Serunya Belajar Pantun
Resume tiga belas
Senin 06 Februari 2023
Tema: Kaidah Pantun
Nara Sumber: Miftahul Hadi, S.Pd
Moderator: Dail Ma'ruf, M.Pd
Jalan-jalan ke kebun kiwi
Naik delman membeli rambutan
Perkenalkan nama saya Dewi
Nun jauh dari kalimantan
Mari merantau ke kota Banjar
Bekerja keras menjadi kaya
Mari majukan merdeka belajar
Agar Indonesia maju berjaya
Malam ini Andini baru selesai Kelas Belajar Menulis Nusantara, dia merasa senang karena materi ini berkaitan dengan materi yang akan dia ajarkan besok pagi di kelas nya. Materi ini di sampaikan oleh Bapak Miftahul Huda, S.Pd dengan moderator Pa Dail Ma'ruf, M.Pd.
Andini sangat antusias mengikuti materi ini, karena terus terang dia agak sedikit lupa tentang materi tersebut, jadi ketika materi ini dijelaskan kembali dia menjadi sangat antusias, andini akhirnya mulai mencatat setiap detail materi yang di sampaikan.
Keesokkan harinya Andini berangkat pagi-pagi sekali karena begitu semangatnya dia ingin mentransfer materi yang malam tadi baru dia pelajari lagi.
Andini berangkat menggunakan motor metic bututnya yang berwarna merah. Sesampainya di tempat parkir Andini segera menuju ruang tata usaha untuk melakukan absen sidik jari, dan bersegera menuju kelas.
Andini menuju kelas XI IPS 1 yang berada di bagian tengah bangunan sekolah, ruangan yang berukuran 10x10 m2 dengan cat berwarna putih. Andini segera masuk dan merasakan suhu ruangan yang lumayan sejuk karena AC sehingga terasa kontras dengan suhu yang berada di luar ruangan.
”Assalamualaikum anak-anak.”
”Walaikumsalam Bu,” jawab mareka serentak
”Sebelum belajar silahkan ketua kelas untuk memimpin doa sehingga ilmu yang didapatkan hari ini bisa bermanfaat,”
”Siap gerak, marilah teman-teman kita belajar menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing, berdoa dimulai.” suasana hening seketika dengan kekhususan doa yang mereka bacakan. ”doa selesai,” jawab Widi sang ketua kelas.
”siapa yang hari ini tidak masuk kelas?” tanya Andini.
”hadir semua Bu,” jelas Widi.
Baru saja selesai mengabsen seluruh siswa tiba-tiba pengeras suara berbunyi memanggil namanya.
”Panggilan untuk Ibu Andini ada tamu yang menunggu di ruang guru,” Andini akhirnya meminta anak-anak untuk membentuk kelompok.
”Baik, hari ini kita akan belajar pantun, karena ibu ada tamu silahkan kalian membuat kelompok, tiap kelompok akan ibu beri tugas yang berbeda,” jelas Andini
Anak-anak mulai bergerak dan berkumpul dengan temannya untuk membentuk kelompok belajar mereka, Andini mulai mengintruksikan tugas yang akan mereka kerjakan.
Kelompoknya Widi mendapat dengan tugas untuk menjelaskan pengertian pantun.
Kelompok Anyelir mendapat tugas mencari perbedaan pantun dengan karya sastra lainnya.
Dan kelompok Umar mendapat tugas mencari ciri-ciri pantun.
Begitu juga dengan kelompok lainnya, mereka mendapatkan tugasnya masing-masing.
”Silahkan kalian cari sebanyak-banyaknya materi tentang pantun dibuku paket dan juga internet melalui HP kalian, diskusikan dengan kelompok kalian nanti jelaskan hasil diskusinya di depan kelas, mungkin ibu sebentar saja keluarnya,” Andini berjalan keluar menuju kantor.
Kelompok Widi beserta temannya sedang berdiskusi bersama.
"Gue membaca materinya dari tautan yang ini https://anyflip.com/wiirj/cfbd/ disini lengkap dari mulai biodata, buku-buku karya Pak Miftah, dan materinya juga lengkap," jelas Widi kepada teman kelompok nya tersebut. Widi sengaja berhenti sejenak untuk melihat reaksi teman-temannya. Tidak ada tanggapan, rupanya beberapa temannya itu tengah serius menyimak link tersebut.
Sadar jika Widi menghentikan kalimatnya, Melati menatap Widi sekilas.
"Ya, Gue ada baca dikit." ucap Melati.
"Ya udah, Lu sebutkan pengertian pantun, yang lain silahkan dicatat dan resume!" timpal Widi. Mata belo Pemuda itu lurus menatap wajah Cantik Melati.
Melati berdecak sebal, menyadari pemuda dihadapannya ini tengah mengujinya.
"Di Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende (Suseno, 2006) Di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan (Suseno, 2006) Di Jawa, pantun dikenal dengan istilah parikan (Suseno, 2006). Intinya pantun itu warisan budaya daerah yang sudah jadi budaya nasional." Melati mengakhiri penjelasannya.
"Makanya Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020)." timpal Widi seraya menunjukan karya tempel dibuku catatannya.
"Nih, contoh pantun berbahasa Sunda."
Sing getol nginum jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol maengan ilmu,
Gunana Dunya akhirat.
"Artinya?" kedua ujung alis tebal Akmal bertaut.
"Artinya ...."
Rajinlah minum jamu,
Agar kuatlah urat,
Rajinlah menuntut ilmu,
Berguna dunia akhirat.
Mereka tertawa lucu, namun berbeda kadar tawanya. Melati, Yanti dan Bunga sampai terkekeh, sedangkan Widi, dan Akmal hanya menggerakkan ujung bibirnya sedikit.
