Resume pertemuan ke 9 KBMN PGRI 28

 

Resume Sempilan 
Jumat 27 Januari 2023
Tema: Menulis Itu Mudah
Nara Sumber: Prof. Dr. Ngainun Naim
Moderator: Lely Suryani, S.Pd.SD

Andini sudah sampai di Kota Batu Malang sekitar pukul 13.00 wib. Keluar dari mobil Andini merasakan suhu udara yang lumayan dingin dan pemandangan yang cukup indah dengan hamparan Gunung dibagian barat dan sawah-sawahnya yang menghijau. 

Terlihat sangat kontras dengan wilayah tempat tinggalnya yang berupa hamparan pantai disepanjang barat propinsi Kalimantan Tengah dengan suhu yang sangat panas karena berada di pinggiran pesisir.
 
Andini segera menuju lobby untuk mengisi administrasi dan mengambil kunci kamar yang sudah disediakan oleh panitia. 

Setelah selesai Andini menuju kamar untuk beristirahat sejenak melepas penat karena seharian melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan namun penuh dengan kenangan dan motivasi baru yang selama perjalanan dia dapatkan dari Pak Sigid tentang cerita hebat Bapak Dedi Dwitagama.

Baru kurang lebih 30 menit Andini berbaring dan memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan terdengar salam dari luar.

"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam." Sahut Andini dan segera berjalan menuju pintu dan membukanya.

Terlihat seorang wanita memakai hijab berwarna biru dengan warna yang sama dengan gamis yang dipakainya, Andini tersenyum dan mempersilakan masuk.

"Salam kenal Bu, saya Andini dari Seruyan Kalteng. Ibu dari mana?" Tanya Andini dengan tersenyum.

"Saya Lina dari Makasar." Jawab Lina dengan senyum manis dan lesung Pipit di pipi nya.

"Wah Makasar, saya pernah kesana tapi waktu masih kecil, kebetulan Bapak saya kuliah di Universitas Hasanudin, kami jalan-jalan ke pantai Lossari, Pulau Kayangan, air terjun Bantimurung, jadi kangen dengan pisang epek dan Coto Makasar nya juga." Jelas Andini antusias dengan senyum manis karena membayangkan kenangannya di Makasar 20 tahun yang lalu.

"Sekarang pantai Lossari tambah keren Bu."

"Iya saya ada liat, sekarang tambah bagus, dulu masih kotor dan engga terawat," jawab Andini.

'Ibu kalau mau, istirahat dulu karena lumayan perjalanan kita sampai sini pasti melelahkan." kemudian Andini mempersilahkan Lina untuk beristirahat.

Akhirnya Andini melanjutkan istirahatnya dan mulai memejamkan matanya kembali.

Pagi hari setelah melakukan ibadah sholat subuh Andini dan Lina mulai bersiap, karena pukul 07.00 wib mereka akan memulai pembelajaran pertama.

Setelah sarapan Andini dan Lina menuju ruang meeting, didalam ternyata acara belum dimulai karena waktu masih menunjukkan pukul 06.30 wib yang artinya masih 30 menit lagi baru kegiatan pembelajaran pertama akan dimulai.

Ada sekitar 30 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sambil menunggu acara pembukaan Andini dan peserta lainnya saling berkenalan.
 
Pukul 06.50 wib beberapa panitia sudah mulai memasuki ruangan, tak berapa lama masuk juga seorang pemuda paruh baya memakai baju Hem berwarna ungu menggunakan kaca mata dan peci hitam berjalan dengan tegap dan tersenyum ramah pada peserta, di samping beliau ikut berjalan seorang wanita dengan kerudung ungu tersenyum dengan ramah.

Mereka duduk pada kursi bagian depan dan wanita tersebut mulai membuka acara dengan memperkenalkan dirinya.

"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, Selamat pagi bapak ibu hebat. Semoga semua selalu sehat. Perkenalkan nama saya Lely Suryani, S.Pd.SD selaku moderator pada acara ini semoga kita semua dapat belajar ilmu - ilmu bermanfaat Baik di dunia maupun akhirat." Sapa Bu Lely mengawali acara.
 
