasi dari Om Jay.

"Baiklah, sebelum memulai materi, saya akan membacakan  sebuah puisi tentang cinta.” terdengar sangat merdu suara Bu May membacakan puisinya dan tampak hening sesaat ruang aula tersebut. 

Senja Mengukir Cinta
Oleh: Maydearly

Deru angin dalam semilir
Mengukir ruang resah
Tentang senja paling gulita
Yang membawa rasa untuk dia.

Untuk rembulan dalam temaram
Ku titipkan singasana cinta
Berceloteh tentang rindu
Yang bersembunyi dalam diam.

Sunyi bertahta dalam gelap
Hampa riak suara, kelabu
Hanya menandu rindu
Dari cinta yang berselimut dingin.

Rasa cinta yang tetap terjaga
Bak bersanding dengan alam
Menjadi singgasana keabadian
Membumi dengan lubuk paling dalam.

Untuk dia, ku jaga rasa
Memeluk rindu seabad
Ku sampaikan dalam maya
Agar terukir cerita paling menawan.

"Keren bangeeet!" bisik Evridus. Sangat menyentuh hati dengan suara yang sangat merdu. Bagas hanya mengangguk, pandangannya tak mau beralih dari Bu May yang membacakan puisi dengan begitu indahnya, untaian kata-kata diksi yang begitu indah menjadi satu dalam alunan merdu suara Bu Maydearly.

"Maydearly, adalah sebuah nama tanpa titik koma, yang menyadur makna diantara serpihan kata yang melahirkan karya. Tak perlu di tanya alamat blog nya hanya lewat sebuah karya dia pernah berbicara, merupa, menulis, bercerita, dan berdoa sebagai rupa sejarah untuk masa tua." Bu Maydearly kembali bertutur.

"Mari bersama-sama kita selami, apa sebenarnya diksi itu? berikut adalah paparan materinya."

Nampak Bu Widya memindah tampilan slide sehingga Layar menampilkan materi diksi yang runtut sehingga enak dibaca dengan tampilan yang cantik dan menarik.

1. Pengertian Diksi
"Diksi – akar katanya dari bahasa Latin: dictionem. Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti: pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif. Sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya." jelas Bu Maydearly.

2. Sejarah Diksi
[21/2 19.16] Dewi Indria, S.Si: Bu May mulai menjelaskan bahwa dalam sejarah bahasa, Aristoteles – seorang filsuf dan ilmuwan dari bangsa Yunani lah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam "Poetics" dalam salah satu karyanya. 

"Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, apabila memiliki kekayaan yang melimpah berupa diksi puitis.

Gagasan Aristoteles kemudian dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair dalam menulis puisi saja, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya." papar Bu May.

3. Tokoh Diksi di Dunia
Lajut penjelasan dari Bu May, bahwa William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.

"Sampai disini, ada yang akan bertanya?"
Bu May mengedarkan pandangannya. Tak seberapa lama, terlihat seorang gadis cantik berkerudung panjang dan berkaca mata mengangkat tangannya.

"Silakan, sebutkan namanya dulu ya!"
"Terimakasih, Bu. Nama Saya Imro'atus Sholehah ingin bertanya. Mengapa Diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa?" 

Imro sangat antusias mengikuti pembelajaran kali ini karena dia memang sangat antusias kalau berkaitan dalam tema diksi ini.

"Wah, pertanyaan yang sangat menarik, ibu coba jawab ya, diksi penting dalan kajian bahasa karena diksi salah satu seni berbahasa lewat tulisan dan bacaan. Banyak keindahan atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir. 
Diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan. Begitu Imro, bagaimana?"

"Keren ibu, sungguh sangat memotivasi sekali, terimakasih banyak!" Seru Imro dengan tersenyum manis dan Bu May nampak tersenyum mengangguk.

"Oke kita lanjutkan dulu, ya!"

Kembali nampak para siswa fokus memperhatikan kalimat demi kalimat yang terdapat pada layar infokus.

4. Jurus Jitu Mengembangkan Diksi
Banyak penulis pemula biasanya akan mengalami ketakutan saat akan memulai  sebuah tulisan, lidah mereka seakan merasa kelu untuk menulis sesuatu yang menakjubkan. Ada begitu banyak keraguan yang dibungkam sebelum mampu menterjemahkannya dalam sebuah bahasa." tutur Bu May.