Lanjut di kelompoknya Umar.
"Sebutkan ciri-ciri pantun?" Umar bertindak sebagai guru.
"Udah sih, kita baca aja tuh, dibuku paket dan yang lainnya browsing google!" jelas Windi.
"Hahaa .... lucu, tau! mimik wajah mu Umar, anggap aja latihan penilaian lisan sama Bu Andini." Angel tertawa melihat tingkahnya Umar yang menirukan gaya Andini.
Umar menanggapi dengan senyuman manis nya mendengar ucapan Angel, pemuda itu menggeser buku catatan agar dapat dibaca bersama. Yang lain nya nampak tersenyum geli.
"Di sini dijelaskan jika pantun itu ternyata banyak sekali. Selain untuk komunikasi sehari-hari pada zaman dahulu. Pantun bisa juga digunakan untuk mengawali sambutan pidato. Bisa juga untuk lirik lagu, perkenalan, ataupun dakwah bisa juga disisipi pantun." tutur Lukman.
Umar dan yang lainnya mengangguk menyetujui. "Di acara kawinan juga kalau orang Betawi." imbuh Umar.
"Segera aja di catat." ucap Angel, kemudian merekapun me resum hasil yang telah mereka temukan tersebut.
Lanjut ke kelompoknya Anyelir.
"Ini apa ya, ko cuma dua baris, dua baris setelahnya enggak ada?" tanya Mirna.
"Itu namanya pantun singkat atau Karmina. Contohnya, Sudah gaharu cendana pula. Sudah tahu bertanya pula,” jelas Anyelir.
"I see, next!" jawab Bambang.
"Ayo, bikin kesimpulan perbedaan antara pantun, syair, gurindam dengan karmina?" jelas Anyelir.
"Syair, hampir sama seperti pantun. Terdiri atas empat baris. Memiliki sajak a-a-a-a. Baris satu sampai empat memiliki hubungan atau saling berkaitan." tutur Bambang dengan santainya.
Mirna melebarkan matanya, ujung telunjuk mengetuk lembaran catatannya tepat diatas contoh sebuah syair. Kemudian dia membacakan contoh syair tersebut.
Inilah kisah bermula kawan
Tentang negeri elok rupawan
Menjadi rebutan haparan jajahan
Hidup mati pahlawan memperjuangkan
Engkau telah mafhum kawan
Penggenggam bambu runcing ditangan
Pemeluk tetes darah penghabisan
Syahdan, Tuhan karuniai kemerdekaan.
"Cakep,” jawab Bambang sambil terkekeh.
”Dasar,” cemberut Mirna mendengus kesal mendengar ejekan Bambang.
”Sudah, ayo lajutkan dulu,” Anyelir berusaha menenangkan.
”Gurindam hanya terdiri atas dua baris. Memiliki sajak a-a. Baris pertama dan kedua saling berhubungan." lanjut Anyelir.
Kembali ujung telunjuk Mirna mengetuk di atas contoh sebuah gurindam dibuku paketnya, dia mendelik Bambang takut kalau dia mengejek nya lagi, tapi tetap membaca contoh gurindam tersebut.
”Jika rajin salat sedekah,
Allah akan tambahkan berkah, ini contoh gurindam,” jelas Mirna.
"Ya ampun, harus punya bekal kosa kata yang banyak, ini mah." keluh Bambang.
"Itu udah ada contohnya juga di buku." Jelas Anyelir.
Bambang menunjuk dengan dagunya.
"Ini materinya juga sudah berurutan, tuh!" lanjutnya
"Iya, harus berurutan juga memahaminya," jelas Mirna.
Merekapun kembali larut membaca setiap materi di buku paketnya.
1. Memahami Kaidah Pantun
2. Menguasai Perbendaharaan Kata
"Tambahan dari Bu Andini, katanya dalam menulis pantun, usahakan hindari penggunaan nama orang, dan nama merk dagang." ujar Anyelir mengingatkan.
"Kalau tujuannya untuk merundung kayak di acara televisi juga enggak bolehlah," Bambang menimpali seraya mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Hingga berbunyi "krek" otot dan tulangnya meregang.
Mirna hanya bergidik ngeri.
Dari arah pintu kelas, berdiri Bu Yulia seraya mengetuk kusen pintu menggunakan penggaris kayu.
"Mohon perhatian! berhubung Bu Andini sedang ada tamu dan kemungkinan masih lama. Tugas kalian silahkan dikumpulkan hari ini juga."
"Waaahhh!"
"Baik bu!"
"Oke!"
Berbagai seruan terlontar dari siswa kelas XI IPS 1.
"Widi! mana Widi?"
Bu Yulia mengedarkan pandangannya mencari ketua kelas. Widi mengangkat tangan kanan sigap berdiri.
"Siap, Saya Bu!"
"Kamu yang bertanggung jawab mengumpulkan tugas teman-temanmu. Disimpan di meja Bu Andini ya!"
"Siap, Bu Yulia!"
Kelas hening kembali, seluruh siswa fokus mengerjakan tugas yang diberikan. Termasuk Widi yang telah kembali duduk manis di kursinya.
Terimakasih banyak untuk materi Pantunnya, maaf atas keterlambatan resume saya.
Pergi ke pasar membeli pepaya
Pepaya di petik di kota Malang
Jangan lupa terus berkarya
Tuk Indonesia maju cemerlang
Mati hati perlu dituntun
Miskin harta bekerjalah kaya
Hati senang belajar pantun
Bersama KBMN maju berjaya
Kuala pembuang, 9 Februari 2023
Dewi Indria, S.Si

Komentar
Posting Komentar