"Puji syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Tuhan Penguasa Alam Yang tidak pernah tidur siang dan malam. Sembah sujud dari hati yang paling dalam. Semoga dapat hidup bahagia dan terbebas dari dunia kelam. Aamiin-aamiin ya Robbal 'alamin"

"Yang terhormat Om Jay. Dr Wijaya Kusumah, selaku Founder yang selalu ramah. Yang terhormat para Narasumber hebat, yang selalu mencurahkan ilmu - ilmu pencerahan dan menjadi bekal sebagai penulis yang lebih bermartabat. Demikian juga para peserta pelatihan pada KBMN 28 yang selalu sabar, dan setia untuk selalu giat belajar. Aplaus riang gembira untuk semuanya." Sambut Bu Lely dengan semangat dan terdengar suara aplaus dengan sangat meriah dari semua peserta.

Perkenankanlah saya selaku moderator yang bertugas pagi ini, kita dibersamai oleh Narasumber yang juga seorang Kyai. Beliau adalah Prof. Ngainun Naim yang juga seorang dosen di Perguruan Tinggi Negeri," 

"Tema kita pada pembelajaran ini adalah Menulis itu mudah yang akan beliau bagikan dengan berbagai tips dan triknya."

"Sebelumnya, mari kita buka terlebih dahulu dengan berdoa bersama, agar kegiatan kita lancar adanya dari awal hingga paripurna. Mohon bapak ibu supaya  duduk dengan sikap sempurna, berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing - masing. Berdoa.. mulai....Ber doa selesai,"

Bapak ibu, tanpa membuang waktu lagi dan tak sabar menahan curahan ilmu dari Narasumber, yang ibaratnya sumur yang tidak akan habis airnya, maka saatnya kita siapkan wadah yang  besar untuk menampungnya. Oke SIAP." Pembukaan yang begitu antusias dan penuh semangat yang dibawakan Bu Lely. Dan terdengar suara aplaus yang cukup meriah dari peserta menyambut Nara sumber Prof. Ngainun Naim dengan meriah.

"Monggo Prof, waktu saya haturkan sepenuhnya." 

"Terima kasih Bu ⁨Lely Suryani yang menjadi moderator pagi ini. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh." Salam pembuka dari Prof. Ngainun Naim.

"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh." Jawaban salam yang serentak dari para peserta.

"Pagi ini saya mendapatkan amanah menyampaikan materi WRITING IS EASY. Saya tidak akan menjelaskan bahwa menulis itu mudah atau sulit. Saya hanya ingin mengajak Bapak Ibu sekalian bisa menulis. Caranya satu: dengan menulis,"

"Menulislah hal-hal sederhana yang kita alami. Jadi pengalaman hidup sehari-hari itu sumber tulisan yang subur. Kita akan mudah menuliskannya karena kita menceritakan apa yang kita alami. Tinggal kita memilih aspek apa yang mau kita ceritakan,"

"Jadi, apa yang kita alami sehari-hari, tulis saja, jangan takut salah atau jelek. Takutlah jika tidak menulis,"

"Bapak-Bapak Ibu sekalian, ada beberapa kunci agar menulis terasa mudah
kunci (1) dijalankan, menulis akan mudah.
Kunci (2) jangan menulis sambil dibaca lalu diedit. Karena itu akan menjadi hambatan psikologis dalam menuangkan pikiran.

"kunci (3) tulislah dari hal-hal yang Bapak Ibu alami, misal perjalanan rekreasi kita, itu akan lebih mudah untuk kita tulis karena kita menjalaninya."

Andini yang berada pada kursi depan yang berhadapan langsung dengan kursi Prof Ngainun Naim menyimak dengan sangat antusias setiap materi yang disampaikan oleh Prof. Ngainun Naim.

"Baik, saya akan berikan satu lagi kunci menulis yang membuat menulis menjadi mudah, yaitu MENULIS SECARA NGEMIL. Sedikit demi sedikit. Saya nyaris setiap hari menulis beberapa jenis tulisan. Tidak banyak, misal untuk blog atau Kompasiana, saya menarget 3-5 paragraf, untuk artikel jurnal, saya menarget 1 paragraf. Jadi tulisalah secara rutin dan terus menerus setiap hari walau cuma sedikit."