"Pertanyaan saya biasanya apa yang akan muncul dalam benak kalian ketika menghadapi hal seperti ini?" tanya Bu May.

Tampak Bagas mengangkat tangannya untuk bertanya, "Apakah mungkin saya bisa menulis sebuah bahasa yang indah?" ucap Bagas.

"Ya, tepat! pertanyaan lainnya?" Bu Maydearly mengedarkan pandangannya.

"Saya merasa takut tulisan saya terdengar garing ketika dibaca." seru Imro.

"Betuul, padahal menulis itu sederhana. Sesederhana mengadukan gula dalam gelas kopi,"

"Tipsnya Bu!" tanya Evridus dengan senyum manisnya, menyela kalimat Bu Maydearly.

"Mudah, kok! menulislah dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengarkan. Lantas jurus apa yang harus kita pakai agar kita mampu menulis dengan segala keindahan? mari bersama amati materi berikut ini!" lanjutnya.

Layar menampilkan lanjutan materi.

Saat kita ingin menulis sebuah diksi yang indah, maka libatkan 5 macam panca indera kita ketika tengah menyusun kalimat tersebut dalam sebuah tulisan.

1. Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.

Contoh:
Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi.

2. Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.

Contoh:
Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan dilangit harapan.

3. Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.

Contoh:
Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.

4. Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya. Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.

Contoh:
Derit daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu hanya sebagai lamunan.

5. Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar. 

Contoh
Derum kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu.

"Acap kali dalam menulis, kita hanya melibatkan otak kita sebagai muara untuk berpikir. Tanpa kita dengar, tanpa kita rasa, tanpa kita raba. Terkadang sesuatu di pelupuk mata bisa menjadi rongga untuk mencumbu tulisan kita." 

Untaian kalimat penjelasan dari Bu Maydearly mampu menghipnotis seisi kelas. Semuanya menahan nafas dan menahan kedipan mata, takut melewatkan paparan Beliau.

"Mengapa kita selalu melihat kursi yang kita duduki dengan pandangan yang begitu sederhana? Sesekali buatlah ia mempesona dan anggun."

"Setiap apapun yang kita lihat, sesekali kita rasakan, kita raba, bahkan kita ampu kan sebagai sebuah senyawa yang mampu bersuara."

"Sekarang akan ibu berikan tantangan untuk menyusun sebuah kalimat dengan menggunakan diksi yang sudah kalian pahami. Topiknya berkaitan dengan kursi yang saat kalian duduki!" tantang Bu Maydearly.

Hening sejenak, sebelum terlihat Imro'atus Sholehah mengangkat tangan dengan begitu percaya dirinya.

"Silahkan Imro!" Bu May tersenyum ke arahnya.

"Saya coba, Bu. Di atas kursi ini, Aku pernah memeluk ratapan. Bagaimana menungguimu dengan sebuah doa takdim."

Tepuk tangan dan siulan terdengar dari para siswa. Suasana yang awalnya syahdu tampak riuh karena jawaban Imro. Bu Maydearly tersenyum lebar.

"Kereeen! sebetulnya rekan-rekan semua sudah memahami diksi dan sudah dapat membuat tulisan yang sarat akan diksi indah." pujinya penuh motivasi.

"Setelah mencoba, kita akan yakin. Setelah yakin, Pasti Bisa." tutur Bu Maydearly.

"Did you know a true writes is someone that never feeling down. Seberapa sulit hal yang kita hadapi? she's never "give up". Ia sama sekali tak putus asa, selalu berusaha mencoba dan terus mencoba. 

"Seberapa sulit ia menata perasaan nya? she's always create a good idea. Ia selalu menumbuhkan ide-ide baru."

"Sekian materi kita pagi menjelang siang ini, selanjutnya akan dipandu kembali oleh Bu Widya untuk sesi tanya jawab." 

Begitulah Bu Maydearly mengakhiri pemaparannya. Bu Widya berdiri lalu memimpin tepuk tangan sebagai tanda penghargaan untuk Bu Maydearly yang telah memaparkan materi dengan sangat luar biasa.

"Silahkan untuk lima pertanyaan saja, ya!"

