Majalah Sekolah, Kenapa Tidak?
Resume Sebelas
Rabu 01 Februari 2023
Tema: Mengelola Majalah Sekolah
Nara Sumber: Widya Setianingsih, S.Ag
Moderator: Mutmainah, M.Pd
Andini teringat bagaimana perjuangan dia dan kedua temannya untuk memajukan komunitas menulis di sekolahnya.
Banyak Lika liku yang mereka hadapi 4 tahun yang lalu, ketika awal komunitas ini berdiri. Tak banyak dukungan yang membantu mereka baik secara finansial maupun moral, berbagai alasan selalu terlontar dari teman sejawat hanya untuk melemahkan tekat mereka.
Walaupun atasan mendukung mereka namun tidak dengan biaya yang memadai, padahal untuk suksesnya sebuah karya dari guru dan siswa pastilah memerlukan dana yang tidak sedikit.
Seperti bagaimana awal mereka menghadap atasannya.
"Maaf Pak, kami berdua menghadap Bapak karena ingin meminta ijin untuk mendirikan komunitas menulis di sekolah kita sehingga dapat mewadahi siswa dan guru yang ingin berkarya melalui tulisan."
"Bagus itu, saya sangat mendukung, namun kita sendiri tahu bahwa untuk pendanaan saat ini tidak memungkinkan karena banyaknya pengeluaran sekolah dalam beberapa waktu terakhir, jadi saya akan membantu ketika ada moment tertentu saja."
Percakapan tersebut tidak membuat Andini dan Yulia patah semangat, karena bagi mereka yang terpenting ada wadah yang dapat menaungi gerak mereka untuk berkarya.
Andini, Yulia dan April mulai melakukan terobosan untuk membuat majalah sekolah walaupun hanya dengan mereka bertiga.
Hal pertama yang mereka harapkan bisa digunakan sebagai ajang promosi, komunikasi dan sosialisasi dengan orang tua, masyarakat sebagai Stake Holder, maka mereka bertiga mencetuskan ide dengan hadirnya Majalah di sekolah. Walaupun dengan dukungan yang kurang optimal dari sekolah dan biaya yang minim.
Mereka membagi tugas dimana Andini sebagai pemburu berita merangkap pimred, April sebagai layouter merangkap bendahara Sedangkan Yulia sebagai editor merangkap publikasi dan kadang mereka bisa berganti peran.
Majalah mereka kala itu hanya berukuran setengah kertas folio. Untuk mencetaknya hanya menggunakan fotokopi.
Layout dengan cara gunting dan tempel. Kemampuan menulis apa adanya bukan soalan. Yang mereka inginkan hanya berbagi informasi, berita, dan cerita tentang peserta didik.
Akhirnya majalah pertama sekolah Andini bisa sampai ditangan peserta didiknya. Saat itu memang penggandaan majalah didanai oleh sekolah.
Perjalanan Majalah sekolah yang apa adanya tersebut berjalan hingga dua tahun. Tetap dengan tiga crew yang kadang bertugas rangkap.
Sampai akhirnya ketika pandemi datang mereka harus melepas majalah Gemes di tahun ke dua. SDM yang terbatas, pembelajaran daring dan dana menjadi kendala utama.
Walaupun terhenti mereka tetap menerbitkan majalah online juga. Yang dikirim dalam bentuk pdf ke wa grup kelas, website sekolah, atau medsos lainnya. Yang mereka terbitkan setahun 2 kali.
Dua tahun Gemes melakukan hibernasi walau masih dengan majalah onlinenya. Hingga akhirnya Andini dan ketiga temannya bangun kembali.
Selama tidur panjang mereka sibuk berbenah. Crew Majalah mulai mereka lengkapi. Dimulai dari penasehat, penanggung jawab, pimred, bendahara, editor, layout, hingga 4 orang pemburu berita.
Mereka mulai melakukan diskusi dengan kepsek apa visi, misi, dan manfaat majalah.
Lanjut tuangkan dalam proposal agar jelas
Kemudian mulai pengajuan proposal yang detil pada pihak komite dan sekolah. Mencari solusi pendanaan selain dari dana BOS. Mempercantik tampilan hingga ke percetakaan. Mempertebal muatan bergizi dari isi majalah.
"Yul proposal yang kemarin dibuat April apa sudah jadi?" tanya Andini.
"Sudah, apa jadi siang nanti kita menghadap kepsek dan juga ketua komite untuk pengajuan proposal tersebut?"
"Harus jadi, karena nanti siang jam saya kosong dan kita tidak punya waktu lagi, jadi harus segera kita ajukan sehingga majalah ini bisa terbit kembali."
Sepenggal memory Andini tentang awal perjuangan mereka dimasa lalu. Usaha dan kerja keras memanglah tak MENGHIANATI hasil.
Tahun 2015 Andini dipercaya untuk menjadi Pimred. Hal yang memang berat. Tapi Andini percaya dengan timnya, dengan crew yang saling membahu. Hingga sekarang Andini masih memegang amanah itu. Kunci utama mereka adalah *MAU*
Insyaallah semua akan diberi kemudahan.
Ibarat kita berjalan ada tembok menghadang. Cari jalan lainnya. Entah harus memutar, ataukah mencari jalan lain yang sepadan.
Artinya setiap kesulitan ada dua kemudahan yang Allah siapkan. Tetapkan niat, dan insyaallah tiba-tiba ada jalan yang terbentang. Jangan takut mencoba, maka kita akan tetap stuck di tempat.
Ada rintangan, halangan itu hal yg biasa. Apalagi saat mengawali. Berat memang... 😥
Tapi bukan berarti itu TAK MUNGKIN dan TAK ADA SOLUSI. Bismillah💪🏻 Mereka mulai merintis majalah sekolah. Dan mereka berhasil menghasilkan karya hebat dari majalah tersebut sehingga mengerakkan banyak orang untuk berani berkarya.
Terimakasih Bu Widya Setianingsih, S.Ag
dan moderator: Mutmainah, M.Pd atas ilmu yang telah diberikan, semoga menjadi ladang pahala bagi ibu dan menjadi semangat baru bagi saya untuk bisa mengikuti jejak sukses ibu🙏🙏🙏. Maaf bentuk resume saya fiksi karena berharap akan jadi novel resume pembelajaran ini.
Kuala Pembuang, Rabu 1 Februari 2023
Dewi Indria, S.Si







Juara
BalasHapusMantap!
BalasHapusLuar biasa
BalasHapus