"Menulis sendiri memiliki banyak sekali manfaat. Wahyudin Halim (2021) menjelaskan bahwa menulis itu membutuhkan tiga hal, yaitu mendisiplinkan jiwa, melenturkan pikiran, dan mengelola raga. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang saling menopang sehingga sebuah tulisan bisa lahir,"

"Mendisiplinkan jiwa bermakna, tulisan itu lahir ketika jiwa seorang penulis terkonstruksi pada bagaimana mengeluarkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Banyak orang yang memiliki keinginan untuk menulis tetapi gagal menghasilkan tulisan karena tidak bisa mendisiplinkan jiwa. Ada begitu banyak apologi, misalnya kesibukan, tidak memiliki waktu luang, dan banyak lagi apologi yang diberikan,"

"Tradisi literasi sesungguhnya merupakan perpaduan antara pengetahuan, kesadaran, dan program kegiatan. Ramainya perbincangan tentang literasi tidak akan mengubah keadaan jika tidak memadukan ketiganya. Literasi akan riuh di ruang diskusi tetapi minim karya tulis sebagai bukti. Tentu, teladan dan pengawasan untuk memastikan bahwa tradisi itu bisa terus berjalan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan."

"Saya kira 4 hal itu saja yang saya sampaikan. Itu mudah untuk dipraktekkan. Silahkan Bu ⁨Lely Suryani dilanjutkan dengan tanya jawab." Jelas Prof. Ngainun Naim panjang lebar dengan penuh semangat.

"Okeh, sembari memperdalam materi, kita lanjutkan sesi tanya jawab." Bu Lely mulai mempersilahkan para peserta untuk mulai bertanya.

Andini yang berada paling depan dengan antusias mengacungkan jari untuk bertanya.

"Assalamualaikum, perkenalkan nama Saya Andini dari Seruyan Kalimantan Tengah Pak. Kadang banyak orang yang menganggap menulis itu susah dengan barbagai macam alasan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan keyakinan kepada mareka bahwa menulis itu sebenarnya tidak susah? Sehingga kita bisa mengajak orang-orang disekitar kita juga menyukai literasi terutama menulis ini. Terimakasih." Andini bertanya

"Baik. Pertanyaan menarik dari Bu Andini di Kalimantan Tengah. Saya sejauh ini berpikir terbalik. Saya mewajibkan diri saya terus menulis. Orang lain itu tidak saya paksa untuk menulis. Jika saya menjadi teladan, mereka akan terinspirasi dan mengikuti. Sejauh ini saya memiliki banyak sekali "murid" yang menulis setiap hari. Ya, setiap hari." Jawab Prof. Ngainun Naim.

"Berarti mulailah dari diri kita, untuk bisa menginspirasi orang lain ya pak? Makasih atas jawabannya pak." Jawab Andini.

"Betul sekali ibu." Jawab Prof. Ngainun Naim.

"Silahkan lanjut dengan pertanyaan kedua dari bapak Evridus Mangung- dari NTT. Menulislah hal-hal sederhana. Ini pernyataan yang keren dari narsum malam ini. Pertanyaannya adalah bagaimana cara untuk mengatasi hal-hal seperti kesulitan memulai menulis pada alinea awal. Sudah ada gagasan dalam kepala tetapi tidak tahu bagaimana menulisnya. Hal ini terjadi di awal-awal sebelum menulis paragraf pertama dalam tulisan." 

"Kesulitan itu biasanya karena persoalan psikologis. Takut jelek, takut salah, dan seterusnya. Itu harus dilawan. Caranya pokoknya ya ditulis. Bisa dilihat dari blog saya. Saya selalu mengawali tulisan dengan prolog sederhana. Ini sebagai pintu masuk untuk paragraf demi paragraf berikutnya. Kata salah seorang penulis, cara melawan kesulitan adalah dengan melakukan."

"Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan ketiga dari Imro'atus Sholihah_MTsN 4 Jombang Jawa Timur. Bagaimana agar menulis itu benar-benar mudah?" Tanya Bu Imro'atus.