Baru saja Bu Widya menyelesaikan kalimatnya, sudah terlihat lima orang siswa yang mengangkat tangan.

"Baiklah, dimulai dari Evridus!"
Bu Widya menunjuk Evridus, pemuda yang selalu berpenampilan necis dan paling banyol di kelas.

"Terimakasih, Bu Widya dan Bu Maydearly.  Pertanyaan Saya adalah Apakah Diksi dan Puisi tidak bisa dipisahkan? lalu, apakah Diksi dan Puisi ada pada tatanan akal pikiran? bukankah struktur manusia terdiri dari jasad, akal fikiran, fuad, luf dan ruh? bagaimana cara agar bisa dengan mudah merenda kata sehingga siapapun yang membacanya menggetar dan terpincut hatinya menjadi gundah gulana?"

"Wow, pertanyaan beruntun rupanya. Silakan Bu Maydearly untuk menjawab." Jelas Bu Widya.

"Hmm, pertanyaan Evridus sungguh super sekali. Diksi tak melulu untuk puisi.
Bagaimana Diksi itu bisa masuk dalam pelataran logika, karena logika adalah akal yang digerakan sebuah ruh. Tulisan adalah hasil karya dari sebuah jasad yang diperintah oleh otak, kemudian ia menapaki kalbu sebagai jejak untuk bersuara. 
Suara itu tak melulu tentang ucapan, pula sebuah tulisan dengan segala keindahannya."

"Begitu ya, Evridus semoga dipahami!" Sang dosen menatap Syahdan dengan senyum manis. 

"Siap, terimakasih Bu!" ucap Evridus.

"Baiklah, pertanyaan selanjutnya dari Mbak Imro, silahkan!" ucap Bu Widya.

”Setelah saya cermati penjelasan Bu May dari awal tentang *Diksi* arahnya ke puisi ya bu. Apa diksi hanya untuk puisi? Terima kasih Bu.”

”Disini saya tekankan, diksi tak melulu untuk puisi. Diksi dijabarkan sebagai kekayaan bahasa, memaknai kata sebagai bentuk keindahan. Layaknya secangkir Teh, ada hangat yang perlu diresapi karena bahasa adalah jembatan dimana kita bisa mengerti dan saling memahami. Tulisan saya untuk Diksi kebanyakan adalah sebuah cerpen. Diksi adalah bagian dari Seni Bahasa, karena seni Bahasa itu meliputi menulis, dan berbicara.” jelas Bu may.

”Lanjut dengan Bagas, silahkan.” Bu Widya mempersilahkan Bagas untuk bertanya.

”Ibu, Jika menulis adalah my passion, maka membaca adalah my duty. So bagaimana mengolahnya agar 5 panca indera itu tergali? Karena terkadang merasakan saja tidak cukup. Terima kasih bu.” tanya Bagas.

”Bagaimana mengolah panca indera agar tergali? Panca indera itu melekat dalam jasad kita, kita tak perlu  perintahkan ia untuk memandu hati kita membuat sebuah tulisan yang indah. Tugas kita adalah menerima sinyal dari kelima panca indera tersebut yang kemudian kita bisa jabarkan dalam sebuah tulisan. Ketika kelima indera itu kita libatkan, maka tak ada tulisan yang biasa. Pepatah mengatakan, menulislah dengan hati. Karena apa? Karena hati mampu menerka indera kita dengan baik.

"Lanjut dengan Ajeng, silahkan bertanya,” Bu Widya mempersilahkan Ajeng, gadis hitam manis tersebut.

”Assalamualaikum.  Izin bertanya Bu Widya dan Bu Maydearly. Saya Ajeng, saya ingin sekali untuk mencoba menulis puisi tapi saya tidak memiliki kekayaan diksi. Mohon tips dari ibu, yang sekiranya dapat menambah diksi saya sebagai pemula. Satu lagi, apakah langkah awal untuk memulai sebuh puisi? terimakasih." Ajeng mengakhiri pertanyaannya.

"Langsung Saya jawab aja ya, tips untuk mengembangkan Diksi adalah dengan memperbanyak muara baca. Semakin banyak bahasa yang kita sentuh, semakin kaya padanan kata atau diksi yang bisa kita jumpai. Jadi, siaplah dengan memulai dan membaca. Begitu, ya Mbak Ajeng yang manis." tutur Bu Maydearly.