"Baik, langkah awalnya itu dipaksa. Ya, tidak ada yang benar-benar mudah dalam hidup ini. Saya bisa naik sepeda itu karena dipaksa. Ya, beberapa kali jatuh. Tapi sekarang benar-benar mudah. Ndak mikir. Dulu saya berjalan saat kecil itu juga dipaksa oleh orang tua. Sekarang benar-benar mudah. Jadi jika menulis ingin benar-benar mudah, paksalah untuk menulis setiap hari. Jika mampu menulis setiap hari selama tiga bulan, buktikan nanti akan ketagihan."

"Pertanyaan berikutnya dari Teguh Wiyono bekasi. Jika menyimak paparan prof. Sepertinya menulis itu memang mudah. Namun sering kali, kita terjebak dengan ego kita, masa tulisan yang diangkat  cuma kayak gitu, bagaimana menyikapi hal ini Prof?"

"Lawan terbesar penulis adalah diri sendiri. Itu butuh perjuangan. Saya juga mengalaminya. Seiring perjalanan waktu, saya mengabaikan itu. Pokoknya saya menulis saja. Kualitas itu akan meningkat seiring dengan banyaknya karya yang kita hasilkan. Tentu juga harus belajar tanpa henti. Saya sampai sekarang masih terus belajar, mencari informasi, menonton YouTube, membaca, dan terus menulis. Jadi teruslah menulis. Bagaimana kualitas bisa meningkat jika berhenti menulis?" Jawab Prof. Ngainun Naim."

"Lanjut pertanyaan dari Ahmad Fatch dari Bekasi." Bu Lely mempersilahkan penanya berikutnya.

"Assalamu'alaikum, Mohon maaf Prof ngainun naim. Dari penjelasan Prof, itu sepertinya sangat mudah, tetapi kenyataan kita kesusahan untuk memulai nya, bagaimana cara menghilangkan rasa takut, dan malas pada diri kita? Karena kebanyakan merasa takut tulisan nya jelek, takutnya tulisannya tidak ada yang baca, takut tulisannya tidak bersumber, mohon pencerahannya Prof! Terima kasih sebelum dan sesudahnya."

"Awalnya dipaksa. Lawan ketakutan. Jika tidak dipaksa, tetap tidak akan bisa. Bangun komitmen menulis setiap hari. Jika mampu komitmen selama tiga bulan, nanti bisa menjadi tradisi. Selamat mencoba

"Lanjut pertanyaan berikutnya Ibu Lina dari Makasar."

"Terimakasih Ibu Lely dan Prof. Ngainun Naim. Banyak sekali yang ingin saya tulis, dan kalimat demi kalimat sudah berlalu lalang di kepala, tapi untuk menuangkan menjadi tulisan sulit rasanya. Lalu dipaksa untuk menulis namun kalimatnya jadi tidak runtut. Bagaimana cara mengatasinya ?"

"Menulis itu ada tahapan setelah menuangkan ide dalam kalimat, yaitu EDITING. Di sini tugas kita merapikan yang tidak runtut. Menyambungkan yang tidak nyambung. Jadi kalau saat menulis masih kacau tidak apa-apa. Nanti kita perbaiki saat editing."

Tak terasa pembelajaran tersebut berlangsung dengan sangat antusias, hampir seluruh peserta mengajukan pertanyaan dan dijawab dengan begitu mengesankan dari Prof. Ngainun Naim.

Andini begitu bahagia karena mendapatkan ilmu yang begitu bermanfaat lagi pada hari ini. Andini dan Lina setelah makan siang menuju kamar mereka untuk beristirahat.

Kuala Pembuang, Jumat 27 Januari 2023
Dewi Indria, S.Si

Komentar

  1. Semangat literasi

    https://yamin19710813.blogspot.com/2023/01/menulis-itu-mudah-pertemuan-ke-9.html

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Punya pa Afif juga sering menginspirasi. Rencana Mau saya bikin cerbung aja pa

      Hapus
  3. Srmangat terus menulis nya bessty

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal KSTK KEBUMIAN 2020

Pembahasan Soal OSK Kebumian Tahun 2020

Prediksi soal astronomi olimpiade Kebumian