"Baik, Bu. Terimakasih." Ajeng tersenyum puas dengan jawaban Bu May.

"Satu pertanyaan lagi. Hmm, siapa ya? oh, silahkan mas yang berkaca mata, sebagai penanya terakhir!" Bu Widya menunjuk Widi si super kalem. 

"Terimakasih Bu Widya dan Bu Maydearly. Nama saya Widi. Pertanyaan Saya, apakah ada contoh diksi indah dalam karya tulis?"

"Langsung Saya jawab, ya. Pertanyaan keren ini. Jika yang kita tulis adalah karya ilmiah, tentu bahasa yang kita gunakan adalah bahasa Ilmiah. Bisa saja sebuah karya ilmiah itu memiliki Diksi yang indah apabila karya ilmiah itu menyadur sebuah tema Sastra. Bagaimana Widi?" tanya Bu May.

"Mantap, Bu! sudah paham Saya, terimakasih."

Andini yang berada di bagian belakang sejak tadi begitu asyik mengikuti materi yang sudah di sampaikan oleh Bu May, nampak bejalan menuju ketengah ruangan untuk menghampiri Bu May dan memandu siswa untuk memberikan tepuk tangannya.

"Waah, mari tepuk tangan untuk narasumber hebat kita hari ini Bu Maydearly dan juga Bu Widya yang telah memberikan begitu banyak ilmu kepada kita hari ini!" seru Bu Andini, yang di sambut dengan tepukkan meriah dari para peserta.

”Terimakasih yang tak terkira kami ucapkan pada ibu berdua, semoga ilmu yang diberikan hari ini bisa bermanfaat untuk kami dan juga menjadi ladang pahala bagi ibu berdua,”

”Aamiin,” jawab serentak dari seluruh peserta.

”Baik tugas kalian saat ini, karena kita akan melakukan proyek pembuatan 100 puisi karya siswa dan guru sekolah kita, maka silahkan kalian membuat satu buah puisi dengan karya bebas,” perintah Andini.

”Baik Bu,” jawab peserta dengan sangat antusias.

Kemudian nampak Bu May dan Bu Widya ijin pamit kepada seluruh siswa.

”Terimakasih atas kesempatan kepada saya untuk mengisi materi hari ini dengan peserta luar biasa. Semoga pertemuan ini adalah awal tegukan yang manis, mengawali cerita di layar kaca, menyusun kepingan kata,  dan diseduh dengan rasa bahagia untuk terus belajar berprosa. Karena bahasa adalah jembatan antara hujan dan kemarau yang ketika dibubuhi embun ia menjadi pelangi, indah nan elegan, saya ijin pamit semoga di lain waktu kita bersua kembali dalam merajut indahnya sebuah pertemuan, Assalamualaikum,” 

”Walaikumsalam warahmatullahi Wabarakatu, terima kasih banyak ibu.” jawab seluruh kelas.

”The best ibu.” 
”Ibu keren,” 
”I love you Bu,” 
”Semoga kita bertemu lagi ibu,” terdengar celetuk suara dari belakang yang memuji ibu May.

Satu per satu, para siswa beranjak meninggalkan aula. Bagas nampak melirik Evridus yang masih duduk santai di kursinya.

"Lagi ngapain nih,” tanya bagas.

"Aku terpaku, karena diksiku tak kunjung tiba. Mengingat dan meraba, hanya ini yang tersisa. Hahaaaa ....." Evridus tertawa ngakak diujung kalimatnya. Sahabatnya memonyongkan bibir merasa dipermainkan.


Terimakasih atas ilmu baru yang begitu menginspirasi.
Kuala Pembuang, Jumat 17 Februari 2023
Salam manis,
Dewi Indria, S.Si

Komentar

  1. Semangat..Panjaang, apalah dayaku setiap meresume sambil bagi waktu bersama baby Hana..😅

    BalasHapus
  2. mantaap bun. Silakan WB ke blog saya juga ya bun https://catatanguru.tutitrisnowati.my.id/2023/02/kiat-menyusun-buku-ajar.html🙏🏻

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resum pertemuan 1 KBMN PGRI angkatan 28

Resume pertemuan ke 7 KBMN PGRI 28

Soal KSTK KEBUMIAN 2020